
Marhaenist.id – Di sebuah masa yang terasa dekat sekaligus jauh, ketika organisasi mahasiswa seperti GMNI berdiri sebagai rumah besar kaum muda Sukarnois, lahirlah sebuah kisah yang menggema dari dunia wayang ke realitas hari ini, tentang api, keberanian, dan ideologi yang berakar dari bumi sendiri.
Namanya: Wisanggeni.
Dalam jagat pewayangan, Wisanggeni adalah putra Arjuna dan Batari Dresanala. Ia lahir dari bara, dibuang ke kawah Candradimuka, namun justru menjelma menjadi sosok yang tak tertandingi. Ia terbang bebas, kebal senjata, dan hanya tunduk pada kebenaran. Bahkan para dewa pun segan padanya.
Namun kisah ini bukan sekadar legenda.
Di tubuh GMNI hari ini, “Wisanggeni” itu hidup, bukan sebagai individu, melainkan sebagai generasi. Generasi yang lahir dari kegelisahan, tumbuh dalam tekanan, dan ditempa oleh realitas organisasi yang tak selalu adil.
Di “kahyangan” organisasi, arah mulai kabur. Kebijakan tak lagi jernih. Kepentingan merayap masuk, memengaruhi keputusan. Mereka yang kritis disingkirkan, sementara yang patuh diberi ruang. Nalar dipinggirkan, loyalitas sempit justru dipelihara.
Retakan pun tak terhindarkan.
Perbedaan tak lagi dikelola sebagai dinamika, melainkan dipelihara sebagai konflik. Politik adu domba, Divide Et Impera, menemukan wajah barunya. Rumah besar yang seharusnya menjadi ruang kaderisasi ideologis perlahan berubah menjadi arena pertarungan kepentingan.
Di tengah pusaran itu, lahirlah generasi Wisanggeni GMNI.
Mereka dilabeli pembangkang, perusak, bahkan ancaman. Suara mereka dianggap mengganggu stabilitas. Semangat mereka dicurigai. Upaya pembungkaman dilakukan, seolah api harus dipadamkan sebelum membesar.
Namun sejarah selalu punya cara untuk menjawab.
Seperti Wisanggeni yang bangkit dari kawah Candradimuka, generasi ini justru tumbuh semakin tangguh. Tekanan tidak mematahkan, melainkan menempa. Tuduhan tidak membungkam, melainkan menguatkan keberanian.
Di titik inilah, kearifan Nusantara menemukan napasnya.
Dalam falsafah Sunda dikenal ungkapan “silih asah, silih asih, silih asuh”, saling mengasah, saling mengasihi, dan saling membimbing. Sebuah prinsip yang menempatkan perbedaan sebagai ruang pertumbuhan, bukan alasan perpecahan.
Dalam falsafah Jawa, hidup diajarkan melalui laku: “nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”, berjuang tanpa harus mengandalkan kekuatan besar, dan menang tanpa merendahkan. Serta “eling lan waspada”, selalu sadar dan awas terhadap arah perjuangan.

Nilai-nilai ini menemukan resonansinya dalam khazanah Sanskerta.
Terdapat ajaran “Satyam eva jayate”, kebenaran pada akhirnya akan menang. Sebuah penegasan bahwa perjuangan yang berpijak pada kejujuran tidak akan sia-sia, betapapun kuatnya tekanan yang dihadapi.
Ada pula prinsip “Dharma”, kebenaran, kewajiban moral, dan jalan yang lurus. Dalam konteks kaderisasi, dharma adalah komitmen untuk tetap berada di jalur ideologi, meski harus berhadapan dengan arus yang berlawanan.
Kemudian ajaran “Tat Tvam Asi”, “engkau adalah aku”. Sebuah kesadaran bahwa sesama kader bukanlah lawan, melainkan bagian dari diri yang sama. Konflik internal sejatinya adalah cermin dari kegagalan memahami persatuan hakiki.
Dan yang tak kalah penting, semangat “Vasudhaiva Kutumbakam”, dunia adalah satu keluarga. Dalam ruang organisasi, ini bermakna bahwa GMNI adalah rumah bersama, bukan milik kelompok tertentu.
Nilai-nilai ini mempertegas satu hal: perjuangan bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi soal bagaimana menjaga kebenaran, martabat, dan persatuan.
Sebab generasi Wisanggeni tidak berdiri di ruang kosong.
Mereka memiliki fondasi ideologis yang kokoh: Marhaenisme.
Bagi kader GMNI, Marhaenisme bukan sekadar teori politik. Ia adalah cara berpikir, cara hidup, dan sikap keberpihakan. Ia lahir dari realitas rakyat Indonesia, dari petani kecil, buruh, dan kaum marhaen yang menjadi denyut nadi bangsa.
Sebagaimana diajarkan Bung Karno, Marhaenisme adalah jalan pembebasan yang berakar pada kepribadian bangsa. Bukan ideologi impor, melainkan ideologi yang lahir dari rahim Indonesia, sebuah ideologi budaya asli Indonesia.
Di titik inilah Wisanggeni menemukan maknanya.
Ia bukan sekadar pemberontak, tetapi pembela kaum tertindas. Ia bukan sekadar kuat, tetapi berpihak. Ia bukan sekadar berani, tetapi sadar ideologi.
Ironisnya, konflik semakin meruncing ketika para “orang tua” organisasi turut terseret. Figur-figur senior yang semestinya menjadi penuntun justru terjebak dalam polarisasi. Perbedaan generasi berubah menjadi jurang pemahaman. Wisanggeni dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai penjaga api ideologi.
Maka pecahlah “perang saudara”.
Bukan perang fisik, melainkan perang gagasan, persepsi, dan arah ideologis. Perang yang melelahkan, karena yang dipertaruhkan bukan sekadar posisi, melainkan jati diri organisasi.
Di sinilah generasi muda GMNI diuji.
Apakah akan larut dalam konflik, atau kembali pada akar?
Menjadi Wisanggeni hari ini berarti tidak hanya berani melawan ketidakadilan, tetapi juga mampu merawat persatuan. Menghidupkan semangat silih asah, silih asih, silih asuh, memegang teguh nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, serta berjalan dalam laku dharma, di jalan kebenaran.
Sebab pada akhirnya, organisasi sebesar GMNI tidak akan runtuh karena perbedaan. Namun ia bisa hancur ketika kehilangan arah dan ideologi.
Maka, jadilah Wisanggeni, yang tidak hanya menyala sebagai api perlawanan, tetapi juga menjadi cahaya kebijaksanaan. Menjadikan Marhaenisme sebagai ideologi hidup, budaya perjuangan, dan kompas dalam setiap langkah.***
Penulis: Bayu Sasongko, Alumni GMNI Sumedang.