
Marhaenist.id – Bagaimana memahami orasi mereka tentang individualitas, komunalitas, dualitas dan pengakuan akan Tuhan?
Ada orang di dunia ini yang menganggap bahwa kekayaan intelektual, daya dorong atau motivasi atau kehendak dari dalam diri, yang berdiri di atas kehendak bebas, kemampuan individual dan kekuatan ego fatau personalitas adalah keunggulan utama dan selalu berada di atas segalanya.
Mereka seringkali mementingkan kekunggulan imajinasi dan merendahkan kekuatan komunikasi dan kerja sama dalam komunitas. Organisasi adalah penghambat yang tidak bisa membawa mereka berlari cepat. Bekerja sama dengan orang lain sama saja menciptakan ketergantungan yang akan melunturkan kemampuan berpikir unggul, bebas dan kejeniusan.
Teringat akan sebuah cerita tentang seorang wanita yang mampu mengerjakan segala hal sampai bahkan memanjat pohon kelapa pun ia mampu. Kemampuannya untuk bertindak menghadapi masalah hidupnya membuatnya berpikir sebagai manusia satu satunya di dunia ini. Kelompok manusia jenis ini di dunia sangatlah beraneka ragam dengan identifikasi yang sama.
Kelompok ini mengklasifikasikan diri mereka sebagai penganut paham individualistik, egoisme, libertarian, behavioralisme, egaliterisme. Penganut filosofi ini berpandangan bahwa kehendak bebas seorang manusia adalah kunci utama penentu kebahagiaan. Kelompok pertama ini mendapat fondasi awal dari Rene Descartes dan dimodifikasi secara aktual oleh Hannah Arendt.
Tapi masih ada kelompok lain lagi yang menganggap bahwa prinsip hidup komunal, komunitas, organisasi, dan berbagai kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama lebih menjamin kebahagiaan ketimbang hidup sendiri. Untuk menciptakan hal hal besar tidak bisa hanya seorang diri, perlu dukungan orang lain.
Kelompok ini menyebut mereka ke dalam beberapa aliran strukturalisme, instrumentalisme, unitarianisme, utilitarianisme, atau komunitarianisme. Kelompok ini juga berpandangan bahwa manusia dengan takdirnya telah ditentukan untuk berada dalam komunitas. Kelompok ini dipelopori oleh Plato dan Aristoteles, lalu kemudian dikembangkan oleh Jean Jasques Rousseau.
Dua kelompok itu didamaikan oleh cara pandang kelompok ketiga, yaitu yang menganggap bahwa dunia tidak bisa dihidup oleh satu bagian saja. Hanya sendiri-sendiri, terpisah ataupun sebaliknya hanya dalam kelompok saja. Tidak dapat oleh satu orang mengerjakan hal besar, tidak akan ada banyak kemajuan dan kebahagiaan kalau hidup hanya di isi oleh individu-individu yang hidup secara terisolir.
Begitupun sebaliknya kehidupan tidak akan normal jika manusia hanya mementingkan komunitas dan mengutamakan hidup sosial tanpa adanya perhatian sama sekali terhadap individu.
Kehidupan justru meningkat apabila menghubungkan individu dengan kelompok dan kelompok dengan individu dalam kerangka hubungan dualitas bukan dualisme. Dualitas adalah istilah lain dari sekaligus keduanya saling memengaruhi, sedangkan dualisme adalah hanya atau ini atau itu.
Menjalankan prinsip hidup secara dualitas adalah bagian dari memahami suatu konsekwensi bahwa harga yang harus kita bayar adalah kegelisahan (restlessness). Sebab manusia adalah mahkluk terbatas yang selalu mecari cara paling mudah untuk menjawab setiap pilihan hidup.
Manusia tidak mau repot menjawab sebuah realitas hidup dengan dualitas melainkan memilih dualisme, memilih salah satu, hanya satu, ini atau itu saja dan tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup, misalnya Bagaimana cara mudah menjelaskan bahwa sesuatu sekaligus ada benarnya dan ada salahnya? Bagaimana cara mudah menjelaskan bahwa sesuatu terjadi bukan hanya karena takdir tetapi juga pilihan bebas manusia? Tetapi sampai di situ belum cukup. Menjelaskan kedua sisi yang saling mempengaruhi saja tidak cukup.
Penjelasannya memerlukan upaya mendalam sebagai jalan tengah yang disebut tegangan (tension). Pertanyaannya bukan lagi bagaimana sesuatu sekaligus ada benar dan salahnya? Melainkan bagaimana yang benar mempengaruhi yang salah dan sebaliknya bagaimana yang salah mempengaruhi yang benar? Dan seperti apa peran keduanya?
Jadi baik takdir sebagai mahkluk sosial yang menghidupi prinsip hidup komunal, manusia juga sekaligus adalah individu yang mampu menentukan jalannya sendiri. Penentuan jalan ini diatur melalui kehendak bebasnya. Kelompok ini dipelopori oleh Pierre Bourdieu yang percaya pada keseimbangan keutamaan diantara individualistik, egoisme, altruisme, libertarian behavioralisme yang dipadankan dengan pandangan strukturalistik, instrumentalisme, egaliterisme, unitarianistik, atau komunitarianisme.
Kelompok yang terkahir ini melengkapi ketiga pandangan sebelumnya. Dalam dunia akademik kita dibiasakan berpikir secara rasional. Penganut rasionalitas harus mendasari segalanya dengan fakta. Inilah kebohongan dunia yang mencari penghiburan atas ketidakmampuannya memahami bahwa ada harapan yang sebenarnya. Harapan itu datangnya bukan dari manusia atau makhluk hidup.
Datangnya dari Tuhan. Pertanyaannya bukan siapa itu Tuhan atau apakah Tuhan ada? Apakah Tuhan itu laki-laki atau perempuan?. Pertanyaan sesungguhnya adalah bagaimana memahami Tuhan?. Di situlah sebenarnya makna eksistensi Tuhan. Jika Tuhan bisa dilacak keberadaannya, atau orang bisa bertemu dan bertatap wajah langsung dengan Tuhan, defisini Tuhan berubah.
Upaya menemukenali jati diri Tuhan dapat ditemukan di dalam pertanyaan bagaimana memahami Tuhan atau maksud Tuhan? Disitulah letak eksistensi yang sebenarnya. Sama halnya apakah sempurna itu? Jawabanya tentu saja tidak tahu. Jadi pertanyaannya yang harus direvisi yaitu bukan apa itu sempurna tetapi bagaimana menjadi sempurna?.
Saya mengingat sebuah contoh di buku saya yang lain. Tulisan saya kira kira begini apabila saya mau menjelaskan waktu, tentu tidak dapat saya ungkapkan apa itu waktu? Namun memaknainya adalah dengan cara reflektif mengenai cara berada dan menjadi bersamaan dengan berjalannya waktu.
Sayapun merespon pertanyaan tersebut bahwa kita sebagai manusia dapat berada dan menjadi di waktu sekarang atau bagaimana terlihatnya saya sekarang adalah hasil dari ingatan masa lalu saya. adanya dan bagaimana terlihatnya saya sekarang juga karena apa yang saya pikirkan sekarang, saya lakukan sekarang, dan yang saya capai sekarang, dan bahkan lebih lagi adanya saya sekarang adalah dari pengharapan akan masa depan, cita cita atau pengharapan.
Penjelasan itu untuk memberi suatu pemahaman gampang tentang adanya waktu. Jadi apakah waktu ada. Jawabnya ya ada. Kelompok ini disemangati oleh St. Agustinus yang memegang paham Dei (sme), Theos sebagai yang pertama, terutama dan teratas barulah alam semesta, mahkluk hidup dan manusia. Baik kelompok maupun individu.***
Penulis: Maikel Ajoi, Alumni GMNI Jogyakarta.