By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sesak Napas di Realita: Seni Melukis Mooi Indië ala Wali Kota Jakarta Timur
GMNI Desak BPJS Kesehatan Hentikan Penonaktifan PBI Sepihak
Terpilih dalam Konferda I GMNI DKI Jakarta, Bung De Niao dan Bung Muhammad Aqil Nahkodai DPD GMNI DKI Jakarta
Pemerintah Godok RUU Disinformasi dan Propaganda Asing, DPP GMNI: Ancaman Serius Terhadap Demokrasi
Hari Pers Nasional: Pers dan Spirit Marhaenisme di Era Digital

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Orasi Hannah Arendt, Jean Jasques Rousseau, Pierre Bourdieu dan St. Agustinus dalam Memahami Tuhan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 9 Februari 2026 | 12:29 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: Maikel Ajoi, Alumni GMNI Yogyakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Bagaimana memahami orasi mereka tentang individualitas, komunalitas, dualitas dan pengakuan akan Tuhan?

Ada orang di dunia ini yang menganggap bahwa kekayaan intelektual, daya dorong atau motivasi atau kehendak dari dalam diri, yang berdiri di atas kehendak bebas, kemampuan individual dan kekuatan ego fatau personalitas adalah keunggulan utama dan selalu berada di atas segalanya.

Mereka seringkali mementingkan kekunggulan imajinasi dan merendahkan kekuatan komunikasi dan kerja sama dalam komunitas. Organisasi adalah penghambat yang tidak bisa membawa mereka berlari cepat. Bekerja sama dengan orang lain sama saja menciptakan ketergantungan yang akan melunturkan kemampuan berpikir unggul, bebas dan kejeniusan.

Teringat akan sebuah cerita tentang seorang wanita yang mampu mengerjakan segala hal sampai bahkan memanjat pohon kelapa pun ia mampu. Kemampuannya untuk bertindak menghadapi masalah hidupnya membuatnya berpikir sebagai manusia satu satunya di dunia ini. Kelompok manusia jenis ini di dunia sangatlah beraneka ragam dengan identifikasi yang sama.

Kelompok ini mengklasifikasikan diri mereka sebagai penganut paham individualistik, egoisme, libertarian, behavioralisme, egaliterisme. Penganut filosofi ini berpandangan bahwa kehendak bebas seorang manusia adalah kunci utama penentu kebahagiaan. Kelompok pertama ini mendapat fondasi awal dari Rene Descartes dan dimodifikasi secara aktual oleh Hannah Arendt.

Tapi masih ada kelompok lain lagi yang menganggap bahwa prinsip hidup komunal, komunitas, organisasi, dan berbagai kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama lebih menjamin kebahagiaan ketimbang hidup sendiri. Untuk menciptakan hal hal besar tidak bisa hanya seorang diri, perlu dukungan orang lain.

Kelompok ini menyebut mereka ke dalam beberapa aliran strukturalisme, instrumentalisme, unitarianisme, utilitarianisme, atau komunitarianisme. Kelompok ini juga berpandangan bahwa manusia dengan takdirnya telah ditentukan untuk berada dalam komunitas. Kelompok ini dipelopori oleh Plato dan Aristoteles, lalu kemudian dikembangkan oleh Jean Jasques Rousseau.

Baca Juga:   Teror Kepala Babi dan Tikus: Pembungkaman Jurnalisme Investigatif yang Kritik Terhadap Kekuasaan

Dua kelompok itu didamaikan oleh cara pandang kelompok ketiga, yaitu yang menganggap bahwa dunia tidak bisa dihidup oleh satu bagian saja. Hanya sendiri-sendiri, terpisah ataupun sebaliknya hanya dalam kelompok saja. Tidak dapat oleh satu orang mengerjakan hal besar, tidak akan ada banyak kemajuan dan kebahagiaan kalau hidup hanya di isi oleh individu-individu yang hidup secara terisolir.

Begitupun sebaliknya kehidupan tidak akan normal jika manusia hanya mementingkan komunitas dan mengutamakan hidup sosial tanpa adanya perhatian sama sekali terhadap individu.

Kehidupan justru meningkat apabila menghubungkan individu dengan kelompok dan kelompok dengan individu dalam kerangka hubungan dualitas bukan dualisme. Dualitas adalah istilah lain dari sekaligus keduanya saling memengaruhi, sedangkan dualisme adalah hanya atau ini atau itu.

Menjalankan prinsip hidup secara dualitas adalah bagian dari memahami suatu konsekwensi bahwa harga yang harus kita bayar adalah kegelisahan (restlessness). Sebab manusia adalah mahkluk terbatas yang selalu mecari cara paling mudah untuk menjawab setiap pilihan hidup.

Manusia tidak mau repot menjawab sebuah realitas hidup dengan dualitas melainkan memilih dualisme, memilih salah satu, hanya satu, ini atau itu saja dan tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup, misalnya Bagaimana cara mudah menjelaskan bahwa sesuatu sekaligus ada benarnya dan ada salahnya? Bagaimana cara mudah menjelaskan bahwa sesuatu terjadi bukan hanya karena takdir tetapi juga pilihan bebas manusia? Tetapi sampai di situ belum cukup. Menjelaskan kedua sisi yang saling mempengaruhi saja tidak cukup.

Penjelasannya memerlukan upaya mendalam sebagai jalan tengah yang disebut tegangan (tension). Pertanyaannya bukan lagi bagaimana sesuatu sekaligus ada benar dan salahnya? Melainkan bagaimana yang benar mempengaruhi yang salah dan sebaliknya bagaimana yang salah mempengaruhi yang benar? Dan seperti apa peran keduanya?

Baca Juga:   Merancang Masa Depan Demokrasi Indonesia

Jadi baik takdir sebagai mahkluk sosial yang menghidupi prinsip hidup komunal, manusia juga sekaligus adalah individu yang mampu menentukan jalannya sendiri. Penentuan jalan ini diatur melalui kehendak bebasnya. Kelompok ini dipelopori oleh Pierre Bourdieu yang percaya pada keseimbangan keutamaan diantara individualistik, egoisme, altruisme, libertarian behavioralisme yang dipadankan dengan pandangan strukturalistik, instrumentalisme, egaliterisme, unitarianistik, atau komunitarianisme.

Kelompok yang terkahir ini melengkapi ketiga pandangan sebelumnya. Dalam dunia akademik kita dibiasakan berpikir secara rasional. Penganut rasionalitas harus mendasari segalanya dengan fakta. Inilah kebohongan dunia yang mencari penghiburan atas ketidakmampuannya memahami bahwa ada harapan yang sebenarnya. Harapan itu datangnya bukan dari manusia atau makhluk hidup.

Datangnya dari Tuhan. Pertanyaannya bukan siapa itu Tuhan atau apakah Tuhan ada? Apakah Tuhan itu laki-laki atau perempuan?. Pertanyaan sesungguhnya adalah bagaimana memahami Tuhan?. Di situlah sebenarnya makna eksistensi Tuhan. Jika Tuhan bisa dilacak keberadaannya, atau orang bisa bertemu dan bertatap wajah langsung dengan Tuhan, defisini Tuhan berubah.

Upaya menemukenali jati diri Tuhan dapat ditemukan di dalam pertanyaan bagaimana memahami Tuhan atau maksud Tuhan? Disitulah letak eksistensi yang sebenarnya. Sama halnya apakah sempurna itu? Jawabanya tentu saja tidak tahu. Jadi pertanyaannya yang harus direvisi yaitu bukan apa itu sempurna tetapi bagaimana menjadi sempurna?.

Saya mengingat sebuah contoh di buku saya yang lain. Tulisan saya kira kira begini apabila saya mau menjelaskan waktu, tentu tidak dapat saya ungkapkan apa itu waktu? Namun memaknainya adalah dengan cara reflektif mengenai cara berada dan menjadi bersamaan dengan berjalannya waktu.

Sayapun merespon pertanyaan tersebut bahwa kita sebagai manusia dapat berada dan menjadi di waktu sekarang atau bagaimana terlihatnya saya sekarang adalah hasil dari ingatan masa lalu saya. adanya dan bagaimana terlihatnya saya sekarang juga karena apa yang saya pikirkan sekarang, saya lakukan sekarang, dan yang saya capai sekarang, dan bahkan lebih lagi adanya saya sekarang adalah dari pengharapan akan masa depan, cita cita atau pengharapan.

Baca Juga:   Air Mata Irine 'Jurnalis CNN' dan Duka Aceh Tamiang

Penjelasan itu untuk memberi suatu pemahaman gampang tentang adanya waktu. Jadi apakah waktu ada. Jawabnya ya ada. Kelompok ini disemangati oleh St. Agustinus yang memegang paham Dei (sme), Theos sebagai yang pertama, terutama dan teratas barulah alam semesta, mahkluk hidup dan manusia. Baik kelompok maupun individu.***


Penulis: Maikel Ajoi, Alumni GMNI Jogyakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Sesak Napas di Realita: Seni Melukis Mooi Indië ala Wali Kota Jakarta Timur
Selasa, 10 Februari 2026 | 17:40 WIB
GMNI Desak BPJS Kesehatan Hentikan Penonaktifan PBI Sepihak
Selasa, 10 Februari 2026 | 17:35 WIB
Terpilih dalam Konferda I GMNI DKI Jakarta, Bung De Niao dan Bung Muhammad Aqil Nahkodai DPD GMNI DKI Jakarta
Selasa, 10 Februari 2026 | 17:09 WIB
Pemerintah Godok RUU Disinformasi dan Propaganda Asing, DPP GMNI: Ancaman Serius Terhadap Demokrasi
Selasa, 10 Februari 2026 | 10:52 WIB
Hari Pers Nasional: Pers dan Spirit Marhaenisme di Era Digital
Selasa, 10 Februari 2026 | 08:03 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Hadiri Kampanye Akbar di GBK, Atikoh dan Alam Curi Perhatian Ratusan Ribu Pendukung Ganjar-Mahfud

Marhaenist.id, Jakarta - Siti Atikoh Suprianti dan Zinedine Alam turut hadir mendampingi…

Soekarno-Khrushchev Diantara Kemesraan Indonesia dan Uni Soviet

Marhaenist - Sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, Indonesia dan Uni Soviet menjalin…

Putusan MK soal Kolegium dan Konsil Kesehatan: Apa Artinya bagi Dokter, Mahasiswa, dan Pasien?

Marhaenist.id - Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya memutuskan sebagian gugatan terhadap Undang-Undang Nomor…

Mahfud MD Sebut Status WTP Papua Tak Menjamin Bebas Korupsi

Marhaenist - Pemerintah Provinsi Papua kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)…

Kembali Gelar PPAB, DPC GMNI Salatiga Targetkan KTD Sebelum Juni

Marhaenist.id, Salatiga - Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI)…

Bung Karno: Roh dan Semangat Muda adalah Dasar Mencapai Tujuan

Marhaenist.id - Semangat juang tidak boleh mati dalam jiwa setiap pemuda. Roh…

Pentingnya Audit Terbuka untuk Mencegah Korupsi dalam Proses Rekomendasi Politik

Maerhaenist.id - Pencalonan calon kepala daerah oleh partai politik merupakan proses fundamental…

Sambut Dies Natalis ke 71 di Bulan Ramadhan, GMNI Kendari Gelar Buka Puasa Bersama dan Tasyakuran

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Bung Tomo, Sang Orator Si Pembakar Semangat Perjuangan Melawan Penjajah

Marhaenist.id - Sutomo atau dikenal dengan panggilan Bung Tomo tercatat sebagai pahlawan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?