By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Mengapa Status Bencana Nasional di Sumatera Tidak Diberlakukan?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 4 Desember 2025 | 01:18 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Salah satu daerah terdampak Banjir Sumatera (Sumber: CNBC Indonesia)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Ketika rumah-rumah hanyut, jalan terputus, dan warga bertahan hidup dengan perahu rakitan dari drum bekas, negara tampaknya masih sibuk menghitung: “Ini sudah cukup parah belum untuk disebut Bencana Nasional?”

Pertanyaan itu terdengar absurd. Tetapi begitulah kenyataannya, absurditas kebijakan, bukan absurditas bencana.

1. Negara Seakan Menunggu Runtuhnya Seluruh Pulau

Bencana di Sumatera sudah memakan korban, menenggelamkan desa, menghancurkan ladang, dan memutus akses ke berbagai kabupaten. Tetapi rupanya, skala kehancuran itu belum cukup “meyakinkan” pemerintah.

Apa negara sedang menunggu:

– Satu provinsi hilang dari peta?

– Separuh Sumatera tenggelam? atau

– Hashtag #BencanaNasional trending dulu baru bergerak?

Karena sejauh ini, realita di lapangan sudah teriak, tapi pusat seperti tutup telinga.

2. Ada yang Bilang Ini Soal Administrasi. Tidak. Ini Soal Politik

Mari bicara apa adanya. Status Bencana Nasional itu mahal, bukan hanya secara anggaran, tapi secara citra politik.

– Untuk pusat, menetapkannya berarti:

– Mengakui daerah gagal,

– Sekaligus mengakui bahwa sistem mitigasi nasional tidak bekerja,

– Dan membuka ruang kritik setinggi gunung.

Dan bagi sebagian pejabat, reputasi tampaknya lebih penting daripada ribuan orang yang tidur di tenda darurat.

Dalam bahasa yang lebih jujur: Ini tentang rasa takut dicap tidak kompeten. Padahal, publik sudah tahu dari dulu tanpa perlu status resmi.

3. Drama Otonomi Daerah: Semua Saling Lihat, Tidak Ada yang Mau Ngaku Tidak Mampu

UU Penanggulangan Bencana mengatur bahwa sebelum pusat ambil alih penuh, daerah harus mengakui ketidakmampuannya.

Persoalannya: Siapa pejabat daerah yang mau mengucap kalimat politis paling berbahaya itu  “kami tidak mampu”?

Mereka sedang membangun elektabilitas, bukan merobohkannya.

Baca Juga:   Tiongkok yang Terbangun: Antara Ambisi Adidaya dan Narasi Jebakan Utang

Alhasil, muncullah drama klasik kebijakan Indonesia:

– Pusat menunggu sinyal dari daerah,

– Daerah menunggu inisiatif dari pusat,

– Rakyat menunggu bantuan yang tidak kunjung sampai.

Sementara itu, air bah tidak menunggu siapa pun.

4. Ketakutan Membuka Kotak Pandora: Industri Ekstraktif dan Dosa Lama

Jika status Bencana Nasional ditetapkan, negara wajib mengurai akar masalah.

Dan di Sumatera, akar masalah itu bukan sekadar hujan:
ia bernama tambang liar, izin longgar, deforestasi, perkebunan rakus, dan tata ruang yang dipermainkan modal.

Menetapkan Bencana Nasional berarti membuka pertanyaan:

– Bagaimana bisa banjir sebesar ini terjadi?

– Siapa perusahaan yang merusak hutan?

– Berapa besar kontribusi industri ekstraktif yang membuat tanah tidak mampu menahan air?

Ini pertanyaan yang sangat tidak disukai para pemilik konsesi dan, sayangnya, tidak disukai sebagian pejabat yang merasa “dekat”.

5. Rakyat Sudah Tenggelam, Pemerintah Masih Tenggelam Dalam Kalkulasi

Di tengah tumpukan debat politis yang membosankan itu, ada fakta getir yang tak terbantahkan:

Ribuan warga masih bertahan hidup dengan perahu, bukan kebijakan.

Status Bencana Nasional bagi mereka bukan sekadar judul keputusan presiden — melainkan akses terhadap:

– Logistik cepat,

– Tenaga tambahan,

– Beras dan obat,

– Helikopter evakuasi,

– Dan pendampingan jangka panjang.

Tapi rupanya, penderitaan rakyat masih kalah bobot dibanding ketakutan birokrat akan risiko politis.

6. Jika Bencana Tidak Disebut Bencana, Apa Nama Negara Ini?

Pada titik ini, muncul pertanyaan yang lebih pedih dari banjir itu sendiri:

Jika negara tidak berani menyatakan keadaan darurat ketika rakyatnya sedang darurat,
maka darurat siapa yang sebenarnya sedang dijaga?

Yang jelas, bukan darurat kemanusiaan.***

Baca Juga:   Kolonialisme Baru: Negara Tersandera oleh Oligarkhi

Catatan Redaksi, Penulis: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Pidato Bung Karno Tentang Isi Supersemar

Marhaenist.id - Dalam pidatonyo pada 17 Agustus 1966, Sukarno mengecam pihak yang telah…

Pengendara sepeda motor saat menerabas hujan di jalan raya. FILE/Mila Arinda

Waspada Hujan Akan Guyur Sebagian Kota Besar di Indonesia

Marhaenist - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau agar masyarakat waspada…

Sujahri Somar Tegaskan Arah Baru Kaderisasi GMNI lewat GMNI.AI: Demokratisasi Ide di Era Data dan Algoritma

Marhaenist.id, Jakarta — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menegaskan reposisi strategis kaderisasi…

YLBHI: 10 Faktor Jokowi Layak Disebut Pemimpin Korup dan Pelanggar Hukum dan HAM Terorganisir

Marhaenist.id - Menutup tahun 2024, salah satu organisasi nirlaba bernama Organized Crime…

Sonny T. Danaparamita Dorong Penguatan Program GEMARIKAN: Makan Ikan Itu Kunci Generasi Cerdas dan Sehat

Marhaenist.id, Banyuwangi - Safari Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) kembali dilaksanakan sebagai…

Mengantisipasi Otoritarianisme Politik Massa Mengambang

Marhaenist.id - Dalam konteks pemilu elektoral atau pemilihan umum, biasanya ada beberapa…

GMNI Malang Desak DPR RI Segera Mengesahkan RUU PPRT

Marhaenist.id, Kota Malang - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

DPD GMNI Malut Desak Forum Nasional Komunikasi Persatuan Dorong KLB Sebagai Jalan Penyelamatan Organisasi

Marhaenist.id, Malut — Dinamika internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kian mengkhawatirkan.…

Akar Desa Indonesia Bersama DEN Dorong Net Zero Emission dari Desa

Marhaenist.id - Jakarta, 6 September 2024 ,Akar Desa Indonesia, sebagai organisasi nasional…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?