By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
MarhaenismeOpini

Marhaenisme Tanpa Rakyat: Ketika Gerakan Sosial Terjebak dalam Simbolisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 14 Agustus 2025 | 15:40 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Difiarto, Kader GMNI Baubau (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Marhaenisme, sebagai warisan ideologis dari Soekarno, pada hakikatnya adalah sebuah gerakan pembebasan rakyat tertindas. Ia berpijak pada kenyataan sosial-ekonomi masyarakat kecil para petani, buruh miskin, nelayan tradisional, dan kaum kecil lainnya yang dalam istilah Bung Karno disebut sebagai “kaum Marhaen.” Namun, dalam dinamika kontemporer, terutama dalam gerakan sosial dan politik pascareformasi, Marhaenisme justru kerap tampil sebagai simbol kosong: bendera merah dengan gambar Soekarno, jargon anti-imperialisme, dan retorika revolusi yang kehilangan akar. Fenomena ini menciptakan sebuah ironi besar: Marhaenisme yang kehilangan rakyatnya.

Marhaenisme terus disebut-sebut, tetapi rakyat khususnya kelas pekerja, petani miskin, dan kaum marginal lainnya semakin tercerabut dari gerakan yang mengklaim memperjuangkan mereka. Marhaenisme yang dahulu lahir dari relasi langsung Bung Karno dengan rakyat tertindas, kini cenderung hidup dalam dunia simbol dan seremoni, terlepas dari praksis kerakyatan yang seharusnya menjadi denyut nadi utamanya.

Marhaenisme tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari akar realitas konkret rakyat Indonesia yang tertindas. Bung Karno memformulasikan Marhaenisme setelah melihat bahwa rakyat Indonesia bukan proletar dalam pengertian Marx, melainkan petani kecil yang memiliki alat produksi sendiri namun tetap tak berdaya menghadapi sistem kapitalisme kolonial. Dari situlah lahir konsep Marhaen: simbol rakyat kecil yang bekerja keras namun tetap miskin karena struktur ekonomi-politik yang timpang.

Marhaenisme sebagai Ideologi Praksis, Bukan Retorika

Bung Karno tidak merumuskan Marhaenisme dari teori buku semata. Ia melihat langsung bagaimana rakyat Indonesia, seperti Marhaen sang petani miskin di Bandung, bekerja keras di tanahnya sendiri namun tetap miskin karena sistem ekonomi yang menindas. Dari situ, Soekarno membangun gagasan bahwa penjajahan bukan hanya berbentuk fisik oleh bangsa asing, tapi juga struktural oleh sistem kapitalisme dan imperialisme global (Soekarno 1963).

Baca Juga:   Rakyat, Pajak, dan Hak Pilih: Kenapa Pilkada Lewat DPRD Harus Kita Tolak

Marhaenisme menyatukan nasionalisme, sosialisme, dan humanisme dalam satu kerangka perjuangan emansipatoris. Dalam pandangan Soekarno, rakyat bukanlah objek belas kasihan, melainkan subjek sejarah. Mereka adalah kekuatan pengubah keadaan, yang jika diberdayakan dan disadarkan secara politik, mampu mengguncang kekuasaan yang timpang (Said 1986).

Namun hari ini, semangat praksis itu menghilang. Banyak kelompok yang mengaku Marhaenis justru menjadikan ideologi ini sebagai slogan kosong, bukan kerangka kerja politik yang konkret dan membumi.

Gerakan Mahasiswa Marhaenis yang Lumpuh dalam Ideologi

Organisasi mahasiswa berhaluan Marhaenis juga mengalami degradasi parah. Dulu, mereka dikenal sebagai garda terdepan dalam membela kaum tertindas, lantang menyuarakan ketidakadilan, dan konsisten turun ke jalan untuk mengawal demokrasi. Kini, sebagian besar terjebak dalam politik struktural yang pragmatis, sibuk dengan urusan jabatan internal, kongres, dan persaingan internal yang tidak berorientasi pada gerakan rakyat.

Pendidikan ideologi yang dulunya menjadi jantung gerakan kini hanya menjadi ritual tahunan. Dialektika digantikan doktrin. Diskusi digantikan kultus tokoh. Keberanian melawan kekuasaan digantikan perburuan akses terhadapnya. Mereka lebih dekat ke ruang legislatif daripada ke tanah rakyat yang digusur. Lebih akrab dengan pemodal daripada dengan nasib buruh pabrik atau nelayan yang tanahnya dirampas.

Inilah bentuk paling tragis dari pengkhianatan ideologis, ketika kaum yang seharusnya menjaga nyala api perjuangan justru memadamkannya demi kenyamanan di bawah naungan kekuasaan.

Dalam gerakan sosial kontemporer para aktor semakin menjauh dari basis massa. Banyak aktivis dan intelektual muda lahir dari kelas menengah terdidik yang akrab dengan teori kiri, tetapi tidak akrab dengan realitas rakyat. Mereka membentuk lingkaran diskusi, forum akademik, dan kanal media sosial namun absen dari ladang, pabrik, atau kampung kumuh tempat rakyat hidup dan berjuang. Rakyat tetap menjadi objek, bukan subjek perjuangan.

Baca Juga:   Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat

Salah satu bentuk pengkhianatan yang paling dalam adalah penghancuran kesadaran ideologis dari dalam. Organisasi Marhaenis hari ini menyelenggarakan pelatihan, diskusi, dan peringatan hari besar ideologi hanya sebagai seremoni formalitas. Bung Karno diabadikan dalam spanduk dan logo, tetapi ajarannya tidak dikaji secara kontekstual dan dialektis. Marhaenisme menjadi nostalgia, bukan pedoman perjuangan.

Dalam situasi ini, generasi muda tidak tumbuh dengan keberanian untuk menantang status quo, melainkan diajari bagaimana menjadi bagian dari sistem yang ada. Mereka tidak diajarkan untuk menjadi “batu kerikil dalam sepatu kekuasaan”, melainkan justru menjadi bagian dari infrastruktur kekuasaan itu sendiri

Media Sosial dan Ilusi Keterlibatan Politik

Media sosial memberikan ruang ekspresi politik yang luas, tetapi sekaligus menciptakan ilusi keterlibatan. Banyak aktivis percaya bahwa posting dan diskusi daring cukup untuk membangun kesadaran rakyat. Padahal, seperti diingatkan oleh Paulo Freire (2005), kesadaran sejati lahir dari pengalaman langsung rakyat dalam memahami dan mengubah dunia mereka.

Tanpa kerja pengorganisasian, pendidikan politik, dan mobilisasi struktural, gerakan hanya akan menjadi riuh di permukaan, tanpa akar. Marhaenisme, sebagai ideologi praksis, tidak bisa direduksi menjadi konten digital. Ia harus hidup dalam kehidupan sehari-hari rakyat, dalam kerja kolektif yang membangun kekuatan bersama.

Marhaenisme tanpa rakyat adalah kontradiksi. Ia bukan sekadar kehilangan makna, tetapi menjadi alat legitimasi kekuasaan yang semula hendak ia lawan. Ketika simbolisme menggantikan substansi, ketika kata-kata lebih lantang dari kerja nyata, maka Marhaenisme hanya menjadi fosil ideologis yang dipamerkan dalam ritual politik tanpa keberanian transformatif.

Kini saatnya untuk menolak kosmetika ideologis. Marhaenisme harus kembali menjadi alat perjuangan yang hidup, yang hadir di tengah rakyat, dan yang mampu membebaskan. Sebab Marhaen sejati bukan hanya petani miskin di Bandung tempo dulu, tetapi setiap rakyat tertindas hari ini yang belum merasakan kemerdekaan sejati.

Baca Juga:   Imanuel Chayadi vs Independesi GMNI: Siapakah Pemenangnya?

Marhaenisme bukan untuk dikutip, tetapi ia untuk dijalankan !!!.***


Penulis: Difiarto, Kader GMNI Baubau.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Transisi Kabinet

MARHAENIST - Hari-hari terakhir pemerintahan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan reshuffle kabinetnya.…

Napak Tilas Bung Karno, Ganjar Silaturahmi ke Keuskupan Bogor

Marhaenist.id, Bogor - Ganjar Pranowo didampingi istrinya, Siti Atikoh bersilaturahmi ke Keuskupan…

Suharto dan Gelar Pahlawan: Penghargaan atau Penghinaan bagi Sejarah?

Marhaenist.id - Soeharto, nama yang sudah menjadi sebuah monumen yang terbuat dari…

Dialektika Mahaenisme (Metode Berpikir)

Marhaenist.id - Marhaenisme adalah ideologi perlawanan terhadap kolonialisme, kapitalisme, imperialisme, dan feodalisme…

Dipecat Akibat Asusila, Ketua KPU Justru Senang dan Riang Gembira

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Hasyim Asy’ari berterima kasih…

GMNI Malang Desak DPR RI Segera Mengesahkan RUU PPRT

Marhaenist.id, Kota Malang - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. FILE/Marhaenist

GMNI dan Dunia Aktivisme Ganjar Pranowo

Marhaenist - Ganjar Pranowo lahir pada masa ketika Indonesia sedang merayakan peringatan…

Meskipun Kepastian Kemenangannya Diluar Negeri Belum Final, Ganjar Mengaku Sudah Kantongi Hasil Exit Poll

Marhaenist.id, Solo - Pencoblosan Pemilu 2024 di luar negeri sudah dimulai sejak awal…

Kupas Pengaruh Globalisasi Demi Generasi Emas Indonesia, GMNI Dwitunggal FISIP UNRI dan GMNI Hang Tuah Tekankan Keteladanan Semangat Juang 1945

Marhaenist.id, Pekanbaru — Dewan Pengurus Komisariat (DPK) GMNI Dwitunggal FISIP Universitas Riau bersama…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?