Marhaenist.id – Yang terlihat hari ini di tubuh internal DPP GMNI bukan sekadar konflik nama atau kursi, melainkan krisis etika berorganisasi. Kita terlalu sering membungkus perebutan legitimasi dengan jargon ideologi, padahal yang dipertontonkan ke bawah justru tarik-menarik kuasa. Di titik ini, Marhaenisme tidak sedang kalah oleh musuh eksternal, tetapi oleh ego internal.
Fenomena banyak klaim ketua umum dan sekjen menunjukkan satu hal mendasar: kita gagal menjadikan AD/ART sebagai kesepakatan suci bersama. Dalam organisasi ideologis, aturan main bukan formalitas administratif, melainkan fondasi moral. Ketika hasil kongres bisa ditafsirkan sesuai kepentingan masing-masing faksi, maka yang runtuh bukan hanya struktur, tapi juga kepercayaan kader akar rumput.
Sebagai kader, yang paling menyakitkan bukan perbedaan pendapat—GMNI justru lahir dari dialektika—melainkan hilangnya kejujuran politik. Perdebatan sehat terjadi ketika semua pihak mau mengakui batas kalah dan menang. Yang berbahaya adalah ketika kekalahan prosedural disulap menjadi klaim moral, seolah-olah “yang paling ideologis” otomatis paling sah. Sejarah mengajarkan, klaim moral tanpa legitimasi organisatoris hanya melahirkan fragmentasi.
Aku juga akan mengatakan ini dengan tegas: GMNI terlalu besar untuk terus dijadikan laboratorium ambisi personal. Setiap elite yang hari ini sibuk mengamankan legitimasi sempit, sedang mewariskan kebingungan struktural kepada kader di DPC dan DPD. Mereka yang di bawah dipaksa memilih “garis”, padahal seharusnya sedang belajar berpikir kritis dan berpihak pada rakyat.
Namun sebagai kader GMNI, aku tidak akan berhenti pada pesimisme. Organisasi ini sudah berkali-kali nyaris runtuh, dan selalu diselamatkan bukan oleh elite, tetapi oleh kesadaran kolektif kader bahwa GMNI lebih besar dari siapa pun. Jalan keluarnya bukan saling meniadakan, melainkan keberanian duduk bersama, membuka dokumen, membuka proses, dan menerima hasil dengan dewasa—bahkan jika itu pahit.
Jika GMNI ingin kembali relevan, DPP harus ingat satu hal sederhana tapi keras: kepemimpinan bukan soal siapa yang paling lantang mengklaim, tapi siapa yang paling siap dipertanggungjawabkan secara organisatoris dan ideologis.
Harapan saya
Saya ingin GMNI ke depan berhenti sibuk membuktikan siapa paling sah, paling ideologis, paling senior, atau paling dekat dengan tokoh tertentu. Semua itu bising, melelahkan, dan pelan-pelan mengosongkan makna organisasi. GMNI lahir bukan untuk melahirkan elite kecil yang pandai berkelahi di ruang kongres, melainkan untuk membentuk kader yang tahan banting menghadapi ketidakadilan nyata di luar pagar kampus.
Dari hati yang paling dalam, saya ingin GMNI sembuh. Sembuh dari luka ego, dari trauma konflik, dari kebiasaan menjadikan AD/ART sebagai alat pukul, bukan pedoman bersama. Sembuh berarti berani mengakui kesalahan, bukan menguburnya dengan jargon persatuan yang hampa.
Saya ingin GMNI kembali menjadi rumah kader, bukan medan perang faksi. Tempat di mana mahasiswa kecil dari daerah—yang mungkin baru pertama kali belajar bicara politik—merasa aman untuk berpikir, berbeda, dan tumbuh. Bukan takut salah garis, salah forum, atau salah menyebut nama.
Ke depan, GMNI seharusnya lebih sibuk bertanya:
1. Mengapa petani masih tergusur,
2. Mengapa buruh makin rentan,
3. Mengapa pendidikan makin mahal,
4. Mengapa nasionalisme sering kalah oleh modal.
Jika GMNI tidak hadir di pertanyaan-pertanyaan itu, maka sehebat apa pun struktur DPP, ia hanya tinggal papan nama.
Saya ingin GMNI melahirkan pemimpin yang rendah hati tapi tegas, ideologis tapi tidak dogmatis, kritis tapi tidak culas. Pemimpin yang sadar bahwa jabatan hanyalah alat, bukan tujuan hidup. Yang berani selesai, bukan terus menggantung konflik demi eksistensi.
Dan yang paling penting: saya ingin GMNI kembali dipercaya oleh kadernya sendiri. Karena organisasi ideologis tidak runtuh saat diserang dari luar, tetapi saat kadernya berhenti berharap.
GMNI tidak butuh tokoh sempurna.
GMNI butuh keberanian kolektif untuk pulang ke akarnya: berpihak, berpikir, dan berjuang—dengan kepala dingin dan hati yang bersih.***
Penulis: Johan, Kader GMNI Polewali Mandar.