By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal
Warga TPU Kebun Nanas Didampingi GMNI Jakarta Timur dan Yayasan Teman Baik Ajukan Pengaduan ke Komnas HAM RI
Polemik Pembangunan Kopdes Merah Putih, GMNI Kendari Bongkar Dugaan Penyerobotan Lahan Warga oleh Kepala Desa Polindu
GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis
Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Marhaenisme di Persimpangan: Antara Etika Organisasi dan Ambisi Kekuasaan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 19 Desember 2025 | 12:09 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi GMNI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Yang terlihat hari ini di tubuh internal DPP GMNI bukan sekadar konflik nama atau kursi, melainkan krisis etika berorganisasi. Kita terlalu sering membungkus perebutan legitimasi dengan jargon ideologi, padahal yang dipertontonkan ke bawah justru tarik-menarik kuasa. Di titik ini, Marhaenisme tidak sedang kalah oleh musuh eksternal, tetapi oleh ego internal.

Fenomena banyak klaim ketua umum dan sekjen menunjukkan satu hal mendasar: kita gagal menjadikan AD/ART sebagai kesepakatan suci bersama. Dalam organisasi ideologis, aturan main bukan formalitas administratif, melainkan fondasi moral. Ketika hasil kongres bisa ditafsirkan sesuai kepentingan masing-masing faksi, maka yang runtuh bukan hanya struktur, tapi juga kepercayaan kader akar rumput.

Sebagai kader, yang paling menyakitkan bukan perbedaan pendapat—GMNI justru lahir dari dialektika—melainkan hilangnya kejujuran politik. Perdebatan sehat terjadi ketika semua pihak mau mengakui batas kalah dan menang. Yang berbahaya adalah ketika kekalahan prosedural disulap menjadi klaim moral, seolah-olah “yang paling ideologis” otomatis paling sah. Sejarah mengajarkan, klaim moral tanpa legitimasi organisatoris hanya melahirkan fragmentasi.

Aku juga akan mengatakan ini dengan tegas: GMNI terlalu besar untuk terus dijadikan laboratorium ambisi personal. Setiap elite yang hari ini sibuk mengamankan legitimasi sempit, sedang mewariskan kebingungan struktural kepada kader di DPC dan DPD. Mereka yang di bawah dipaksa memilih “garis”, padahal seharusnya sedang belajar berpikir kritis dan berpihak pada rakyat.

Namun sebagai kader GMNI, aku tidak akan berhenti pada pesimisme. Organisasi ini sudah berkali-kali nyaris runtuh, dan selalu diselamatkan bukan oleh elite, tetapi oleh kesadaran kolektif kader bahwa GMNI lebih besar dari siapa pun. Jalan keluarnya bukan saling meniadakan, melainkan keberanian duduk bersama, membuka dokumen, membuka proses, dan menerima hasil dengan dewasa—bahkan jika itu pahit.

Baca Juga:   Ketua GMNI Jatim Ajak Masyarakat Kawal Pemilu 2024

Jika GMNI ingin kembali relevan, DPP harus ingat satu hal sederhana tapi keras: kepemimpinan bukan soal siapa yang paling lantang mengklaim, tapi siapa yang paling siap dipertanggungjawabkan secara organisatoris dan ideologis.

Harapan saya

Saya ingin GMNI ke depan berhenti sibuk membuktikan siapa paling sah, paling ideologis, paling senior, atau paling dekat dengan tokoh tertentu. Semua itu bising, melelahkan, dan pelan-pelan mengosongkan makna organisasi. GMNI lahir bukan untuk melahirkan elite kecil yang pandai berkelahi di ruang kongres, melainkan untuk membentuk kader yang tahan banting menghadapi ketidakadilan nyata di luar pagar kampus.

Dari hati yang paling dalam, saya ingin GMNI sembuh. Sembuh dari luka ego, dari trauma konflik, dari kebiasaan menjadikan AD/ART sebagai alat pukul, bukan pedoman bersama. Sembuh berarti berani mengakui kesalahan, bukan menguburnya dengan jargon persatuan yang hampa.

Saya ingin GMNI kembali menjadi rumah kader, bukan medan perang faksi. Tempat di mana mahasiswa kecil dari daerah—yang mungkin baru pertama kali belajar bicara politik—merasa aman untuk berpikir, berbeda, dan tumbuh. Bukan takut salah garis, salah forum, atau salah menyebut nama.

Ke depan, GMNI seharusnya lebih sibuk bertanya:

1. Mengapa petani masih tergusur,
2. Mengapa buruh makin rentan,
3. Mengapa pendidikan makin mahal,
4. Mengapa nasionalisme sering kalah oleh modal.

Jika GMNI tidak hadir di pertanyaan-pertanyaan itu, maka sehebat apa pun struktur DPP, ia hanya tinggal papan nama.

Saya ingin GMNI melahirkan pemimpin yang rendah hati tapi tegas, ideologis tapi tidak dogmatis, kritis tapi tidak culas. Pemimpin yang sadar bahwa jabatan hanyalah alat, bukan tujuan hidup. Yang berani selesai, bukan terus menggantung konflik demi eksistensi.

Baca Juga:   Menyatukan Barisan: Seruan Kader DPK GMNI FKIP Universitas Khairun Ternate untuk Merumuskan Strategi Kolektif Menghadapi Polemik DPP

Dan yang paling penting: saya ingin GMNI kembali dipercaya oleh kadernya sendiri. Karena organisasi ideologis tidak runtuh saat diserang dari luar, tetapi saat kadernya berhenti berharap.

GMNI tidak butuh tokoh sempurna.
GMNI butuh keberanian kolektif untuk pulang ke akarnya: berpihak, berpikir, dan berjuang—dengan kepala dingin dan hati yang bersih.***


Penulis: Johan, Kader GMNI Polewali Mandar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal
Rabu, 7 Januari 2026 | 04:01 WIB
Warga TPU Kebun Nanas Didampingi GMNI Jakarta Timur dan Yayasan Teman Baik Ajukan Pengaduan ke Komnas HAM RI
Rabu, 7 Januari 2026 | 02:04 WIB
Polemik Pembangunan Kopdes Merah Putih, GMNI Kendari Bongkar Dugaan Penyerobotan Lahan Warga oleh Kepala Desa Polindu
Selasa, 6 Januari 2026 | 23:30 WIB
GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis
Selasa, 6 Januari 2026 | 22:03 WIB
Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas
Selasa, 6 Januari 2026 | 19:47 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Ziarahi ke Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur: Pak Harto, Bung Karno dan Tiga Kosmologi (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 3)

Marhaenist.id, Blitar - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

PA GMNI Dalami Pembelajaran Hukum Acara Perselisihan Hasil Pemilu

Marhaenist - Mahkamah Konstitusi (MK) melalui Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi (Pusdik…

Intoleransi Meningkat, GMNI: Masyarakat Harus Hati-hati Pilih Pemimpin di 2024

Marhaenist - Intoleransi masih menjadi persoalan yang krusial dalam hubungan kemasyarakatan di…

Trump, Amerika dan Jerman: Babak Baru Geopolitik

Marhaenist.id - Ketika Trump kembali masuk ke panggung kekuasaan, narasi "America First" kemungkinan…

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristianto. Dok. PDIP

Dukung KPK, PDI Perjuangan Kedepankan Integritas

Marhaenist - Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan partainya mendukung upaya pemberantasan…

Sikapi Revisi UU Pilkada, GMNI Blitar Gruduk Kantor DPRD

MARHAENIST - Pelantikan anggota DPRD Kota Blitar terpilih periode 2024-2029 berlangsung pada…

Marhaenisme, Marhaen dan Kita

Marhaenist.id - Banyak fenomena ganjil yang terjadi diantara kita. Terutama tentang Marhaenisme.…

Didingklik: Wajah Baru Layanan Digital bagi Pelayanan Publik dan Tata Kelola Daerah di Pandeglang

Marhaenist id - Pandeglang terus berbenah dalam meningkatkan kualitas tata kelola daerah,…

DPK GMNI FAPERTASAINSTEK UNARS Situbondo Kritisi Penulisan Ulang Sejarah: ‘Siapa yang Mengontrol Narasi, Mengontrol Ingatan Kolektif?’

Marhaenist.id, Situbondo : Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?