By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Kapitalis dan Komunis

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 6 April 2025 | 08:52 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Ferdinand Marcos Jr, Presiden Filipina/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pada pandangan pertama, kapitalisme dan komunisme tampak seperti dua kutub yang tak pernah bisa bertemu. Kapitalisme, dengan semangat pasar bebas dan keuntungan individu, sering dianggap berlawanan dengan komunisme yang mengedepankan kolektivisme dan kontrol negara.

Namun, realitas politik dan ekonomi global membuktikan bahwa ideologi yang berbeda tidak selalu menjadi penghalang untuk mencapai kesepakatan.

Komunikasi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam pada April 2025, telah menunjukkan bahwa pragmatisme sering kali mengalahkan perbedaan ideologis.

Pada tanggal 5 April 2025, Trump mengumumkan melalui akun media sosialnya bahwa ia telah melakukan panggilan telepon yang “sangat produktif” dengan To Lam.

Dalam percakapan tersebut, Vietnam menyatakan niatnya untuk menghapus tarif impor dari Amerika Serikat sepenuhnya, sebagai respons terhadap tarif 46% yang diberlakukan Trump terhadap barang-barang Vietnam yang masuk ke AS.

Langkah ini merupakan bagian dari negosiasi yang dimulai setelah Trump menetapkan kebijakan tarif pada 2 April 2025. Bagi banyak pengamat, ini adalah bukti nyata bahwa kepentingan ekonomi dapat menjembatani jurang ideologi yang tampaknya tak terselesaikan.

Vietnam, sebuah negara yang dijalankan oleh Partai Komunis, telah lama dikenal sebagai salah satu ekonomi yang berkembang pesat di Asia Tenggara. Meskipun berpegang pada sistem politik komunis, Vietnam telah mengadopsi elemen kapitalisme dalam perekonomiannya sejak reformasi Doi Moi pada tahun 1986. Sementara itu, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump dikenal sebagai benteng kapitalisme yang gigih memperjuangkan kebijakan “America First”.

Ketika kedua pemimpin ini duduk bersama, walau hanya melalui telepon, untuk membahas tarif dan perdagangan, dunia menyaksikan bahwa label ideologi tidak selalu menentukan arah hubungan bilateral.

Baca Juga:   IHSG, MSCI, dan Ekonomi Rakyat: Membaca Risiko Pasar Global dalam Tafsir Marhaenisme Nusantara

Lebih jauh lagi, pembicaraan ini tidak hanya terbatas pada soal tarif. Menurut Vietnam News Agency, Trump dan To Lam juga membahas penguatan hubungan bilateral dan peningkatan perdagangan. To Lam menegaskan bahwa Vietnam akan terus mengimpor barang-barang yang dibutuhkan dari Amerika, sekaligus menciptakan iklim yang kondusif bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk berinvestasi di Vietnam. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran bersama bahwa kerja sama ekonomi dapat saling menguntungkan, terlepas dari perbedaan sistem politik.

Foto: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta/MARHAENIST.

Vietnam membutuhkan pasar dan investasi AS, sementara Amerika melihat Vietnam sebagai mitra strategis di kawasan Asia-Pasifik, terutama dalam konteks persaingan geopolitik dengan Tiongkok.

Kesepakatan ini juga mencerminkan fleksibilitas yang muncul dari kebutuhan pragmatis. Bagi Vietnam, menghapus tarif impor dari AS adalah langkah untuk menjaga akses ke pasar Amerika yang besar, sementara bagi Trump, ini adalah kemenangan dalam mewujudkan janji kampanyenya untuk menciptakan perdagangan yang “adil” bagi Amerika.

Dalam konteks ini, ideologi menjadi sekunder dibandingkan kepentingan nasional dan ekonomi. Siapa bilang kapitalis dan komunis tidak bisa membuat kesepakatan? Sejarah telah menunjukkan bahwa ketika ada keuntungan yang bisa diraih, perbedaan ideologis sering kali dikesampingkan demi tujuan bersama.

Panggilan telepon antara Trump dan To Lam adalah simbol dari dunia yang semakin kompleks, di mana garis-garis ideologi menjadi kabur di hadapan realitas ekonomi global.

Hal ini bukan pertama kalinya kapitalisme dan komunisme menemukan titik temu—ingat hubungan AS dengan Tiongkok di masa lalu atau kerja sama ekonomi Vietnam dengan negara-negara Barat lainnya.

Namun, peristiwa ini menegaskan kembali bahwa dalam politik internasional, tidak ada yang benar-benar mutlak. Ketika kepentingan bertemu, bahkan kapitalis dan komunis pun bisa duduk bersama, berjabat tangan—atau setidaknya, bertukar kata melalui saluran telepon—dan mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Baca Juga:   Gaduh Ijazah Jokowi dan Rapuhnya Imperatif Hukum Indonesia

Penulis: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Sebut Prof. Ikrar “Anji**” di Sebuah Diskusi, La Ode Mustawwadhaar Desak TV Nasional Boikot Abu Janda: Tak Punya Adab dan Tata Krama

Marhaenist.id, Kendari – Sebutan kontroversial yang disampaikan oleh pegiat media sosial Abu…

Wujudkan Pilkada Damai, Mari Kolaborasi bersama Kepolisian, TNI dan Stakeholder serta Seluruh Masyarakat Butur!

Marhaenist.id - Dengan sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan…

Dukung Ganjar, Caleg Demokrat Alumni GMNI Ini Tak Peduli Disanksi Partai

Marhaenist.id, Malang - Caleg DPRD Dapil V Jatim dari Partai Demokrat sekaligus…

Kesengsaraan Rakyat Indonesia Disebabkan oleh Nekolim

Marhaenist.id - Belajar dari Bung Karno di dalam menghadapi Nekolim, ia mencanangkan…

DPD GMNI Sumatera Utara Kecam Tindakan Represif Aparat Keamanan Terhadap Ketua GMNI Labuanbatu

Marhaenist.id, Labuhanbatu – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD Sumatera…

Gelar PPAB, GMNI UIN Salatiga Tanamkan Jiwa Nasionalis dan Sosialis

Marhaenist.id, Salatiga - Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. FILE/Marhaenist

GMNI dan Dunia Aktivisme Ganjar Pranowo

Marhaenist - Ganjar Pranowo lahir pada masa ketika Indonesia sedang merayakan peringatan…

Komandan Pacul Masuk dalam Bursa Menteri Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Marhaenist.id - Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul atau sering disebut Komandan Pacul…

Matinya Pancasila di Bulan Juni

Marhaenist.id - Pagi belum benar-benar terang ketika Prabowo keluar dari rumah kayunya…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?