
Marhaenist.id, Jakarta – Penggunaan obat herbal alami telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Tradisi meramu tanaman obat dikenal luas dalam berbagai budaya lokal, mulai dari jamu tradisional Jawa hingga ramuan herbal dari berbagai daerah di Nusantara.
Di tengah berkembangnya industri kesehatan modern, tradisi herbal justru kembali mendapat perhatian masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya penggunaan bahan alami dalam menjaga kesehatan.
Salah satu koordinator Asosiasi Bakul Jamu Nusantara, Suga Lele, pada senin (16/3/2026) mengatakan bahwa praktik pengobatan herbal merupakan bagian dari warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Nusantara.
Menurutnya, sejak dahulu masyarakat Indonesia telah mengenal berbagai ramuan herbal untuk menjaga stamina tubuh, meningkatkan daya tahan, hingga membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan.
“Sejak dulu masyarakat Nusantara mengandalkan jamu dan tanaman obat untuk menjaga kesehatan. Banyak ramuan yang diwariskan dari nenek moyang dan masih digunakan sampai sekarang,” ujar Suga Lele saat ditemui di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa kekayaan tanaman obat di Indonesia sangat melimpah karena didukung oleh kondisi alam tropis dan keanekaragaman hayati yang besar.
Beberapa tanaman yang sering digunakan dalam ramuan herbal tradisional antara lain pasak bumi, purwoceng, daun kelor, kunyit putih, sambiloto, hingga kayu manis.
Selain itu terdapat pula herbal populer seperti Sarang Semut Papua, Jamur Lingzhi, dan Kayu Bajakah yang dikenal luas dalam pengobatan tradisional.
Menurut Suga Lele, perkembangan industri herbal saat ini membuat berbagai tanaman obat tersebut tidak lagi hanya dikonsumsi dalam bentuk jamu tradisional, tetapi juga telah diolah menjadi produk modern seperti kapsul herbal, madu herbal, ekstrak tanaman obat, hingga minuman kesehatan.
Beberapa produk herbal yang cukup dikenal masyarakat antara lain Madu Kuat, Eury X, Jianshenwang, kapsul purwoceng, hingga ekstrak pasak bumi yang banyak digunakan untuk membantu meningkatkan stamina dan vitalitas tubuh.
Selain produk untuk stamina, terdapat pula berbagai herbal yang digunakan masyarakat untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan, seperti kapsul daun insulin untuk membantu mengontrol gula darah, madu hijau untuk meredakan keluhan asam lambung, serta kapsul daun kelor dan kulit manggis yang dikenal kaya antioksidan.
Suga Lele juga menyebut bahwa herbal tidak hanya digunakan untuk kesehatan tubuh, tetapi juga untuk kesehatan reproduksi dan perawatan alami.
Produk seperti madu zuriyat untuk kesuburan, ramuan promil suami-istri berbahan herbal, serta ekstrak daun katuk untuk membantu melancarkan ASI menjadi contoh penggunaan herbal yang masih populer hingga kini.
Selain itu, tanaman herbal juga banyak dimanfaatkan dalam produk perawatan kecantikan alami seperti serum herbal, skincare berbahan tanaman obat, hingga krim herbal.
Menurutnya, tren masyarakat yang mulai kembali ke bahan alami membuat permintaan terhadap herbal Nusantara terus meningkat.
“Sekarang tren back to nature semakin kuat. Banyak orang kembali mencari jamu dan herbal karena dianggap lebih alami dan sudah terbukti digunakan sejak zaman nenek moyang,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap bijak dalam menggunakan obat herbal dan tidak mengabaikan aspek keamanan serta konsultasi medis.
“Herbal memang alami, tetapi tetap harus digunakan dengan bijak. Masyarakat perlu mengetahui bahan yang digunakan dan mengikuti aturan pakai,” jelasnya.
Lebih jauh, Suga Lele menilai bahwa kekayaan tanaman obat Nusantara sebenarnya memiliki potensi besar tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi nasional.
Dalam perspektif sejarah, kawasan Nusantara sejak dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia yang menghubungkan jalur perdagangan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta di antara benua Asia dan Australia.
Pada masa lalu, kerajaan maritim besar seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit berperan penting dalam perdagangan rempah serta pertukaran pengetahuan herbal antarperadaban.
Menurut Suga Lele, warisan sejarah tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan kembali dalam pengembangan industri herbal modern di Indonesia.
“Kalau dikelola dengan serius, herbal Nusantara bukan hanya budaya. Ini bisa menjadi kekuatan ekonomi besar dan bahkan menjadi bagian dari diplomasi kesehatan Indonesia di dunia,” ujarnya.
Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri herbal berbasis sumber daya alam sekaligus mempertahankan tradisi pengobatan yang telah hidup selama berabad-abad.
Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi industri kesehatan global, herbal Nusantara diyakini akan tetap bertahan sebagai warisan budaya, kekuatan ekonomi, sekaligus bagian dari identitas peradaban Indonesia.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.