By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
DPP GMNI Apresiasi Kemenangan Ekologis Masyarakat Adat Tano Batak
28 Izin Dicabut, DPP GMNI Bongkar Masalah Kehutanan
Pidato Sukarno di PBB: Zaman Baru Datang, Penjajahan Telah Usang 30 September 1960

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Hadapi Gelombang PHK

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 4 Maret 2025 | 13:01 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Unjuk Rasa Tolak Gelombang PKH (Sumber foto: Depok Pos)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Awal tahun 2025 dibuka dengan kabar yang kurang mengenakkan. Gelombang PHK terjadi di berbagai sektor industri, tanda bahwa perekonomian kita sedang dalam kondisi yang kurang baik.

Tidak hanya ratusan, tapi ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian mereka. Seperti efek domino, satu perusahaan melakukan PHK, lalu diikuti oleh yang lain, menciptakan gelombang besar yang berdampak pada banyak keluarga.

PHK tentu bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi. Ini adalah cerita nyata tentang orang-orang yang tiba-tiba harus mencari cara untuk membayar cicilan rumah, menyekolahkan anak, atau bahkan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Jika situasi ini terus dibiarkan tanpa solusi yang konkret, dampaknya bisa lebih buruk: daya beli masyarakat turun, konsumsi melemah, dan akhirnya ekonomi makin lesu.

Salah satu sektor yang paling terpukul adalah industri tekstil. Dalam dua tahun terakhir, permintaan dari negara besar seperti China dan Amerika Serikat turun drastis.

Sebagai akibatnya, banyak pabrik harus menyesuaikan produksi mereka dengan permintaan ekspor yang menurun, dan sayangnya, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan merumahkan karyawan.

Masalahnya nggak berhenti di situ. Produk impor dari China yang harganya jauh lebih murah makin membanjiri pasar dalam negeri. Ini terjadi setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mempermudah arus impor barang dari luar negeri.

Kalau harga produk impor lebih murah, wajar saja kalau masyarakat lebih memilihnya dibandingkan produk lokal. Apalagi, ada kabar bahwa produk-produk impor ilegal juga ikut masuk, membuat industri dalam negeri semakin sulit bersaing.

Akibatnya? Pabrik dalam negeri semakin tertekan. Produksi berkurang, penjualan turun, dan akhirnya, PHK tak terhindarkan. Ini bukan sekadar soal bisnis, tapi soal kelangsungan hidup banyak pekerja yang selama ini menggantungkan hidupnya pada industri ini.

Baca Juga:   Revolusi Energi: Bongkar Mafia BBM, Tindak Tegas Pengkhianat Rakyat!

Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah kualitas pertumbuhan ekonomi kita. Memang, angka pertumbuhan ekonomi masih terlihat positif. Tapi kalau dilihat lebih dalam, pertumbuhan ini tidak menciptakan cukup banyak lapangan kerja.

Dulu, setiap kenaikan 1% dalam pertumbuhan ekonomi bisa menyerap lebih dari 400 ribu tenaga kerja. Sekarang? Angka yang sama hanya bisa menyerap sekitar 100 ribu orang. Artinya, pertumbuhan yang terjadi tidak benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat luas. Ini juga menjadi pertanda bahwa sektor industri kita tidak lagi sekuat dulu dalam menyerap tenaga kerja.

Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB pun makin mengecil. Sepuluh tahun yang lalu, sektor ini menyumbang lebih dari 20% terhadap perekonomian. Sekarang, angkanya hanya sekitar 18%. Penurunan ini mungkin terlihat kecil, tapi dampaknya besar, terutama bagi mereka yang kehilangan pekerjaan.

Foto: Edi Subroto/MARHAENIST.

Jika kondisi ini dibiarkan tanpa tindakan nyata, bukan tidak mungkin dalam satu atau dua tahun ke depan, lebih banyak lagi pekerja yang terpaksa kehilangan pekerjaan. Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan?

Pertama, pemerintah perlu meninjau kembali kebijakan impor yang terlalu longgar. Produk impor memang penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tapi jika tidak dikontrol dengan baik, ini justru akan membunuh industri dalam negeri. Regulasi yang lebih ketat terhadap barang impor, terutama yang datang dengan harga sangat murah, bisa membantu industri lokal bertahan. Kita mungkin bisa belajar dari Amerika kalau untuk hal ini.

Kedua, ada kebutuhan mendesak untuk memperkuat daya saing industri dalam negeri. Ini bisa dilakukan dengan memberikan insentif bagi perusahaan yang masih bertahan, membantu mereka meningkatkan kualitas produk, serta mendorong inovasi agar produk lokal bisa lebih kompetitif.

Ketiga, investasi dalam pengembangan tenaga kerja juga sangat penting. Jika industri manufaktur tidak lagi bisa menyerap tenaga kerja sebanyak dulu, maka perlu ada program pelatihan dan peningkatan keterampilan agar pekerja yang terdampak bisa beralih ke sektor lain yang lebih menjanjikan.

Baca Juga:   Kapitalisme yang Menghapus Jejak Peradaban Bangka Belitung

PHK massal yang terjadi saat ini bukan hanya masalah perusahaan atau individu yang kehilangan pekerjaan. Ini adalah masalah bersama yang harus segera diatasi. Jika dibiarkan, efeknya bisa merambat ke berbagai aspek ekonomi lainnya, mulai dari menurunnya daya beli masyarakat, meningkatnya angka kemiskinan, hingga semakin lebarnya kesenjangan sosial.

Kita tidak bisa hanya menunggu keadaan membaik dengan sendirinya. Langkah kebijakan yang tepat harus diambil, untuk memastikan bahwa industri dalam negeri bisa kembali bangkit dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Karena pada akhirnya, ekonomi yang sehat bukan hanya tentang angka pertumbuhan, tapi juga tentang seberapa banyak orang-orang bisa merasakan manfaatnya.***


Penulis: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
Minggu, 25 Januari 2026 | 19:29 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:18 WIB
DPP GMNI Apresiasi Kemenangan Ekologis Masyarakat Adat Tano Batak
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:17 WIB
28 Izin Dicabut, DPP GMNI Bongkar Masalah Kehutanan
Minggu, 25 Januari 2026 | 07:46 WIB
Pidato Sukarno di PBB: Zaman Baru Datang, Penjajahan Telah Usang 30 September 1960
Sabtu, 24 Januari 2026 | 19:54 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Leviathan yang Tersenyum

Marhaenist.id - Ketertiban atau Ketakutan? Di negeri ini, kita tidak butuh kudeta…

Abdy Yuhana: Dirgahayu TNI ke 79, Politik TNI Adalah Politik Kebangsaan dan Kenegaraan

Marhaenist.id, Jakarta -  Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA)…

Rekonstruksi Amanat Marhaen, GMNI Menggugat Para Pimpinan MBD

Marhaenist.id - Momentum pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di…

Erick Thohir dan Serangkaian Keputusan Aneh

Marhaenist.id - Beberapa hari ini, saya membaca kembali rekam jejak bisnis dan…

GMNI Jaksel Serukan Potong Satu Generasi: Bersihkan Pejabat Warisan Orde Baru dan Adili Jokowi-Makzulkan Gibran

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta…

Isi Masa Tenang, Ganjar Pilih Kongkow Lesehan Bareng Warga

Marhaenist.id, Semarang - Ganjar Pranowo mengisi masa tenang kampanye menonton Slank bersama…

Menkeu: Rp 6,2 Triliun Telah Disalurkan Untuk Realisasi BLT BBM

Marhaenist - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, realisasi bantuan langsung tunai…

GMNI: Istana Harusnya Refleksi, Bukan Menuduh Civitas Akademika

Marhaenist.id, Jakarta - Di tengah kemunculan kritik sejumlah civitas akademika terhadap Presiden…

Emak-emak Muslimat di Lumajang Antusias Ketemu Atikoh Ganjar; Harus Jadi Ibu Negara

Marhaenist.id, Lumajang - Siti Atikoh Suprianti, istri calon Presiden RI Ganjar Pranowo…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?