By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
InternasionaleKabar GMNI

GMNI Kecam Keras Intervensi Militer AS ke Venezuela: Dunia Bukan Milik Satu Negara

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 5 Januari 2026 | 16:18 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Penangkapan Nicolas Maduro Presiden Venezuela oleh Pasukan Elit AS Delta Force (Sumber: Gatranews)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengecam dan mengutuk keras agresi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Republik Bolivarian Venezuela. Intervensi militer tersebut dinilai sebagai bentuk nyata imperialisme dan neo-kolonialisme yang secara terang-terangan dipertontonkan kepada masyarakat global.

Agresi militer AS ditandai dengan pengerahan pasukan elit Delta Force yang dilaporkan menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, di kediamannya di Caracas pada 3 Januari 2025. Serangkaian ledakan besar yang mengguncang Pangkalan Udara La Carlota dan kompleks militer Fuerte Tiuna menjadi sinyal dimulainya agresi militer langsung AS ke negara berdaulat tersebut.

GMNI mencatat, agresi ini merupakan intervensi militer AS ke-71 terhadap negara lain dalam 81 tahun terakhir, dan sejarah menunjukkan bahwa dua di antaranya pernah terjadi di Indonesia.

Dalam keterangan persnya, GMNI melalui Ketua DPP GMNI Bidang Geopolitik, Andreas H. Silalahi, menegaskan bahwa tindakan AS telah melampaui batas hukum internasional.

“Tidak ada satu pun negara, sekuat apa pun, yang berhak memperlakukan kepala negara lain sebagai subjek hukum domestiknya sendiri. Ini bukan penegakan hukum, melainkan praktik penjajahan modern. Amerika Serikat harus sadar bahwa dunia ini bukan miliknya,” tegas Andreas, Senin (5/1/2026).

GMNI menilai situasi Venezuela harus menjadi pelajaran penting bagi Indonesia, sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Venezuela tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel, melampaui Arab Saudi dan Iran. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa agresi militer AS berkaitan erat dengan kepentingan geopolitik dan penguasaan sumber daya alam.

Sebelum penangkapan Presiden Maduro, diketahui telah berlangsung pertemuan diplomatik antara pemerintah Venezuela dan utusan Tiongkok di Istana Miraflores pada 2 Januari 2025.

Baca Juga:   GMNI Touna Laksanakan Kajian Marhaenisme Sebagai Ajang Mengikat Tali Silahturahmi

Venezuela dan Tiongkok memiliki hubungan ekonomi jangka panjang, khususnya di sektor minyak, yang terhubung dengan utang Venezuela kepada Beijing sejak era Presiden Hugo Chavez.

GMNI menilai dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari eskalasi perang dagang dan perebutan pengaruh global antara AS dan Tiongkok.

Pasca penangkapan Maduro, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan rencana AS untuk mengambil alih pengelolaan produksi minyak Venezuela dan melibatkan perusahaan-perusahaan minyak raksasa AS.

Pernyataan tersebut, menurut GMNI, semakin menguatkan bahwa agresi militer ini berorientasi pada kontrol ekonomi dan sumber daya alam, bukan penegakan demokrasi atau pemberantasan narkoba seperti yang diklaim AS dan pola ini bukan hal baru.

“Sejarah Indonesia pada masa Presiden Sukarno memberi pelajaran pahit. Ketika Bung Karno konsisten melawan imperialisme melalui politik Non-Blok dan NEFO, tekanan asing dilakukan secara sistematis hingga kekuasaannya runtuh pasca 1965,” ujar Andreas.

Dalam konteks tersebut, GMNI menilai tindakan terhadap Presiden Venezuela merupakan kelanjutan praktik lama imperialisme global: menghukum negara yang berani menempuh jalan politik dan ekonomi yang tidak sejalan dengan kepentingan Washington.

“Mengkriminalisasi atau menangkap kepala negara berdaulat bukan hanya serangan terhadap individu, tetapi serangan terhadap hak rakyat suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri,” tambahnya.

GMNI juga mengkritisi sikap pemerintah Indonesia yang dinilai masih normatif dan abu-abu dalam merespons agresi AS ke Venezuela. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas-aktif dan berprinsip anti-penjajahan, Indonesia didesak untuk bersikap lebih tegas.

“Pemerintah Indonesia wajib menggalang solidaritas global, khususnya negara-negara Non-Blok, untuk menentang intervensi AS di Venezuela, sebagaimana konsistensi Indonesia dalam membela Palestina dari agresi Israel,” pungkas Andreas.

GMNI menegaskan komitmennya untuk terus berdiri di garis perjuangan anti-imperialisme, membela kedaulatan bangsa-bangsa, dan menjaga amanat konstitusi bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.***

Baca Juga:   UKT Semakin Mahal dan Menuai Kritrik, Inilah Respon DPP GMNI

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Mengenal Perjalanan Politik Ir. Soekarno

Marhaenist.id - Berbicara soal biografi Ir.Soekarno tidak lengkap rasanya jika tidak membahas…

Presiden Berkampanye dan Memihak Karena Elektabilitas Prabowo-Gibran Mandek

Marhaenist.id, Jakarta - Pengamat politik Ray Rangkuti mengomentari pernyataan Presiden Joko Widodo…

DPC GMNI Kota Binjai Apresiasi Kinerja Kapolres dalam Penanganan Arus Lalu Lintas Mudik dan Pengamanan Idul Fitri 1445 H

Marhaenist.id, Binjai - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Dugaan Kasus Pelecehan Seksual di Rumah Sakit Malang, GMNI Jatim: Desak Penegakan Hukum Tegas

Marhaenist.id, Surabaya - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Mungkinkah De-Sukarnoisasi Djilid II Terjadi ?: Rekonsilisasi Elit & Harga Sembako Melejit era Pseudo-Demokrasi 2024

Marhaenis.id - Pada 2019, tahun yang tepat, hajatan demokrasi seperti Pemilihan Presiden…

Foto: Dhiva Trenadi Pramudia, Institut Marhaenisme 27/MARHAENIST.

6 Buku untuk Memahami Mengapa Gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto Harus Ditolak

Marhaenist.id - Mendorong Soeharto menjadi pahlawan nasional bukan sekadar kekeliruan historis, melainkan…

Audiensi DPC GMNI Ogan Ilir: Sinergi Dengan Polres Untuk Keamanan Bersama

Marhaenist.id- Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa…

PKPA Beasiswa PA GMNI – PERADI Utama Resmi Dibuka, Prof. Hardi Fardiansyah Tekankan Integritas Advokat

Marhaenist.id - Program Beasiswa Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) hasil kerja sama…

GMNI di DIY Keluhkan Kurangnya Program Pengembangan Kader

MARHAENIST - Sejumlah Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?