By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Gelar Dialog Nasional, Alumni GMNI: Etika Bernegara Pancasila Untuk Menegakkan Supremasi Sipil

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 22 Maret 2025 | 22:23 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Kegiatan Dialog Nasional yang dihelat oleh DPP PA GMNI di Jakarta, Sabtu (22/03/2025). MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Bangsa ini semakin terus mengalami defisit demokrasi, untuk itu Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) mendorong para penyelenggara negara menggunakan etika yang bersumber dari Pancasila.

Sistem demokrasi Pancasila yang disusun oleh para pendiri bangsa juga diperuntukkan untuk menegakkan supremasi sipil karena hal itu sangat jelas telah diatur dalam konstitusi.

Hal tersebut diuangkap dalam Dialog Nasional yang digelar DPP PA GMNI bertajuk “Etika Bernegara Pancasila” di Sekretariat PA GMNI di Jakarta, Sabtu (22/03/2025).

Perhelatan tersebut sekaligus menyambut Dies Natalis PA GMNI yang juga disiarkan secara daring ke seluruh cabang PA GMNI se-Indonesia.

Hadir dalam dialog tersebut Ketua Umum PA GMNI Arief Hidayat dan Ketua Dewan Kehormatan PA GMNI Siswono Yudo Husodo serta jajaran pengurus PA GMNI.

Adapun sebagai narasumber adalah Sukidi, Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo (Dubes RI untuk Filipina/Gubernur Lemhanas RI 2016-2022), dan Franz Magnis Suseno (Guru Besar Emeritus STF Driyarkara).

Dalam sambutannya, Ketua Umun DPP PA GMNI, Arief Hidayat menyampaikan tentang etika bernegara dalam Pancasila yang disebutnya adalah seperangkat nilai yang mengatur tindakan pejabat negara dan pejabat publik dalam menjalankan tugas keadilan, tanggung jawab sosial, transparansi dengan tujuan untuk mencegah penyalahgunaan jabatan.

“Etika bernegara Pancasila adalah seperangkat nilai yang mengatur tindakan pejabat negara dan pejabat publik dalam menjalankan tugas keadilan, tanggung jawab sosial, transparansi. Hal ini untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan,” jelas Arief Hidayat.

Menurut Ketua Umum DPP PA GMNI, nilai-nilai ini etika lama-lama telah ditinggalkan. Sebab, Indonesia tidak sekadar negara hukum biasa (common law) tapi negara hukum yang berkeadilan dan berketuhanan yang Maha Esa.

Baca Juga:   Resmi Lantik PA GMNI Sulteng dan Sulbar, Prof Arief Hidayat Ajak Kader Teladani Pendiri Bangsa untuk Jaga Indonesia

“Karena itu dari sisi kehidupan yang lain dalam berpolitik, ekonomi dan bersosial budaya harus disinari Ketuhanan Yang Maha Esa. Tanpa mengacu pada agama tertentu. Rule of ethics di atas hukum positif,” jelas hakim konstitusi tersebut.

Sebab, menurut Arief Hidayat, ada kecenderungan seperti yang diungkap di banyak media. Justru negara-negara yang tingkat atheis yang tingkat korupsinya rendah dan berkeadilan dibandingkan negara-negara yang tingkat spritualitasnya tinggi justru kriminalitas dan korupsi tinggi. Termasuk kasus pelanggaran HAM. Ini kenyataan yang berbahaya.

Pengamat kebinekaan Sukidi menilai di saat republik berada dalam kegelapan, maka bangsa ini perlu kembali kepada pemikiran pendiri bangsa.

“Bagaimana Bung Karno menyatakan Pancasila sebagai bintang penuntun dalam bersikap berbangsa bernegara. Menjadikan Pancasila sebagai sumber dari etika bernegara,” jelas doktor Harvard University.

Sukidi memaparkan akar-akar kejahatan bangsa ini harus segera diputus. Seperti korupsi dan upaya kekuasaan mengurangi peran supremasi sipil. Sebab, kata dia, demokrasi harus berdasarkan pada rule of law.

Romo Franz Magnis Suseno menambahkan Indonesia sejak reformasi terus mengalami pembusukan dari dalam dalam. Pengaruh oligarki lebih kuat dibandingkan menjalankan demokrasi yang sesungguhnya.

“Para politisi tidak lagi melayani rakyat, tapi mencari kesempatan memperkaya diri,” ujar Franz Magnis.

Situasi DPR juga lebih banyak dikuasai dinasti dan partai-partai tidak lagi berorientasi ideologis. Mengingat anggota DPR dikuasai orang kaya dan tidak ada kekuatan oposisi untuk mengimbangi.

Oleh karena itu, Indonesia harus mengembalikan insitusi kekuasaan berdasarkan demokrasi yang bersumber dari Pancasila.

Pada kesempatan tersebut, Letjen (purn) Agus Widjojo menegaskan dalam sistim praktik penyelenggaraan negara, semua lembaga atau pejabat negara harus meletakkan loyalitas untuk menjaga konsitusi.

“Bila presiden dihasilkan oleh pemilu yang konstitusional maka presiden merupakan perpanjangan tangan dari konstitusi yang harus dipatuhi. Bila presiden telah menyimpang maka loyalitas dikembalikan kepada konsitusi,” kata mantan Gubernur Lemhanas tersebut.

Baca Juga:   Serukan 5 Point Penting Terkait Kondisi Bangsa, DPP PA GMNI Minta Semua Elemen Bangsa Menahan Diri dan Tak Terprovokasi

Menurut Agus Widjojo tidak ada lembaga atau pejabat negara yang memiliki kekuasaan tak terbatas. Semua lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif harus memiliki check and balances. Termasuk menempatkan TNI dan Polri sebagai alat negara yang harus dijaga ahar tidak dipolitisasi.

Pada kesempatan yang sama, Abdy Yuhana, Sekretaris Jenderal (Sekjend) DPP PA GMNI juga mengingatkan, tanpa adanya etika bernegara Pancasila dalam penyelenggaran negara, membuat bangsa ini berjalan ditempat, tidak maju dan tidak berkembang.

“Hal-hal strategis dan mendasar untuk kemajuan bangsa terhambat, sementara bangsa-bangsa lain bergerak menuju kemajuan. Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh visi negara serta keteladanan penyelenggara negara dalam menaati konstitusi dan menjunjung tinggi moral etika kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Sekjend DPP PA GMNI itu.

Penulis: Redaksi/Editor: Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Alumni GMNI dan Tuntutan Pemberian Hak-Hak Pensiun Untuk Bung Karno

Marhaenist - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa…

DPC PA GMNI Pontianak Launching Pojok Pemikiran Bung Karno di Perpusda Provinsi Kalbar

Marhaenist.id, Pontianak - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

1.000 Ton Beras dan 580 Ribu Ayam dari AS, Bayu Saongko: Diplomasi Dagang Tanpa Ketergantungan

Marhaenist.id, Surabaya - Pengamat geopolitik Nusantara, Bayu Sasongko, mengajak publik melihat kebijakan impor…

Tanggapi Kenaikan PPN 12%, DPD GMNI Sultra Sebut Pemerintahan Prabowo-Gibran Tak Lagi Memegang Amanat Rakyat

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Ekonomi Perhatian dan Krisis Kesadaran: Algoritma, Kekuasaan, dan Arsitektur Kendali Pikiran

Marhaenist.id - Kita hidup dalam masa ketika perhatian manusia menjadi komoditas paling berharga…

Solar Sulit Didapat, GMNI Rohul Soroti Dugaan Praktik Mafia Solar di Rokan Hulu

Marhaenist.id, Rokan Hulu – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar kembali…

Diplomasi Kesehatan Indonesia di Masa Transisi Global Pasca Keluarnya AS Dari WHO

Marhaenist.id  - Penarikan Amerika Serikat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bukan sekadar…

Foto: Kesh Grey/MARHAENIST.

Suka Sastra Memangnya Mau Jadi Apa?: Bagaimana Sastra Terlibat dalam Kehidupan Masyarakat – La Litterature Engagee

Bahasa yang tercipta di dalam karya sastra adalah tindakan kejiwaan – Sartre…

Reformasi Polri Dimulai dengan Mencopot Sigit sebagai Kapolri

Marhaenist.id - Seruan reformasi kepolisian kembali menggelegar di ruang publik. Seruan ini…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?