By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Tekankan Peran Kewirausahaan dalam Memperkuat Ekonomi Rakyat dan Kaderisasi
Spirit Masjid Jogokaryan: Islam Modern yang Riil dalam Bingkai Marhaenisme
Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar
Konflik Agraria di Kawasan Transmigrasi Kotabaru, DPP GMNI Soroti Dugaan Penyerobotan Lahan dan Kriminalisasi Warga
Setan-Setan Pendidikan Dalam Bingkai Indonesia Emas 2045

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 11 Februari 2026 | 11:53 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi AI 'Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar'/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Dalam sejarah politik, partai besar jarang runtuh karena serangan dari luar. Justru, banyak yang melemah dari dalam. Konflik internal, perebutan pengaruh, fragmentasi kepemimpinan, hingga krisis regenerasi sering menjadi faktor yang lebih menentukan dibanding tekanan eksternal. Sejarah menunjukkan bahwa keruntuhan partai sering diawali bukan oleh kekuatan lawan, tetapi oleh retaknya fondasi internal yang sebelumnya menopang kekuatan mereka.

Partai politik modern adalah organisasi besar dengan beragam kepentingan, latar belakang, dan orientasi kekuasaan. Dalam kondisi ideal, keberagaman itu menjadi sumber kekuatan karena memperkaya perspektif dan memperluas basis dukungan. Namun, ketika struktur internal tidak solid, loyalitas kader melemah, atau proses kaderisasi tidak sehat, maka keberagaman itu justru berubah menjadi potensi konflik.

Ruang friksi terbuka lebar, dan organisasi perlahan kehilangan kohesi. Dalam kondisi seperti itu, perpecahan ideologi, rivalitas elite, dan hilangnya kepercayaan publik dapat terjadi secara bersamaan.

Konflik internal sering kali bukan sekadar perbedaan pandangan, tetapi pertarungan kepentingan yang tidak lagi dikendalikan oleh visi kolektif. Ketika orientasi perjuangan bergeser dari kepentingan rakyat menjadi sekadar perebutan posisi dan pengaruh, maka partai kehilangan arah ideologisnya. Pada titik ini, partai tidak lagi menjadi alat perjuangan politik, melainkan sekadar kendaraan kekuasaan. Akibatnya, militansi kader melemah, semangat perjuangan memudar, dan identitas politik menjadi kabur.

Selain itu, partai yang terlalu bergantung pada figur tertentu berisiko mengalami stagnasi regenerasi. Figur sentral memang dapat menjadi sumber legitimasi dan pemersatu, tetapi ketergantungan yang berlebihan menciptakan ketimpangan dalam distribusi kepemimpinan. Kader-kader potensial tidak mendapatkan ruang tumbuh, dan organisasi kehilangan dinamika.

Ketika kepemimpinan tidak berganti secara sehat dan terencana, energi politik partai perlahan menurun. Partai menjadi kaku, tidak responsif terhadap perubahan, dan semakin jauh dari realitas sosial yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga:   Pahlawan Soeharto dan Negara Amnesia

Dalam situasi seperti ini, erosi kepercayaan publik menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Masyarakat, khususnya generasi muda, cenderung menjauh dari partai yang terlihat elitis, tertutup, dan tidak memberikan ruang partisipasi yang bermakna.

Kepercayaan adalah fondasi utama legitimasi politik. Sekali kepercayaan itu retak, pemulihannya membutuhkan waktu panjang dan kerja politik yang serius. Kompetitor bahkan tidak perlu melakukan serangan besar—cukup menunggu hingga partai tersebut kehilangan relevansinya secara alami.

Lebih jauh, krisis internal juga berdampak pada melemahnya kapasitas partai dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai sarana pendidikan politik, artikulasi kepentingan rakyat, dan rekrutmen kepemimpinan nasional.

Partai yang lemah secara internal akan kesulitan melahirkan pemimpin berkualitas. Akibatnya, politik kehilangan arah transformasionalnya dan terjebak dalam rutinitas kekuasaan tanpa visi jangka panjang.

Dalam politik demokratis, kekuatan partai bukan hanya diukur dari jumlah kursi yang dimiliki, tetapi dari soliditas internal, kualitas kaderisasi, konsistensi ideologi, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Partai yang mampu menjaga integritas internal akan memiliki daya tahan politik yang lebih kuat, bahkan dalam situasi krisis sekalipun. Sebaliknya, partai yang rapuh secara internal, meskipun tampak besar di permukaan, sesungguhnya sedang berjalan menuju fase kemunduran.

Pada akhirnya, keberlangsungan partai politik sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan idealisme, antara kepemimpinan dan regenerasi, serta antara kepentingan elite dan aspirasi rakyat.

Tanpa fondasi internal yang kuat, partai sebesar apa pun bisa kehilangan relevansi, ditinggalkan kadernya, dan dilupakan oleh sejarah. Sebab dalam politik, kehancuran paling sering tidak datang dari luar, melainkan tumbuh perlahan dari dalam.


Penulis: Opan Sadiman, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Tekankan Peran Kewirausahaan dalam Memperkuat Ekonomi Rakyat dan Kaderisasi
Kamis, 12 Februari 2026 | 14:27 WIB
Spirit Masjid Jogokaryan: Islam Modern yang Riil dalam Bingkai Marhaenisme
Rabu, 11 Februari 2026 | 18:52 WIB
Konflik Agraria di Kawasan Transmigrasi Kotabaru, DPP GMNI Soroti Dugaan Penyerobotan Lahan dan Kriminalisasi Warga
Rabu, 11 Februari 2026 | 10:37 WIB
Setan-Setan Pendidikan Dalam Bingkai Indonesia Emas 2045
Selasa, 10 Februari 2026 | 23:04 WIB
OJK di Persimpangan Jalan, Reformasi Atau Politisasi?
Selasa, 10 Februari 2026 | 22:13 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Abdy Yuhana: PA GMNI Mendorong Tiga Tokoh Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

Marhaenist.id, Bandung - DPP Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

PB Jakarta Bangun Koperasi ‘Bottom Up’

Marhaenist.id, Jakarta - Petisi Brawijaya Jakarta audiensi dengan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi…

Ekonomi Negara Sedang Dalam Keadaan Tidak Baik-Baik Saja

Marhaenist - Sejumlah data terbaru menunjukkan perekonomian domestik sedang tidak berada dalam…

Era Kepemimpinan Bahlil Lahadalia, Golkar Marhaen Indonesia (GMI): Menghadapi Tantangan Strategis Baru

Marhaenist.id, Jakarta – Golkar Marhaen Indonesia.(GMI) menegaskan bahwa lebih dari dua dekade pasca-Reformasi…

DPC GMNI Majene Dorong Kongres Persatuan Bukan Persatean

Marhaenist.id, Majene - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Populisme Kanan dan Tantangan Demokrasi Marhaen di Era Digital

Marhaenist.id - Demokrasi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Bukan dari absennya prosedur…

Menolak Lupa: Ita Martadinata Haryono, Martir Kesucian yang Dibungkam demi Menjaga Wajah Bangsa

Marhaenist id - Sejarah Indonesia memiliki banyak pahlawan, namun ada satu nama…

Supremasi Hukum: Jangan Jadikan Hukum Positif Indonesia Sebagai Instrumen Politik Praktis

Marhaenist.id - Mengutip dari halaman website resmi Mahkamah Konstitusi Indonesia menjelaskan bahwa…

Kawan 98 dan Jaga Suara Ajak Warga Waspadai Adanya Politik Uang di Pilkada Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta - Persaingan antar pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?