By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Atatürk, Prabowo, dan Arah Baru Geopolitik Indonesia: Membaca Sinyal Negara Kuat di Tengah Turbulensi Global
Inilah Alasan Soekarno tidak Menginginkan Masjid Istiqlal Dibangun dengan Kayu
Pemuda Sumba Timur Soroti Penghentian Penyelidikan Dugaan Korupsi Dana Desa di Sumba Timur
Indonesia Menggugat: DPC GMNI Jakarta Timur Desak Evaluasi Kapolri dan Pecat Menteri HAM
Siapakah Marhaen di Butta Turatea Hari Ini?

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Bulan Bung Karno: Ini Bukan tentang Persatuan, Tapi tentang Siapa yang Punya Kepentingan!

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 25 Juni 2025 | 23:14 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Moh. Fadli D. Lahalik, S.Pd Ketua DPC PA GMNI Touna/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Bulan Juni selalu menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan ini, kita memperingati kelahiran salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, yaitu Soekarno, atau yang lebih akrab kita sebut Bung Karno. Lahir pada 6 Juni 1901, Bung Karno bukan hanya seorang proklamator, tetapi juga seorang pemimpin yang berjuang untuk kemerdekaan dan persatuan bangsa. Namun, di balik semua itu, terdapat sebuah realitas yang sering kali terabaikan, bahwa persatuan yang dibangun Bung Karno tidak selalu mulus, melainkan juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan sosial yang ada pada waktu itu.

Dalam konteks sejarah, bulan Juni tidak hanya sekadar memperingati kelahiran Bung Karno, tetapi juga menjadi momen refleksi tentang bagaimana kepentingan Ego Pribadi sering kali menjadi penghalang bagi persatuan yang sejati. Misalnya, pada tahun 1945, saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, Bung Karno dan Mohammad Hatta berjuang untuk mempersatukan berbagai elemen bangsa yang berbeda latar belakang etnis, agama, dan ideologi.

Namun, dalam prosesnya, mereka harus menghadapi berbagai kepentingan yang saling bertentangan. Seperti yang dicatat oleh Ricklefs (2012), “Pemerintahan awal Indonesia dipenuhi dengan konflik internal yang mencerminkan perbedaan kepentingan di antara para pemimpin dan kelompok-kelompok masyarakat.”

Salah satu contoh nyata dari bentrokan kepentingan ini adalah ketika Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, yang membubarkan Konstitusi RIS 1949 dan mengembalikan kepada UUD 1945. Keputusan ini diambil dalam konteks ketidakpuasan terhadap sistem politik yang ada, dimana berbagai partai politik saling berkonflik dan tidak mampu membentuk pemerintahan yang stabil. Dalam hal ini, Bung Karno berusaha untuk menyatukan semua elemen bangsa di bawah satu payung.

Baca Juga:   Marhaen dan Gig Economy

Statistik menunjukkan bahwa pada periode awal kemerdekaan, Indonesia mengalami banyak gejolak politik. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 1950-an, Indonesia memiliki lebih dari 20 partai politik yang beroperasi secara bersamaan. Keberagaman ini menciptakan tantangan tersendiri bagi Bung Karno dalam membangun persatuan.

Dalam konteks ini, kita bisa melihat bahwa kepentingan politik sering kali menghalangi tercapainya tujuan bersama. Sebagaimana dinyatakan oleh historian John Roosa (2006), “Bung Karno berusaha untuk menciptakan konsensus, tetapi pada akhirnya, banyak kepentingan yang bertentangan membuat persatuan sulit dicapai.”

Lebih jauh lagi, bulan Juni juga mengingatkan kita akan pentingnya memahami konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi perjuangan Bung Karno. Pada masa itu, Indonesia adalah negara yang baru merdeka dengan berbagai tantangan, mulai dari pembangunan ekonomi hingga pendidikan.

Bung Karno menyadari bahwa untuk mencapai persatuan, ia harus melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk kaum buruh, petani, dan intelektual. Misalnya, dalam salah satu pidatonya, Bung Karno pernah menekankan pentingnya Persatuan dalam pembangunan Bangsa dan Negara (Sukarno, 1965).

Dalam konteks ini, kita dapat melihat bahwa meskipun Bung Karno berusaha untuk membangun persatuan, kepentingan ekonomi dan politik sering kali mendominasi agenda-agenda yang ada. Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa pada tahun 1960, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 8,5%, yang mencerminkan bahwa banyak orang yang merasa tidak terwakili dalam proses pembangunan. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat, yang pada gilirannya menciptakan tantangan bagi persatuan yang ingin dibangun oleh Bung Karno.

Bulan Juni, dengan segala maknanya, seharusnya menjadi momen untuk merenungkan kembali nilai-nilai Marhaenisme yang diajarkan oleh Bung Karno. Namun dalam banyak kasus, kepentingan individu atau kelompok sering kali mengalahkan kepentingan bersama. Ini adalah pelajaran penting yang harus kita ambil, terutama di tengah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Sebagai penutup, bulan Juni seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa persatuan bukanlah sesuatu yang bisa diambil begitu saja. Ia memerlukan usaha, pengorbanan, dan pemahaman yang mendalam tentang kepentingan bersama.

Baca Juga:   Pemilu 2024 dan Tiktok

Bung Karno, dengan segala keberhasilannya, juga menunjukkan bahwa tidak ada persatuan yang sempurna tanpa pengakuan terhadap kepentingan yang berbeda. Dalam konteks ini, kita harus terus berjuang untuk mencapai persatuan yang sejati di mana setiap suara dan kepentingan dihargai dan diperhatikan.

Merdeka !!!***


Penulis: Moh. Fadli D. Lahalik, S.Pd
Ketua DPC PA GMNI Touna.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Atatürk, Prabowo, dan Arah Baru Geopolitik Indonesia: Membaca Sinyal Negara Kuat di Tengah Turbulensi Global
Minggu, 1 Maret 2026 | 02:28 WIB
Inilah Alasan Soekarno tidak Menginginkan Masjid Istiqlal Dibangun dengan Kayu
Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:23 WIB
Pemuda Sumba Timur Soroti Penghentian Penyelidikan Dugaan Korupsi Dana Desa di Sumba Timur
Jumat, 27 Februari 2026 | 23:46 WIB
Indonesia Menggugat: DPC GMNI Jakarta Timur Desak Evaluasi Kapolri dan Pecat Menteri HAM
Kamis, 26 Februari 2026 | 18:29 WIB
Siapakah Marhaen di Butta Turatea Hari Ini?
Kamis, 26 Februari 2026 | 16:23 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Sulawesi Barat Serukan Rekonsiliasi dan Dukung Kongres Persatuan

Marhaenist.id, Mamuju - Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akan segera mengelar Kongres…

Pernyataan Sikap Politik Konsolidasi Barisan Nasionalis

___________________________________________________ Terdiri dari perwakilan 27 organisasi dan para tokoh kaum Nasionalis BK.…

Kawal Putusan MK, GMNI Airlangga Inisiasi Gerakan Demonstrasi Respons Kemelut RUU Pilkada

MARHAENIST - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau GMNI Airlangga bersiap melakukan aksi…

Republik Pengantar Paket

Marhaenist.id - Sekarang marilah kita menyulam kembali ingatan kita tentang pengalaman pahit…

DPD GMNI Aceh Salurkan Bantuan Hasil Perkebunan untuk Korban Banjir dan Longsor di Aceh Tengah

Marhaenist.id, Takengon — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Dari kiri, Hadi Sucipto (Ketua Gapokmas Tani Mandiri Jatim), Dandim 0808 Blitar Letkol Sapto Priono, Wabub Blitar Rahmat Santoso, Tenaga Ahli Utama KSP Usep Setiawan, Sukidi (Kantah BPN Kab Blitar ), Kapolres Blitar AKBP Aditya Panji Anom, Marjoko (Pembina Tani Mandiri Jatim) dan Kapolresta Blitar AKBP Agro Wiyono. MARHAENIST

Tenaga Ahli Utama KSP Minta GTRA Kabupaten Blitar Lebih Proaktif Komunikasikan Konflik Agraria

Marhaenist - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Usep Setiawan berdialog…

GMNI Surabaya Mengecam Wacana Pengelolahan Tambang oleh Perguruan Tinggi: Merusak Marwah Lembaga Pendidikan

Marhaenist.id, Surabaya - Wacana pemberian izin usaha tambang untuk perguruan tinggi yang…

JAMKI Bedah Mandeknya Pemberantasan Korupsi, Firman Tendri Masengi: Hukum Bergerak atas Tekanan Opini Publik dan Viralitas Media Sosial

Marhaenist.id, Jakarta — Mandeknya pemberantasan korupsi di Indonesia kembali disorot dalam Diskusi Publik…

Jakarta Utara Merah, Ribuan Warga Pluit Jalan Sehat Bareng Ganjar

Marhaenist.id, Jakarta - Jelang debat pamungkas calon Presiden RI Ganjar Ganjar Pranowo…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?