By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Benarkah Koperasi Desa Merah Putih Butuh Mobil Pick Up?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 25 Februari 2026 | 18:24 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Didik Prasetiyono Wakil Ketua Umum HKI, Kandidat Doktor PSDM Pascasarjana Universitas Airlangga, Alumni GMNI Surabaya (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Rencana pengadaan 105.000 mobil pick up untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih senilai Rp 24,66 triliun adalah kebijakan berskala strategis. Dampaknya tidak hanya menyentuh level desa, tetapi juga struktur fiskal, tata kelola koperasi, serta arah industrialisasi nasional.

Karena itu, kebijakan ini tidak cukup dinilai dari niat baiknya. Ia harus diuji melalui dua pendekatan fundamental: disiplin kebutuhan (needs assessment) dan orientasi penguatan industri dalam negeri

Disiplin Kebutuhan: Solusi atau Asumsi?

Dalam teori perencanaan kebijakan publik, needs assessment adalah fondasi rasionalitas. Kebijakan yang sehat tidak dimulai dari pengadaan barang, melainkan dari identifikasi masalah.

Pertanyaan dasarnya sangat sederhana:

> Apakah seluruh Koperasi Desa Merah Putih benar-benar membutuhkan mobil pick up?

Indonesia memiliki lebih dari 70.000 desa dengan heterogenitas ekonomi yang ekstrem.

* Desa agraris dengan surplus panen tentu memiliki kebutuhan distribusi.
* Desa pesisir membutuhkan dukungan rantai dingin dan logistik perikanan.
* Namun banyak desa lain yang skala ekonominya kecil dan belum memiliki volume usaha yang memadai.

Dalam banyak kasus, problem utama koperasi desa bukanlah ketiadaan kendaraan, melainkan:

* Lemahnya tata kelola
* Rendahnya literasi manajerial
* Minimnya modal kerja
* Terbatasnya akses pasar
* Belum jelasnya model bisnis

Di sinilah urgensi kembali pada esensi koperasi sebagaimana ditegaskan oleh Mohammad Hatta: koperasi adalah usaha bersama berbasis kebutuhan riil anggota. Ia bukan sekadar entitas yang memiliki aset, melainkan instrumen ekonomi yang hidup karena relevansi.

Sejarah memberi pelajaran.
Koperasi Unit Desa (KUD) pernah menjadi tulang punggung ekonomi desa. Sebagian berhasil karena fungsi bisnisnya jelas. Sebagian lainnya stagnan karena kehilangan relevansi usaha.

Begitu pula Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Yang berhasil adalah yang membaca potensi lokal dan memiliki tata kelola profesional. Yang gagal umumnya terjebak pada proyek fisik tanpa keberlanjutan bisnis.

Baca Juga:   Presiden atau Cuma OMON-OMON?

Pelajaran utamanya jelas:

“Keberhasilan tidak ditentukan oleh kepemilikan aset, tetapi oleh ketepatan model usaha”.

Mobil pick up adalah alat.
Model bisnis adalah mesin.

Tanpa mesin yang sehat, alat hanya menjadi beban.

Perspektif Finansial: CAPEX vs Efisiensi Operasional

Dalam manajemen keuangan, pembelian kendaraan termasuk kategori capital expenditure (CAPEX), investasi awal yang besar.

Namun biaya tidak berhenti pada pembelian. Ada:

* Biaya perawatan dan suku cadang
* Pajak dan asuransi
* Depresiasi
* Biaya sopir tetap
* Risiko idle asset (aset menganggur)

Jika frekuensi penggunaan rendah, maka biaya per transaksi menjadi tinggi dan membebani neraca koperasi.

Alternatif yang lebih rasional bisa saja berupa:

* Sewa kendaraan
* Skema kemitraan dengan pelaku transportasi lokal
* Penggunaan kendaraan roda tiga untuk wilayah tertentu
* Model logistik kolektif antar desa

Tanpa evaluasi komprehensif, pengadaan massal berisiko menjadi kebijakan seragam untuk persoalan yang beragam.

Dimensi Strategis: Belanja Publik dan Industri Nasional

Nilai Rp 24,66 triliun bukan sekadar angka. Ia adalah kebijakan fiskal dengan daya dorong ekonomi besar.

Jika pengadaan ini diarahkan pada produksi dalam negeri, maka dampaknya mencakup:

* Peningkatan utilisasi industri otomotif nasional
* Penyerapan tenaga kerja
* Penguatan rantai pasok komponen
* Efek berganda pada industri pendukung

Belanja publik idealnya bekerja dua kali:

1. Menjawab kebutuhan desa
2. Menggerakkan industri nasional

Sebaliknya, impor dalam skala besar berpotensi mengalihkan nilai tambah ke luar negeri.

Dalam banyak negara, pengadaan publik adalah instrumen industrial policy. Maka pertanyaannya menjadi strategis:

“Apakah industri otomotif nasional tidak memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan tersebut?”.

Jika kapasitas tersedia, maka keberpihakan pada produksi domestik bukan sekadar pilihan teknis, tetapi pilihan pembangunan.

Refleksi Kebijakan

Kita semua sepakat: desa harus kuat.
Koperasi harus menjadi lokomotif ekonomi rakyat.

Baca Juga:   SK Berakhir, Ketua DPC GMNI Jeneponto Enggan Laksanakan Konfercab

Namun lokomotif tidak berjalan karena banyaknya gerbong, melainkan karena mesin yang solid dan jalur yang tepat.

Mesin itu adalah:

* Model bisnis yang relevan
* Tata kelola profesional
* Kepemimpinan koperasi yang kompeten

Jalurnya adalah:

* *Needs assessment* berbasis data
* Evaluasi finansial rasional
* Keberpihakan pada industri nasional

Mobil pick up hanyalah alat.
Alat tidak boleh mendahului kebutuhan.

Penutup

Sebelum kebijakan ini dijalankan secara penuh, publik berhak mendapatkan jawaban yang jernih dan transparan:

* Apakah seluruh koperasi benar-benar membutuhkan kendaraan?
* Apakah ada kajian kebutuhan berbasis desa per desa?
* Apakah skema ini sekaligus memperkuat industri nasional?

Kebijakan yang besar belum tentu tepat.
Kebijakan yang tepat selalu berbasis kebutuhan, rasionalitas, dan visi pembangunan jangka panjang.

Karena dalam ekonomi desa, yang dibutuhkan bukan sekadar aset,
melainkan keberlanjutan.***


Penulis: Didik Prasetiyono Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Kandidat Doktor PSDM Pascasarjana Universitas Airlangga, Alumni GMNI Surabaya.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:02 WIB
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 18:02 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:55 WIB
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:54 WIB
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:21 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Menyoal Pilkada Langsung dan Atau Tak Langsung

Marhaenist.id - Langsung dan atau tidak langsung?” Pertanyaan ini sepintas sederhana, tetapi…

Dialektika

Marhaenist - Maka itu, hukum-hukum dialektika diabstraksikan dari sejarah alam dan masyarakat…

UU PDP Resmi Berlaku, Andi Aditya: Tantangan Baru bagi Penyelenggara Pilkada di Era Digital

Marhaenist.id, Jarkarta – Undang-Undang (UU) Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi…

GMNI Dituding Komunis, Pimred Marhaenist.id: Ini Fitnah Intelektual!

Marhaenist..id, Kendari – Viral di media sosial TikTok, pernyataan yang menuding Gerakan…

Foto: GMNI Jaksel saat Melaporkan Dugaan Skandal Korupsi PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk/MARHAENIST

GMNI Jaksel Tuntut Polri Usut Tuntas Skandal Mobil Mewah 5 Direksi PT ATPI

Marhaenist.id, Jakarta - Bobrok pengelolaan BUMN kembali terbongkar! Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang Bagi Takjil Untuk Masyarakat: Wujudkan Marhaenisme

Marhaenist.id, Kota Malang - Memasuki bulan suci Ramadan, Pemuda Demokrat Indonesia (PDI)…

Hari Ke 8 Kawal Aksi Masyarakat Talaga Raya atas PT AMI, GMNI Baubau Minta Agar Perundingan Bisa Melahirkan Solusi

Marhaenist.id, Buteng - Hari ke 8 masyarakat Talaga Raya bersama Dewan Pimpinan…

Merapat Ke PDIP, Perindo Usulkan Arya Ariyanto Sebagai Balon Wakil Walikota Yogyakarta

Marhaenist - Menjelang Pilkada 2024, Partai Perindo Kota Yogyakarta aktif memantau dinamika…

(Jika) Bobibos vs Pertamina: Pertarungan Nilai, Etika, dan Kuasa di Tengah Krisis Kepercayaan Publik

Marhaenist.id - Dalam beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh memanasnya isu antara…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?