By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Membongkar Teka-Teki G30S: Mengapa Tentara Menculik Tentara?
Kaltim dalam Bayang-Bayang Hak Angket
Perkuat Basis Organisasi, DPC GMNI Mamuju Tengah Lantik Tiga Komisariat Baru di Rumah Adat Lempo Gandeng
Tanah Dirampas, Hutan Digusur, Institut Marhaenisme 27: Nobar Film “Pesta Babi” Hidupkan Suara Papua
GMNI Ambon Gelar Konfercab XIV, Tegaskan Penguatan Gerakan Kaum Marhaen

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Marhaenis

Tanah Dirampas, Hutan Digusur, Institut Marhaenisme 27: Nobar Film “Pesta Babi” Hidupkan Suara Papua

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 17 Mei 2026 | 18:47 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Suasana nobar dan diskusi flim dokumenter Pesta Babi yang digelar oleh Institut Marhaenisme 27 pada Sabtu (16/05/2026) di Sekretariat GMNI Jakarta Selatan (Dok. Institut Marhaenisme 27)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist id, Jakarta Selatan — Institut Marhaenisme 27 menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi pada Sabtu (16/05/2026) di Sekretariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelembagaan pendidikan politik sekaligus penyebarluasan informasi kepada publik terkait persoalan hak atas tanah, keberlangsungan adat dan budaya, problematika pangan, serta isu lingkungan hidup yang dihadapi masyarakat adat Papua Selatan.

Film Pesta Babi merupakan karya sutradara dan, duo di balik film dokumenter Dirty Vote dan Sexy Killers yang mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua Selatan dalam menghadapi proyek-proyek besar pemerintah dan korporasi yang masuk melalui skema Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti food estate, perkebunan tebu, dan perkebunan kelapa sawit.

Dalam film tersebut digambarkan bagaimana hutan dan tanah ulayat perlahan berubah menjadi kawasan industri yang mengancam ruang hidup masyarakat adat.

Judul Pesta Babi sendiri diambil dari tradisi budaya masyarakat Papua yang menjadikan pesta babi sebagai simbol kehormatan, persaudaraan, dan kebersamaan yang tidak terpisahkan dari tanah leluhur mereka.

Suasana Nobar dan diskusi flim dokumenter Pesta Babi yang digelar oleh Institut Marhaenisme 27 pada Sabtu (16/05/2026) di Sekretariat GMNI Jakarta Selatan (Dok. Institut Marhaenisme 27)/MARHAENIST.

Perwakilan Divisi Kajian dan Publikasi Institut Marhaenisme 27, Dhiva, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dilandasi oleh kesadaran kolektif mengenai pentingnya pendidikan politik sebagai alat perjuangan rakyat.

“Ini adalah bagian dari usaha kita sebagai rakyat untuk merebut kembali kedaulatan kita, dalam artian yang paling mendasar, sekaligus sebagai upaya pendidikan politik terkait persoalan yang terjadi di Indonesia,” ujar Dhiva.

Sesi diskusi dipandu oleh Miftah dari Institut Marhaenisme 27 yang membuka jalannya pembedahan film dengan menyanyikan penggalan lagu Papua Bukan Merah Putih sebagai bentuk kritik atas perlakuan negara terhadap bangsa Papua.

Baca Juga:   Pemuda Sumatera Utara Samsudin Ndruru: Kebijakan Pembatasan Daging Babi di Medan Harus Seimbangkan Kepentingan Mayoritas dan Hak Minoritas

Dalam pengantarnya, Miftah menegaskan bahwa praktik ekstraktivisme di Papua Selatan bukanlah persoalan baru.

“Setidaknya selama tiga puluh tahun terakhir, praktik ini berpindah-pindah dari Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Kini ia kembali dikencangkan dengan dalih ketahanan pangan dan energi—dan rentetan peristiwa itulah yang menghasilkan pengusiran masyarakat adat dari tanahnya sendiri,” tegasnya.

Pemantik pertama, Sandi dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), memaparkan berbagai kerja advokasi yang dilakukan bersama koalisi masyarakat sipil dalam menolak proyek PSN di Papua Selatan.

Ia juga menyoroti tindakan represif aparat negara yang melarang pemutaran film tersebut di sejumlah daerah.

“Hal itu menunjukkan adanya ancaman terhadap ruang demokrasi kita, baik sekarang maupun ke depannya,” kata Sandi.

Ia menambahkan bahwa proyek PSN di Papua yang mencakup lebih dari dua juta hektare berpotensi mengubah fungsi hutan secara masif dan mengancam keberlangsungan ekosistem serta keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

Sementara itu, pemantik kedua, Rika dari Partai Hijau Indonesia merefleksikan narasi visual film yang menurutnya mampu menjadi pemantik harapan sekaligus pengingat atas panjangnya sejarah penolakan masyarakat Papua terhadap ekspansi perusahaan besar.

“Ketika film ini dibuka dengan adegan Salib Merah, saya membayangkan tahun 1970 di Papua Pegunungan, di mana berdasarkan sejumlah buku dan penelitian, adegan yang sama pernah dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap perusahaan meski sampai hari ini kita ketahui bersama bahwa Freeport masih saja beroperasi,” tuturnya.

Rika juga mengajak peserta diskusi untuk merenungkan bagaimana masyarakat luas dapat memastikan suara masyarakat Papua tidak terus-menerus diabaikan, sekaligus menyinggung dimensi kolonialisme yang dinilai masih berlangsung hingga kini.

Diskusi berlangsung secara terbuka dan dialektis dengan melibatkan seluruh peserta nobar.

Baca Juga:   Lukisan Pakde Karwo Menolak Terbakar: Isyarat Zaman dari Api Grahadi, Ramalan Jayabaya yang Hidup

Pada sesi penutupan, Direktur Eksekutif Institut Marhaenisme 27, Deodatus Sunda Se, menegaskan bahwa kegiatan semacam ini merupakan instrumen untuk membangun kesadaran kolektif sekaligus memperkuat gerakan rakyat dalam merebut kembali kedaulatan yang dirampas oleh korporasi, oligarki, dan imperialisme.

“Mari bung rebut kembali,” serunya, menggemakan semangat.

Kegiatan kemudian ditutup dengan seruan lantang peserta diskusi:

“Papua, Bukan Tanah Kosong!”.

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

 

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Membongkar Teka-Teki G30S: Mengapa Tentara Menculik Tentara?
Senin, 18 Mei 2026 | 05:30 WIB
Kaltim dalam Bayang-Bayang Hak Angket
Minggu, 17 Mei 2026 | 22:36 WIB
Perkuat Basis Organisasi, DPC GMNI Mamuju Tengah Lantik Tiga Komisariat Baru di Rumah Adat Lempo Gandeng
Minggu, 17 Mei 2026 | 20:19 WIB
GMNI Ambon Gelar Konfercab XIV, Tegaskan Penguatan Gerakan Kaum Marhaen
Minggu, 17 Mei 2026 | 14:02 WIB
Penampakan Layar Film Pesta Babi oleh Cipayung Plus Kendari (Dok.Panitia)/MARHAENIST.
Cipayung Plus Kota Kendari Bersama Mahasiswa Papua Sukses Gelar Nobar Film Pesta Babi
Jumat, 15 Mei 2026 | 14:08 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Bambang “Pacul” Wuryanto Legenda Hidup Marhaenisme, Serukan Penguatan Empat Pilar dan Kesadaran Geopolitik Nusantara

Marhaenist.id, Wonogiri – Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto menegaskan bahwa Empat…

Sukses Gelar Konfercab, Erik R Sibu – Fridodis Korois Resmi Terpilih sebagai Pimpinan GMNI Halut Periode 2025-2027

Maharenist.id, Halut - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Utara (Halut) sukses…

Ganjar dan Politik Rasional

Marhaenist.id - Di dunia politik, banyak hal omong kosong yang dipertontonkan bahkan…

Aktivis 98 Kecam Tindakan Represif Aparat dan Tuntut Keadilan atas Gugurnya Kawan Ojol Pejuang Demokrasi

Marhaenist.id, Jakarta – Tragedi kembali mencoreng wajah demokrasi Indonesia. Seorang kawan Ojol,…

Mahfud MD Sebut Status WTP Papua Tak Menjamin Bebas Korupsi

Marhaenist - Pemerintah Provinsi Papua kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)…

DPC GMNI Jeneponto Bedah Film ‘Pesta Babi’, Soroti Praktik Kolonialisme Modern di Daerah

Marhaenist.id, Jeneponto - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Resmi Dikukuhkan sebagai Profesor Emeritus di Unbor, Prof. Arief Hidayat Siap Lahirkan Generasi Hukum Berintegritas dan Berwawasan Kebangsaan

Marhaenist.id, Jakarta — Universitas Borobudur (Unbor) Jakarta secara resmi mengukuhkan Arief Hidayat…

GMNI Halut Sukses Gelar PPAB Jilid I, Bangun Kesadaran Ideologis dan Pondasi Kaderisasi

Marhaenist.id, Halut - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 Mengubah Sistem Pemilu Kita

Marhaenist.id - Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 telah mengubah sistem pemilu kita dengan memisahkan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?