
Marhaenist.id – Dalam dinamika organisasi kader seperti GMNI, ada satu penyakit lama yang terus berulang dengan wajah yang berbeda: merasa memiliki organisasi. Perasaan ini sering tumbuh diam-diam pada mereka yang telah lama ber-GMNI, yang pernah berkeringat di jalanan, yang merasa telah memberi banyak, lalu tanpa sadar mulai mengklaim bahwa organisasi ini berdiri karena dirinya. Padahal, sejarah selalu menunjukkan sebaliknya: tidak ada organisasi yang hidup karena satu orang.
GMNI tidak lahir dari ego individu, melainkan dari semangat kolektif. Ia tumbuh dari kerja sunyi banyak tangan yang tidak terlihat, dari kader-kader yang tidak pernah tampil di depan tetapi selalu hadir ketika dibutuhkan. Dari mereka yang menyumbangkan tenaga, waktu, bahkan pikiran tanpa menuntut pengakuan. Organisasi ini bergerak karena ada kepercayaan, karena ada gotong royong ideologis, bukan karena satu figur yang merasa paling berjasa.
Ketika seseorang mulai merasa bahwa GMNI adalah “miliknya”, di situlah awal
kemunduran nilai dimulai. Ia lupa bahwa setiap langkahnya pernah ditopang oleh orang lain. Ia lupa berterima kasih. Ia lupa bahwa setiap posisi yang ia capai bukan hasil perjuangan tunggal, tetapi hasil dari ruang yang dibuka oleh banyak orang sebelumnya.
Lebih ironis lagi, ketika ia sudah berada di titik tertentu, justru ia menutup ruang itu bagi yang lain. Ia menjadi lupa diri, lupa asal, bahkan lupa siapa saja yang pernah berdiri di belakangnya.
Sikap seperti ini tidak hanya merusak secara moral, tetapi juga menciptakan konflik internal yang tidak sehat. Dan seperti biasa, yang paling dirugikan bukanlah mereka yang berada di atas. Yang menjadi korban adalah kader-kader di bawah, mereka yang masih tulus, yang masih bersemangat ber-GMNI di jalan lurus tanpa embel-embel kepentingan.
Mereka yang datang dengan idealisme, tetapi justru disuguhi konflik, ego, dan perebutan pengaruh yang jauh dari nilai perjuangan. Padahal, organisasi kader seharusnya menjadi ruang pembelajaran, bukan arena dominasi. Menjadi pemimpin di dalamnya bukan berarti menjadi pemilik, apalagi bos. Pemimpin organisasi adalah pelayan gerakan, penjaga nilai, dan pengarah arah perjuangan. Ia tidak berdiri di atas kader lain, tetapi berjalan bersama mereka.
Jika kembali pada ajaran Soekarno, tidak pernah ada ruang untuk kesombongan dalam kepemimpinan. Bung Karno mengajarkan tentang kolektivitas, tentang gotong royong, tentang perjuangan yang berpihak kepada rakyat. Ia tidak membangun kultus individu, melainkan membangun kesadaran bersama. Ia tidak mengajarkan kader untuk jumawa, tetapi untuk tetap membumi, bahkan ketika berada di puncak.
Karena itu, menjadi kader yang lama bukanlah alasan untuk merasa paling memiliki. Justru semakin lama seseorang berada dalam organisasi, semakin besar tanggung jawabnya untuk merawat nilai, bukan menguasai ruang.
Semakin tinggi posisinya, semakin rendah hatinya seharusnya. Pada akhirnya, GMNI akan tetap hidup, dengan atau tanpa satu individu. Ia akan terus bergerak selama masih ada kader yang percaya pada nilai perjuangan, yang setia pada garis ideologi, dan yang tidak menjadikan organisasi sebagai alat kepentingan pribadi.
Semoga siapa pun yang hari ini ber-GMNI, di posisi apa pun, tetap mampu menjaga kerendahan hati. Tidak merasa paling berjasa, tidak merasa paling berhak, tidak lupa berterima kasih, dan tidak lupa bahwa di setiap langkahnya, selalu ada banyak tanganyang pernah mendorongnya ke depan.***
Penulis: Jeje Zaenudin, Ketua DPK GMNI UBPK.