
Marhaenist.id, Bandung — Perdebatan mengenai Marhaenisme sebagai ideologi asli Indonesia kembali mengemuka. Namun, bagi pengamat budaya geopolitik Nusantara, Bayu Sasongko, yang juga alumni GMNI Sumedang, polemik tersebut justru menunjukkan persoalan yang lebih mendasar: krisis cara pandang terhadap diri sendiri sebagai bangsa.
“Perdebatan ini menarik, tapi juga ironis. Kita sibuk mempertanyakan keaslian, tetapi lupa memahami akar,” ujar Bayu, Minggu (12/4/2026).
Menurutnya, jika keaslian dimaknai sebagai sesuatu yang steril dari pengaruh luar, maka hampir tidak ada ideologi di dunia yang dapat memenuhi kriteria tersebut. Namun, persoalan Marhaenisme tidak terletak di sana.
Ia menegaskan bahwa yang dirumuskan oleh Soekarno bukanlah ideologi yang berdiri di ruang kosong, melainkan hasil dialektika antara pemikiran global dan realitas lokal Indonesia.
“Marhaenisme itu bukan soal ‘murni atau tidak’, melainkan soal keberpihakan yang lahir dari pengalaman konkret rakyat Indonesia. Ia tumbuh dari tanah sendiri, bukan sekadar dipindahkan dari luar,” jelasnya.
Bayu melihat kecenderungan sebagian kalangan yang lebih mudah meragukan gagasan sendiri dibandingkan mengkritisi ketergantungan pada konsep luar sebagai gejala psikologis sekaligus geopolitik.
“Kita ini sering lebih percaya pada apa yang datang dari luar, lalu meragukan apa yang lahir dari dalam. Ini bukan sekadar debat ideologi, tetapi soal mentalitas bangsa dalam membaca dirinya sendiri. Bentuk keraguan itulah yang justru bisa membinasakan,” katanya.
Lebih jauh, ia menyebut bahwa Marhaenisme merupakan artikulasi ideologis yang berakar pada struktur sosial budaya Indonesia, petani kecil, buruh, dan kelas marhaen sebagai basis utama.
“Ini bukan ideologi yang dipaksakan ke realitas, tetapi lahir dari realitas itu sendiri,” tegasnya.
Dalam konteks kekinian, Bayu mengingatkan bahwa perdebatan soal label “asli” seharusnya tidak mengaburkan substansi utama: relevansi ideologi dalam menjawab persoalan bangsa.
“Pertanyaannya sederhana: apakah ideologi itu masih berpihak pada rakyat, atau justru menjauh dari realitasnya?” ujarnya.
Ia pun menutup dengan refleksi yang lebih luas: “Kalau kita terus sibuk meragukan apa yang lahir dari tanah sendiri, mungkin problemnya bukan pada Marhaenisme, melainkan pada cara kita memahami Indonesia.”.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.