
Marhaenist.id – (Pendahuluan) Sejatinya buku ini saya temukan dalam bentuk buku elektronik/e-book yang mana isinya adalah kumpulan esai dari para penulis tentang Pemikiran Sukarno Sang Presiden Pertama RI. Pemikiran Sukarno merupakan salah satu fondasi penting dalam sejarah politik dan ideologi Indonesia.
Kendati demikian, dalam praktiknya, sosok Sukarno seringkali hanya dipahami secara dangkal sebagai tokoh nasionalis, tanpa menyentuh kedalaman gagasan yang beliau bangun sepanjang perjuangannya. Buku Sukarno, Marxisme, dan Bahaya Pemfosilan ini hadir sebagai upaya untuk meluruskan sekaligus menghidupkan kembali pemikiran Sukarno yang selama ini cenderung “dibekukan” dalam simbol dan mitos.
Buku ini penting untuk dibaca karena memberikan perspektif yang lebih utuh
tentang Sukarno sebagai seorang revolusioner yang tidak hanya berpijak pada nasionalisme, tetapi juga dipengaruhi secara kuat oleh Marxisme dan pemikiran progresif lainnya.
Ringkasan Isi Buku
Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa penulis yang membahas Sukarno dari berbagai sudut pandang. Secara umum, buku ini menegaskan bahwa Sukarno adalah seorang pemikir yang mampu menggabungkan berbagai aliran ideologi seperti nasionalisme, Islam, dan Marxisme menjadi satu kekuatan revolusioner.
Pada bagian awal oleh Bonnie Triyana, dijelaskan bahwa Sukarno adalah sosok yang inklusif dalam berpikir. Ia tidak terpaku pada satu ideologi semata, tetapi mengambil unsur-unsur progresif dari berbagai pemikiran untuk melawan kolonialisme dan membangun masyarakat yang adil.
Selanjutnya, buku ini menekankan peran penting Marxisme dalam membentuk cara pandang Sukarno. Dengan Marxisme, ia mampu melihat kolonialisme sebagai sistem ekonomi yang menindas, bukan sekadar persoalan ras atau agama.
Hal ini membuat perjuangannya memiliki arah yang lebih struktural dan ideologis. Kemudian pada bagian satu “Sukarno Itu Kiri Marxis”, ditegaskan secara eksplisit posisi ideologis Sukarno melalui pernyataannya: “Aku tegaskan dengan tanpa tedeng aling-aling, ya, aku Marxis.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Marxisme bukan sekadar pengaruh, tetapi menjadi bagian penting dalam konstruksi pemikiran Sukarno.
Dalam tulisan lain, dijelaskan bahwa Sukarno bukan hanya seorang nasionalis, melainkan revolusioner sosialis yang ingin membawa Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur. Konsep seperti Marhaenisme menjadi bentuk adaptasi Marxisme dalam konteks Indonesia.
Buku ini juga mengulas periode setelah 1965, di mana pemikiran Sukarno mengalami distorsi. Ia diposisikan hanya sebagai simbol, sementara gagasan-gagasannya dihilangkan dari ruang diskursus publik. Inilah yang disebut sebagai “pemfosilan”, yaitu kondisi ketika tokoh diagungkan, tetapi pemikirannya tidak lagi dikaji secara kritis.
Analisis dan Pemahaman
Setelah membaca buku ini, dapat dipahami bahwa pemikiran Sukarno tidak bisa dilepaskan dari kerangka Marxisme sebagai alat analisis sosial. Namun, selain Marxisme, ada beberapa pemikiran lain yang mempengaruhi pemikiran Bung Karno itu sendiri seperti pemikiran Islam dan Nasionalisme. Buku ini menunjukkan bahwa perjuangan Sukarno tidak berhenti pada kemerdekaan, tetapi berlanjut pada upaya membangun sistem sosial yang bebas dari penindasan.
Selain itu, buku ini juga memperlihatkan bahwa sejarah tidak selalu disampaikan secara utuh. Ada proses politik yang menyebabkan penyederhanaan bahkan pengaburan terhadap pemikiran tokoh besar seperti Sukarno. Akibatnya, generasi saat ini lebih mengenal Sukarno sebagai simbol, bukan sebagai pemikir. Buku ini mendorong pembaca untuk melihat Sukarno secara lebih kritis, bukan sekadar mengagungkan, tetapi juga memahami, mengkaji, dan bahkan menguji relevansi pemikirannya dalam konteks kekinian.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan buku ini yaitu ditulis oleh para penulis yang kompeten dibidangnya. Sehingga isi tulisannya banyak menghadirkan perspektif kritis terhadap pemikiran Sukarno yang jarang dibahas secara terbuka yang mana mampu menghubungkan pemikiran Sukarno dengan konteks sejarah dan politik Indonesia.
Akan tetapi bukan berarti buku ini tanpa kekurangan, gaya penulisannya yang cenderung ideologis, menjadikan buku ini terkesan kurang ringan bagi pembaca umum dan juga karena buku ini berbentuk kumpulan esai dari para penulis yang berbeda, sehingga tidak semua tulisan di buku ini memiliki kedalaman analisis yang sama.
Dan terakhir, kekurangan buku ini menurut saya, adalah tidak dijelaskan terlebih dahulu apa itu Marxisme sehingga membutuhkan pemahaman awal tentang Marxisme itu sendiri untuk memahami isi secara maksimal.
Kesimpulan
Buku Sukarno, Marxisme, dan Bahaya Pemfosilan merupakan karya penting yang berupaya menghidupkan kembali pemikiran Sukarno dari reduksi sejarah. Buku ini tidak hanya membahas siapa Sukarno, tetapi juga bagaimana pemikirannya dibentuk, digunakan, dan kemudian disederhanakan dalam perjalanan sejarah Indonesia. Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca, terutama bagi pembaca yang ingin memahami Sukarno secara lebih mendalam dan kritis, serta melihat relevansi pemikirannya dalam menghadapi persoalan sosial-politik masa kini.***
Judul Buku: Sukarno, Marxisme, dan Bahaya Pemfosilan
Penulis: Airlangga Pribadi Kusman, Benedict Anderson, dkk.
Penerbit: IndoPROGRESS
Jumlah halaman: 71 Halaman.
Peresensi: Jeje Zaenudin, Ketua DPK GMNI Universitas Buana Perjuangan Karawang.