By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kelas Menengah Diperas Biaya Hidup: Stabilitas yang Menipu
Gelar Halal Bihalal, PA GMNI Serukan Penguatan Karakter dan Gotong Royong Hadapi Tekanan Global
DPD PA GMNI Sultra Ucapkan Selamat HUT ke-62 Harmoni Sultra, Dukung ASR Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat
Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban
Manifesto Rejuvenasi Rahim Ibu Pertiwi

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Yayasan Rumah Juang Indonesia Serukan Persatuan Nasional Hadapi Gejolak Geopolitik Global

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Sabtu, 7 Maret 2026 | 23:03 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Ketua Dewan Pembina Yayasan Rumah Juang Indonesia. M. Ageng Dendy Setiawan.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Ketua Dewan Pembina Yayasan Rumah Juang Indonesia, Muh Ageng Dendy Setiawan mendukung persatuan nasional. Ia menegaskan bahwa persatuan nasional menjadi faktor krusial bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin memanas, khususnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik yang lebih luas.

Menurut Dendy, meningkatnya ketegangan geopolitik global tidak hanya berdampak pada stabilitas politik internasional, tetapi juga berpotensi memicu krisis ekonomi global, gangguan rantai pasok energi dan pangan, serta risiko terhadap stabilitas keamanan nasional berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Situasi geopolitik dunia saat ini menuntut seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan nasional. Indonesia harus tetap solid dan menempatkan kepentingan nasional di atas segala perbedaan,” ujar Dendy kepada jurnalis Marhaenist.id, Sabtu (7/3/2026).

Pria yang juga sebagai eksponen aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini menilai bahwa dalam situasi global yang penuh ketidak pastian, dukungan terhadap kepemimpinan nasional dan program strategis pemerintah menjadi penting untuk menjaga stabilitas negara.

Dendy menyatakan dukungannya terhadap langkah dan program kerja Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan nasional, menjaga stabilitas ekonomi, serta meningkatkan kesiap siagaan pertahanan negara di tengah dinamika geopolitik global.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Rumah Juang Indonesia. M. Ageng Dendy Setiawan.

Menurutnya, penguatan ketahanan pangan, energi, stabilitas ekonomi, serta sistem pertahanan nasional merupakan langkah strategis agar Indonesia mampu mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin timbul apabila konflik global semakin meluas.

“Potensi krisis ekonomi global dan ancaman terhadap stabilitas keamanan nasional harus diantisipasi sejak dini. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil menjadi sangat penting untuk memastikan Indonesia tetap kuat dan stabil,” imbuhnya.

Dendy juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang dapat memecah belah bangsa di tengah situasi global yang sensitif.

Baca Juga:   Prabowo-Gibran Ingin Hapus Subsidi BBM dan LPG, GMNI: Menyengsarakan Rakyat

“Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu melewati berbagai tantangan besar ketika persatuan nasional dijaga. Dengan kebersamaan serta dukungan terhadap arah kebijakan pemerintah, saya yakin Indonesia mampu menghadapi dinamika geopolitik global dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan nasional,” ungkapnya.

Dendy menambahkan bahwa gagasan persatuan nasional sejatinya telah lama menjadi fondasi pemikiran kebangsaan Indonesia, sebagaimana sering ditekankan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno.

Menurut Dendy, dalam berbagai pidatonya Bung Karno selalu menegaskan bahwa persatuan nasional merupakan upaya menyatukan seluruh elemen bangsa—lintas suku, agama, dan golongan—di atas dasar pengalaman sejarah yang sama serta cita-cita kolektif untuk mewujudkan kemerdekaan dan keadilan sosial.

Ia menjelaskan bahwa Bung Karno juga kerap mengingatkan bahaya politik pecah belah yang pernah digunakan kekuatan kolonial untuk melemahkan bangsa Indonesia. Dalam pidatonya pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 1964 di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Bung Karno secara tegas menggambarkan bagaimana imperialisme berusaha memecah belah rakyat Nusantara.

“Orang Jawa dibikin benci kepada orang Sumatera. Orang Sumatera dibikin benci kepada orang Jawa. Orang Jawa dibikin benci kepada orang Sulawesi. Orang Sulawesi dibikin benci sama orang Jawa,” ujar Bung Karno dalam pidato tersebut.

Dendy menilai bahwa peringatan tersebut menunjukkan bagaimana politik adu domba menjadi salah satu strategi non-militer yang digunakan kolonialisme untuk melemahkan solidaritas bangsa.

Karena itu, Bung Karno terus menekankan bahwa kepentingan bangsa harus selalu ditempatkan di atas kepentingan kelompok, golongan, maupun kepentingan sempit lainnya.

Pesan serupa juga disampaikan Bung Karno dalam pidatonya pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 1963 di Bandung. Dalam kesempatan tersebut, Bung Karno mengibaratkan bangsa Indonesia sebagai sapu lidi. “Jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, mana ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat,” kata Bung Karno.

Baca Juga:   Beri Sambutan Dalam Pembukaan Konferda V PA GMNI Jakarta Raya, Pramono Anung Soroti Tingginya Ketimpangan Sosial di Jakarta

Ia kemudian mengingatkan pepatah yang sering ia kutip, yakni “Rukun agawe santosa,” yang berarti bahwa kerukunan dan persatuan akan melahirkan kekuatan bagi bangsa.

Dendy menilai bahwa pesan Bung Karno tersebut tetap relevan dalam konteks Indonesia masa kini. Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, persatuan nasional dinilai menjadi modal utama untuk menjaga stabilitas negara, memperkuat ketahanan nasional, serta memastikan Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan global tanpa mengorbankan kedaulatan dan kepentingan nasional.

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Cahyono.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kelas Menengah Diperas Biaya Hidup: Stabilitas yang Menipu
Minggu, 26 April 2026 | 17:00 WIB
Gelar Halal Bihalal, PA GMNI Serukan Penguatan Karakter dan Gotong Royong Hadapi Tekanan Global
Minggu, 26 April 2026 | 13:51 WIB
DPD PA GMNI Sultra Ucapkan Selamat HUT ke-62 Harmoni Sultra, Dukung ASR Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat
Minggu, 26 April 2026 | 12:27 WIB
Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban
Minggu, 26 April 2026 | 10:35 WIB
Manifesto Rejuvenasi Rahim Ibu Pertiwi
Minggu, 26 April 2026 | 10:26 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Memahami Pesoalan Gugatan Imanuel terhadap Keabsahan GMNI Arjuna dengan Nomor Perkara Hukum: 115/Pdt.G/2025/Jkt Pst

Marhaenist.id - Amar putusan Pengadilan yang mengabulkan petitum Imanuel itu tidak melihat…

Di Tengah Gelombang Demo dan Kondisi Bangsa yang Tidak Baik-Baik Saja, Panja RUU PPRT DPR Tetap BeKerja

Marhaenist.id, Jakarta - Di tengah situasi demonstrasi yang mencekam di sekitar Gedung…

Guntur Soekarnoputra dalam peluncuran buku Catatan Merah Dari Putera Bung Karno Jilid 3, 19 Oktober 2022. MARHAENIST

Catatan Merah dari Putera Bung Karno, Ini Kata Ganjar Pranowo dan Mahfud MD

Marhaenist - Putra pertama Presiden Soekarno, yang juga merupakan Ketua Dewan Ideologi…

Di Indonesia Nama Baik Lebih Penting daripada Perbuatan Baik

Marhaenist.id - Apakah gerangan pengertian judul ini? Bagaimana sampai saya mengatakan nama…

Implementasikan Tridharma, Mahasiswa UMIKA Galang Dana Kemanusiaan

Marhaenist - Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Mitra Karya Kota Bekasi (HMTI…

Bangkitnya Massa Marhaen Penentu Kemenangan Ganjar

Banyak kalangan dari kaum Nasionalis menilai bahwa transisi kepemimpinan kali ini punya…

Abdy Yuhana: Gelar Profesor Kehormatan Megawati Soekarnoputri dari Silk Road International University Perkokoh Pengakuan Dunia

Marhaenist.id - Sekretaris Jenderal DPP Persatuan Alumni GMNI, Abdy Yuhana mengapresiasi atas prestasi…

Jika atas Dasar Cinta, Permata Indonesia Tantang Walikota Kendari Permanenkan Penghentian Proyek KOPPERSON di Tapak Kuda

Marhaenist.id, Kendari — Pemerhati Mafia Tanah (Permata):Indonesia menantang Walikota Kendari Siska Imbran…

Lebaran di Tengah Cobaan: Menggali Makna Tahan Menderita dari Pesan Bung Karno

Marhaenist.id - Lebaran tahun ini mungkin berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita mungkin…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?