
Marhaenist.id, Jakarta — Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah membuat dunia kembali menaruh perhatian pada Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di planet ini.
Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut dilalui hampir seperlima perdagangan minyak dunia, sehingga setiap konflik di kawasan itu selalu berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global.
Namun di balik ancaman krisis energi global, sebagian pengamat melihat adanya peluang strategis bagi kawasan lain untuk tampil sebagai penyeimbang baru dalam tatanan dunia.
Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara, Bayu Sasongko, menilai bahwa setiap krisis global dalam sejarah justru sering menjadi titik lahirnya pusat stabilitas baru.
“Sejarah geopolitik selalu bergerak seperti gelombang. Ketika satu kawasan dunia diliputi ketegangan, kawasan lain akan muncul sebagai penyangga stabilitas. Hari ini kita melihat momentum itu perlahan mengarah ke Nusantara,” kata Bayu, Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, gejolak di Selat Hormuz memperlihatkan betapa rapuhnya ketergantungan dunia terhadap satu jalur energi strategis.
“Selat Hormuz adalah pintu energi dunia. Ketika pintu itu terguncang, seluruh sistem ekonomi global ikut bergetar,” ujarnya.
Bayu menjelaskan bahwa ketegangan di Timur Tengah tidak bisa dipisahkan dari perubahan besar dalam struktur kekuatan global. Dunia yang selama beberapa dekade berada dalam bayang-bayang dominasi tunggal kini mulai bergerak menuju tatanan multipolar.
Konflik Rusia–Ukraina di Eropa Timur, rivalitas Amerika Serikat dan China di Indo-Pasifik, hingga ketegangan yang terus terjadi di Timur Tengah menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase transisi geopolitik yang besar.
Dalam fase perubahan seperti ini, kata Bayu, jalur energi dan jalur perdagangan selalu menjadi titik paling menentukan.
“Ketika jalur energi global mengalami gangguan, dunia akan mencari kawasan yang mampu menjamin stabilitas perdagangan internasional,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Nusantara memiliki posisi yang sangat strategis.
Indonesia berada di persimpangan dua samudra besar, Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta menjadi penghubung alami antara Asia Timur, Asia Selatan, dan kawasan Pasifik.
“Jika Selat Hormuz adalah pintu energi dunia, maka jalur laut Nusantara adalah nadi peredaran ekonomi global,” ujar Bayu.
Ia menambahkan bahwa jalur seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok merupakan salah satu arteri utama perdagangan dunia.
Bayu mengingatkan bahwa posisi strategis Nusantara bukanlah fenomena baru dalam sejarah. Berabad-abad sebelum konsep globalisasi dikenal, kepulauan ini telah menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan internasional.
Kekuatan maritim seperti Sriwijaya dan Majapahit pernah mengelola jalur perdagangan yang menghubungkan Asia Timur, India, Timur Tengah hingga Afrika.
Namun kekuatan tersebut tidak hanya bertumpu pada armada laut.
“Sejarah Nusantara menunjukkan bahwa kekuatan maritim sejati selalu berdiri di atas fondasi pangan, perdagangan, dan stabilitas sosial,” kata Bayu.
Sriwijaya menjaga stabilitas jalur perdagangan laut, sementara Majapahit membangun jaringan pelabuhan yang ditopang oleh kekuatan produksi pangan di daratan.
Menurut Bayu, pelajaran sejarah tersebut menjadi sangat relevan bagi Indonesia di tengah krisis global saat ini.
Bayu menilai bahwa salah satu isu geopolitik paling menentukan di masa depan adalah kedaulatan pangan.
Gangguan energi global dapat meningkatkan biaya produksi pertanian, sementara konflik geopolitik dapat memicu pembatasan ekspor pangan oleh negara produsen.
“Dalam situasi krisis global, negara yang bergantung pada impor pangan akan sangat rentan terhadap tekanan ekonomi dan sosial,” jelasnya.
Padahal, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan pangan dunia karena didukung oleh kondisi geografis tropis, keanekaragaman hayati, serta wilayah laut yang luas.
Namun potensi tersebut, kata Bayu, harus dikelola dengan visi geopolitik yang jelas.
“Pembangunan lumbung pangan nasional, modernisasi pertanian, serta penguatan ekonomi maritim harus dilihat sebagai bagian dari strategi geopolitik Indonesia,” ujarnya.
Bayu menilai bahwa kondisi global saat ini justru membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam tatanan dunia.
Menurutnya, penguatan sektor pangan, pembangunan infrastruktur maritim, serta transformasi energi nasional merupakan langkah strategis untuk menyiapkan Indonesia menghadapi perubahan geopolitik global.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan dunia. Kita memiliki semua prasyarat untuk menjadi salah satu pilar stabilitas di kawasan Indo-Pasifik,” kata Bayu.
Dalam perspektif Budaya Geopolitik Nusantara, lanjutnya, kekuatan negara tidak hanya diukur dari kekuatan militer, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan sumber kehidupan.
Bayu menilai bahwa gejolak yang terjadi di berbagai kawasan dunia, termasuk Timur Tengah, merupakan tanda bahwa peta kekuatan global sedang bergerak menuju fase baru.
Dalam perubahan tersebut, Nusantara memiliki peluang historis untuk memainkan peran yang lebih besar.
“Dengan jalur laut strategis, sumber daya alam yang melimpah, serta tradisi peradaban maritim yang panjang, Indonesia memiliki semua prasyarat untuk tampil sebagai kekuatan penting dalam tatanan dunia baru,” ujarnya.
Ia pun menilai bahwa jika momentum ini dikelola dengan visi yang tepat, Indonesia berpeluang memasuki fase kebangkitan baru.
“Dari Selat Hormuz hingga jalur laut Nusantara, dunia sedang menyaksikan perubahan besar. Ini bukan sekadar krisis global, tetapi juga momentum sejarah. Jika kita mampu membacanya dengan tepat, kita sedang memasuki sebuah era baru: Abad Nusantara,” kata Bayu.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.