By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Di Balik Hilirisasi: Kerentanan Perempuan yang Terabaikan
Jejak Tragis Pemimpin Timur Tengah: Antara Perlawanan, Intervensi, dan Kepentingan Global
Warisan Nasionalisme Indonesia: Nilai yang Mempertemukan Perbedaan Dalam Ikatan Persatuan
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Di Indonesia Nama Baik Lebih Penting daripada Perbuatan Baik

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 2 Februari 2026 | 10:05 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Maikel Ajoi, Alumni GMNI Yogyakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Apakah gerangan pengertian judul ini? Bagaimana sampai saya mengatakan nama baik lebih penting daripada perbuatan baik?

Pagi itu 23 Desember 2025, dua hari menjelang natal seperti biasa setiap pagi saya membuka HP jam 10 pagi, membaca buku atau media massa online dan sedikit membuat catatan kecil untuk rencana kerja di hari itu. Di Chat Grup kelompok sukarnois sudah sekitar ratusan chat anggota grup yang masuk. Sebagian besarnya memperlihatkan berita seputar bencana alam di pulau sumatera yang melanda tiga provinsi di penghujung tahun 2025 lalu.

Sebuah chat menunjukkan di sebuah akun medsos tiktok ada postingan seorang bapak yang meminta maaf karena ikut menjarah di minimarket. Yang ia ambil adalah 3 mie instan, 1 botol air mineral dan snack :“saya mohon maaf atas kekhilafan ini, saya tidak ada niat. Tapi karena tidak ada bantuan sama sekali jadi saya ikut. Jika suatu saat keadaan kelak membaik saya akan membayar ini.”

Begitu isi ungkapan pada postingan itu. Bagaimanakah perasaan pemilik minimarket tersebut ketika membaca postingan ini. Kalau boleh saya mengandai andai saya kira pemilik mini market ini tentu akan menurunkan amarahnya ketika membaca postingan ini bahkan bisa saja ia tambah simpati kepada para korban bencana yang ikut menjarah.

Rasa maklum adalah perasaan yang menjadi sebuah keniscayaan. Bahkan unggahan tersebut bisa saja menggugah hati pemilik minimarket atau toko, atau swalayan atau orang orang lain untuk memberikan bantuan kecil kepada para korban.

Entahlah bagaimana caranya agar bisa bertahan hidup beberapa saat menunggu bantuan. Itulah pikiran semua korban bencana. Hampir semua bantuan bencana adalah barang siap konsumsi. Bantuan uang hanyalah suatu masalah yang memperburuk keadaan.

Baca Juga:   Negara Darurat Intoleransi!!!

Orang Indonesia punya konsep berpikir tentang persoalan mencuri dan korupsi itu sebagai sebuah tindakan yang normatif. Mencuri atau korupsi boleh-boleh saja, yang tidak boleh kalau tindakan itu diketahui orang, ditangkap KPK, Polisi atau Kejaksaan. Jadi mencuri atau korupsi itu tidak boleh ketahuan. Apa artinya? Ternyata orang Indonesia menganggap bahwa nama baik lebih penting daripada perbuatan baik. Berbanding terbalik dengan cerita di atas.

Pria yang mencuri ini mengaku perbuatan buruknya. Ia meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Saya pastikan pria ini mendapat simpatik dan menempatkan nama baiknya sebagai jati diri, bukan karena hanya perbuatan baiknya melainkan kesadarannya untuk bertindak mengakui kesalahan atau perbuatan buruknya.

Sama halnya melihat harga diri dan jadi diri itu sama padalah keduanya berbeda. Orang yang lebih mementingkan harga diri eksistensinya berlaku sesaat. Orang yang mengutamakan jati diri ia sedang menanam fondasi peradabannya. Jati diri dibangun atas dasar penelusuran dan alih ubah terhadap identifikasi identitas, termasuk kebudayaan.

Tuntutan tuntutan moral yang selalu terpaku pada perilaku individu, tindakan kelompok dan permasalahan konkrit membentuk sikap ego yang mendorong orang monoton menuntut harga diri. Semua tindakan seperti ini hanya memaksakan apa yang seharusnya ada atau menjadi tetapi selalu tidak memperhatikan apa yang ada atau apa yang terjadi.

Dahulu ketika kecil saya mengikuti teman teman di komplek. Kami bermain dan beberapa teman mengajak kami untuk ikut mengambil buah salak di kebun bukan milik kami. Di suatu waktu kami juga mengambil ayam milik pedagang ayam goreng geprek. Diajak pula kami melakukan hal hal nakal seperti melempari senk pagar milik tetangga hingga mengganggu anak-anak tetangga yang juga adalah teman kami.

Baca Juga:   Studi Terhadap Prilaku Keserakahan, Seberapa Mengerikannya Manusia? (Bagian 3)

Kata seorang teman menceritakan cerita bapaknya, katanya kalau mencuri makanan (tanaman yang bisa dimakan) di kebun milik orang lain pada saat lapar bukanlah perbuatan salah dan tidak mengandung dosa. Yang salah dan dosa adalah ketika melakukannya berulang-ulang. Padahal kita manusia diberikan akal dan tangan kaki untuk dapat berkebun.

Banyangkan saja sejak kecil hal ini sudah diajarkan oleh orang tua kita misalnya. Maka mencuri akan selalu dianggap remeh sebagai perbuatan biasa. Mencuri sering dianggap kata kasar sehingga budaya Indonesia mengajarkan ketika orang yang secara moral memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan sosial yang terikat dan tergantung perlu dijaga hubungan tersebut.

Maka tindakan mencuri supaya tidak merusak hubungan tersebut maka sebutannya diganti dengan mengambil barang tanpa izin. Sama halnya korupsi adalah bahasa hukum yang sangat lembut dan dianggap biasa oleh pelaku korupsi. Bayangkan apabila orang yang mengambil uang negara disebut sebagai pencuri uang negara. Sanksi yang diperoleh dari kata pencuri ini saja sudah sangat menghancurkan batinya.

Meskipun tindakan seperti ini bisa berdampak pada kehidupan lainnya. Katakanlah seorang pimpinan di instansi pemerintah karena kedukaan dan keluarga membutuhkan bantuan, ia dengan sadar mengambil uang tunjangan kinerja pegawainya. Dengan anggapan bahwa tidak apa apa untuk saat itu dan nantinya akan diganti atau dikembalikan ketika ada anggaran lainnya.

Bukankah hal itu akan membentuk sebuah mindset buruk bagi pimpinan instansi tersebut sehingga ia terus merasa nyaman melakukan hal yang sama di lain kesempatan dan terus berinovasi mencari cara menyelamatkan diri terhadap dosa-dosanya sendiri dan terhadap orang lain yang memiliki hak atas uang tersebut. Di situlah munculnya kebiasaan dan cara berpikir korup yang sudah tersistematisasi sebagai suatu strategi dan taktik.

Baca Juga:   UKM (Usaha Kok Merugi)

Dari sinilah orang selalu lebih mementingkan nama baik daripada perbuatan baik. Nama baik lebih dijaga daripada tindakan baik. Nama baik lebih dilindungi dari pemberitaan media daripada mengakui tindakan buruk. Oleh karena perkara nama baik seringkali didukung dengan tindakan buruk untuk menjaga nama baik. Gara-gara nama baik perbuatan baik diabaikan.***


Penulis: Maikel Ajoi, Alumni GMNI Yogyakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Muhammad Nabil, Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia (Dokpri)/MARHAENIST.
Di Balik Hilirisasi: Kerentanan Perempuan yang Terabaikan
Minggu, 5 April 2026 | 22:55 WIB
Jejak Tragis Pemimpin Timur Tengah: Antara Perlawanan, Intervensi, dan Kepentingan Global
Minggu, 5 April 2026 | 22:30 WIB
Warisan Nasionalisme Indonesia: Nilai yang Mempertemukan Perbedaan Dalam Ikatan Persatuan
Minggu, 5 April 2026 | 12:58 WIB
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

DPC GMNI Mandailing Natal Kecam Kekerasan Aparat terhadap Ketua GMNI Labuhanbatu dan Petani Padang Halaban

Marhaenist.id, Mandailing Natal — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Revitalisasi Nilai Perjuangan Bung Karno dalam Membentuk Kader yang Berwatak Marhaenisme, DPC GMNI Kendari Gelar KTD

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional (GMNI) Kendari…

Mengapa Rakyat Marah dan Ingin Membubarkan DPR?

Marhaenist.id, Jakarta - Aksi unjuk rasa Rakyat dengan tuntutan ingin membubarkan Dewan…

Aliansi Mahasiswa Gelar Galang Dana Kemanusiaan untuk Korban Musibah Kebakaran Pasar Tobelo

Marhaenist.id, Tobelo - Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Kemanusiaan, yang tergabung di…

Pesan Emil Salim Kepada Ganjar: Kapal Mau Karam Kok Masih Bernyanyi

Marhaenist.id, Jakarta - Ganjar Pranowo menemui ekonom yang sekaligus mantan Menteri Urusan…

Ahlusunnah wa Syiah wal Marhaenisme: Teologi Perlawanan bagi Kaum Tertindas

Marhaenist.id - Sejarah panjang umat manusia memperlihatkan satu pola yang terus berulang:…

Diterpa Berita Hoax, Dendy Setiawan Tegaskan Kembali Tak Akan Mencalonkan Diri sebagai Ketum ataupun Sekjend DPP GMNI

Marhaenis.id, Surabaya - Beredar adanya berita hoaks yang mengatakan bahwa M Ageng…

Fufufafa Siapakah Kamu Sebenarnya, Gibran Bukan Sih?

MARHAENIST - Teka-teki soal siapa pemilik akun Kaskus Fufufafa yang menghina habis-habisan…

Menolak Usulan Perguruan Tinggi Mengelola Tambang: Ancaman terhadap Demokrasi dan Kebebasan Akademik

Marhaenist.id - Usulan pemberian izin usaha pertambangan kepada perguruan tinggi telah menjadi…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?