By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
DPP GMNI Apresiasi Kemenangan Ekologis Masyarakat Adat Tano Batak
28 Izin Dicabut, DPP GMNI Bongkar Masalah Kehutanan
Pidato Sukarno di PBB: Zaman Baru Datang, Penjajahan Telah Usang 30 September 1960

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Polithinking

Bahlil Lahadalia dan Reorientasi Ideologis Golkar: Mengembalikan Partai Karya ke Akar Marhaenisme Soekarno

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 20 Januari 2026 | 08:47 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Player Publikasi Golkar Marhaen Indonesia (Dokpri GMI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia tidak dibangun oleh satu golongan, apalagi satu elite. Sejarah Republik menunjukkan bahwa bangsa ini dilahirkan melalui kerja bersama berbagai kekuatan fungsional, petani, buruh, nelayan, ulama, tentara, teknokrat, dan kaum terdidik, sebagaimana dirumuskan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam gagasan kebangsaannya.

Dalam kerangka tersebut, Bung Karno memandang partai politik bukan semata instrumen elektoral, melainkan alat konsolidasi sosial rakyat. Partai, bagi Soekarno, harus berpijak pada realitas kerja dan produksi bangsa, bukan sekadar kontestasi elite yang terputus dari kehidupan rakyat sehari-hari.

Pandangan inilah yang kembali menjadi rujukan dalam membaca arah transformasi Partai Golkar, terutama dengan munculnya Bahlil Lahadalia sebagai figur yang kerap diposisikan sebagai simbol perubahan orientasi ideologis partai.

Soekarno secara terbuka mengkritik demokrasi liberal yang menurutnya melahirkan fragmentasi politik dan konflik antar-elite. Ia menggagas Demokrasi Terpimpin, sebuah sistem yang menempatkan rakyat sebagai kekuatan produktif dan disatukan berdasarkan fungsi serta karya, bukan sekadar identitas ideologis.

Dari pemikiran tersebut lahirlah *Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar)*, yang dirancang sebagai wadah kekuatan fungsional bangsa. Golkar, dalam konsepsi awalnya, bukan partai ideologis sempit, melainkan organisasi karya nasional sebuah kanal politik bagi mereka yang bekerja dan memproduksi bagi negara.

Soekarno menyebut Marhaen sebagai rakyat yang bukan miskin karena kodrat, melainkan karena struktur yang tidak adil. Dalam konteks ini, Marhaenisme bukanlah ideologi ekstrem, melainkan kritik terhadap sistem ekonomi-politik yang menjauhkan rakyat dari akses produksi dan kesejahteraan.

Golkar Marhaen Indonesia membaca Marhaenisme sebagai fondasi etik kebijakan: keberpihakan pada ekonomi rakyat, penguatan pelaku usaha kecil dan menengah, serta penegasan peran negara dalam melindungi rakyat produktif dari ketimpangan struktural.

Baca Juga:   Meski Cuaca Panas, Ratusan Ribu Massa Tetap Semangat Hadiri Kampanye Akbar Ganjar-Mahfud di GBK

Dalam lanskap politik kontemporer, Bahlil Lahadalia kerap dipandang sebagai representasi transformasi Golkar ke arah yang lebih membumi. Bukan semata karena posisi strukturalnya dalam kepemimpinan partai besar, melainkan karena narasi sosial dan ekonomi yang ia artikulasikan secara konsisten di ruang publik.

Latar belakang Bahlil yang tumbuh dari lingkungan rakyat kecil, serta penekanannya pada penguatan ekonomi daerah, pelaku usaha nasional, dan pemerataan pembangunan, dibaca sebagai upaya menerjemahkan Marhaenisme ke dalam bahasa kebijakan modern. Dalam konteks ini, Bahlil tidak diposisikan sebagai figur personalistik, melainkan sebagai simbol arah baru Golkar: partai yang berupaya kembali pada watak karya dan fungsi sosialnya.

Soekarno memandang Indonesia sebagai bangsa maritim–kontinental dengan posisi geopolitik strategis. Pandangan tersebut kini dirumuskan sebagai Budaya Geopolitik Nusantara, yakni cara berpikir kebangsaan yang bertumpu pada kedaulatan, kemandirian, dan kekuatan rakyat.

Dalam kerangka ini, Golkar Marhaen Indonesia menekankan bahwa pembangunan nasional harus berpijak pada kepentingan rakyat dan budaya lokal, serta memastikan bahwa integrasi Indonesia ke dalam ekonomi global tidak mengorbankan kedaulatan nasional.

Soekarno tidak pernah membayangkan negara yang lemah. Namun ia juga menolak negara yang kuat tetapi terlepas dari kontrol dan kepentingan rakyat. Prinsip inilah yang menjadi garis ideologis Golkar Marhaen Indonesia: negara yang kuat secara politik dan pertahanan, ekonomi nasional yang mandiri, serta rakyat yang berdaulat sebagai subjek pembangunan.

Sebagai transformasi politik dari Sekber Golkar, Partai Golkar berada di persimpangan sejarah antara pragmatisme kekuasaan dan penguatan kembali identitas ideologisnya sebagai partai karya. Dalam konteks ini, figur seperti Bahlil Lahadalia dipandang sebagai penanda arah, bahwa Golkar tengah mencari kembali relevansinya di tengah perubahan sosial dan tuntutan keadilan ekonomi.

Baca Juga:   Seniman, Budayawan dan Masyarakat Jogja Titipkan Indonesia di Pundak Ganjar

Golkar Marhaen Indonesia menegaskan bahwa masa depan Golkar tidak ditentukan oleh nostalgia kekuasaan, melainkan oleh kemampuannya membaca kembali akar ideologisnya: kerja, fungsi, dan keberpihakan pada rakyat produktif.

Dalam kerangka itu, Bahlil Lahadalia ditempatkan sebagai ikon transformasi ideologis, bukan kultus personal, sebuah representasi dari upaya Golkar untuk kembali menjadi partai yang bekerja bersama rakyat, bukan sekadar berbicara atas nama mereka.

Soekarno menanam. Marhaen menumbuhkan. Golkar menjaga Nusantara.***


Penulis: Kemas Fadli Safari, Salah Satu Penggerak Golkar Marhaen Indonesia.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
Minggu, 25 Januari 2026 | 19:29 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:18 WIB
DPP GMNI Apresiasi Kemenangan Ekologis Masyarakat Adat Tano Batak
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:17 WIB
28 Izin Dicabut, DPP GMNI Bongkar Masalah Kehutanan
Minggu, 25 Januari 2026 | 07:46 WIB
Pidato Sukarno di PBB: Zaman Baru Datang, Penjajahan Telah Usang 30 September 1960
Sabtu, 24 Januari 2026 | 19:54 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Indonesia Darurat Part 2, 100 Hari Kerja = 1000 Masalah

Marhaenist.id - Negara Indonesia telah melewati hari ke 100 dalam naungan pemerintahan…

Bung Yusuf, Api yang Kembali Menyala Buat GMNI

Marhaenist.id - Sudah enam tahun lamanya ia meninggalkan kampus. Namanya Yusuf, dulu…

Rp 1.000,7 Triliun untuk Papua, Rakyatnya Tetap Miskin

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD geram dengan perkembangan…

Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, Dendy Se. MARHAENIST

GMNI Jaksel Tuntut Pencopotan Kapolres dan Kapolsek Terkait Pembubaran Diskusi FTA: Usut Tuntas Otak di Balik Penyerangan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI)…

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto. FILE/PDI Perjuangan

Soal Siap Jadi Capres, Hasto: Ganjar Pranowo Tidak Melanggar Disiplin Partai

Marhaenist - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menegaskan Ganjar…

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. ANTARA/Nugroho Akbar

Kemunculan Dewan Kolonel PM Kagetkan Megawati

Marhaenist - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkapkan bahwa…

Presiden atau Cuma OMON-OMON?

Marhaenist.id - Prabowo Subianto mungkin punya satu keinginan sederhana: namanya tercatat dalam…

Pernyataan Sikap SP-NTT: Polemik Geothermal Flores-Lembata dan Polemik Investasi di Pulau Padar Taman Nasional Komodo

Marhaenist.id, Jakarta - Serikat Pemuda Nusa Tenggara Timur (SP-NTT) menilai gempuran investasi…

Pancasila: Antara Retorika dan Realita

Marhaenist.id - Bulan Juni, bulan penuh makna dalam lanskap sejarah Indonesia. Pada bulan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?