Marhaenist.id – Indonesia tidak dibangun oleh satu golongan, apalagi satu elite. Sejarah Republik menunjukkan bahwa bangsa ini dilahirkan melalui kerja bersama berbagai kekuatan fungsional, petani, buruh, nelayan, ulama, tentara, teknokrat, dan kaum terdidik, sebagaimana dirumuskan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam gagasan kebangsaannya.
Dalam kerangka tersebut, Bung Karno memandang partai politik bukan semata instrumen elektoral, melainkan alat konsolidasi sosial rakyat. Partai, bagi Soekarno, harus berpijak pada realitas kerja dan produksi bangsa, bukan sekadar kontestasi elite yang terputus dari kehidupan rakyat sehari-hari.
Pandangan inilah yang kembali menjadi rujukan dalam membaca arah transformasi Partai Golkar, terutama dengan munculnya Bahlil Lahadalia sebagai figur yang kerap diposisikan sebagai simbol perubahan orientasi ideologis partai.
Soekarno secara terbuka mengkritik demokrasi liberal yang menurutnya melahirkan fragmentasi politik dan konflik antar-elite. Ia menggagas Demokrasi Terpimpin, sebuah sistem yang menempatkan rakyat sebagai kekuatan produktif dan disatukan berdasarkan fungsi serta karya, bukan sekadar identitas ideologis.
Dari pemikiran tersebut lahirlah *Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar)*, yang dirancang sebagai wadah kekuatan fungsional bangsa. Golkar, dalam konsepsi awalnya, bukan partai ideologis sempit, melainkan organisasi karya nasional sebuah kanal politik bagi mereka yang bekerja dan memproduksi bagi negara.
Soekarno menyebut Marhaen sebagai rakyat yang bukan miskin karena kodrat, melainkan karena struktur yang tidak adil. Dalam konteks ini, Marhaenisme bukanlah ideologi ekstrem, melainkan kritik terhadap sistem ekonomi-politik yang menjauhkan rakyat dari akses produksi dan kesejahteraan.
Golkar Marhaen Indonesia membaca Marhaenisme sebagai fondasi etik kebijakan: keberpihakan pada ekonomi rakyat, penguatan pelaku usaha kecil dan menengah, serta penegasan peran negara dalam melindungi rakyat produktif dari ketimpangan struktural.
Dalam lanskap politik kontemporer, Bahlil Lahadalia kerap dipandang sebagai representasi transformasi Golkar ke arah yang lebih membumi. Bukan semata karena posisi strukturalnya dalam kepemimpinan partai besar, melainkan karena narasi sosial dan ekonomi yang ia artikulasikan secara konsisten di ruang publik.
Latar belakang Bahlil yang tumbuh dari lingkungan rakyat kecil, serta penekanannya pada penguatan ekonomi daerah, pelaku usaha nasional, dan pemerataan pembangunan, dibaca sebagai upaya menerjemahkan Marhaenisme ke dalam bahasa kebijakan modern. Dalam konteks ini, Bahlil tidak diposisikan sebagai figur personalistik, melainkan sebagai simbol arah baru Golkar: partai yang berupaya kembali pada watak karya dan fungsi sosialnya.
Soekarno memandang Indonesia sebagai bangsa maritim–kontinental dengan posisi geopolitik strategis. Pandangan tersebut kini dirumuskan sebagai Budaya Geopolitik Nusantara, yakni cara berpikir kebangsaan yang bertumpu pada kedaulatan, kemandirian, dan kekuatan rakyat.
Dalam kerangka ini, Golkar Marhaen Indonesia menekankan bahwa pembangunan nasional harus berpijak pada kepentingan rakyat dan budaya lokal, serta memastikan bahwa integrasi Indonesia ke dalam ekonomi global tidak mengorbankan kedaulatan nasional.
Soekarno tidak pernah membayangkan negara yang lemah. Namun ia juga menolak negara yang kuat tetapi terlepas dari kontrol dan kepentingan rakyat. Prinsip inilah yang menjadi garis ideologis Golkar Marhaen Indonesia: negara yang kuat secara politik dan pertahanan, ekonomi nasional yang mandiri, serta rakyat yang berdaulat sebagai subjek pembangunan.
Sebagai transformasi politik dari Sekber Golkar, Partai Golkar berada di persimpangan sejarah antara pragmatisme kekuasaan dan penguatan kembali identitas ideologisnya sebagai partai karya. Dalam konteks ini, figur seperti Bahlil Lahadalia dipandang sebagai penanda arah, bahwa Golkar tengah mencari kembali relevansinya di tengah perubahan sosial dan tuntutan keadilan ekonomi.
Golkar Marhaen Indonesia menegaskan bahwa masa depan Golkar tidak ditentukan oleh nostalgia kekuasaan, melainkan oleh kemampuannya membaca kembali akar ideologisnya: kerja, fungsi, dan keberpihakan pada rakyat produktif.
Dalam kerangka itu, Bahlil Lahadalia ditempatkan sebagai ikon transformasi ideologis, bukan kultus personal, sebuah representasi dari upaya Golkar untuk kembali menjadi partai yang bekerja bersama rakyat, bukan sekadar berbicara atas nama mereka.
Soekarno menanam. Marhaen menumbuhkan. Golkar menjaga Nusantara.***
Penulis: Kemas Fadli Safari, Salah Satu Penggerak Golkar Marhaen Indonesia.