By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Artikel

Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Burkina Faso, sebagai negara agraris di kawasan Afrika Barat, selama bertahun-tahun menghadapi persoalan serius berupa serangan hama belalang yang merusak tanaman pangan rakyat. Hama ini tidak hanya mengancam hasil panen, tetapi juga berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional serta kesejahteraan petani kecil yang menggantungkan hidupnya pada pertanian subsisten.

Di bawah kepemimpinan Presiden Ibrahim Traoré, Burkina Faso mulai memperkenalkan pendekatan kebijakan yang lebih berbasis kemandirian, ekologi, dan pemberdayaan rakyat. Salah satu kebijakan yang menarik perhatian internasional adalah pemanfaatan ayam sebagai pengendali alami hama belalang di lahan pertanian.

Kebijakan ini berangkat dari prinsip sederhana namun strategis, yakni memanfaatkan keseimbangan alam sebagai solusi atas persoalan pertanian.

Ayam merupakan predator alami berbagai jenis serangga, termasuk belalang, ulat, dan larva hama lainnya. Dengan mendorong petani memelihara ayam secara masif dan terintegrasi dengan lahan pertanian, pemerintah tidak hanya berupaya menekan populasi hama belalang, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang mahal serta berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan manusia.

Dalam praktiknya, pemerintah Burkina Faso menjalankan program distribusi ayam secara terkoordinasi kepada petani desa, disertai pelatihan sistem pertanian terpadu dan pendampingan berbasis komunitas.

Ayam dilepas secara terkontrol di area pertanian pada fase tertentu setelah masa tanam, sehingga mereka memakan belalang dan serangga pengganggu tanpa merusak tanaman utama. Pola ini terbukti membantu menjaga hasil panen sekaligus meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.

Lebih jauh, kebijakan ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi rakyat. Ayam tidak hanya berfungsi sebagai pengendali hama, tetapi juga menjadi sumber pangan dan pendapatan tambahan melalui produksi telur dan daging. Dengan demikian, satu kebijakan mampu menjawab beberapa persoalan sekaligus: perlindungan tanaman pangan, peningkatan asupan gizi masyarakat, serta penguatan ekonomi keluarga petani.

Baca Juga:   Pahlawan Soeharto dan Negara Amnesia

Pada akhir 2025, Presiden Ibrahim Traoré secara resmi mengumumkan pelepasan satu juta ayam ke ladang-ladang pertanian untuk memerangi serangan hama belalang yang mengancam panen sorgum dan mijo—dua komoditas pangan utama rakyat Burkina Faso. Pelaksanaan program ini melibatkan pengiriman ayam menggunakan truk ke desa-desa, dengan relawan pemuda setempat turut mengawasi agar pelepasan ayam tetap terkendali dan tidak mengganggu keseimbangan ekologi.

Langkah ini sempat menuai kritik dan ejekan dari sejumlah media Barat, khususnya di Paris dan Madrid. Mereka menyebut kebijakan tersebut sebagai keputusan gegabah, tidak realistis, bahkan “ide gila” yang dinilai berisiko gagal total. Media-media tersebut mempertanyakan mengapa pemerintah Burkina Faso tidak memilih penggunaan insektisida konvensional yang dianggap lebih “modern” dan cepat.

Namun, Traoré menegaskan bahwa kebijakan ini didasarkan pada pengalaman lokal dan pengetahuan rakyat, yang selama ini membuktikan bahwa ayam efektif memangsa larva belalang dan hama lainnya, sekaligus memperkuat kedaulatan pangan. Ia menolak ketergantungan pada pestisida impor dan bantuan asing yang sering kali menciptakan ketergantungan baru serta merugikan petani kecil dalam jangka panjang.

Seiring berjalannya waktu, respons media Eropa pun mulai bergeser. Dari semula mengejek, sebagian mulai mendiskusikan kebijakan ini secara lebih serius setelah laporan-laporan dari petani menunjukkan hasil positif. Warga desa menyambut program tersebut dengan antusias karena selain hama berkurang, ketersediaan telur dan daging di rumah tangga mereka juga meningkat.

Pendekatan Presiden Ibrahim Traoré ini mencerminkan arah politik pembangunan yang menolak dominasi solusi impor dan teknologi mahal dari luar negeri. Sebaliknya, Burkina Faso memilih mengoptimalkan sumber daya lokal dan pengetahuan rakyat sebagai fondasi pembangunan nasional. Hal ini sejalan dengan semangat kedaulatan nasional dan kemandirian pangan yang menjadi narasi besar kepemimpinan Traoré.

Baca Juga:   Matinya Pancasila di Bulan Juni

Secara ideologis, kebijakan pengendalian hama belalang melalui pemanfaatan ayam juga dapat dibaca sebagai bagian dari semangat pan-Afrikanisme kontemporer: membangun Afrika dengan kekuatan sendiri, berbasis kearifan lokal, dan berpihak pada rakyat kecil. Dalam konteks ini, ayam bukan sekadar ternak, melainkan simbol pendekatan pembangunan yang membumi, berdaulat, dan berkelanjutan.

Melalui kebijakan ini, Presiden Ibrahim Traoré menunjukkan bahwa solusi atas krisis pangan dan pertanian tidak selalu harus datang dari teknologi mahal dan intervensi asing.

Justru dengan keberanian politik, keberpihakan pada rakyat, serta pemanfaatan potensi lokal, negara dapat membangun sistem pertanian yang lebih adil, mandiri, dan berkelanjutan bagi masa depan kedaulatan pangan di Burkina Faso.***


Disusun oleh La Ode Mustawwadhaar (Redaksi Marhaenist.id) dari berbagai sumber.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Kamis, 2 April 2026 | 11:45 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Fotografer Anadolu Raih Juara Lomba Fotografi di Uni Emirat Arab

Marhaenist.id, Dubai - Fotografer jurnalistik Anadolu, Ali Jadallah, meraih juara pertama pada…

Peningkatan PPN akan Menjadi Disinsentif Bagi Masyarakat Kecil

Marhaenist.id - Keputusan pemberlakuan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 12 persen…

Sarinah: Jiwa Besar dalam Tubuh Kecil, Refleksi Perempuan Indonesia Masa Kini

Marhaenist.id - Bung Karno pernah menulis, "...Sarinah orang kecil tapi memiliki jiwa…

DPC GMNI Bantaeng Kutuk Keras Tindakan Represif Oknum ASN Dinas PUPR Sinjai terhadap Kader GMNI Sinjai

Marhaenist.id, Bantaeng - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Seknas PM Akan Konsolidasikan Puan Maharani di 13 Provinsi

Marhaenist - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Sekretariat Nasional (DPN Seknas) Puan…

GMNI Desak KPK Periksa Bobby Nasution dan Kahiyang Atas Dugaan IUP ‘Blok Medan’

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan,…

Trump Batalkan MBG: Prabowo–Gibran Hanya Tunduk dan Diam

Marhaenist.id - Kebijakan luar negeri yang bersifat transaksional dari Donald Trump kembali…

Gelar Rangkaian Pra Konferda V, DPD PA GMNI Jakarta: Paradigma Baru Perjuangan di Kota Global

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Mahfud MD Ungkap Dana Otsus Papua Masa Lukas Enembe untuk Foya-foya

Marhaenist - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD berterus…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?