Marhaenist.id – Burkina Faso, sebagai negara agraris di kawasan Afrika Barat, selama bertahun-tahun menghadapi persoalan serius berupa serangan hama belalang yang merusak tanaman pangan rakyat. Hama ini tidak hanya mengancam hasil panen, tetapi juga berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional serta kesejahteraan petani kecil yang menggantungkan hidupnya pada pertanian subsisten.
Di bawah kepemimpinan Presiden Ibrahim Traoré, Burkina Faso mulai memperkenalkan pendekatan kebijakan yang lebih berbasis kemandirian, ekologi, dan pemberdayaan rakyat. Salah satu kebijakan yang menarik perhatian internasional adalah pemanfaatan ayam sebagai pengendali alami hama belalang di lahan pertanian.
Kebijakan ini berangkat dari prinsip sederhana namun strategis, yakni memanfaatkan keseimbangan alam sebagai solusi atas persoalan pertanian.
Ayam merupakan predator alami berbagai jenis serangga, termasuk belalang, ulat, dan larva hama lainnya. Dengan mendorong petani memelihara ayam secara masif dan terintegrasi dengan lahan pertanian, pemerintah tidak hanya berupaya menekan populasi hama belalang, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang mahal serta berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan manusia.
Dalam praktiknya, pemerintah Burkina Faso menjalankan program distribusi ayam secara terkoordinasi kepada petani desa, disertai pelatihan sistem pertanian terpadu dan pendampingan berbasis komunitas.
Ayam dilepas secara terkontrol di area pertanian pada fase tertentu setelah masa tanam, sehingga mereka memakan belalang dan serangga pengganggu tanpa merusak tanaman utama. Pola ini terbukti membantu menjaga hasil panen sekaligus meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Lebih jauh, kebijakan ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi rakyat. Ayam tidak hanya berfungsi sebagai pengendali hama, tetapi juga menjadi sumber pangan dan pendapatan tambahan melalui produksi telur dan daging. Dengan demikian, satu kebijakan mampu menjawab beberapa persoalan sekaligus: perlindungan tanaman pangan, peningkatan asupan gizi masyarakat, serta penguatan ekonomi keluarga petani.
Pada akhir 2025, Presiden Ibrahim Traoré secara resmi mengumumkan pelepasan satu juta ayam ke ladang-ladang pertanian untuk memerangi serangan hama belalang yang mengancam panen sorgum dan mijo—dua komoditas pangan utama rakyat Burkina Faso. Pelaksanaan program ini melibatkan pengiriman ayam menggunakan truk ke desa-desa, dengan relawan pemuda setempat turut mengawasi agar pelepasan ayam tetap terkendali dan tidak mengganggu keseimbangan ekologi.
Langkah ini sempat menuai kritik dan ejekan dari sejumlah media Barat, khususnya di Paris dan Madrid. Mereka menyebut kebijakan tersebut sebagai keputusan gegabah, tidak realistis, bahkan “ide gila” yang dinilai berisiko gagal total. Media-media tersebut mempertanyakan mengapa pemerintah Burkina Faso tidak memilih penggunaan insektisida konvensional yang dianggap lebih “modern” dan cepat.
Namun, Traoré menegaskan bahwa kebijakan ini didasarkan pada pengalaman lokal dan pengetahuan rakyat, yang selama ini membuktikan bahwa ayam efektif memangsa larva belalang dan hama lainnya, sekaligus memperkuat kedaulatan pangan. Ia menolak ketergantungan pada pestisida impor dan bantuan asing yang sering kali menciptakan ketergantungan baru serta merugikan petani kecil dalam jangka panjang.
Seiring berjalannya waktu, respons media Eropa pun mulai bergeser. Dari semula mengejek, sebagian mulai mendiskusikan kebijakan ini secara lebih serius setelah laporan-laporan dari petani menunjukkan hasil positif. Warga desa menyambut program tersebut dengan antusias karena selain hama berkurang, ketersediaan telur dan daging di rumah tangga mereka juga meningkat.
Pendekatan Presiden Ibrahim Traoré ini mencerminkan arah politik pembangunan yang menolak dominasi solusi impor dan teknologi mahal dari luar negeri. Sebaliknya, Burkina Faso memilih mengoptimalkan sumber daya lokal dan pengetahuan rakyat sebagai fondasi pembangunan nasional. Hal ini sejalan dengan semangat kedaulatan nasional dan kemandirian pangan yang menjadi narasi besar kepemimpinan Traoré.
Secara ideologis, kebijakan pengendalian hama belalang melalui pemanfaatan ayam juga dapat dibaca sebagai bagian dari semangat pan-Afrikanisme kontemporer: membangun Afrika dengan kekuatan sendiri, berbasis kearifan lokal, dan berpihak pada rakyat kecil. Dalam konteks ini, ayam bukan sekadar ternak, melainkan simbol pendekatan pembangunan yang membumi, berdaulat, dan berkelanjutan.
Melalui kebijakan ini, Presiden Ibrahim Traoré menunjukkan bahwa solusi atas krisis pangan dan pertanian tidak selalu harus datang dari teknologi mahal dan intervensi asing.
Justru dengan keberanian politik, keberpihakan pada rakyat, serta pemanfaatan potensi lokal, negara dapat membangun sistem pertanian yang lebih adil, mandiri, dan berkelanjutan bagi masa depan kedaulatan pangan di Burkina Faso.***
Disusun oleh La Ode Mustawwadhaar (Redaksi Marhaenist.id) dari berbagai sumber.