Marhaenist.id, Jakarta Timur — Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Jakarta Timur menggelar diskusi publik bertajuk “Pilkada oleh DPRD: Solusi Demokrasi atau Pembunuhan Demokrasi?” pada Sabtu malam (10/1/2025) melalui via Zoom.
Kegiatan ini diikuti oleh kalangan mahasiswa serta masyarakat umum sebagai ruang dialektika untuk menilai secara objektif wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD dalam konteks demokrasi Indonesia.
Diskusi tersebut dibuka oleh Sekretaris DPC GMNI Jakarta Timur, Feronika Nurlat Latbual, dan dimoderatori oleh Lorensius Loren yang juga merupakan Kader GMNI Jakarta Timur.
Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Niko Adrian, Bivitri Susanti, dan Hendri Satrio, yang memberikan pandangan kritis serta referensi demokrasi kepada peserta diskusi.
Dalam pemaparannya, Niko Adrian menyampaikan bahwa pemilihan kepala daerah melalui DPRD berpotensi menghindari praktik serangan fajar serta menekan biaya pemilu yang selama ini sangat besar.
Menurutnya, anggaran politik tersebut seharusnya dapat dialokasikan untuk kesejahteraan sosial.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa setiap mekanisme demokrasi tetap harus mempertimbangkan nilai-nilai demokrasi ideal yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.
Sementara itu, Bivitri Susanti mengingatkan adanya risiko besar jika pilkada dilakukan oleh DPRD. Ia menilai potensi terjadinya sogokan kepada partai politik justru semakin terbuka.
Selain itu, calon kepala daerah akan lebih bertanggung jawab kepada partai politik ketimbang rakyat, karena partailah yang menentukan keterpilihan mereka.
“Demokrasi berpotensi diukur dengan uang, dan biaya politik justru akan semakin terpusat di partai politik,” tegasnya.
Adapun Hendri Satrio menekankan bahwa politik pada dasarnya adalah arena perebutan kepentingan dan kekuasaan.
Ia menilai fungsi kontrol terhadap kekuasaan politik di daerah dapat semakin masif, namun pemilihan tidak langsung berpotensi membuat hasil pilkada dapat diprediksi sejak awal.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk membangun kepemimpinan, pengalaman, serta modal sosial sebagai bagian dari metode perjuangan politik yang substantif.
Sementara itu, Ketua DPC GMNI Jakarta Timur, Jansen Henry Kurniawan, menyampaikan harapannya agar diskusi ini menjadi bahan kajian serius bagi GMNI untuk melangkah secara konkret dalam memperjuangkan demokrasi yang ideal.
Menurutnya, perjuangan tersebut merupakan tanggung jawab moral dan ideologis mahasiswa sebagai pelopor dan penggerak perjuangan rakyat.
“Saya berharap diskusi ini menjadi bahan kajian serius untuk DPC GMNI Jakarta Timur bergerak secara konkrit dalam memperjuangkan demokrasi yang ideal sebagai tanggungjawab moral ideologis mahasiswa sebagai pelopor perjuangan rakyat,” ujarnya.
Diskusi berlangsung dinamis dengan sesi tanya jawab bersama peserta, sebelum akhirnya ditutup oleh moderator.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.