By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

GMNI Kiamat?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 23 Desember 2025 | 12:46 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi GMNI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pernah berdiri gagah sebagai kawah candradimuka bagi kaum intelektual muda yang memegang teguh Marhaenisme.

Daftar Konten
Perpecahan yang ‘Dipelihara’Kaderisasi: Antara Ada dan TiadaMelupakan Khittah, Memuja KuasaEgoisme Membunuh Gotong RoyongEpilog: Menolak Mati

Semboyan ‘Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang’ bukan sekadar retorika, melainkan nafas yang menghidupkan dialektika di setiap komisariat dan cabang.

Namun, melihat realitas hari ini, kita dipaksa menelan pil pahit dan bertanya: Apakah kiamat GMNI sudah dekat?

Pertanyaan ini bukan bentuk pesimisme, melainkan autokritik keras terhadap tubuh organisasi yang kian hari kian rapuh digerogoti penyakit kronis: perpecahan, pragmatisme, dan matinya ideologi.

Perpecahan yang ‘Dipelihara’

Sejarah mencatat dinamika konflik di tubuh GMNI, namun apa yang terjadi belakangan ini bukan lagi dinamika, melainkan tragedi.

Dualisme hingga multilisme kepemimpinan bukan lagi kecelakaan sejarah, melainkan tampak seperti kondisi yang sengaja dipelihara.

Mengapa dipelihara? Karena dalam kekeruhan, ada elit yang memancing keuntungan.

Konflik tidak lagi didasarkan pada pertentangan ideologis, seperti perdebatan tafsir Marhaenisme, melainkan murni urusan dapur kekuasaan.

Tidak ada rekonsiliasi yang utuh karena ego sektoral dan ‘ke-aku-an’ para elitnya terlalu tinggi untuk duduk bersama. Rekonsiliasi hanya menjadi jargon, sementara di bawah meja, ‘api dalam sekam’ terus dijaga agar posisi tawar politik tetap tinggi.

Kaderisasi: Antara Ada dan Tiada

Ketika para elit sibuk berebut stempel legitimasi, siapa yang memikirkan kader di akar rumput? Kaderisasi terbengkalai.

GMNI sejatinya adalah organisasi kader, bukan organisasi massa yang mengandalkan jumlah kepala semata. Namun, hari ini kita melihat pergeseran yang mengerikan.

Proses kaderisasi seringkali hanya menjadi formalitas administratif. Indoktrinasi ideologi tak lagi mendalam; pemahaman tentang Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa hanya sebatas hafalan kulit, tanpa penghayatan ruh perjuangan.

Baca Juga:   Kasus Raya: Alarm Keras untuk Indonesia

Akibatnya, GMNI melahirkan kader-kader yang gagap ideologi tapi ‘rakus’ jabatan. Organisasi ini tidak lagi mencetak ‘Sukarno Muda’ melainkan mencetak birokrat-birokrat kampus dan politisi pragmatis yang siap gadai idealisme demi proyek sesaat.

Melupakan Khittah, Memuja Kuasa

Inilah tanda kiamat yang paling nyata: Hilangnya arah perjuangan (Khittah).

GMNI seharusnya berjuang untuk kaum Marhaen, melawan penindasan sistemis, dan mengawal keadilan sosial. Namun, diskursus yang mendominasi ruang-ruang diskusi elit organisasi hari ini bukanlah “Bagaimana nasib petani yang digusur?” atau “Bagaimana melawan neokolonialisme ekonomi?” melainkan “Siapa yang akan jadi Ketua?” dan “Bagaimana cara kita berkuasa?”

Orientasi kekuasaan (power-oriented) telah membunuh orientasi pengabdian (service-oriented). Azas perjuangan ditinggalkan di laci-laci sekretariat yang berdebu. Kader diajarkan cara memenangkan voting, melobi senior, dan memecah belah lawan, tetapi lupa diajarkan cara menangis dan tertawa bersama rakyat.

Egoisme Membunuh Gotong Royong

Prinsip Gotong Royong yang menjadi intisari Pancasila seolah lenyap digantikan oleh individualisme dan feodalisme gaya baru. ‘Ke-aku-an’ yang tinggi membuat setiap faksi merasa paling benar, paling sah, dan paling Marhaenis, sambil menunjuk faksi lain sebagai pengkhianat.

Padahal, pengkhianat sejati adalah mereka yang membiarkan organisasi ini terbelah demi ambisi pribadi. Tidak adanya upaya tulus untuk menyatukan serpihan-serpihan yang pecah membuktikan bahwa GMNI sedang mengalami krisis kenegarawanan di tingkat internalnya sendiri.

Epilog: Menolak Mati

Jika kondisi ini terus berlanjut, di mana perpecahan dinikmati, kaderisasi mati suri, dan kekuasaan menjadi satu-satunya tuhan, maka ya, kiamat GMNI sudah sangat dekat.

Ia akan menjadi fosil sejarah, namanya ada, atributnya merah menyala, tapi rohnya telah lama mati.

Satu-satunya cara menunda kiamat itu adalah dengan dekonstruksi total. Runtuhkan ego para elit, kembalikan kaderisasi sebagai panglima, dan jadikan azas perjuangan sebagai satu-satunya rel pergerakan.

Baca Juga:   Mengurai Benang Kusut Korupsi SDA dan Syahwat Politik Dinasti di Wilayah Pesisir

Jika tidak, bersiaplah menulis obituari untuk GMNI, organisasi besar yang mati bukan karena dibunuh musuh, tapi karena bunuh diri oleh keserakahan kadernya sendiri.

Merdeka!!!


Penulis: Damas Baswananda, Kader GMNI Purwokerto.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI: Revisi UU Pilkada Inkonstitusional

MARHAENIST - Ketua Umum DPP GMNI Arjuna Putra Aldino menilai revisi UU…

Lucunya Negeri Ini Bersama Jokowi Diakhir Masa Jabatannya

Marhaenist.id - Kalau dulu ada lagu yang diciptakan untuk Gayus Tambunan dengan…

Kepemimpinan Baduy Menjaga Pangan Indonesia

Marhaenist.id - Di tengah krisis iklim dan ketergantungan pangan pada pasar global,…

(Jika) Bobibos vs Pertamina: Benturan Inovasi dan Kekuasaan di Panggung Energi Nasional

Marhaenist.id - Di tengah dinamika ekonomi nasional yang semakin kompleks, muncul satu…

Sikapi Unras Kawal Putusan MK Atas UU PKPU Diberbagai Daerah, Komnas HAM Desak Aparat Tidak Gunakan Kekerasan

Marhaenist.id, Jakarta- Komnas HAM mencermati bahwa gelombang aksi Unjuk Rasa (Unras) yang terjadi…

Reshuffle Kabinet, Ugal-Ugalan Diakhir Masa Jabatan

MARHAENIST - Belum hilang hiruk-pikuk seputar pengunduran diri secara mendadak dari Ketua…

Jadilah Marhaenis Sejati Dengan Referensi Yang Kuat, Donwlod Ebook Disini Untuk Menguatkan Itu

Marhaenis.id - Tren mengulas sesuatu tanpa referensi semakin populer disemua kalangan belakangan…

Presiden Jokowi Resmi Buka Kongres IV Persatuan Alumni GMNI

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi membuka Kongres IV Persatuan…

Fotografer Anadolu Raih Juara Lomba Fotografi di Uni Emirat Arab

Marhaenist.id, Dubai - Fotografer jurnalistik Anadolu, Ali Jadallah, meraih juara pertama pada…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?