By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

GMNI Kiamat?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 23 Desember 2025 | 12:46 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi GMNI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pernah berdiri gagah sebagai kawah candradimuka bagi kaum intelektual muda yang memegang teguh Marhaenisme.

Daftar Konten
Perpecahan yang ‘Dipelihara’Kaderisasi: Antara Ada dan TiadaMelupakan Khittah, Memuja KuasaEgoisme Membunuh Gotong RoyongEpilog: Menolak Mati

Semboyan ‘Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang’ bukan sekadar retorika, melainkan nafas yang menghidupkan dialektika di setiap komisariat dan cabang.

Namun, melihat realitas hari ini, kita dipaksa menelan pil pahit dan bertanya: Apakah kiamat GMNI sudah dekat?

Pertanyaan ini bukan bentuk pesimisme, melainkan autokritik keras terhadap tubuh organisasi yang kian hari kian rapuh digerogoti penyakit kronis: perpecahan, pragmatisme, dan matinya ideologi.

Perpecahan yang ‘Dipelihara’

Sejarah mencatat dinamika konflik di tubuh GMNI, namun apa yang terjadi belakangan ini bukan lagi dinamika, melainkan tragedi.

Dualisme hingga multilisme kepemimpinan bukan lagi kecelakaan sejarah, melainkan tampak seperti kondisi yang sengaja dipelihara.

Mengapa dipelihara? Karena dalam kekeruhan, ada elit yang memancing keuntungan.

Konflik tidak lagi didasarkan pada pertentangan ideologis, seperti perdebatan tafsir Marhaenisme, melainkan murni urusan dapur kekuasaan.

Tidak ada rekonsiliasi yang utuh karena ego sektoral dan ‘ke-aku-an’ para elitnya terlalu tinggi untuk duduk bersama. Rekonsiliasi hanya menjadi jargon, sementara di bawah meja, ‘api dalam sekam’ terus dijaga agar posisi tawar politik tetap tinggi.

Kaderisasi: Antara Ada dan Tiada

Ketika para elit sibuk berebut stempel legitimasi, siapa yang memikirkan kader di akar rumput? Kaderisasi terbengkalai.

GMNI sejatinya adalah organisasi kader, bukan organisasi massa yang mengandalkan jumlah kepala semata. Namun, hari ini kita melihat pergeseran yang mengerikan.

Proses kaderisasi seringkali hanya menjadi formalitas administratif. Indoktrinasi ideologi tak lagi mendalam; pemahaman tentang Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa hanya sebatas hafalan kulit, tanpa penghayatan ruh perjuangan.

Baca Juga:   Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara

Akibatnya, GMNI melahirkan kader-kader yang gagap ideologi tapi ‘rakus’ jabatan. Organisasi ini tidak lagi mencetak ‘Sukarno Muda’ melainkan mencetak birokrat-birokrat kampus dan politisi pragmatis yang siap gadai idealisme demi proyek sesaat.

Melupakan Khittah, Memuja Kuasa

Inilah tanda kiamat yang paling nyata: Hilangnya arah perjuangan (Khittah).

GMNI seharusnya berjuang untuk kaum Marhaen, melawan penindasan sistemis, dan mengawal keadilan sosial. Namun, diskursus yang mendominasi ruang-ruang diskusi elit organisasi hari ini bukanlah “Bagaimana nasib petani yang digusur?” atau “Bagaimana melawan neokolonialisme ekonomi?” melainkan “Siapa yang akan jadi Ketua?” dan “Bagaimana cara kita berkuasa?”

Orientasi kekuasaan (power-oriented) telah membunuh orientasi pengabdian (service-oriented). Azas perjuangan ditinggalkan di laci-laci sekretariat yang berdebu. Kader diajarkan cara memenangkan voting, melobi senior, dan memecah belah lawan, tetapi lupa diajarkan cara menangis dan tertawa bersama rakyat.

Egoisme Membunuh Gotong Royong

Prinsip Gotong Royong yang menjadi intisari Pancasila seolah lenyap digantikan oleh individualisme dan feodalisme gaya baru. ‘Ke-aku-an’ yang tinggi membuat setiap faksi merasa paling benar, paling sah, dan paling Marhaenis, sambil menunjuk faksi lain sebagai pengkhianat.

Padahal, pengkhianat sejati adalah mereka yang membiarkan organisasi ini terbelah demi ambisi pribadi. Tidak adanya upaya tulus untuk menyatukan serpihan-serpihan yang pecah membuktikan bahwa GMNI sedang mengalami krisis kenegarawanan di tingkat internalnya sendiri.

Epilog: Menolak Mati

Jika kondisi ini terus berlanjut, di mana perpecahan dinikmati, kaderisasi mati suri, dan kekuasaan menjadi satu-satunya tuhan, maka ya, kiamat GMNI sudah sangat dekat.

Ia akan menjadi fosil sejarah, namanya ada, atributnya merah menyala, tapi rohnya telah lama mati.

Satu-satunya cara menunda kiamat itu adalah dengan dekonstruksi total. Runtuhkan ego para elit, kembalikan kaderisasi sebagai panglima, dan jadikan azas perjuangan sebagai satu-satunya rel pergerakan.

Baca Juga:   Kapitalisme yang Menghapus Jejak Peradaban Bangka Belitung

Jika tidak, bersiaplah menulis obituari untuk GMNI, organisasi besar yang mati bukan karena dibunuh musuh, tapi karena bunuh diri oleh keserakahan kadernya sendiri.

Merdeka!!!


Penulis: Damas Baswananda, Kader GMNI Purwokerto.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Desak BPJS Kesehatan Hentikan Penonaktifan PBI Sepihak

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Kecubung Tak Lagi Digunakan Sebagai Obat Tradisional, Ini Alasannya

Marhaenist - Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional Jamu Indonesia (PDPOTJI) menyatakan bahwa…

Presiden Rusia Vladimir Putin. AFP/Jewel Samad

Jejak Langkah Permainan Vladimir Putin di Ukraina

Marhaenist - Pertanyaan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tengah memasuki babak akhir…

17 Agustus 1945: Salah Kaprah Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia menjadi HUT RI

Marhaenist.id - Banyak yang masih salah kaprah menganggapi tanggal 17 Agustus 1945…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. FILE/Humas Jateng Prov

Untuk Bangsa, Ganjar Pranowo Siap Maju Nyapres!

Marhaenist - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo memiliki modal yang besar…

Esensi Perang Gerilya Dari Che Guevara

Marhaenist - Kemenangan perjuangan bersenjata rakyat Kuba atas kediktatoran Batista bukan hanya…

Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara

Marhaenist.id - Model usaha ternak entok pedaging berbiaya rendah kerap dipandang sebagai…

GMNI Nyatakan RSU Sylvani Salah Satu Rumah Sakit Terbaik di Kota Binjai

Marhaenist.id, Binjai - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Perubahan Aturan dan Konsolidasi Kekuasaan di Era Pemerintahan Jokowi: Sebuah Analisis Hukum dan Politik

Marhaenist.id- Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) telah melalui berbagai tantangan selama masa kepemimpinannya,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?