By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

17 Agustus 1945: Salah Kaprah Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia menjadi HUT RI

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Jumat, 19 September 2025 | 19:04 WIB
Bagikan
Waktu Baca 9 Menit
Ilustrasi merayakan Kemerdekaan RI (Sumber Foto: Dekta.com)/MARHAENIST.
Bagikan
Marhaenist.id – Banyak yang masih salah kaprah menganggapi tanggal 17 Agustus 1945 saat selesai proklamasi dibacakan oleh Ir. Sukarno yang didampingi Dr. Muhamad Hatta atas nama Bangsa Indonesia sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) atau hari lahirnya Nergara Republik Indonesia, padahal sesungguhnya itu adalah hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Masyarakat Indonesia terkadang banyak yang menyamakan hari Lahirnya Negara Indonesia dengan Harinya Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945, lalu kemudian dikatakan sebagai HUT RI atau Dirgahayu RI. Sesungguhnya hal ini adalah kesalah pahaman dalam memahami antara Hari Kemerdekaan dan Hari Lahirnya Negara Rupublik Indonesia sehingga ada salah kaprah tentang 17 Agustus 1945 yang dikenang sebagai HUT RI.

 

Di tengah peringatan 80 tahun Indonesia merdeka, muncul refleksi kritis tentang bagaimana kata “HUT atau Dirgahayu” dan “Merdeka” dalam 17 Agustusan yang dipahami menjadi satu kesatuan sehingga terjadi salah paham yang harusnya dipisahkan karena berbeda hari.

 

17 Agustus 1945 Sebegai Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia

 

Lalu mengapa 17 Agustus 1945 dikatakan sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, bukan sebagai hari lahirnya Negara Inonesia?

 

Dalam catatan sejarah yang ditulis dalam buku-buku sejarah Indonesia, semua menukiskan bahwa ditanggal 17 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta hanya membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan atas nama Bangsa Indonesia, bukan atas nama Negara Indonesia karena saat itu Negara Indonesia belum terbentuk.

 

Ditanggal itu, Sukarno – Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia dihadapan Para Petinggi Jepang yang ada di Jakarta dengan kapasitasnya bukan sebagai Presiden dan Wakil Presiden tetapi sebagai Ketua dan Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI yang tugas utamanya persiapkan segala hal buat kemerdekaan RI, mulai dari ngesahkan UUD, bentuk pemerintahan, sampai angkat presiden dan wapres pertama. PPKI ini lanjutkan kerja BPUPKI dan berperan besar di balik kemerdekaan Indonesia!

 

Dari itulah, 17 Agustus 1945 dirayakan sebagai Hari Kemerdekan Bangsa Indonesia, ia bukanlah hari Kemerdekaan Republik tetapi hari Kemerdekaan Bangsa. Cobalah anda sebagai pembaca, perhatikan secara seksama tulisan teks Proklamasi yang dibacakan oleh Sukarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia, disitu tak ada satupun menuliskan tentang Negara Indonesia atau Republik Indonesia (Tulisan itu banyak terdapat dilaman Internet).

Baca Juga:   Dukung Kami (Servas-Pius=SERIUS) untuk Menuju Belu yang Berdaya Saing

 

Hal lain yang menuliskan bahwa 17 Agustus 1945 adalah Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia terdapat lagu dengan Judul 17 Agustus Hari Merdeka. Lagu 17 Agustus Hari Merdeka menuliskan lirik sebagai berikut:

 

“Tujuh belas Agustus tahun empat lima. Itulah hari kemerdekaan kita –
Hari merdeka nusa dan bangsa – Hari lahirnya bangsa Indonesia, Mer-de-ka..

 

Sekali merdeka tetap merdeka, Selama hayat masih dikandung badan..

 

Kita tetap setia tetap sedia – Mempertahankan In-do-ne-si-a, Kita tetap setia tetap sedia – Membela negara kita….”

 

Dalam lagu tersebut diatas, dapat kita ketahui bahwa penulisan tentang Hari Lahirnya Negara Indonesia tidak pernah disebutkan dan yang justru sebutkan sebagai Hari Lahirnya Bangsa Indonesia bukanlah negara.

 

Kesimpulan dari itu adalah bahwa ditanggal 17 Agustus 1945 bukanlah hari HUT RI atau Hari Lahir Negara Republik Indonesia, tetapi ditanggal itu adalah Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

 

Kalau tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) atau Hari Lahirinya Negara Indonesia, lalu kapankah Negara Republik Indonesia itu lahir?

 

Kapankah Tanggal, Bulan, dan Tahun Lahirnya Negara Republik Indonesia?

 

Terbentuknya Negara Republik Indonesia berawal dari dimasukannya Piagam Jakarta pada tanggal 18 Agustus 1945 dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan ditanggal itu pula disahkannya UUD 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai undang-undang dasar yang akan dipakai oleh Negara Republik Indonesia.

 

Dalam mengesahkan UUD 1945 tersebut, ada tujuh kata dalam sila pertama di Piagam Jakarta dihapus demi menjaga persatuan nasional.

 

Ditanggal 18 Agustus 1945 itu pula telah terpenuhinya syarat terbentuknya sebuah negara untuk  terbentuknya Negara Republik Indonesia, yakni telah ada Bentuk Pemerintahannya, Pemerintahnya (Presiden dan Wakil Presiden), ada Wilayahnya, dan ada pula Penduduknya yang terdapat dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Meskipun dari itu, belum ada pengakuan kedaulatan dari negara lain, ditanggal 18 Agustus 1945 Indonesia secara dinyatakan berdiri sebagai sebuah negara.

Baca Juga:   Manajer Asing Pimpin BUMN: Saatnya Berhenti Merasa Rendah Diri

 

Inilah penerangan tentang syarat untuk berdirinya Negara Republik Indonesia yang medeka yang telah terpenuhi:

 

1. Penduduk: Oleh PPKI ditanggal 18 Agustus 1945, telah disepakati yang mana saja wilayah Negara Indonesia sehingga penduduk yang menetap didalamnya dikatakan sebagai Warga Negara Indonesia.

 

Saat itu ada beberapa wilayah di Indonesia (sekarang) yang saat itu belum masuk dalam Negara Republik Indonesia sehingga penduduknya belum dikatakan sebagai warga negara Indonesia.

 

2. Wilayah: Berdasarkan kesepakatan PPKI yang dipimpin oleh Sukarno-Hatta, Negara Republik Indonesia telah memiliki wilayah yang jelas batas-batasnya dan dapat dipertahankan.

 

Wilayah itu mencakup bekas wilayah jajahan Hindia Belanda. Namun, secara hukum internasional dan berdasarkan peraturan kolonial saat itu, batas wilayah Indonesia hanya mencakup:

 

– Pulau-pulau utama: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan kepulauan sekitarnya.

 

– Batas laut: Mengikuti aturan kolonial Belanda, yaitu: Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonnantie (Staatsblad 1939 No. 442), yang menetapkan batas laut sejauh 3 mil dari garis pantai tiap pulau yang memiliki arti bahwa laut di antara pulau-pulau dianggap sebagai laut bebas, sehingga kapal asing bisa melintas tanpa  melanggar hukum.

 

Bentuk Pemerintahan: Dengan dimasukannya Piagam Jakarta dan disahkannya UUD 1945 oleh PPKI, maka Negara Indonesia telah memiliki bentuk pemerintahan.

 

3. Memiliki Pemerintah yang Menjalankan Pemerintahan: Berdasarkan kesepakatan PPKI ditanggal 18 Agustus 1945, diangkatlah Sukarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden yang akan menjalankan pemerintahan sesuai dengan fungsinya yang diatur dalam UUD 1945 yang telah disepakati oleh PPKI.

 

4. Kedaulatan: Sejak Negara Indonesia memiliki Bentuk Pemerintahan.dan Pemerintah yang menjalankan pemerintahan, saat itu pula Indonesia memiliki kedaulatan yang independen dan dapat membuat keputusan sendiri tanpa campur  tangan dari negara lain.

Baca Juga:   Mari Satukan Langkah dan Hentikan Kebiasaan Mewariskan Perpecahan di GMNI!!!

 

5. Pengakuan Negara Lain atau Pengakuan Internasional: Saat Negara Indonesia didirikan di Agustus tahun 1945, Indonesia belum memiliki satupun pengakuan dari negara lain. Nantilah ditahun 1947 negara Mesir adalah negara pertama yang mengakui keberadaan negara Indonesia.

 

Dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, sebuah negara dapat berdiri secara resmi sebagai entitas yang berdaulat dan memiliki hak-hak serta kewajiban-kewajiban dan serta harus diakui dalam komunitas internasional.

 

Salah Kaprah Kalimat Hari Kemerdekaan Indonesia diartikan menjadi HUT RI

 

Masyarakat Indonesia sering menyebut kata Hari Kemerdekaan Indonesia yang laku diartikan menjadi HUT RI atau Dirgahayu RI atau Hari Lahirnya Negara Rebublik Indonesis, sesungguhnya bahasa yang benar harus ada penambahan kata Bangsa sehingga menjadi kalimat “Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia”.

 

Jika masyarakat Indonesia menyebut “Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia”, pastilah kita akan memahami bahwa itu adalah hari Kemedekaan Bangsa Indonesia yang terbebas dari penjajahan bangsa asing (Belanda dan Jepang).

 

Lantaran, masyarakat Indonesia terbiasa dengan kalimat “Hari Kemedekaan Indonesia”, maka kalimat itu lalu diartikan menjadi HUT RI sehingga 17 Agustus 1945 yang harusnya hanya diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, lalu diperingati pula sebagai Hari Lahirnya Negara Indonesia atau HUT RI.

 

Kesimpulan

 

HUT RI dan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah dua hal yang berbeda karena diantara keduanya memiliki hari yang berbeda.

 

Dari penerangan diatas yang telah ditelusuri dari berbagai macam sumber (Internet dan Buku-Buku Sejarah), maka disimpulkan hal sebagai berikut:

 

1. 17 Agustus 1945 adalah Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

 

2. 18 Agustus 1945 adalah Hari Lahirnya Negara Republik Indonesia.

 

Selamat Membaca, Sekian dan Terima kasih !!!


Penulis: La Ode Mustawwadhaar, Kader GMNI Sultra.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan
Rabu, 17 Desember 2025 | 00:13 WIB
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat
Selasa, 16 Desember 2025 | 19:45 WIB
Ibu Pertiwi Dilanda Musibah
Selasa, 16 Desember 2025 | 14:06 WIB
IMIP, Investasi, dan Kehancuran
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:18 WIB
Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob
Selasa, 16 Desember 2025 | 13:16 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Menjaga Integritas: Kewajiban dan Larangan bagi Plt Bupati yang Menjadi Bakal Calon Kepala Daerah

Marhaenist.id-Menjaga integritas dalam proses pemilihan kepala daerah adalah hal yang sangat penting,…

Refleksi Perjuangan R.A Kartini: Emansipasi Perempuan dalam Ruang Ketenagakerjaan

Marhaenist.id - Emansipasi perempuan bukan lagi wacana baru, tetapi realitas yang masih…

Foto:

Kapitalisme yang Menghapus Jejak Peradaban Bangka Belitung

Marhaenist.id - Menyingkap tabir sejarah jauh kebelakang sebelum Indonesia merdeka, masyarakat Bangka…

Andai Bank BRI Jadi Bank Koperasi Seperti Desjardins Bank

Marhaenist.id - Pada akhir 2019, ketika saya berkesempatan mengunjungi Kanada untuk mempelajari…

Sektor Pertanian Butuh Dukungan Anggaran dan Kebijakan Konkrit

Marhaenist - Sektor pertanian yang menjadi tempat bagi mayoritas rakyat Indonesia menggantungkan…

Kapitalisme Menurut Karl Marx, Che Guevara, dan Bung Karno

Marhaenist.id - Dari penelusuran Asisten IA, yakni Miscrosoft Copilot, Kapitalisme adalah sistem…

Spekulasi Makan Siang Gratis Rp7.500, Ini Kata Kubu Prabowo

Marhaenist.id, Jakarta - Anggota Tim Sinkronisasi Prabowo-Gibran membantah spekulasi yang beredar mengenai…

Fenomena Kotak Kosong dalam Pilkada: Analisis Hukum dan Keadilan Demokrasi

Marhaenist.id-Fenomena politik dalam Pemilihan Umum mengaminkan elemen penting, yaitu yang jujur dan…

Imanuel Sibuk Jadi Penggerak Perlawanan Pemerintah Terhadap PDIP, Eksponen GMNI: Arjuna/Dendy Lebih Pantas Jadi GMNI Karena Berpikir untuk Marhaen

Marhaenist.id, Jakarta - Salah satu eksponen Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kubu…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?