By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

SPMB 2025 di Banten: Ketika Pendidikan Jadi Kantor Pos Wakil Rakyat

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 29 Juni 2025 | 20:48 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Khairul Anwar, Masyarakat sipil Banten dan Kader GMNI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah hiruk-pikuk Seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (SPMB) 2025 yang menyedot perhatian publik dengan sejuta harapan dan ketegangan, Provinsi Banten justru mempersembahkan satu episode drama yang tak kalah menarik dari sinetron jam tayang utama.

Bukan soal nilai rapor yang tak kunjung adil, bukan pula tentang zonasi yang membuat warga mendadak pindah domisili, melainkan tentang secarik memo sakti bertanda tangan seorang pejabat, lengkap dengan kop surat, stempel basah, dan tentu—kekuatan jaringan kekuasaan.

Memo itu datang dari Wakil Ketua DPRD Banten, Budi Prajogo. Sepintas, kalimatnya terdengar manis: “Perihal: Mohon dibantu dan ditindaklanjuti.”

Kalau dibaca tanpa konteks, mungkin dikira bantuan logistik untuk korban bencana. Tapi jangan salah, memo itu bukan menyoal bantuan sosial—melainkan titipan calon siswa untuk masuk ke salah satu SMA negeri favorit di Kota Cilegon.

Bayangkan, anak-anak bersaing lewat nilai, portofolio, dan harapan, sementara di sudut meja kepala sekolah, bersandar memo sakti dari gedung dewan. Ini bukan lagi “pintu belakang”, tapi sudah seperti jalan tol bebas hambatan bagi yang punya akses kekuasaan.

Ketika Kekuasaan Masuk ke Ruang Kelas

Dunia pendidikan tidak seharusnya menjadi ruang bagi intervensi politik. Ketika seorang pejabat publik menggunakan jabatannya untuk mempengaruhi proses seleksi siswa di sekolah negeri, maka itu adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan, sekaligus pelanggaran terhadap prinsip keadilan dan transparansi. Seharusnya, setiap anak bangsa memiliki peluang yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas tanpa harus bersaing dengan “akses istimewa” yang hanya dimiliki oleh segelintir orang dekat kekuasaan.

Jika lembaga legislatif yang seharusnya menjadi pengawas kebijakan publik justru ikut bermain dalam ranah teknis seleksi siswa, maka kita patut bertanya: ini wakil rakyat atau wakil keluarga?

Baca Juga:   Pemerintah dan Praktik Manipulasi dalam Proyek Strategis Nasional pada Pengembangan Pantai Indah Kapuk (PIK 2)

Pendidikan: Bukan Arena Titipan

Praktik semacam ini bukan hal baru di Banten maupun daerah lain, tetapi semakin vulgar ketika dilakukan secara formal—melalui surat, stempel, dan kartu nama. Ketika seorang pejabat merasa wajar menitipkan anak atau kerabatnya melalui jalur tidak resmi, maka kita sedang menyaksikan kematian moralitas politik dalam dunia pendidikan.

Sungguh ironis, di saat anak-anak diajarkan pentingnya kejujuran dan kompetensi, mereka justru melihat bagaimana “surat sakti” bisa mengalahkan nilai dan perjuangan. Bukankah ini semacam pelajaran kehidupan dari sistem yang gagal: nilai bisa dicapai, tapi relasi lebih utama?

Tapi jangan salah, mungkin ini bagian dari kurikulum tersembunyi.

Kurikulum “Surat Sakti 4.0” — di mana siswa belajar bahwa politik lebih kuat dari matematika, dan relasi lebih penting dari prestasi. Sebuah pendidikan karakter versi negara tropis: licin, hangat, dan penuh jebakan etika.

Jika pendidikan adalah fondasi peradaban, maka praktik titipan ini adalah rayap yang menggerogoti dari dalam. Jika dibiarkan, bukan hanya sistem pendidikan yang roboh — tapi juga kepercayaan publik terhadap proses, institusi, dan harapan akan keadilan.

Jika pendidikan adalah fondasi utama peradaban, maka praktik titipan ini adalah rayap-rayap kekuasaan yang diam-diam menggerogoti pondasinya. Kita boleh bangga membangun ribuan gedung sekolah, tapi apa gunanya jika kejujuran luluh lantak di dalamnya?

Jika praktik semacam ini dibiarkan, yang runtuh bukan hanya sistem seleksi, tapi juga kepercayaan publik terhadap pendidikan itu sendiri. Dan ketika kepercayaan itu hilang, kita tak lagi bicara tentang kegagalan administratif, tapi tentang kebangkrutan moral sebagai bangsa.

Karena sejatinya, yang membuat suatu bangsa besar bukanlah jumlah sekolah yang dibangun, melainkan kejujuran yang diajarkan dan diteladankan didalamnya.***

Baca Juga:   Gaduh Ijazah Jokowi dan Rapuhnya Imperatif Hukum Indonesia

Penulis: Khairul Anwar, Masyarakat Sipil Banten dan Kader GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:01 WIB
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Pseudo-Democracy di Indonesia: Upaya Mengembalikan Marwah Demokrasi di Pilkada 2024

Latar Belakang Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) yang digelar…

Penegakan Hukum 2025, Dr. H. Sutrisno, S.H., M.Hum: Antara Semangat Keadilan dan Tantangan Implementasi

Marhaenist.id, Jakarta — Penegakan hukum di Indonesia sepanjang tahun 2025 dinilai masih…

Airlangga Hartarto Mundur Dari Ketua Umum Golkar, Ada Apa?

Marhaenist, Jakarta - Airlangga Hartarto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum (Ketum)…

Foto: Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, Dendy Se. MARHAENIST

Momentum HUT TNI, GMNI Jaksel Desak Prabowo: TNI Kembali ke Barak, Hentikan Bisnis Militer & Hapus Komando Teritorial!

Marhaenist.id, Jakarta - Dalam momentum Hari Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia…

Kebijakan Makam Tumpang Surabaya Dikritik, Pemuda Demokrat Soroti Penyusutan RTH dan Pengabaian Kewajiban Pengembang

Marhaenist.id, Surabaya - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui pernyataan Walikota Surabaya Eri…

DPD GMNI Sulbar Kritik Kinerja Polda Sulbar, Soroti Dugaan Pungli dan Lambannya Penanganan Kasus

Marhaenist.id, Mamuju — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Sikapi Revisi UU Pilkada, GMNI Blitar Gruduk Kantor DPRD

MARHAENIST - Pelantikan anggota DPRD Kota Blitar terpilih periode 2024-2029 berlangsung pada…

Program Beasiswa PKPA Peradi Utama–PA GMNI Resmi Ditutup, Sekjend Tekankan Integritas dan Etika Advokat

Marhaenist.id, Jakarta — Program Beasiswa Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) Peradi Utama…

Bangkitkan Nasionalisme dan Patriotisme di Kalangan Pelajar, GSNI Sidoarjo Resmi Dikukuhkan

Marhaenist.id, Sidoarjo – Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Kabupaten Sidoarjo resmi dikukuhkan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?