By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Tanggung Jawab Moral Jurnalis dalam Bayang-Bayang Demokrasi Prosedural

Eko Zaiwan
Eko Zaiwan Diterbitkan : Jumat, 30 Mei 2025 | 19:41 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Ilustrasi Jurnalistik/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah hiruk-pikuk demokrasi prosedural—yang sekilas tampak berjalan baik lewat pemilu rutin, lembaga resmi, dan kebebasan pers yang dilindungi hukum—kita sering lupa mengajukan pertanyaan mendasar: siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh sistem ini? Apakah rakyat betul-betul menjadi subjek, atau justru tetap menjadi objek dari permainan politik yang dibungkus legitimasi demokratis?

Dari sinilah pentingnya kita menyoroti kembali peran jurnalis. Karena di balik label “pilar keempat demokrasi”, terdapat beban moral yang tidak ringan: menjembatani kenyataan dan kebenaran, serta menghadirkan suara-suara yang kerap diredam dalam ruang publik yang makin penuh oleh retorika elite.

Netralitas: Ketika Tidak Memihak Justru Berarti Membiarkan

Sering kita mendengar pembelaan jurnalis atas nama “netralitas” dan “imbang”. Tapi dalam masyarakat yang penuh ketimpangan, posisi netral sering kali justru berarti membiarkan ketidakadilan itu terus berlangsung. Ketika ruang pemberitaan memberi porsi yang sama antara pelaku kekuasaan dan korban, tanpa memberi latar konteks atau kejelasan posisi etis, maka yang terjadi bukan keberimbangan, melainkan kaburnya arah nurani.

Antara Jurnalis dan Kekuasaan: Sekadar Pencatat, atau Penantang?

Jurnalis bukan sekadar pembawa berita; mereka adalah penjaga nalar publik. Namun di banyak ruang redaksi, tekanan kepentingan pemilik media dan kepentingan politik membuat jurnalisme kehilangan giginya. Alih-alih menjadi pengawas yang kritis, jurnalis justru beralih peran menjadi pencatat pernyataan resmi, memindahkan suara kekuasaan dari podium ke layar kaca tanpa tafsir, tanpa perlawanan.

Media dan Produksi Konsensus Semu

Apa yang disebut “kebebasan pers” dalam kerangka prosedural kadang tak lebih dari kebebasan semu: boleh bersuara, tapi dalam batas-batas yang sudah dipagari narasi dominan. Melalui pilihan narasumber, sudut pandang berita, hingga pengabaian terhadap suara-suara di pinggiran, media membentuk semacam ilusi kebulatan suara yang meninabobokan publik. Di sinilah propaganda halus itu bekerja—tidak membentak, tapi menenangkan.

Baca Juga:   Membaca Ulang Demokrasi Nepotik dalam Politik Indonesia

Agitasi: Bukan Hasutan, Tapi Kesadaran

Kata “agitasi” kerap disalahpahami—dianggap identik dengan kekacauan. Padahal dalam sejarah perjuangan sosial, agitasi adalah panggilan untuk sadar, untuk berpikir, dan untuk bertindak. Jurnalis yang memahami tanggung jawab moralnya akan tahu kapan harus mengusik kenyamanan publik, bukan demi sensasi, melainkan demi menyalakan kembali kesadaran kritis yang nyaris padam.

Membayangkan Ulang Jurnalisme: Dari Objektif ke Emansipatoris

Sudah saatnya jurnalisme Indonesia berani melampaui sekadar objektivitas teknis. Kita butuh jurnalisme yang berpihak—bukan kepada ideologi atau golongan, tetapi kepada keadilan. Jurnalis harus menjadi bagian dari masyarakat yang ingin berubah, bukan hanya saksi yang dingin terhadap ketimpangan yang terus berlangsung.

Penutup

Demokrasi prosedural yang tanpa substansi mudah berubah menjadi panggung formalitas. Dalam panggung itu, media bisa menjadi lampu sorot, tapi juga bisa menjadi tirai yang menutupi kenyataan. Di sinilah pilihan moral jurnalis diuji. Apakah akan berdiri di sisi yang nyaman, atau memilih jalan sunyi untuk menyuarakan yang tertindas?


Penulis: Wawan, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:01 WIB
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

DPD GMNI Gorontalo Desak Pemprov Segera Tindak TPA Talumelito: Lingkungan Terancam, Kesehatan Masyarakat Dipertaruhkan

Marhaenist.id, Gorontalo - Dewan Pimpinan Daerah (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Kebijakan Baru Soal Tapera, GMNI Jatim: Bentuk Pemerasan Rakyat

Marhaenist.id, Surabaya - Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Peningkatan PPN akan Menjadi Disinsentif Bagi Masyarakat Kecil

Marhaenist.id - Keputusan pemberlakuan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 12 persen…

Persatuan Alumni GMNI Konsolidasikan Kaum Nasionalis di Sumbar

Marhaenist - Ketua Umum DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA…

Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, Dendy Se. MARHAENIST

GMNI Jaksel Mendesak Kapolri Listyo Sigit untuk Bebaskan 6 Aktivis yang Ditangkap di Balikpapan Tanpa Syarat

Marhaenist, Jakarta – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Jakarta Selatan (GMNI Jaksel) menuntut…

Semangat Muda Kaum Nasionalis: Deklarasi GSNI Pacitan

Marhaenist.id, Pacitan - Semangat kebangsaan di ranah pelajar kembali berkobar di Kabupaten Pacitan.…

Seniman, Budayawan dan Masyarakat Jogja Titipkan Indonesia di Pundak Ganjar

Marhaenist.id, Kulonprogo - Alun-Alun Wates Yogyakarta membara. Puluhan ribu masyarakat hadir di…

Pancasila Perlu Diperdalam Oleh Masyarakat

Marhaenist.id - Ketika mempelajari sila pertama (Ketuhanan yang maha esa) seharusnya mempelajari…

Sektor Pertanian Butuh Dukungan Anggaran dan Kebijakan Konkrit

Marhaenist - Sektor pertanian yang menjadi tempat bagi mayoritas rakyat Indonesia menggantungkan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?