By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Merantau Keluar Negeri, Antara Peluang Emas dan Dilema Bangsa

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Senin, 19 Mei 2025 | 01:01 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ramai tagar #KaburAjaDulu sebagai bentuk kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah. DOK/IST/JP.
Bagikan

Marhaenist.id – Kondisi ekonomi Indonesia butuh waktu untuk kembali membaik. Tiap saat kita mendengar keluhan sulitnya mencari penghidupan. Mereka yang bekerja pun selalu dibayangi kekhawatiran kemungkinan kehilangan penghidupan setiap saat.

Tak heran di dunia maya orang muda mengungkapkannya lewat tagar #KaburAjaDulu.

Kendati sudah mulai surut tapi kita tetap yakin banyak orang terpengaruh, buktinya makin banyak sebaran konten medsos yg mengajak WNI cari kerja di negara-negara lain di seluruh dunia.

“Kita mesti bersikap kritis penting agar tidak nekad berangkat lalu kena masalah dan atau kecewa sampai tujuan”.

Meninggalkan tanah air untuk bekerja dan tinggal diluar negeri kini menjadi pilihan yang makin populer di kalangan anak muda Indonesia. Di mata sebagian, langkah ini dipandang sebagai keputusan oportunistik. Namun sesungguhnya, bagi banyak orang, ini adalah pilihan rasional demi masa depan yang lebih baik, bukan karena kurangnya nasionalisme.

Foto: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM/MARHAENIST.

Merantau adalah peluang emas bagi siapa pun yang ingin memperbaiki taraf hidup dan mengembangkan kapasitas diri. Negara-negara maju menawarkan kompensasi yang jauh lebih tinggi di sektor-sektor strategis seperti teknologi, kesehatan, dan teknik. Tak hanya itu, sistem kerja yang profesional, transparan, dan meritokratis menjadi magnet kuat bagi para pekerja terdidik dari negara berkembang.

Bekerja di luar negeri menumbuhkan etos kerja, disiplin, dan tanggung jawab. Perantau belajar hidup mandiri, menghadapi tekanan, dan beradaptasi dengan budaya baru. Mereka juga mendapat akses ke teknologi mutakhir dan jaringan profesional global, yang memperluas wawasan serta memperkaya keterampilan. Singkatnya, merantau sering kali menjadi “sekolah kehidupan” yang tak tersedia di dalam negeri.

Namun, di balik cerita-cerita sukses itu, tidak sedikit yang pulang dalam keadaan hancur. Ekspektasi yang terlalu tinggi tanpa persiapan matang, kendala bahasa dan budaya, biaya hidup yang tinggi, tekanan mental, hingga eksploitasi di tempat kerja menjadi sisi gelap dari pengalaman merantau. Ada yang kehilangan tabungan, bahkan kesehatan mental. Realita ini kerap tersembunyi di balik narasi glamor para perantau yang berhasil.

Baca Juga:   Lembaga Kebudayaan Untuk Merajut Kebhinekaan Indonesia

Yang lebih mencemaskan adalah dampaknya bagi bangsa. Ketika generasi terbaik Indonesia memilih tinggal dan berkarya secara permanen di luar negeri, negara kehilangan aset paling berharga, manusia unggul. Ini adalah wajah nyata dari brain drain. Akibatnya, sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, teknologi, dan riset kekurangan tenaga ahli. Proses inovasi tersendat. Ketimpangan antara pusat dan daerah makin lebar. Daya saing nasional melemah di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Sayangnya, Indonesia belum mampu membendung gelombang ini. Upah yang tak kompetitif, birokrasi lambat, minimnya dukungan pada riset, serta lemahnya sistem meritokrasi membuat banyak profesional muda merasa tak dihargai di negeri sendiri. Mereka pergi bukan karena benci, tapi karena tak menemukan ruang untuk berkembang.

Tentu kita tak bisa dan tak boleh menghalangi orang merantau. Itu adalah hak individu. Tapi yang penting adalah menciptakan ekosistem yang membuat mereka ingin kembali. Negara harus membuka ruang partisipasi nyata, menciptakan iklim kerja yang adil dan kompetitif, serta memberi ruang bagi reverse brain drain. Mereka yang telah belajar dan bekerja di luar negeri semestinya bisa pulang membawa pulang ilmu, jaringan, dan pengalaman untuk membangun negeri.

Karena sejatinya, nasionalisme bukan soal tinggal di tanah air sepanjang hidup, tetapi soal keberanian untuk kembali, dan memberi.


Penulis : Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM. Penulis tinggal di Berlin, Jerman.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Fufufafa Siapakah Kamu Sebenarnya, Gibran Bukan Sih?

MARHAENIST - Teka-teki soal siapa pemilik akun Kaskus Fufufafa yang menghina habis-habisan…

Tolak Penggusuran, Hentikan Intimidasi dan Kriminalisasi yang Dilakukan Polda Metro Jaya Terhadap Warga Kebon Sayur!

Marhaenist, Jakarta - Pada Selasa (27/5/2025), Polda Metro Jaya mendatangi warga Kebon…

Foto: PPAB GMNI UNTAD Palu/MARHAENIST.

PPAB Perdana GMNI FEB UNTAD: Warisi Api, Bukan Abunya!

Marhaenist.id, Palu - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gelar Kongres Persatuan, DPC GMNI Ternate Dorong Adanya Rekonsoliasi Nasional

Marhaenist.id, Ternate - Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akan segera mengelar Kongres…

Raker DPD GMNI Jatim: Digitalisasi sebagai Upaya Penguatan Organisasi

Marhaenist.id, Surabaya - Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Jawa Timur…

Kelompok Anarko, Dalang Dibalik Kerusuhan Agustus 2025 di Indonesia?

Marhaenist.id - Sejarah pergerakan Mahasiswa 98, yang menjadi korban penjarahan adalah orang-orang…

Tolak Kenaikan BBM, GMNI dan OKP Cipayung Geruduk DPRD Mimika

Marhaenist - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Mimika, bersama Gerakan Mahasiswa Kristen…

Prihatin Dengan Kondisi Demokrasi, Keluarga Besar GMNI Kritisi Intervensi Presiden Jokowi di Pemilu 2024 Lewat Manifesto Politik

Marhaenist.id, Jakarta - Keluarga Besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) membacakan Manivesto…

GMNI: Konstitusi Dibegal, Demokrasi Dikebiri

MARHAENIST - Dalam UUD tahun 1945 hasil amandemen, Pasal 1 Ayat (2)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?