By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Artikel

Megawati, Demokrasi dan Hari Ini

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 31 Januari 2025 | 05:15 WIB
Bagikan
Waktu Baca 8 Menit
Foto: Megawati dicium keningnya oleh kakaknya Guntur Soekarnaputra, (Sumber foto: Geleri foto Kumparan)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Saya lupa dimana pernah saya baca ketika Sukarno menceritakan bagaimana kelahiran Diah Permata Megawati Setyawati Sukarnaputri, apakah di Bawah Bendera Revolusi atau Otobiografi ditulis Cindy Adams; Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat. Diceritakan bagaimana Bu Fat, Fatmawati, melahirkan putrinya ini di Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta, di tengah hujan badai yang deras, petir menyambar, plafon istana bocor dan angin kencang. Di tengah cuaca itu lahirlah bayi kecil 78 tahun lalu tepat hari ini. Soekarno merasa semakin lengkap hadir putrinya, setelah kelahiran Guntur, putra pertamanya. Megawati tumbuh dalam masa perjuangan Republik ketika Ibukota pindah karena perjanjian Renville membuat Republik Indonesia diakui Belanda tetapi hanya sewilayah bekas terakhir wilayah kekuasaan Kraton Jogja setelah Perang Jawa. Makanya hubungan Kraton Jogja dan Sukarno, serta Republik ini tidak pernah terpisah. Maka tidak heran Sultan HB X mengingatkan Jokowi, ” jangan sakiti dia”. Boleh kamu presiden, boleh kamu berkuasa tetapi jangan sakiti Megawati. Maknanya dalam pesan itu.

Makanya ketika Orde Baru Megawati diusahakan untuk tidak boleh beraktivitas politik setelah Bapaknya meninggal dunia. Semua anak termasuk Guntur tidak boleh beraktivitas politik, mereka diberi keleluasaan sebagai remaja tetapi tidak untuk politik. Apa yang ditakutkan? Ya apalagi kalau bukan Sukarnoisme itu sendiri. Rezim orde baru membuat operasi anti Sukarno di semua bidang, partai politiknya PNI dibonsai, pengurus partai yang keras digenjet, dari dalam diadu domba antara Soekarnois pragmatis dan Soekarnois Ideologi, Osa Usep alias Osa Maliki dan Usep Ranawidjaya yang juga didukung mantan Sekjen PNI, Hardi. Soekarno merestui Ali-Surachman, tetapi setelah Soekarno dijatuhkan Suharto melalui operasi khusus dengan penolakan Pidato Nawaksara, maka kelompok Soekarnois Ideologis dihabisi, Ali Sastroamidjoyo sebagai golongan tua PNI waktu itu dipasangkan dengan golongan muda PNI, Ir. Surahman tokoh Persatuan Petani Nasional Indonesia (Petani).

Baca Juga:   Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso

Soekarno ingin transformasi marhaenisme berjalan antar generasi. Tetapi konflik internal dalam soal penjabaran marhaenisme sudah mengeras ketika Hardi yang digantikan Surahman juga melakukan konsolidasi. Konflik yang sebelumnya internal dan bisa dikendalikan Soekarno akhirmya pecah setelah Soekarno dijatuhkan. Muncullah kemudian istilah Marhaenisme tanpa kultus individu Soekarno. Surahman bahkan ditembak mati di Blitar Selatan, karena dia ikut bergabung dalam pelarian para menteri kabinet Dwikora yang waktu itu dituduh PKI, padahal dia seorang Soekarnois ideologis yang kemudian dituduh PKI susupan di PNI.

PNI berubah, menjadi pendukung orde baru, yang masih Soekarnois ditangkap dan ditahan dan di PKIkan. Mereka yang cari selamat bergabung dengan PNI versi lunak yang kemudian ikut Pemilu 1971 dan sudah dioperasi, maka dia hanya dapat 6,8%, padahal pada Pemilu 1955 dia menjadi partai pemenang dengan 22,3%. Soekarno dituduh melindungi PKI maka PNI disamakan dengan PKI, maka hancurlah PNI dan banyak yang kemudian mencari pemyelamatan bergabung dalam Golkar dan ikut melakukan de-Soekarnoisasi. Maka kata Onghokham Sejarawan UI, Soekarno dibunuh dua kali. Pertama secara fisik, kedua secara ideologi. Sebuah kaca benggala hari, dimana Soekarno yang melahirkan angkatan 45 seperti Suharto dkk, justru dibunuh angkatan yang dia lahirkan sendiri. Persis dialami Megawati, membesarkan seorang Presiden Jokowi tetapi dihianati dan dihancurkan oleh yang dia angkat sebagai kadernya.

Maka sangat bisa dimaklumi kalau Megawati selalu terlihat emosional ketika berpidato, dia lahir dan sepanjang hidupnya selalu melalui pasang surut ideologi. Dia bangunkan lagi Soekarnoisme dan Marhaenisme dengan masuk Partai Demokrasi Indonesia yang merupakan partai hasil fusi yang sudah direkayasa Orde Baru. Mega sudah mengalami asam garam waktu itu, pelarangan anak-anak Soekarno ke politik membuatnya kemudian menjadi ibu rumahtangga, menikah dengan penerbang muda Angkatan Udara Surindro Supiarso, yang kemudian pada 1970 disaat Ibu muda Megawati mengurus 1 bayi dan 1 lagi dalam kandungan, suaminya hilang tak berbekas ketika menerbangkan pesawat. Sebuah cerita yang hampir mirip terjadi pada Letjen KKO Hartono mantan Komandan KKO atau marinir kalau sekarang, yang ditemukan tewas dengan luka tembak ketika cuti sebagai duta besar Korea Utara, setahun setelah suami Megawati hilang dalam penerbangan. Angkatan Laut dan Udara adalah tentara loyal yang mengikuti perintah Soekarno dalam operasi Trikora maupun Dwikora.

Baca Juga:   Ibu, Ibu, dan Sejarah Hari Ibu

Bisa dibayangkan seorang ibu muda, kehilangan suami tercinta setelah pada tahun yang sama 1970, ayahnya Sukarno meninggal dalam tahanan rumah Orde Baru di Wisma Yaso. Seorang perempuan yang masa kecilnya ditimang oleh para pendiri republik seperti Hatta, Syahrir, Agus Salim juga yang lain, yang kemarin dia panggil juga dengan Paatje, panggilan anak-anak Agus Salim pada ayahnya. Semua orang itu dia panggil Om, juga bagaimana dia bercerita tentang Pak Gatot (Subroto) pendiri Akabri yang merupakan Bapak TNI modern setelah Nasution dan Simatupang. Megawati adalah “ramuan” dari sintesa pemikiran dari ayahnya dan om-om-nya, dan dialah yang sekarang tersisa sebagai benteng demokrasi Indonesia, setelah Gus Dur meninggal. Dimana akan selalu didampingi Sultan HB X sebagaimana dulu Soekarno akan terus didukung HB IX ketika pasca perang. Demokrasi kita akan terus dijaga oleh Megawati bahkan ketika dia harus melawan penghianatan dari kadernya sendiri. Karena sedari kecil dia sudah mendengar pemikiran demokrasi dari riuh debat ayahnya dan para pendiri republik lainnya.

Apa yang dialami partainya sudah dia alami pasang surut ketika PNI jaman orde baru, ketika PNI digencet dan berubah menjadi fusi orde baru dan juga ketika PDI dipecah oleh orde baru dalam Kongres pada 1992, sehingga kemudian dia dilarang ikut kampanye dan tidak diakui dalan kepesertaan pemilu 1997 dimana sebelumnya terjadi peristiwa 27 Juli 1996. Dia dilindungi oleh mereka yang masih percaya bahwa tanpa Soekarno, republik ini tak ada kemerdekaan, mereka-mereka ini ada di lapisan manapun mau sipil, militer bahkan kaum kromo. Maka ketika reformasi dan politik kembali bebas, PDIP menjadi partai terbesar kembali pada Pemilu 1999 dengan 33,7%.

Baca Juga:   Mengenang Kongres GMNI Ke XII Tahun 1996 di Grand Mirage Hotel Denpasar Bali

Zaman bisa kembali berulang, dia hendak diperlakukan seperti mendiang ayahnya. Tetapi tidak mudah, megawati adalah peramuan dari pertemuan ide-ide pasca Indonesia merdeka. Tidak hanya Soekarno tetapi demokrasi ala Hatta, ala Syahrir, ala Agus Salim, ala Kyai Wahab, ala Soekiman dan ala-ala lainnya. Dia tidak akan bisa diluruhkan oleh hanya avonturir atau petualangan pragmatis dari seorang mantan kadernya yang sudah merubah diri lebih dari kelicikan, kekejaman Suharto. Watak kolonialisme hanya berganti baju dan wajah dia tidak sepenuhnya hilang, termasuk.di kalangan bangsa sendiri. Dia yang sebenarnya bukan siapa-siapa adalah wajah kolonial hari ini, Selamat Ulang Tahun, Dirgahayu Bu Mega tetap menjaga negeri ini sampai akhir menutup mata!


Sumber: Facebook Markijok.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Resensi Ekologi Marx – John Belammy Foster

Marhaenist.id - Pendahuluan: Fenomena degradasi ruang hidup berupa kerusakan lingkungan menuntut kerangka…

DPP GMNI Tekankan Peran Kewirausahaan dalam Memperkuat Ekonomi Rakyat dan Kaderisasi

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gelar Diskusi Terbatas dengan Perhimpunan Agenda 45, Andi Widjajanto: Indonesia Butuh Strategi Tepat Hadapi Perubahan Global

Marhaenist.id, Jakarta - Tatanan Global tengah bergeser menuju sebuah tatanan baru, saat…

OMERTA, ADDIOPIZZO: Dari Sisilia ke Lorong-Lorong Gelap Merdeka Merdeka

Marhaenist.id - Istilah "Omerta" tidak lahir dari ruang sidang yang bersih; ia…

Kader PMII Diserang OTK, DPD GMNI Sultra Desak Aparat Kepolisian Segera Tangkap Pelaku

Marhaenist.id, Kendari - Seorang bernama Awaludin Sisila (28) yang merupakan Kader dan…

SK Berakhir, Ketua DPC GMNI Jeneponto Enggan Laksanakan Konfercab

Marhaenist.id — Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Demokrasi Bukan Hadiah Elite, Tetapi Hak Rakyat

Marhaenist.id - Pemilihan Kepala Daerah bukan sekadar persoalan teknis elektoral, melainkan merupakan…

GMNI PPU Desak Pembebasan 6 Aktivis yang Ditangkap Usai Aksi ‘Indonesia Gelap’ di DPRD Balikpapan

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Komisariat GMNI Penajam Paser Utara (PPU) desak…

Akar Desa Indonesia Bersama DEN Dorong Net Zero Emission dari Desa

Marhaenist.id - Jakarta, 6 September 2024 ,Akar Desa Indonesia, sebagai organisasi nasional…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?