By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Rumah Kelahiran Sang Fajar Bung Karno

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Ziarahi ke Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur Bunga: Batu Hitam Pantai Selatan dan Nagasari Lampung (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 5)

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 31 Oktober 2025 | 01:43 WIB
Bagikan
Waktu Baca 10 Menit
Foto: Penampakan Batu Hitam di Makam Bung Karno di Jalan Ir Soekarno, Nomor 152, Kelurahan Bondogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur (Jatim)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Blitar – Saat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) berziarah, ada kisah yang tak kalah menarik dari Makam Bung Karno di Bondogerit, Sananwetan di Jalan Ir Soekarno di Kota Blitar, Jawa Timur.

Jika kita berziarah, terdapat batu hitam yang berada diatas pusaran makam tempat istrahat secara abadi Sang Proklamator kemerdekaan Republik Indonesia.

Batu hitam, tepatnya jenis batu pualam berwarna hitam. Ukurannya cukup besar, diameter sekitar ‘sedepa’ (bentangan kedua tangan) orang dewasa atau sekitar satu meter lebih.

Diletakan di atas batu nisan dari pusara Makam Bung Karno. Bertuliskan relief yang menunjukan bahwa di tempat ini, Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan, Presiden RI pertama, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Putra Sang Fajar, Bung Besar dan seabreg julukan kehormatan lainnya, dimakamkan, sejak wafatnya pada 21 Juni 1970.

“Di Sini, dimakamkan Bung Karno
Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Lahir 6 Juni 1901. Wafat 21 Juni 1970. Penyambung Lidah Rakyat”.

Demikian, di atas batu hitam itu tertuliskan ‘tetenger’ (penanda) Makam Bung Karno selaku Proklamator Kemerdekaaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia, lengkap dengan tanggal kelahiran dan kematiannya.

Frasa “Penyambung Lidah Rakyat”, menjadi penegas sosok yang sangat dihormati dan berperan penting dalam sejarah modern Indonesia. Soekarno atau Bung Karno, adalah penyambung dari suara-suara rakyat Indonesia yang mendambakan kemerdekaan, kemanusiaan, keadilan dan kemakmuran.

Siswono Yudho Husodo yang disapa Pak Sis, sang arsitek pemugaran dan pembangunan mausoleum Makam Bung Karno, mengungkapkan sejarah dari batu hitam tersebut.

Pak Sis mengungkapkan, batu hitam ini bagian dari memenuhi amanat atau pesan Bung Karno semasa hidupnya saat berbicara soal makam bagi dirinya kelak jika meninggal dunia.

“Batu hitam itu bagian dari upaya kita memenuhi wasiat Bung Karno,” tutur Pak Sis mengenang masa mudanya ketika di tahun 70an dipercaya menjadi arsitek pemugaran dan pembangunan mausoleum Makam Bung Karno.

Saat masih hidup dan berjaya sebagai Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno pernah mengungkapkan wasiat soal kematiannya dan bagaimana dirinya harus dimakamkan.

Bahkan kalimat “Penyambung Lidah Rakyat”, juga salah satu dari wasiat Bung Karno terhadap kematiannya. Ia tidak saja menegaskan sosok pejuang yang membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan, tetapi juga perjuangan akan keadilan dan kemakmuran.

Baca Juga:   Sebuah Tribut untuk Warisan Keadilan Arief Hidayat dalam Diplomasi Konstitusional Asia

“Penyambung Lidah Rakyat” menjadi sebuah satu deret kalimat yang kemudian, setelah wafatnya Bung Karno, menjadi semacam epitaf (epitaph) atau larik puisi kematian.
Bahkan hingga kematianyapun, Bung Karno memilih epitaph yang heroik, sebagaimana karakter Bung Besar yang sepanjang hidupnya dipenuhi spirit heroisme (kepahlawanan) terutama untuk memperjuangkan nasib rakyat dan bangsa Indonesia.

Heroisme (patriotisme), adalah sebuah ‘kemewahan’ pada sosok Soekarno. Bukan gelar-gelar gigantic yang mempertontonkan kebesaran. Bung Karno, hingga wafatnya, tak ingin ada kemewahan apapun, kecuali kesederhanaan dan kerendahhatian yang melingkari pusaranya.

Maka jika kita berziarah ke Makam Bung Karno, semua seperti tampak bersahaja. Batu nisan, pendopo setinggi 15 meter yang terbuka, lantai marmer warna putih dengan pusara yang tampak sederhana.

Kesederhanaan dan kebersajahaan inilah yang membuat siapapun yang datang untuk berziarah, merasakan suasana yang adem, tenang, sejuk dan nyaman di dalam pendopo sebagai tempat bersemayamnya Bung Karno bersama makam kedua orang tuanya.

Rombongan PA GMNI yang berziarah pada Jumat malam (24/10/2025) atau Sabtu Kliwon merasakan nuansa tersebut. Lantai yang terasa sejuk, suasana yang tenang dan nyaman, namun merasakan getaran-getaran energi dari sosok Bung Karno.

“Batu hitam dengan ukuran sebesar ini tidak gampang kita mencarinya saat itu,” tutur Pak Sis mengenang saat dirinya memugar Makam Bung Karno.

Marmer dari Tulungagung, kabupaten tetangga sebelah barat Blitar yang menjadi sentra produksi kerajinan batu marmer, cenderung berwarna putih.

“Kita kemudian mencari ke daerah lain. Itu membutuhkan waktu. Sesuai wasiat Bung Karno soal keinginan di atas nisan makamnya ada batu hitam,” tutur Pak Sis.

Sampai kemudian diperoleh keberadaan bongkahan batu hitam (batu pualam warna hitam) di pesisir pantai selatan Jawa.

Belakangan, batu hitam itu diperoleh dari sebuah desa terpencil di pesisir selatan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.

Desa terebut bernama Panggul, masuk wilayah pesisir selatan Kabupaten Trenggalek, juga sebelah barat Blitar setelah Tulungagung.

“Batu itu kita temukan di tepi pantai yang menghadap langsung Samudra Hindia,” ujar Pak Sis.

Baca Juga:   Jelang Pilkada 2024, KIPP Wakatobi Ingatkan KPU dan Bawaslu Jaga Netralistas

Sebagaimana karakter pantai selatan, selain pasir, juga terdapat batuan atau karang. Di Trenggalek, berbeda dengan Tulungagung, batu pualam atau marmernya cenderung banyak yang berwarna hitam.

Pak Sis menceritakan, batu itu terletak di tepi pantai karang. Setiap saat menahan gempuran ombak dan gelombang besar Samudra Hindia.

Relik atau lekukan-lekukan natural yang ada pada permukaan batu hitam itu dibentuk secara alamiah oleh gempuran gelombang Samudra Hindia selama berabad-abad.

Batu hitam ini bertahan selama ratusan tahun, sampai kemudian diketemukan. Sebagaimana wasit Bung Karno, batu hitam ini kemudian berpindah dari tempat yang keras di pesisir pantai dengan gempuran dan deburan gelombang ke tempat lebih tenang dan damai.

Kini batu hitam itu ada bersama Bung Karno. Sama-sama beristirahat dalam tenang dan damai, dalam alam keabadian.

Wasiat, mempertemukan keduanya. Menambah aura sakral dan memancarkan energi magis, kepada siapapun yang datang untuk ziarah di Makam Bung Karno.

Kepada rombongan PA GMNI, serta para akifis muda GMNI Kota Blitar yang berkumpul di Paseban Agung, Pak Sis juga menceritakan bagaimana sulitnya memindahkan bongkahan batu hitam dengan diameter satu meter lebih itu dari pantai selatan Jawa ke Blitar.

“Beratnya mencapai 9 ton,” tutur Pak Sis.

Adalah pekerjaan yang tidak mudah memindahkan bongkahan batu hitam tersebut ke Blitar yang menempuh jarak lebih dari 80 kilometer, melewati medan yang di tahun 70an, semua infrastruktur masih sangat terbatas.

“Sempat ada pikiran mau dibawa dengan menggunakan helikopter,” lanjut Pak Sis.
Namun rupanya berdasar pertimbangan terlalu beresiko. Hingga akhirnya diputuskan lewat jalan darat dengan menempuh medan berat, melewati hutan, bukit, sungai dan jalan-jalan terjal.

“Saat dikerahkan Kesatuan Zeni (TNI AD). Jika melewati sungai, kesatuan Zeni terpaksa membuat jembatan darurat untuk bisa menyeberangkan batu hitam itu,” tutur Pak Sis.

Dengan upaya yang tidak mudah, akhirnya batu hitam itu sampai ke Blitar. Hingga hari ini, jika kita ziarah ke Makam Bung Karno, bongkahan batu hitam itu ada di atas nisan Makam Bung Karno dengan relief, salah satunya berupa epitaph “Penyambung Lidah Rakyat”.

Batu hitam itu, menambah suasana magis, sakral atau orang Jawa menyebutnya “wingit”. Bahkan Sekjen PA GmnI, Abdy Yuhana memberitahukan soal energi cahaya yang memancar dari batu hitam itu sering membentuk wajah harimau.
Lekukan-lekukan atau relik natural dari permukaan batu hitam itu, jika dilihat dari sudut tertentu memunculkan wajah sosok harimau.

Baca Juga:   Khitan Massal Bapak H. Abidin Fikri DPR RI Masih Dibuka, 135 Anak Telah Terdaftar

Bahkan jika kita memotret pada malam hari, relik pada batu hitam itu memancarkan cahaya lampu yang pada sudut tertentu terlihat lebih jelas bagaimana wajah harimau memancar.

“Pancaran sinar dari batu hitam itu bisa membentuk wajah harimau. Bahkan pantulan cahaya dari batu hitam, sering menggambarkan suasana hati orang yang sedang difoto,” tuturnya.

“Wah Mas Agung ini lagi banyak mikir kayanya,” ujar Abdy Yuhana saat melihat pantulan cahaya dari batu hitam hasil jepretan salah satu foto dengan pose berdiri di sebelah batu hitam tersebut.

Pak Sis juga menceritakan wasiat Bung Karno lainnya yang kemudian dimanifestasikan ketika dirinya dipercaya untuk memugar dan membangun mausoleum Makam Bung Karno.

“Selain batu hitam, Bung Karno dalam wasiatnya juga meminta agar dimakamkan di bawah pohon besar yang rindang,” tutur Pak Sis.

Untuk ini, Pak Sis mencarikan pohon Nagasari. Pohon ini dikenal sebagai pohon keramat yang biasanya ada di makam-makam raja, orang-orang besar atau orang-orang suci.

“Kami mendapatkannya di sebuah daerah terpencil di Lampung,” tutur Pak Sis.

Pohon Nagasari memang jenis pohon langka dan tua. Di daerah yang sudah padat dihuni penduduk, nyaris sulit diketemukan.

Biasanya berada di tengah hutan, atau daerah-daerah yang sangat jarang dijamah manusia. Pohon ini juga dipercaya memiliki banyak ‘tuah’. Memiliki magisme tersendiri dan juga pohon yang disakralkan oleh masyarakat Jawa dan Indonesia.

Di Cirebon, pohon Nagasari terdapat di Makam Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo, penyebar Agama Islam di Pulau Jawa, yang terletak di Desa Astana, Kecamatan Gununjati.

Baik daun, batang, dahan hingga potongan kayu kecil, dipercaya memilih ‘tuah’ yang dipercaya memberi banyak berkah, termasuk untuk pelindung dari berbagai hal ghaib, serangan ilmu hitam atau berbagai hewan yang membahayakan seperti ular.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB
Rumah Kelahiran Sang Fajar Bung Karno
Minggu, 11 Januari 2026 | 13:43 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Gelar Aksi Kemanusiaan, GMNI Touna Serakan Bantuan untuk Korban Gempa Poso

Marhaenist.id, Touna - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tojo Una-Una (Touna) menyerahkan…

Sikapi Situasi Nasional Saat Ini, DPP GMNI Terbitkan ‘Seruan Pejuang Pemikir – Pemikir Pejuang’

Marhaenist.id, Jakarta - Di tengah eskalasi demonstrasi nasional yang dipicu oleh ketimpangan…

Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, Dendy Se. MARHAENIST

GMNI Jaksel Tuntut Pencopotan Kapolres dan Kapolsek Terkait Pembubaran Diskusi FTA: Usut Tuntas Otak di Balik Penyerangan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI)…

Perhitungan Suara Telah Usai, Ahmad Safei dan PDIP Sultra Amankan 1 Kursi DPR RI

Marhaenist.id, Kendari - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) telah mengamankan satu kursi Dewan…

Ajak Masyarakat Tolak Pemilu 2024, Relawan Marhaen Cyber Army Minta Jokowi Mundur dan Pilpres di Ulang

Marhaenist.id, Jakarta - Relawan Marhaen Cyber Army mengeluarkan pernyataan sikap dalam sebuah…

DPD PA GMNI Jakarta Raya Audiensi ke Gubernur DKI Jakarta: Siap Kawal Jakarta Menuju Kota Global yang Berkeadilan Sosial

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

GMNI Bersama Masyarakat Mamuju Tengah Gelar Aksi di Kantor ATR/BPN, Desak Pencopotan Kepala BPN

Maehaenist.id, Mamuju Tengah -Puluhan kader dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang…

Forkomcab GMNI Sumsel Menolak Kongres yang tidak berlandaskan Persatuan

Marhaenist.id, Sumsel - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat ini telah memasuki…

Soemarsono, Saksi Sejarah Tragedi PKI di Madiun 1948

Marhaenist.id - Soemarsono adalah mantan Ketua Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia, juga…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?