By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Trump Batalkan MBG: Prabowo–Gibran Hanya Tunduk dan Diam

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 10 Maret 2026 | 10:26 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Deodatus Sunda Se, Ketua DPD GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Kebijakan luar negeri yang bersifat transaksional dari Donald Trump kembali mengguncang stabilitas domestik Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi janji politik utama pasangan Prabowo–Gibran kini berada di ujung tanduk akibat tekanan geopolitik, krisis energi global, serta beban utang negara yang semakin menekan APBN.

Daftar Konten
1. Analisis BoP dan Kesepakatan ART: Kedaulatan yang Tergadai2. Dampak Perang AS–Israel vs Iran: Matinya Jalur Energi3. Krisis Ekonomi: Dolar Meroket dan IHSG Rontok4. “Bom Waktu” Utang Rp833 Triliun pada 2026Kesimpulan: Mengapa MBG Dikorbankan?

1. Analisis BoP dan Kesepakatan ART: Kedaulatan yang Tergadai

Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) serta penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada Februari 2026 menjadi titik balik yang kontroversial bagi kedaulatan nasional. Bergabungnya Indonesia dalam inisiatif keamanan yang dipimpin Amerika Serikat tersebut dinilai memaksa Jakarta mengikuti agenda geopolitik Washington di Timur Tengah. Kondisi ini secara tidak langsung melemahkan posisi tawar Indonesia dalam menjaga kedaulatan pangan dan ekonomi nasional.

Selain itu, kesepakatan ART menerapkan tarif resiprokal sebesar 19% untuk sejumlah produk tertentu. Dalam klausul teknisnya, Indonesia juga diwajibkan melakukan amandemen terhadap puluhan undang-undang agar selaras dengan standar pasar Amerika Serikat. Tekanan fiskal dari perjanjian yang dianggap asimetris ini berpotensi menggerus anggaran negara, termasuk mengancam keberlanjutan program populis seperti MBG.

2. Dampak Perang AS–Israel vs Iran: Matinya Jalur Energi

Situasi global semakin memburuk dengan pecahnya konflik terbuka antara blok AS–Israel melawan Iran, yang berdampak serius pada jalur perdagangan energi dunia. Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak global, mengalami gangguan serius akibat eskalasi konflik tersebut.

Baca Juga:   Menyatukan Barisan: Seruan Kader DPK GMNI FKIP Universitas Khairun Ternate untuk Merumuskan Strategi Kolektif Menghadapi Polemik DPP

Sebagai negara net importer minyak, Indonesia sangat bergantung pada stabilitas jalur energi internasional. Ketika risiko perang meningkat, banyak kapal tanker enggan melintas, sehingga pasokan energi menjadi tidak stabil. Dampaknya, Indonesia berpotensi mengalami hambatan dalam ekspor komoditas unggulan serta kesulitan mengimpor bahan baku industri dan pangan secara konsisten.

3. Krisis Ekonomi: Dolar Meroket dan IHSG Rontok

Ketegangan geopolitik global turut menghantam stabilitas ekonomi nasional. Ketidakpastian pasar mendorong investor global mengalihkan modal ke aset yang lebih aman (safe haven), sehingga nilai tukar rupiah melemah tajam.

Pelemahan rupiah ini meningkatkan beban utang luar negeri dan biaya impor secara signifikan. Di sektor pasar modal, IHSG mengalami tekanan akibat aksi jual panik (panic selling). Sementara itu, sektor manufaktur dan konsumsi tertekan oleh lonjakan biaya produksi.

Gangguan logistik global serta kenaikan harga energi juga memicu inflasi pangan, yang akhirnya memaksa pemerintah melakukan efisiensi anggaran pada berbagai program sosial.

4. “Bom Waktu” Utang Rp833 Triliun pada 2026

Kondisi fiskal Indonesia semakin tertekan karena kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo pada tahun 2026. Pemerintah menghadapi jadwal pembayaran utang yang melonjak hingga sekitar Rp833 triliun, menjadikan periode ini sebagai salah satu fase paling kritis dalam pengelolaan fiskal negara.

Situasi ini diperparah oleh pelemahan rupiah yang menembus kisaran di atas Rp16.800 per dolar AS, sehingga nilai pembayaran cicilan utang luar negeri meningkat secara drastis. Untuk menjaga kepercayaan investor global dan menghindari risiko gagal bayar (default), pemerintah terpaksa memprioritaskan pembayaran bunga dan pokok utang dibandingkan pembiayaan sejumlah program kesejahteraan rakyat.

Kesimpulan: Mengapa MBG Dikorbankan?

Pengurangan atau bahkan pembatalan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi konsekuensi dari posisi Indonesia yang semakin terjepit secara geopolitik dan fiskal. Di tengah tekanan kebijakan global, perjanjian perdagangan yang berat sebelah, serta beban utang yang besar, ruang fiskal pemerintah semakin sempit.

Baca Juga:   Revisi UU Minerba, Apakah Solusi atau Musibah?

Sikap diam pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dipandang mencerminkan realitas pahit bahwa kedaulatan ekonomi nasional sedang berada dalam tekanan kuat dari dinamika global.

Dalam konteks ini, MBG bukan sekadar janji politik yang terancam gagal, melainkan simbol bahwa kepentingan rakyat harus bersaing dengan tekanan utang internasional serta ketergantungan energi yang belum terselesaikan.***


Deodatus Sunda Se, Ketua DPD GMNI DKI Jakarta, Deodatus Sunda Se

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Kamis, 2 April 2026 | 11:45 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto saat berjalan bersama Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri. FILE/GolkarpediaKetua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto saat berjalan bersama Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri. FILE/Golkarpedia

Survei CSIS: PDIP Kalah Populer Dari Golkar Untuk Pemilih Muda

Hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menempatkan Golkar menjadi…

Impian Reformasi Polri dalam Hiruk Pikuk Hut Bhayangkara

Marhaenist.id - Dikutip dari buku Sejarah Perkembangan Kepolisian Indonesia, terdapat perbedaan tugas…

‎Manifesto Pulang: Kala Iman Menjadi Teduh Terakhir di Tengah Badai Geopolitik dan Senja Peradaban Akhir Zaman

Marhaenist.id - Dunia hari ini sedang bergerak dalam pusaran ketidakpastian yang luar…

Beredar Akun Facebook Palsu Atas Nama Dirinya, Karyono Wibowo: Ada Orang yang tidak Bertanggungjawab – Mohon Abaikan

Marhaenist.id, Jakarta - Salah satu Dewan Redaksi Marhaenist.id yang juga Direktur Eksekutif…

Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 Mengubah Sistem Pemilu Kita

Marhaenist.id - Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 telah mengubah sistem pemilu kita dengan memisahkan…

GMNI dan GSNI Gelar Audiensi dengan Ketua DPRD Surabaya: Soroti Program MBG, Efiensi Anggaran Pendidikan dan Kesehatan

Marhaenist.id, Surabaya – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Hukum sebagai Instrumen Penindasan oleh Rezim Kuasa: Studi Kasus Putusan Pidana Tom Lembong

Marhaenist.id - Beredar info tersiar di media massa, Mantan Menteri Perdagangan 2015–2016,…

Sesak Napas di Realita: Seni Melukis Mooi Indië Ala Wali Kota Jakarta Timur

Marhaenist.id – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta…

GMNI Touna Laksanakan Kajian Marhaenisme Sebagai Ajang Mengikat Tali Silahturahmi

Marhaenist.id, Touna - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?