Marhaenist.id – Terlihat beberapa bangkai tikus yang telah dipenggal sebagai bagian dari aksi teror terhadap Tempo. Peristiwa ini bukan pertama kalinya terjadi, mengingat sebelumnya Tempo juga menerima teror serupa dengan pengiriman kepala babi tanpa telinga.
Pola teror ini menunjukkan adanya pesan simbolis dari pelaku, yang tampaknya ingin mengejek atau memberikan tekanan kepada pihak Tempo.
Lebih jauh, respons dari pihak istana terhadap teror ini tampaknya tidak serius atau bahkan cenderung diabaikan. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana negara menangani ancaman terhadap kebebasan pers.
Jika serangan seperti ini dibiarkan tanpa investigasi yang memadai, maka ada risiko meningkatnya intimidasi terhadap media dan merusak kebebasan jurnalistik.

Dengan pengiriman bangkai tikus tanpa kepala setelah sebelumnya kepala babi tanpa telinga, peneror tampaknya ingin menyampaikan pesan yang lebih provokatif.
Bisa jadi ini merupakan sindiran bahwa korban yang diteror telah “dibungkam” atau “dikebiri” dalam arti tertentu. Simbolisme ini memperkuat kesan bahwa pelaku ingin menunjukkan superioritasnya atau menguji batas sejauh mana mereka bisa melakukan teror tanpa konsekuensi serius dari pihak berwenang.
Dalam konteks kebebasan pers, tindakan seperti ini harus mendapat perhatian lebih dari aparat penegak hukum dan pemerintah. Jika tidak, maka ini bisa menjadi preseden buruk bagi jurnalisme investigatif dan kritik terhadap kekuasaan.***
Penulis: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta.