Marhaenist.id – Kita hidup di era di mana pertarungan ideologi dan kepentingan material tidak lagi tersamar dari balik layar. Kejadian pengiriman paket berisi kepala babi ke kantor Tempo pada Rabu, 19 Maret 2025, jika benar merupakan sebuah bentuk intimidasi, maka ini bukan hanya soal simbol kekerasan, melainkan cerminan dari permainan kekuasaan yang selalu berusaha membungkam suara-suara yang menantang status quo.
Aksi teror ini, yang ditujukan kepada seorang jurnalis yang selalu berani menyuarakan kebenaran, merupakan salah satu bentuk perlawanan terhadap kekuatan yang merasa terancam oleh eksposur realitas yang menyakitkan.
Setiap bentuk intimidasi terhadap pers harus kita pahami dalam konteks hubungan antara kekuatan dan struktur sosial. Dibalik setiap tindakan represif, terdapat kepentingan ekonomi dan politik yang ingin mempertahankan dominasi mereka.
Ketika pers, sebagai “pilar keempat demokrasi”, mulai membuka ruang bagi kritik dan pengawasan, para elit yang telah nyaman dengan kekuasaan mereka merasa terpojok. Mereka pun menggunakan berbagai cara baik yang halus maupun yang brutal untuk mengekang kebebasan berekspresi, sehingga kebenaran tidak sempat mengusik tatanan yang telah mereka rakit.
Dari sudut pandang teori politik, tindakan-tindakan seperti ini bisa dipahami sebagai upaya mempertahankan hegemoni yakni dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya melalui pengendalian informasi.
Ketika kekuasaan merasa terganggu oleh kritik yang terus mengalir, mereka kerap menggunakan simbol-simbol kekerasan untuk menakut-nakuti dan menciptakan iklim ketakutan. Ini bukan saja soal membungkam satu suara, tetapi upaya untuk menyegel ruang publik agar tidak ada lagi alternatif narasi yang bisa menggerakkan perubahan sosial.
Pengalaman sejarah mengajarkan bahwa kekuasaan selalu mencari cara untuk mempertahankan eksistensinya, meskipun harus melalui tindakan yang tidak manusiawi. Pers yang berani menggali dan mengungkap fakta merupakan ancaman bagi kekuatan yang sudah mapan.
Masing-masing insiden baik yang berupa kiriman kepala babi atau pembakaran rumah wartawan adalah potongan dari gambaran besar tentang bagaimana sistem beroperasi untuk mengamankan kepentingannya.
Dalam gelombang informasi yang terus bergerak, kita harus belajar untuk melihat lebih jauh daripada permukaan peristiwa. Kita perlu menyadari bahwa setiap simbol teror yang muncul adalah gambaran nyata dari pertarungan antara kekuatan yang ingin mempertahankan dominasi dan mereka yang berani menyuarakan kebenaran.
Jika kita membiarkan intimidasi seperti ini berjalan tanpa perlawanan, maka suara kebenaran akan semakin terkekang.***
Penulis: Apriansyah Wijaya, Kader DPC GMNI Kota Tangerang Selatan, Aktivis Komite Mahasiswa dan Pemuda Anti Kekerasan.