By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Tangan Halus Pemerintah di Balik Pecahnya Nasionalisme dalam GMNI?

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Minggu, 3 Agustus 2025 | 08:12 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Kongres GMNI di Kota Bandung yang digelar pada Selasa (15/7/2025) sampai Senin (28/7/2025)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) versi Imanuel-Sujarhi yang digelar di Kota Bandung belum lama ini justru membuka borok perpecahan dalam tubuh organisasi yang mengusung semangat nasionalisme Soekarnois.

Di balik kericuhan, molornya sidang, dan saling tuding antar kubu, banyak pihak mulai bertanya: apakah ini murni konflik internal, atau ada ‘tangan-tangan’ negara yang ikut bermain?

GMNI bukan sekadar organisasi mahasiswa biasa. Sejak berdirinya, ia mewarisi semangat Bung Karno: antikolonial, berdiri di atas kaki sendiri, dan menolak tunduk pada kekuasaan modal.

Karena itu, GMNI kerap jadi batu sandungan bagi kekuatan status quo. Maka, ketika GMNI terbelah dan lumpuh oleh konflik internal, yang diuntungkan jelas bukan gerakan mahasiswa itu sendiri—melainkan kekuatan di luar yang berkepentingan agar nasionalisme Soekarnois tetap tercerai-berai.

Taktik Lama, Pola Baru

Dalam sejarah politik Indonesia, intervensi negara terhadap kekuatan sipil bukanlah hal baru. Dari era Orde Lama hingga Reformasi, banyak organisasi mahasiswa, buruh, dan rakyat yang coba dibelah dari dalam.

Pecah-belah dan adu domba adalah taktik lama yang masih relevan hingga hari ini. Yang membedakan hanyalah metode: kini, intervensi lebih halus—melalui pembiayaan, infiltrasi kader, hingga permainan narasi di media.

Kongres GMNI di Bandung menunjukkan tanda-tanda itu. Ada kabar tentang dana misterius, pemaksaan akomodasi tertentu, hingga ‘tangan pengatur’ yang mencoba menentukan siapa yang layak menang. Ketua umum yang kabur saat sidang LPJ, mosi tidak percaya, hingga dugaan penghilangan palu sidang—semuanya tampak seperti skenario chaos yang dirancang agar GMNI gagal konsolidasi.

Kenapa GMNI yang Diserang?

GMNI punya posisi strategis. Ia punya sejarah panjang melahirkan tokoh-tokoh nasional, kader-kader politik, dan pemikir kiri yang vokal. Dalam peta gerakan mahasiswa, GMNI mewakili kutub yang ideologis dan berakar. Jika GMNI berhasil solid, bukan tidak mungkin ia jadi ujung tombak kebangkitan nasionalisme baru yang berani menantang oligarki dan kekuasaan yang korup.

Baca Juga:   GO TO HELL WITH YOUR TARIFF: Jalan Politik Non-Blok dan Wujudkan Trisakti

Maka wajar jika ada upaya melemahkan dari dalam. Pecahnya GMNI membuat semangat nasionalisme Soekarnois kehilangan rumah. Dari luar, publik melihat GMNI tidak lebih dari sekumpulan mahasiswa yang rebutan jabatan dan dana kongres. Padahal di dalamnya, yang sedang dipertaruhkan adalah masa depan ideologi kerakyatan.

Saatnya Refleksi!

Perpecahan GMNI bukan sekadar soal kongres molor atau palu yang hilang. Ini soal bagaimana gerakan ideologis rentan dihancurkan melalui infiltrasi dan pembelahan. Negara, dalam bentuk aparat, intel, atau bahkan institusi resmi, tidak bisa dikecualikan sebagai pihak yang mungkin ikut bermain.

Jika nasionalisme Soekarnois ingin tetap hidup, ia harus bangkit dari kerapuhan struktural. GMNI dan organisasi sejenisnya perlu memperkuat integritas internal, memperbarui metode kaderisasi, dan membangun kembali kepercayaan rakyat. Sebab sekali gerakan mahasiswa tunduk pada intervensi negara, maka selesailah sudah harapan akan perubahan sejati dari akar rumput.***


Penulis: Dimas Muhammad Erlangga, Kader GMNI Bandung.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Cipayung Plus Kendari Gelar Doa Bersama di Depan Polda Sultra Peringati 6 Tahun Gugurnya Randi-Yusuf

Marhaenist.id, Kendari - Organisasi Kemahasiswaan Cipayung Plus Kota Kendari yang terdiri dari…

Alexander Pekuali (Ketua Umum HIPMA Flobamora)/MARHAENIST.

Gubernur NTT Menyerbu Kampung Adat: Transisi Energi atau Kolonialisme Baru?

Marhaenist.id – Kunjungan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena,…

Pamit dari MK, Arief Hidayat: Putusan 90 Jadi Titik Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Marhaenist.id, Jakarta — Hakim Konstitusi Arief Hidayat mengungkapkan bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi (MK)…

Puluhan Jenderal Dukung Ganjar, Siap Lawan Segala Bentuk Intervensi

Marhaenist.id, Karangayar - Puluhan Jenderal dari TNI dan Polri menegaskan siap mengawal…

Abdy Yuhana: Gelar Profesor Kehormatan Megawati Soekarnoputri dari Silk Road International University Perkokoh Pengakuan Dunia

Marhaenist.id - Sekretaris Jenderal DPP Persatuan Alumni GMNI, Abdy Yuhana mengapresiasi atas prestasi…

Bahas Demokrasi dan HAM, DPD PA GMNI Sumut Gelar Diskusi Publik

Marhaenist.id, Medan - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

RUU TNI 2024: Adaptasi atau Ancaman bagi Demokrasi?

Marhaenist.id - Perubahan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI 2024 membawa sejumlah perbedaan…

GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis

Marhaenist.id, Jakarta – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kembali menegaskan komitmennya sebagai…

Beredar Akun Facebook Palsu Atas Nama Dirinya, Karyono Wibowo: Ada Orang yang tidak Bertanggungjawab – Mohon Abaikan

Marhaenist.id, Jakarta - Salah satu Dewan Redaksi Marhaenist.id yang juga Direktur Eksekutif…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?