By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Spirit Wisanggeni di Tubuh GMNI: Api Ideologi di Tengah Pusaran Konflik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
HistoricalSukarnoisme

Supeni, Pemeluk Teguh Soekarnoisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 15 November 2025 | 17:26 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Keluarga Supeni dan Bung Karno (Sumber: koransulindo.com)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Setelah peristiwa berdarah 1 Oktober 1965, Supeni menerima tugas berat dari Ketua Umum PNI, Mr. Sartono: mencari para pemuda yang hilang, diculik, atau disiksa karena dituduh terlibat G30S. Ia bolak-balik ke kantor KODAM dan SKOGAR untuk meminta kejelasan langkah yang membuatnya diawasi dan diintimidasi oleh kelompok pemuda anti-Soekarno yang tergabung dalam KAMI/KAPPI.

Rumahnya di Jalan Sriwijaya II, Kebayoran Baru, tiap malam dikepung suara sepeda motor yang meraung-raung simbol tekanan politik. Namun ketika Supeni berhadapan langsung dengan Panglima KODAM Umar Wirahadikusumah dan menanyakan apakah dirinya terlibat G30S, jawabannya tegas: “Tidak.”
Tak lama, kaca depan rumah Supeni diberi tulisan besar dari KODAM: “Jangan Diganggu.” Sejak itu, demonstrasi berhenti.

Namun badai besar belum usai. PNI partai yang dibesarkan Bung Karno dan menjadi rumah ideologi Marhaenisme mulai retak dari dalam. Bung Karno kecewa pada para marhaenis gadungan yang menyeleweng dari cita-citanya. Supeni, yang telah mencintai PNI sejak remaja, berusaha keras menyatukan partai yang tercerai-berai antara kubu Ali Sastroamidjojo dan Hardi.

Ia mendatangi Bung Karno dengan hati yang gelisah.

“Kalau PNI tidak utuh kembali, bahaya, bahaya, bahayaaa, Bung Karno!”
Bung Karno kelak menceritakan dengan haru kepada Sucipto Yudodiharjo bahwa Supeni mengucapkan kata “bahaya” itu sambil menangis.

Namun waktu tak berpihak. Sebelum upaya penyatuan berhasil, pecahlah tragedi G30S, dan PNI terbelah dua — menjadi PNI Ali-Surachman dan PNI Osa-Usep. Bagi Supeni, itu bukan sekadar konflik politik, melainkan luka ideologis yang dalam: tercerabutnya ruh marhaenisme sejati dari tubuh partai rakyat.

Jejak Awal Seorang Pejuang Perempuan

Supeni mulai mengenal dunia politik sejak usia 14 tahun di Blitar. Bersama Sukarni yang kelak menjadi tokoh pergerakan pemuda ia aktif di Indonesia Muda. Saat sekolah di HIK Blitar, ia dipecat karena berpolitik. Dari situ, ia belajar bahwa perjuangan selalu menuntut pengorbanan.

Baca Juga:   Kudeta Merangkak Soeharto, Upaya Jahat Terhadap Sang Proklamator

Pada 1946, ia resmi bergabung dengan PNI. Hanya dalam tiga tahun, Supeni sudah menjadi anggota Dewan Partai. Ia dikirim belajar sistem pemilu ke India dan menulis buku Pemilihan Umum di India (1952). Dua tahun kemudian, ia diundang ke Amerika Serikat untuk mempelajari hal serupa.

Dalam Pemilu 1955, Supeni memimpin PNI Jakarta dan berhasil membawa partainya menjadi pemenang. Ia kemudian menjadi anggota DPR sekaligus anggota Konstituante.

Di parlemen, ia dikenal lantang memperjuangkan garis politik anti-neokolonialisme dan anti-imperialisme ala Bung Karno. Resolusinya mendukung nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir pada 1956 diterima secara aklamasi oleh DPR bukti kecemerlangannya sebagai politisi sekaligus diplomat.

Diplomat Andal dan Utusan Khusus Bung Karno

Bakat diplomatik Supeni membawa namanya ke panggung dunia. Ia menjadi penasihat delegasi Indonesia dalam Konferensi Asia-Afrika 1955, Duta Besar Keliling RI menjelang KTT Non-Blok I tahun 1961, dan kepala delegasi Indonesia di Sidang Umum PBB 1962.

Ketika Bung Karno menyiapkan Konferensi Asia-Afrika II tahun 1965, Supeni dipercaya menjelajahi 22 negara Afrika untuk menggalang dukungan. Ia pun kerap menjadi utusan pribadi Presiden Soekarno ke Filipina, Kamboja, dan negara Asia Tenggara lain — menjelaskan politik luar negeri Indonesia yang berdaulat dan berkepribadian.

Bung Karno pernah memujinya sebagai “diplomat berkemampuan tinggi”, namun juga seorang pendebat tangguh yang bahkan berani menentang Presiden jika merasa kebenaran berpihak padanya.

Wartawan, Pejuang, dan Saksi Sejarah

Selain politisi dan diplomat, Supeni juga menulis dan memimpin media. Ia menjadi Pemimpin Redaksi Pembimbing (1951-1954), Ampera Review (1964-1972), dan Dwiwarna (1968-1972). Ia aktif pula di Persatuan Bridge Wanita bukti bahwa meski keras di politik, ia tetap halus dalam seni dan budaya.

Baca Juga:   Rumah Kelahiran Sang Fajar Bung Karno

Setelah kejatuhan Bung Karno, Supeni tetap setia. Ia bersama suaminya sering menjenguk Sang Pemimpin di Batu Tulis, Bogor, hingga masa tahanan rumah di Wisma Yaso. Kesetiaannya tak berubah, bahkan ketika gelombang Orde Baru mencoba menghapus nama dan ajaran Soekarno dari lembaran sejarah.

Akhir Perjalanan Sang Marhaenis Sejati

Pada 26 Oktober 1995, Supeni mendirikan kembali Partai Nasional Indonesia, dan dideklarasikan pada 20 Mei 1998 hanya beberapa minggu sebelum reformasi mengguncang negeri. Namun semangat kebangkitannya tenggelam di tengah hiruk-pikuk politik baru.

Supeni Pudjobuntoro meninggal dunia pada 24 Juni 2004, dalam usia 87 tahun. Ia pergi dengan nama yang bersih, dengan idealisme yang tak pernah layu.

Supeni, Bayangan Terakhir Marhaenisme

Supeni bukan sekadar tokoh perempuan, melainkan simbol keberanian, kesetiaan, dan kecerdasan politik perempuan Indonesia pada masa-masa tergelap sejarah bangsa. Ia berdiri di antara kekuasaan dan nurani, di antara loyalitas kepada Bung Karno dan cinta pada rakyat.

Ia adalah saksi hidup dari zaman ketika politik bukan sekadar perebutan kursi, tetapi medan untuk mempertahankan martabat bangsa.

Sumber: koransulindo.com/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB
Spirit Wisanggeni di Tubuh GMNI: Api Ideologi di Tengah Pusaran Konflik
Sabtu, 11 April 2026 | 11:18 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Gerakan Pemuda Marhaenis: Panji Gumilang Salah Memahami Ajaran Bung Karno Soal Agama

Marhaenist - Bikin Gaduh, Panji Gumilang gencar mengaku bermadzhab Bung Karno (Soekarno).…

Dibuka oleh Anggota DPRD, DPC GMNI Wakatobi Sukses Gelar PPAB Ke II

Marhaenist.id, Wakatobi - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Firman Tendry: Indonesia Alami State Capture, Pemberantasan Korupsi Masih Ilusi

Marhaenist.id, Jakarta — Diskusi publik bertajuk “Anomali Pemberantasan Korupsi 2025 & Harapan…

Che Guevara – Sosialisme dan Manusia di Kuba

Kawan tercinta: Meskipun terlambat, saya tetap berusaha menyelesaikan catatan ini dalam rangkaian…

Putusan MK soal Kolegium dan Konsil Kesehatan: Apa Artinya bagi Dokter, Mahasiswa, dan Pasien?

Marhaenist.id - Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya memutuskan sebagian gugatan terhadap Undang-Undang Nomor…

Pendidikan dan Pembangunan Nasional: Menyangkut Kesejahteraan Rakyat

Marhaenist.id - Pendidikan adalah hal yang paling fundamental juga menjadi kunci utama…

Sikap GMNI Bandung: Bandung Bukan Arena Konsolidasi Patologi, Tetapi Historis Manifestasi Persatuan Ideologi

Marhaenist.id - Di Bandung, Soekamo tak hanya belajar menuntut ilmu, melainkan membangun…

Kedaulatan Negara Dalam Bayang-Bayang Amerika: Berkaca dari Kasus Penangkapan Presiden Venezuela

Marhaenist.id - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan elite Amerika Serikat…

Distorsi Prinsip “Bebas dan Aktif”: Kekeliruan Strategis Presiden Prabowo Dalam Board of Peace Gaza

Marhaenist.id - Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?