
Marhaenist.id – Indonesia hari ini berdiri di persimpangan zaman. Islam, sebagai kekuatan sosial terbesar bangsa ini, menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, ia berisiko tereduksi menjadi simbol dan ritual belaka, ramai di panggung retorika, tetapi sunyi dalam praksis sosial.
Di sisi lain, ia dituntut menjawab persoalan konkret rakyat kecil: ketimpangan ekonomi, rapuhnya solidaritas sosial, dan tergerusnya martabat akibat sistem yang kian tak ramah pada wong cilik.
Dalam konteks inilah Masjid Jogokaryan hadir. Bukan sebagai slogan besar, bukan pula sebagai gerakan ideologis yang gemar mendeklarasikan diri. Ia justru bekerja dalam senyap, melalui praktik sosial yang konsisten, terukur, dan menyentuh manusia konkret. Di situlah kekuatannya: menghadirkan Islam modern yang riil. Islam yang dalam praksisnya sejiwa dengan etos marhaenisme, keberpihakan pada rakyat kecil sebagai subjek sejarah.
Islam modern bukanlah Islam yang sekadar adaptif terhadap teknologi atau meniru Barat. Modernitas dalam Islam adalah kemampuan menjawab realitas sosial umat secara rasional dan bertanggung jawab. Ia harus:
* Relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat
* Berorientasi pada penyelesaian masalah konkret
* Dikelola secara transparan, profesional, dan akuntabel
* Tetap berpijak pada tauhid sekaligus keadilan sosial
Masjid Jogokaryan menerjemahkan prinsip ini secara operasional. Masjid tidak berhenti sebagai tempat ibadah ritual, melainkan menjadi:
* Pusat pemetaan sosial jamaah
* Institusi distribusi kesejahteraan
* Ruang konsolidasi dan pemberdayaan komunitas
Ini bukan modernitas yang abstrak. Ini modernitas yang membumi, yang menyatu dengan denyut ekonomi warga, dengan kecemasan orang yang kehilangan pekerjaan, dengan harapan pedagang kecil yang ingin bertahan hidup.
Marhaenisme, sebagaimana digagas Bung Karno, bukan sekadar ideologi politik. Ia adalah etos pembebasan rakyat kecil. Intinya sederhana tetapi radikal:
* Rakyat kecil adalah subjek, bukan objek pembangunan
* Eksploitasi dan ketergantungan harus ditolak
* Kemandirian ekonomi dibangun berbasis kolektivitas
* Anti-elitisme dan anti-feodalisme menjadi sikap moral
Marhaenisme bukan teori kelas yang dingin. Ia adalah keberpihakan praksis. Ia berpihak pada manusia yang bekerja dengan tangannya sendiri, tetapi tak pernah menikmati hasilnya secara adil.
Masjid Jogokaryan dan marhaenisme bertemu bukan dalam slogan, melainkan dalam spirit perjuangan sosial.
1. Keberpihakan pada Manusia Konkret
Jogokaryan tidak berbicara tentang “umat” sebagai angka statistik. Ia mengenali wajah-wajah nyata:
* Siapa yang lapar
* Siapa yang terlilit utang
* Siapa yang putus sekolah
* Siapa yang kehilangan pekerjaan
Inilah pendekatan yang sejalan dengan marhaenisme, berangkat dari manusia riil, bukan dari abstraksi.
2. Dari Karitas Menuju Kemandirian
Jogokaryan tidak berhenti pada sedekah. Ia mendorong:
* Penguatan UMKM jamaah
* Partisipasi ekonomi warga
* Sirkulasi ekonomi lokal
Sedekah menjadi pintu, bukan tujuan akhir. Prinsipnya jelas: rakyat harus berdaya, bukan bergantung. Ini paralel dengan marhaenisme yang menolak mentalitas belas kasihan dan menegaskan martabat kemandirian.
3. Anti-Elitisme Religius dan Sosial
Jogokaryan menolak masjid sebagai simbol kekuasaan.
* Takmir bukan elite, melainkan pelayan jamaah
* Dana umat bukan akumulasi, melainkan amanah
* Transparansi bukan pencitraan, melainkan keharusan moral
Sikap ini identik dengan semangat marhaenisme yang selalu curiga terhadap penumpukan kuasa, baik kuasa ekonomi, politik, maupun agama.
Perbedaan mendasar memang ada.
Marhaenisme berangkat dari analisis struktur ekonomi–politik.
Jogokaryan berangkat dari tauhid dan amanah keimanan.
Namun justru di titik inilah terjadi sintesis yang menarik.
Tauhid melahirkan egalitarianisme sosial. Jika Tuhan itu satu, maka:
* Tidak ada manusia yang pantas ditindas
* Tidak ada harta yang boleh dipertuhankan
* Tidak ada elite yang kebal dari tanggung jawab sosial
Ini adalah tauhid sosial. Tauhid yang menolak feodalisme. Tauhid yang menolak kapitalisasi keserakahan. Tauhid yang dalam praksisnya sejiwa dengan marhaenisme.
Jogokaryan tidak membangun struktur nasional yang sentralistik. Ia bergerak:
* Lokal
* Kontekstual
* Berbasis komunitas
Dalam perspektif perubahan sosial, model ini justru lebih berkelanjutan. Perubahan yang lahir dari akar rumput lebih tahan terhadap guncangan politik. Ia tidak bergantung pada pusat kekuasaan, tetapi pada kesadaran kolektif warga.
Jogokaryan bukan cetakan tunggal yang harus diseragamkan. Ia adalah etos yang bisa direplikasi sesuai konteks sosial masing-masing.
Penting dicatat:
Masjid Jogokaryan tidak memosisikan diri sebagai gerakan perlawanan struktural terhadap negara atau modal secara frontal. Ia bekerja pada medan yang lebih sunyi: pemulihan martabat sosial.
Ini bukan kelemahan. Ini pilihan strategi.
* Membangun manusia sebelum membangun sistem
* Memulihkan kepercayaan sebelum menggugat struktur
* Menghidupkan solidaritas sebelum menuntut revolusi
Marhaenisme memberi bahasa kritik struktural.
Jogokaryan memberi praktik etis sehari-hari.
Dan dalam situasi bangsa yang kerap terjebak pada polarisasi ideologis, sintesis keduanya menawarkan jalan tengah yang matang: Islam yang modern tanpa tercerabut dari akar, keberpihakan yang tegas tanpa kehilangan kebijaksanaan.
Pada akhirnya, spirit Jogokaryan menunjukkan bahwa Islam tidak harus berteriak untuk menjadi relevan. Ia cukup hadir, bekerja, dan berpihak. Dan di situlah, marhaenisme menemukan rumah etisnya dalam laku keimanan.***
Penulis: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., M.H.