By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Ketahanan Pangan di Bawah Bayang-Bayang Geopolitik, Jan Prince Permata: Stabilitas atau Sekadar Ilusi?
DPC GMNI Balikpapan Kecam Keras Pelanggaran HAM oleh Kodim Balikpapan terhadap Massa Aksi Solidaritas Andrie Yunus
Polemik Kopdes Merah Putih di Desa Polindu Kian Memanas, Inilah Kata Praktisi Hukum!
GMNI DKI Kecam Gugurnya 3 Prajurit TNI oleh Israel: Desak RI Keluar dari BOP dan Fokus Krisis Domestik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Spirit Masjid Jogokaryan: Islam Modern yang Riil dalam Bingkai Marhaenisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 11 Februari 2026 | 18:52 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Penulis: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., M.H (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia hari ini berdiri di persimpangan zaman. Islam, sebagai kekuatan sosial terbesar bangsa ini, menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, ia berisiko tereduksi menjadi simbol dan ritual belaka, ramai di panggung retorika, tetapi sunyi dalam praksis sosial.

Di sisi lain, ia dituntut menjawab persoalan konkret rakyat kecil: ketimpangan ekonomi, rapuhnya solidaritas sosial, dan tergerusnya martabat akibat sistem yang kian tak ramah pada wong cilik.

Dalam konteks inilah Masjid Jogokaryan hadir. Bukan sebagai slogan besar, bukan pula sebagai gerakan ideologis yang gemar mendeklarasikan diri. Ia justru bekerja dalam senyap, melalui praktik sosial yang konsisten, terukur, dan menyentuh manusia konkret. Di situlah kekuatannya: menghadirkan Islam modern yang riil. Islam yang dalam praksisnya sejiwa dengan etos marhaenisme, keberpihakan pada rakyat kecil sebagai subjek sejarah.

Islam modern bukanlah Islam yang sekadar adaptif terhadap teknologi atau meniru Barat. Modernitas dalam Islam adalah kemampuan menjawab realitas sosial umat secara rasional dan bertanggung jawab. Ia harus:

* Relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat
* Berorientasi pada penyelesaian masalah konkret
* Dikelola secara transparan, profesional, dan akuntabel
* Tetap berpijak pada tauhid sekaligus keadilan sosial

Masjid Jogokaryan menerjemahkan prinsip ini secara operasional. Masjid tidak berhenti sebagai tempat ibadah ritual, melainkan menjadi:

* Pusat pemetaan sosial jamaah
* Institusi distribusi kesejahteraan
* Ruang konsolidasi dan pemberdayaan komunitas

Ini bukan modernitas yang abstrak. Ini modernitas yang membumi, yang menyatu dengan denyut ekonomi warga, dengan kecemasan orang yang kehilangan pekerjaan, dengan harapan pedagang kecil yang ingin bertahan hidup.

Marhaenisme, sebagaimana digagas Bung Karno, bukan sekadar ideologi politik. Ia adalah etos pembebasan rakyat kecil. Intinya sederhana tetapi radikal:

Baca Juga:   PA GMNI Dalami Pembelajaran Hukum Acara Perselisihan Hasil Pemilu

* Rakyat kecil adalah subjek, bukan objek pembangunan
* Eksploitasi dan ketergantungan harus ditolak
* Kemandirian ekonomi dibangun berbasis kolektivitas
* Anti-elitisme dan anti-feodalisme menjadi sikap moral

Marhaenisme bukan teori kelas yang dingin. Ia adalah keberpihakan praksis. Ia berpihak pada manusia yang bekerja dengan tangannya sendiri, tetapi tak pernah menikmati hasilnya secara adil.

Masjid Jogokaryan dan marhaenisme bertemu bukan dalam slogan, melainkan dalam spirit perjuangan sosial.

1. Keberpihakan pada Manusia Konkret

Jogokaryan tidak berbicara tentang “umat” sebagai angka statistik. Ia mengenali wajah-wajah nyata:

* Siapa yang lapar
* Siapa yang terlilit utang
* Siapa yang putus sekolah
* Siapa yang kehilangan pekerjaan

Inilah pendekatan yang sejalan dengan marhaenisme, berangkat dari manusia riil, bukan dari abstraksi.

2. Dari Karitas Menuju Kemandirian

Jogokaryan tidak berhenti pada sedekah. Ia mendorong:

* Penguatan UMKM jamaah
* Partisipasi ekonomi warga
* Sirkulasi ekonomi lokal

Sedekah menjadi pintu, bukan tujuan akhir. Prinsipnya jelas: rakyat harus berdaya, bukan bergantung. Ini paralel dengan marhaenisme yang menolak mentalitas belas kasihan dan menegaskan martabat kemandirian.

3. Anti-Elitisme Religius dan Sosial

Jogokaryan menolak masjid sebagai simbol kekuasaan.

* Takmir bukan elite, melainkan pelayan jamaah
* Dana umat bukan akumulasi, melainkan amanah
* Transparansi bukan pencitraan, melainkan keharusan moral

Sikap ini identik dengan semangat marhaenisme yang selalu curiga terhadap penumpukan kuasa, baik kuasa ekonomi, politik, maupun agama.

Perbedaan mendasar memang ada.
Marhaenisme berangkat dari analisis struktur ekonomi–politik.
Jogokaryan berangkat dari tauhid dan amanah keimanan.

Namun justru di titik inilah terjadi sintesis yang menarik.

Tauhid melahirkan egalitarianisme sosial. Jika Tuhan itu satu, maka:

* Tidak ada manusia yang pantas ditindas
* Tidak ada harta yang boleh dipertuhankan
* Tidak ada elite yang kebal dari tanggung jawab sosial

Baca Juga:   Gelar UPA di Februari 2026, PERADI UTAMA Lanjutkan Program Beasiswa Advokat Bersama PA-GMNI dan KOPRI PMII

Ini adalah tauhid sosial. Tauhid yang menolak feodalisme. Tauhid yang menolak kapitalisasi keserakahan. Tauhid yang dalam praksisnya sejiwa dengan marhaenisme.

Jogokaryan tidak membangun struktur nasional yang sentralistik. Ia bergerak:

* Lokal
* Kontekstual
* Berbasis komunitas

Dalam perspektif perubahan sosial, model ini justru lebih berkelanjutan. Perubahan yang lahir dari akar rumput lebih tahan terhadap guncangan politik. Ia tidak bergantung pada pusat kekuasaan, tetapi pada kesadaran kolektif warga.

Jogokaryan bukan cetakan tunggal yang harus diseragamkan. Ia adalah etos yang bisa direplikasi sesuai konteks sosial masing-masing.

Penting dicatat:

Masjid Jogokaryan tidak memosisikan diri sebagai gerakan perlawanan struktural terhadap negara atau modal secara frontal. Ia bekerja pada medan yang lebih sunyi: pemulihan martabat sosial.

Ini bukan kelemahan. Ini pilihan strategi.

* Membangun manusia sebelum membangun sistem
* Memulihkan kepercayaan sebelum menggugat struktur
* Menghidupkan solidaritas sebelum menuntut revolusi

Marhaenisme memberi bahasa kritik struktural.

Jogokaryan memberi praktik etis sehari-hari.

Dan dalam situasi bangsa yang kerap terjebak pada polarisasi ideologis, sintesis keduanya menawarkan jalan tengah yang matang: Islam yang modern tanpa tercerabut dari akar, keberpihakan yang tegas tanpa kehilangan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, spirit Jogokaryan menunjukkan bahwa Islam tidak harus berteriak untuk menjadi relevan. Ia cukup hadir, bekerja, dan berpihak. Dan di situlah, marhaenisme menemukan rumah etisnya dalam laku keimanan.***


Penulis: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., M.H.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Kamis, 2 April 2026 | 11:45 WIB
Ketahanan Pangan di Bawah Bayang-Bayang Geopolitik, Jan Prince Permata: Stabilitas atau Sekadar Ilusi?
Kamis, 2 April 2026 | 11:26 WIB
DPC GMNI Balikpapan Kecam Keras Pelanggaran HAM oleh Kodim Balikpapan terhadap Massa Aksi Solidaritas Andrie Yunus
Kamis, 2 April 2026 | 10:00 WIB
Polemik Kopdes Merah Putih di Desa Polindu Kian Memanas, Inilah Kata Praktisi Hukum!
Rabu, 1 April 2026 | 14:37 WIB
Foto: Deodatus Sunda Se, Ketua DPD GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
GMNI DKI Kecam Gugurnya 3 Prajurit TNI oleh Israel: Desak RI Keluar dari BOP dan Fokus Krisis Domestik
Rabu, 1 April 2026 | 12:49 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Penetapan Diduga Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus Belum Terjawab, GMNI Jaktim Desak Aparat Buka Fakta Hukum

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Inisiatif Kebijakan Impor Garam dan Gula

Marhaenist.id - Pemerintah kembali membuka keran impor garam industri dan gula mentah…

Sekelompok suporter membawa seorang korban pria di stadion Kanjuruhan, Malang selama huru-hara keributan terjadi. AFP/Getty Images

127 Orang Tewas Dalam Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang

Marhaenist - Sebanyak 127 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tragedi yang terjadi…

Buntut Hina Suporter Persib dan Suku Sunda, GMNI Secara Tidak Hormat Pecat Youtuber Resbob

Marhaenist.id, Surabaya — Youtuber Muhammad Adimas Firdaus Putra Nasihan atau yang dikenal…

Tolak Kongres Bandung, GMNI Bangka Belitung Seruhkan Kongres Persatuan untuk Mengakhiri Perpecahan

Marhaenist.id - Kekisruhan yang terjadi dalam internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Arief Hidayat Terpilih Sebagai Ketua Umum PA GMNI 2021-2026

Marhaenist - Kongres IV Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia memilih secara…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. MARHAENIST

Ganjar: Pemotongan Bantuan Bentuk Pengkhianatan Pada Negara

Marhaenist - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tegas mengatakan mereka yang bermain…

Jelang Pesta Demokrasi, GMNI Ajak Masyarakat Kawal Pilkada Damai di Wakatobi

Marhaenist.id, Wanci - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gelar Dialog Nasional, Alumni GMNI: Etika Bernegara Pancasila Untuk Menegakkan Supremasi Sipil

Marhaenist.id, Jakarta – Bangsa ini semakin terus mengalami defisit demokrasi, untuk itu…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?