By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Soekarno Bukan Sekedar Presiden

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto Bung Karno, Presiden Pertama RI saat berada diantara Pemimpin Dunia (Sumber: Arsip Nasional RI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Berbicara tentang Indonesia sebagai sebuah negara merdeka tidak bisa dilepaskan dari sosok pemimpinnya. Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial dalam bentuk negara kesatuan republik.

Dalam sistem ini, presiden memegang dua peran sekaligus, yakni sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Kekuasaan negara dibagi ke dalam tiga pilar utama, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Presiden berada dalam lingkup kekuasaan eksekutif yang bertugas menjalankan undang-undang serta mengelola roda pemerintahan.

Sejak awal kemerdekaan hingga kini, Indonesia telah mengalami delapan kali pergantian presiden. Namun, dari seluruh pemimpin tersebut, nama Ir. Soekarno atau yang akrab disapa Bung Karno, menempati posisi istimewa dalam ingatan kolektif bangsa.

Ia bukan hanya presiden pertama Republik Indonesia, tetapi juga proklamator kemerdekaan dan tokoh sentral yang meletakkan fondasi ideologis serta arah perjalanan bangsa.

Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya, Raden Sukemi Sosrodihardjo, berprofesi sebagai guru, sementara ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, berasal dari Bali. Latar belakang keluarga yang menjunjung pendidikan dan kebudayaan membentuk karakter Soekarno kecil sebagai pribadi yang cerdas dan memiliki rasa ingin tahu tinggi. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan ketertarikan besar pada persoalan bangsa dan nasib rakyat.

Pendidikan menjadi pintu awal pembentukan kesadarannya. Soekarno menempuh pendidikan di Hollands Inlandse School, lalu melanjutkan ke Hogere Burger School di Surabaya.

Di kota inilah ia tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan nasional, yang memperkenalkannya pada gagasan nasionalisme, keadilan sosial, dan perjuangan melawan penjajahan. Pengalaman tersebut membekas kuat dan menjadi bekal ideologis dalam perjalanan hidupnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng—kini Institut Teknologi Bandung—pada tahun 1926 dan meraih gelar insinyur, Soekarno semakin aktif di dunia politik.

Baca Juga:   Bukan Ajaran Dalam Islam, Mari Memahami Apa itu Mazhab Bung Karno!

Pada tahun 1927, ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai wadah perjuangan untuk mencapai kemerdekaan penuh. Aktivitas politiknya yang tegas dan berani membuat pemerintah kolonial Belanda menganggapnya berbahaya. Akibatnya, Soekarno harus merasakan pahitnya penjara dan pengasingan, termasuk di Ende dan Bengkulu. Meski demikian, tekanan tersebut tidak pernah memadamkan semangat juangnya.

Puncak perjuangan itu terjadi pada 17 Agustus 1945. Bersama Mohammad Hatta, Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Peristiwa bersejarah tersebut menandai lahirnya Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Sehari setelahnya, pada 18 Agustus 1945, melalui sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Soekarno secara aklamasi ditetapkan sebagai Presiden Republik Indonesia pertama. Pemilihan ini dilakukan tanpa pemungutan suara, mengingat kondisi negara yang baru berdiri dan membutuhkan kepemimpinan yang kuat serta stabil.

Sebagai presiden, Soekarno memiliki peran besar dalam menyatukan bangsa yang sangat majemuk. Indonesia terdiri atas ratusan suku, bahasa, budaya, dan keyakinan. Melalui perumusan Pancasila sebagai dasar negara, ia menawarkan lima prinsip yang mampu merangkul seluruh elemen bangsa: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Pancasila tidak hanya menjadi dasar konstitusional, tetapi juga falsafah hidup bangsa hingga kini.

Selain dikenal sebagai pemersatu, Soekarno juga merupakan pemikir besar dan ideolog. Berbagai gagasan seperti Marhaenisme, Nasakom, dan konsep Indonesia Berdikari pernah ia tawarkan sebagai jalan pembangunan bangsa. Namun, Pancasila terbukti menjadi ideologi yang paling mampu menjawab kompleksitas Indonesia karena sifatnya yang universal dan inklusif.

Di kancah internasional, Soekarno tampil sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Ia menjadi salah satu penggagas Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955, sebuah forum bersejarah yang mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka.

Baca Juga:   Mengenal Perjalanan Politik Ir. Soekarno

Melalui konferensi ini, Indonesia menegaskan posisinya sebagai bagian dari kekuatan dunia ketiga yang menolak penjajahan dalam bentuk apa pun.

Warisan Soekarno tidak hanya tercermin dalam ide dan kebijakan, tetapi juga dalam karya fisik. Monumen Nasional dan Masjid Istiqlal di Jakarta menjadi simbol kebesaran visi arsitekturalnya, sekaligus penanda identitas nasional.

Melalui pidato-pidatonya yang membakar semangat, Soekarno menanamkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia dan meneguhkan nilai gotong royong.

Kini, puluhan tahun setelah kepergiannya, warisan Bung Karno tetap hidup. Semangat nasionalisme, persatuan, dan keberanian yang ia tanamkan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Soekarno bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol perjuangan dan kecintaan terhadap tanah air yang relevan sepanjang zaman.***


Sumber: Facebook Geo Genius.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB
Spirit Wisanggeni di Tubuh GMNI: Api Ideologi di Tengah Pusaran Konflik
Sabtu, 11 April 2026 | 11:18 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Jangan Mereduksi GMNI Sebagai Wadah Perpanjangan Karir!

Marhaenist.id - Tentunya kita mengucap syukur Alhamdulillah lantaran kita baru saja memperingati…

Kabar Gembira Bagi Marhaenis, Kami Menyiapkan Buku-Buku Bung Karno Secara Gratis Disini!

Marhaenist.id - Sebagai wujud untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan ingin memberikan pengetahuan…

GMNI Surabaya Soroti Kebijakan Parkir Minimarket: Premanisme Dilegalkan Lewat Kebijakan Parkir, UMKM Justru Jadi Korban

Marhaenist.id, Surabaya — Kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang melarang pelaku usaha ritel…

Jelang Pelantikan Prabowo-Gibran, DPP PA GMNI Layangkan Pernyataan Sikap

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Gelar Diskusi Bersama Para Pakar, GMNI Jaksel Bahas Otoritarianisme Legal: Antara Hukum dan Kekuasaan

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Demo Menolak Dinasti Politik dan Pelanggar HAM Bergema di Sejumlah Daerah

Marhaenist.id, Jakarta - Mahasiswa Indonesia kembali turun ke jalan dengan membawa isu…

Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap

Marhaenist id -:Indonesia kerap dibanggakan sebagai salah satu negara dengan keragaman budaya…

Konflik Politik di Buton Selatan Memanas: Bupati dan Wakilnya Saling Lapor, GMNI Kritik Ketidakdewasaan Kepemimpinan Daerah

Marhaenist.id, Buton Selatan -Ketegangan politis semakin tajam di Kabupaten Buton Selatan (Busel)…

Kisruh Koperasi dan MRT Bikin Iklim Usaha Buruk,  Ketua PB Jakarta Apresiasi Kebijakan Pramono Anung

Marhaenist.id, Jakarta - Kisruh  antara Koperasi pedagang  dengan manajemen Plasa 2 Blok…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?