By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Selama Ego Masih Menggebu, Bicara Persatuan di Tubuh GMNI Hanyalah Omong Kosong – Refleksi Perjalanan GMNI

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 4 Juli 2025 | 17:00 WIB
Bagikan
Waktu Baca 10 Menit
Foto: Jansen Henry Kurniawan, Demisioner Ketua Komisariat GMNI UKI 2020-2021/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) adalah fusi peleburan tiga organisasi yang menjadi satu dengan cita-cita mewujudkan sosialisme ala Indonesia sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Bung Karno. Untuk mewujudkan semua cita-cita mulia ini maka diperlukan suatu organisasi konkrit untuk mengejahwantakan cita-cita progresif revolusioner ini. Dibentuklah sebuah organisasi kader berbasiskan mahasiswa yaitu GMNI sebagai alat perjuangan untuk mewujudkan cita-cita Bung Karno.

Dalam perjalanannya GMNI telah melalui berbagai asam garam demi mempertahankan organisasinya sebagai penggerak ajaran Bung karno serta berbagai era telah dilalui baik zaman orde lama ketika Bung Karno sebagai role model gerakan ini berkuasa maupun zaman orde baru serta zaman pasca reformasi hingga saat ini.

Pada jalannya organisasi ini pada tahun 2001 kita pernah dihadapkan pada dualisme organisasi, terjadinya Kongres Luar Biasa (KLB) diSemarang sebagai awal mula terciptanya satu organisasi tetapi ada dua struktur.

Hampir 5 tahun terjadi dinamika ini yang kesemuanya itu hanya mereka yang berproses pada masa itulah yang mengerti dan memahami serta mengetahui apa yang terjadi serta esensi dari terciptanya dualisme.

Hampir 5 tahun peristiwa ini terjadi hingga pada tahun 2006 terjadilah semangat ingin bersatu, di Pangkal Pinang terjadilah Kongres XV (Kongres Persatuan). Kita maju lagi, pada tahun 2016 terjadilah Kongres Luar Biasa Medan di Hotel Candi yang diprakarsai oleh beberapa Badan Kerja Cabang (Bakercab) sebagai bentuk protes yang dilakukan terhadap kepemimpinan Presidium GMNI dizaman kepemimpinan Chrisman Damanik.

Dengan KLB Medan yang menghasilkan beberapa keputusan termasuk terbentuknya Presidium tandingan sehingga dualisme dalam satu organisasi kembali terjadi.

Kongres XXI Ambon terjadi, adanya dinamika yang besar dalam menentukan arah organisasi serta struktur yang akan menjalankan roda-roda organisasi sehingga menghasilkan dua struktur baik yang dihasilkan dari Gedung Christian Center Ambon sebagai lokasi diselenggarakan kongres serta peserta yang tidak setuju dengan alur kongres yang pindah ke Hotel Amaris Ambon.

Akhirnya Kongres XXI Ambon menghasilkan dua kepengurusan DPP yang dipimpin oleh struktrur versi Immanuel Cahyadi dan struktur versi Arjuna Putra Aldino. Artinya terjadi tiga struktur dalam satu organisasi karena Presidium GMNI versi Kongres Luar Biasa Medan pada tahun 2016 yang dipimpin oleh Wonder Infanteri tetap bertahan.

Namun pada tahun 2022 dalam Dies Natalis GMNI ke-68 yang terjadi di Gedung Pusat Perfilman H.Usmar Ismail terjadi rekonsiliasi antara DPP versi Immanuel Cahyadi dengan Presidium GMNI yang menghasilkannya meleburnya Presidium GMNI KLB Medan 2016 dalam DPP versi Immanuel.

Baca Juga:   Kota Balikpapan Belum Merdeka?

Meskipun ditubuh Presidium GMNI KLB Medan ada sebagian yang tidak menyepakati ini sehingga ada beberapa yang juga melebur ke DPP versi Arjuna. Sehingga ada dua poros dalam dinamika yang sudah semakin tidak sehat ini meski Bakercab GMNI Bandung sampai hari ini konsisten bersikap dengan tidak mengakui keduanya.

Beberapa DPD dan DPC yang baru saja melakukan Konsolidasi Nasional yang diselenggarakan di Blitar, Jawa Timur pada 21 Juni-22 Juni 2025. Konsolidasi Nasional yang didasari oleh keresahan dalam melihat realita yang tidak sehat ini dalam tubuh GMNI, sehingga beberapa akar rumput dalam basis GMNI sebagai pemegang kedaulatan tertinggi mencoba untuk mengambil alih jalannya organisasi ini dengan melakukan pemboikotan terhadap DPP baik versi Immanuel Cahyadi maupun Arjuna Putra Aldino dengan tidak mengakui keduanya serta menyuarakan segera dilakukannya Kongres Persatuan untuk menyelamatkan organisasi ini dari dinamika yang sudah tidak sehat lagi.

Bagi saya, disini juga hanya memunculkan tiga poros besar dalam GMNI hari ini yaitu poros versi DPP Immanuel, poros versi DPP Arjuna dan poros ketiga yang tidak mengakui keduanya.

Perbedaan sering dibicarakan oleh GMNI sampai kita melupakan apa esensi yang sejati dari gerakan ini, sangat kompleks untuk menemukan bagaimana mempersatukan para pemangku organisasi yang saling berseteru ini. Menurut hemat saya dengan ilmu saya yang terbatas ini diantara mereka tidak bisa bersatu karena masih tingginya ego sektoral diantara para pemangku GMNI hari ini.

Ego ini bisa dilandasi oleh beberapa motif yaitu bisa saja kepentingan, sentimen segelintir oknum yang satu terhadap oknum yang lain maupun cara pandang dalam menjalankan organisasi.

Membicarakan persatuan adalah hal yang enak untuk dikatakan, tetapi mewujudkan persatuan disitulah tantangan besarnya. Padahal Bung Karno pernah berkata Rodinda (Romantika, Dinamika, Dialektika) namun sering kita terhanyut dalam dinamikanya sampai kita melupakan ada romatika dan dialektika yang harus dilakukan dalam membangun kesatuan.

Disini saya akan coba merumuskan beberapa tantangan dalam membangun persatuan menurut versi saya.

*Masih Mencari Validasi dan Saling Menyalahkan diantara Setiap Porosnya*

Baca Juga:   GMNI Jakarta Menggugat: Menuju Persatuan, Melebarkan ke Internasional

Harus kita sadari GMNI adalah organisasi kader, organisasi kader harus berbasis pada diskursus-diskursus ideologi maupun isu yang berkaitan dengan kerakyatan. Namun dalam percakapan-percakapan GMNI baik digrub whastapp, media sosial bahkan bertatap langsung kita masih disibukkan dengan mempertahankan porosnya dengan kebenarannya dan menyalahkan yang lainnya.

Memang setiap poros hari ini pasti ada benar juga salahnya, terkhusus untuk kedua DPP baik versi Immanuel Cahyadi maupun versi Arjuna Putra Aldino dengan kekurangannya masing-masing tetapi yang menjadi pertanyaan apakah kita akan terus melanjutkan semua ini.

Memposisikan poros kita dengan kita gerbongnya sebagai nabi, sementara poros yang lain sebagai setan apakah ini sehat. Dalam organisasi reward and punishmen dalam bentuk pandangan maupun kritik adalah hal yang lumrah tetapi apabila semua ini dilakukan secara subjektivitas yang membabi buta maka berbicara soal menemukan terang dalam gelap adalah omong kosong karena kita masih sibuk mengutuki kegelapan tanpa mencari secercah cahaya penerang.

Belum adanya Jiwa Kesatria dari Kedua DPP baik Versi Immanuel maupun Arjuna

Apabila kita melihat secara objektif dalam pedoman organisasi maka kedua versi DPP ini sudah jauh dari relnya organisasi. Kongres yang harusnya diselenggarakan 3 tahun sesuai dengan perioderisasi mereka di DPP tidak mereka selenggarakan terlepas dari apapun motifnya kenapa kedua versi DPP ini tidak menyelenggarakan kongres.

Harusnya sejak 2019 mereka menjadi pimpinan tertinggi didalam institusi GMNI maka pada 2022 kongres dapat diselenggarakan, tetapi sampai saat ini kongres tidak terjadi. Bukan mencari kesalahan mereka tetapi inilah faktanya. Belum lagi kondisi-kondisi organisasi yang mereka jalankan, bisa kita saksikan sendiri.

Apabila kedua belah pihak memiliki jiwa kesatria maka baik Immanuel Cahyadi maupun Arjuna Putra Aldino beserta sekjennya bersedia untuk menyudahi kepemimpinannya diorganisasi ini tanpa syarat apapun kalau memang mereka murni mencintai organisasi ini tanpa embel-embel ataupun motif politis seperti isu yang berkembang.

Semua Poros belum Duduk Bersama dalam untuk Konsolidasi Besar GMNI

Bagi saya poros ketiga yang diadakan diBlitar, Jawa Timur oleh segenap akar rumput GMNI adalah akumulasi kemarahan terhadap kedua belah pihak DPP baik versi Immanuel Cahyadi maupun Arjuna Putra Aldino dalam menjalankan organisasi ini serta warisan perpecahan yang belum teratasi sampai saat ini.

Menurut saya ini adalah cara yang tepat dalam menunjukkan kegeraman akibat persatuan yang belum terealiasi hingga saat ini, tetapi yang menjadi pertanyaan apakah kedua belah pihak baik DPP versi Immanuel Cahyadi atau bahkan Arjuna Putra Aldino akan menerima semua hasil konsolidasi ini.

Baca Juga:   Menyoal Pilkada Langsung dan Atau Tak Langsung

Mungkin teman-teman sudah bisa menjawabnya, persoalannya tetap adanya konsolidasi yang dilakukan hanya oleh masing-masing pihak tanpa melibatkan semua pihak yang berdinamika.

Namun untuk mewujudkan itu tidak semudah yang dikatakan, kedua DPP baik versi Immanuel Cahyadi maupun Arjuna Putra Aldino pasti akan tetap pada eksistensinya sebagai DPP yang merasa punya legitimisasi terlepas dari legitimasi tersebut bisa diperdebatkan. Selama ketiga poros ini tidak duduk bersama dalam konsolidasi besar yang terbuka maka bicara persatuan hanya seperti pungguk merindukan bulan.

Sampai Saat Ini Belum ada Deal-Deal untuk Menyelenggarakan Kongres Persatuan dari Semua Poros Secara Bersama-sama

Bicara kongres persatuan tanpa melibatkan semua pihak yang berbeda paham atau salah satu paham yang tidak ingin terlibat maka akan menciptakan kongres persatuan yang tidak murni persatuan, tetapi klaim persatuan.

Kalaupun terjadinya kongres tanpa dilakukan secara bersama-sama sehingga pihak yang tidak puas malah menciptakan kongres versinya sendiri maka sama saja memperpanjang masa aktif perpecahan yang sudah tidak sehat lagi. Kita mengehendaki yang namanya persatuan bukan persatean, selama kongres persatuan tidak diselenggarakan oleh ketiga poros ini maka percuma saja kita bicara soal persatuan karena akan menciptakan api-api perpecahan yang kontra produktif saja sama seperti yang kita alami saat ini.

Hambatan-hambatan ini menurut saya adalah persoalan yang harus segera diatasi, persatuan tanpa embel-embel adalah syarat mutlak untuk terus bertahan dalam gempuran zaman. Betul yang dibilang Bung Karno perjuanganmu lebih berat karena akan melawan bangsamu sendiri, itulah yang kita alami hari ini sebagai seorang GMNI yang ribut dengan sesama kita.

Padahal dalam mewujudkan sosialisme Indonesia sesuai cita-cita GMNI musuh kita harusnya sistem neo-kapitalisme, neo-imperialisme, neo-liberalisme dan berbagai sistem penindasan diera modernisme ini. Jangan kita hanya mampu bicara samenbundeling van alle revolutionare krachten tetapi nol besar dalam kesadaran ingin bersatu akibat ego yang besar.

Panjang umur perjuangan!!!
Merdeka!!!
Jaya!!!
Menang!!!


Penulis: Jansen Henry Kurniawan, Demisioner Ketua Komisariat GMNI UKI 2020-2021.

Discaimer: Tulisan ini menjadi tanggung jawab Si Penulis.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Inisiatif Kebijakan Impor Garam dan Gula

Marhaenist.id - Pemerintah kembali membuka keran impor garam industri dan gula mentah…

GMNI Penajam Desak Evaluasi Proyek RDMP Bukti Lemahnya Pengawasan Disnaker & DPRD

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Duka mendalam menyelimuti kalangan masyarakat Penajam usai insiden longsor…

Krisis Pengungsi Rohingya Berlarut, GMNI: Bukti Lemahnya Diplomasi Pertahanan Kita

Marhaenist.id, Jakarta - Sebanyak 157 orang pengungsi Rohingya mendarat di Desa Karang Gading,…

Mengenang Kongres GMNI Ke XII Tahun 1996 di Grand Mirage Hotel Denpasar Bali

Marhaenist.id - Bercengkrama mengenang saat di GMNI 30 tahun yang lalu, saling…

Megaphone Diplomacy, Upaya Penggalangan Sokongan Publik Penyelenggara Pemilu

Marhaenist - "Megaphone diplomacy" adalah upaya mengandalkan pers untuk manggalang sokongan publik,…

Pernyataan Sikap Politik Konsolidasi Barisan Nasionalis

___________________________________________________ Terdiri dari perwakilan 27 organisasi dan para tokoh kaum Nasionalis BK.…

Pancasila Perlu Diperdalam Oleh Masyarakat

Marhaenist.id - Ketika mempelajari sila pertama (Ketuhanan yang maha esa) seharusnya mempelajari…

Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?

Marhaenist.id - Suatu pagi di tahun 1920-an itu tidak sekadar menjadi kisah…

Penggunaan DAK sebagai Alat Kampanye Politik di Kabupaten Kepulauan Meranti

Marhaenist.id - Kasus di Kabupaten Kepulauan Meranti, di mana Dana Alokasi Khusus…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?