By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Catatan Awal Tahun 2026: Indonesia di Persimpangan Identitas
Melihat Bencana Ekologis Sumatera sebagai Ekosida dan Eko-Terorisme: Kejahatan Terorganisir
Viral! Jerit Tangis di Torete: Saat Laras Panjang Membungkam Hak Warga, Roy Diseret Tanpa Dialog
Kehadiran TNI di Sidang Korupsi Nadiem Makarim Dinilai Ancam Independensi Peradilan, DPP GMNI: Alarm Bahaya Supremasi Sipil
GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Satu Oktober: Nyawa Lenyap, Tragedi Kanjuruhan, dan Pelanggaran HAM

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Senin, 9 Oktober 2023 | 12:58 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Sejumlah pegiat HAM bersama mahasiswa menggelar aksi kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/10/2022). ANTARA FOTO
Bagikan

Penulis: Aryasatya Krishdiansyah (Wakabid Sosial Politik GMNI UINSA Gunung Anyar).

 

Marhaenist.id – 1 Oktober, mungkin saja bisa dikenal sebagai peristiwa yang menyangkut dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Misalnya, tahun 1965, tragedi pembantaian 6 jendral 1 peristiwa yang hanya membutuhkan waktu 6 jam dalam 1 malam yang dibuang kedalam sumur lubang buaya, serta tuduhan anggota maupun simpatisan PKI dibantai 500.000 meninggal dunia tanpa proses pengadilan, berbuntut pada pengkudeta Soekarno sebagai presiden, dan melanggengkan Soeharto sebagai penguasa republik, yang dikenal sebagai rezim Orde Baru yang hampir mayoriyas akademisi menyebutnya rezim otoriter.

Kemudian tahun 2022, tragedi Kanjuruhan yang mengakibatkan lebih dari 135 orang meninggal dunia, di Stadion Kanjuruhan, usai pertandingan antara Arema vs Persebaya dengan skor akhir 2-3. Peristiwa tersebut masih belum menemui titik terang, dalam proses penyelesaian kasus atas insiden tersebut. Bahkan, peristiwa tersebut menjadi perbincangan hangat dikalangan sepakbola internasional. Beberapa klub profesional, seperti klub liga inggris, liga italia, liga spanyol, liga jerman, dll turut merayakan duka cita sebelum pertandingan dimulai.

Tentunya, hal tersebut harus menjadi evaluasi bagi sepakbola Indonesia, melalui reformasi total dalam penyelenggaraan sepakbola. Meskipun, penulis sangat menyayangkan oknum kepolisian yang bertugas sebagai pihak keamanan, justru menembakkan gas air mata yang dilakukan terhadap supporter yang turun ke lapangan. Tujuh tembakan diarahkan ke tribun selatan, satu tembakan ke arah tribun utara, dan tiga tembakan ke arah lapangan.

Meskipun juga terdapat kelalaian terhadap panitia penyelenggara liga, pintu stadion yang seharusnya dibuka 5 menit sebelum pertandingan, masih tertutup rapat. Sehingga penonton yang keluar, berusaha keluar terjebak.

 

Upaya Pengusutan Secara Tuntas sebagai Pelanggaran HAM Berat

Berdasarkan hasil diskusi yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) UIN Sunan Ampel Surabaya, bertempat di kampus 2 UINSA, Gunung Anyar, pukul 15.00 WIB. Beberapa kesimpulan memberikan beberapa catatan penting yakni Pertama, Adanya Intimidasi secara langsung yang diterima keluarga korban dan saksi. Kedua, dugaan Obstruction Of Juctice yang didasari pada laporan tim TGIPF bahwa ada upaya dari Kepolisian mengganti rekaman CCTV.

Baca Juga:   Trisakti Bung Karno: Jalan Ideologis Menghadapi Krisis Bangsa Hari Ini

Ketiga, Terdapat narasi menyesatkan terkait Tragedi Kanjuruhan, Pernyataan Kapolda Jawa Timur yang menyatakan penggunaan gas air mata sudah sesuai SOP. Keempat, Kejanggalan pada peroses peradilan. Aktor yang diproses hanyalah aktor lapangan. Kelima, Minimnya Saksi korban dan keluarga korban maupun dari pihak supporter yang pada saat kejadian berlangsung tengah berada di dalam stadion.

Meskipun demikian, berdasarkan kejanggalan dalam proses penyelesaian hukum tersebut, GMNI UINSA Gunung Anyar bersepakat untuk mendesak pemerintahan Joko Widodo beserta jajarannya, dan stakeholder yang bertanggungjawab untuk lebih kooperatif terhadap penyelesaian tragedi Kanjuruhan. Dengan memakan korban 135 jiwa meninggal dunia merupakan kasus pelanggaran HAM. Terutama institusi kepolisian telah melakukan dehumanisasi, berupa tindakan represif terhadap supporter.

Peristiwa tersebut mengingatkan publik, serta penuh dengan kesadaran bahwa pentingnya memanusiakan manusia. Sebagaimana Bung Karno mengutip pernyataan Mahatma Gandhi, seorang revolusionis India anti-penindasan, mengatakan “My Nationalism Is Humanity” yang artinya Nasionalisme yang memanusiakan manusia lainnya. Yang menentang adanya penindasan antar manusia maupun antar bangsa dan Negara. Karena seyogyanya kita sesama manusia tidak berhak untuk menghilangkan nyawa manusia yang lainnya.

Tentu, penulis juga sebagai kader GMNI, mengedepankan humansme, peristiwa tersebut merupakan hal yang kontradiktif. Karena kemanusiaan adalah tidak menghilangnya nyawa dalam satu bangsa dengan aneka ragam suku, agama, budaya, ras. Kita harus selalu bergotong royong bersatu karena bangsa ini masih membutuhkan semangat toleransi persatuan yang kuat untuk membawa Negara ini maju dan berkembang.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Catatan Awal Tahun 2026: Indonesia di Persimpangan Identitas
Rabu, 7 Januari 2026 | 17:18 WIB
Melihat Bencana Ekologis Sumatera sebagai Ekosida dan Eko-Terorisme: Kejahatan Terorganisir
Rabu, 7 Januari 2026 | 17:00 WIB
Detik-detik Seorang Jurnalis di Morowali ditangkap oleh Aparat Kemanan yang berpakaian preman dan bersenjata Laras Panjang (Sumber: Portal Hukum Indonesia)/MARHAENIST.
Viral! Jerit Tangis di Torete: Saat Laras Panjang Membungkam Hak Warga, Roy Diseret Tanpa Dialog
Rabu, 7 Januari 2026 | 14:27 WIB
Kehadiran TNI di Sidang Korupsi Nadiem Makarim Dinilai Ancam Independensi Peradilan, DPP GMNI: Alarm Bahaya Supremasi Sipil
Rabu, 7 Januari 2026 | 13:39 WIB
GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal
Rabu, 7 Januari 2026 | 04:01 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Gelar PPAB, GMNI Morowali Lahirkan 13 Generasi Baru Pejuang Marhaenis yang Siap Mengabdi untuk Rakyat

Marhaenist.id, Morowali - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Amerika Serikat Bakal Jadi Raksasa Crypto? Sementara El Salvador Sukses, Indonesia Masih Terjebak di Bursa Saja!

Marhaenist.id - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kripto telah mengalami revolusi yang…

Jelang Pesta Demokrasi, GMNI Ajak Masyarakat Kawal Pilkada Damai di Wakatobi

Marhaenist.id, Wanci - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Wujudkan Generasi Emas 2045, DPD GMNI Sulbar Gelar Konferda Ke-II

Marhaenist.id, Mamasa - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Bung Tomo, Sang Orator Si Pembakar Semangat Perjuangan Melawan Penjajah

Marhaenist.id - Sutomo atau dikenal dengan panggilan Bung Tomo tercatat sebagai pahlawan…

GMNI Soroti Debat Pilkada Bantaeng di Makassar: Bikin Malu, Ricuh di Kampung Orang

Marhaenist.id, Makassar - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Aliansi Jombang Bergerak: GMNI dan IKABEMJO Desak DPR dan KPU Patuhi Putusan MK

Marhaenist.id, Jombang – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pengesahan RUU KUHAP Dinilai Terburu-Buru, Kritik Publik Menguat

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang…

Kembalikan Kedaulatan Aggraria di Desa Pamboborang

Marhsenist.id - Kedaulatan agraria adalah suatu kondisi di mana suatu negara, khususnya…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?