By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Kecam Keras Intervensi Militer AS ke Venezuela: Dunia Bukan Milik Satu Negara
KUHP Baru Berlaku 2 Januari 2026, Warganet Soroti Ancaman Kriminalisasi Kritik Hingga Trending Platform X
Geopolitik Marhaenisme di Laut Nusantara, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara: Kedaulatan untuk Rakyat Maritim
Menggugat Patologi Korupsi dan Menagih Restorasi Institusi Penegakkan Hukum
Penangkapan Nicolas Maduro dan Intervensi di Venezuela Bukti Nyata Kebiadapan Amerika Serikat Ingin Memonopoli Dunia

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Refleksi Akhir Tahun: Catatan Fakta dari Negeri Konoha

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 1 Januari 2026 | 19:31 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Ilustrasi Negeri Konoha (Sumber: Gatranews)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di Negeri Konoha, kritik sering dianggap gangguan ketertiban, bukan vitamin demokrasi. Fakta kerap kalah cepat dari sensasi, dan klarifikasi kalah pamor dari intimidasi. Ketika warga bertanya “ke mana anggaran pergi?”, jawaban yang datang justru sering berbelok ke ancaman halus atau kasar.

Di Konoha, data bisa berumur pendek. Hari ini benar, besok direvisi. Bukan karena keliru, melainkan karena kebenaran dianggap fleksibel jika berhadapan dengan kepentingan. Transparansi jadi jargon, akuntabilitas jadi brosur, sementara pengawasan publik diminta sabar.

Ironinya, Konoha gemar menggelar seremoni. Spanduk panjang, pidato meyakinkan, laporan mengkilap. Namun di lapangan, jalan berlubang tetap setia, bantuan tak selalu tepat sasaran, dan suara warga kerap hilang di ruang tunggu birokrasi.

Yang paling unik, di Konoha keberanian sering diuji bukan dengan adu argumen, melainkan adu nyali. Siapa paling keras, dia menang. Siapa bertanya, dia dicurigai. Padahal negeri ini berdiri justru karena tradisi bertanya dan berdebat.

Catatan ini bukan dongeng. Ia hanya cermin kecil agar Konoha ingat, negeri akan kuat bukan karena sunyi dari kritik, melainkan karena berani menjawabnya dengan fakta.

Ketika Kritik Dijawab dengan Ketakutan

Pagi itu, sebuah paket tanpa nama pengirim diletakkan di teras rumah seorang pengkritik kebijakan. Tidak ada surat. Tidak ada penjelasan. Hanya pesan simbolik yang cukup jelas: berhentilah bertanya. Di Negeri Konoha, inilah bentuk dialog baru antara kekuasaan dan warga, sunyi, gelap, dan menekan.

Peristiwa semacam ini bukan insiden tunggal. Dalam setahun terakhir, pola serupa berulang: kritik publik terhadap proyek, bantuan sosial, atau anggaran daerah kerap berujung pada intimidasi non-formal. Bukan melalui bantahan data atau konferensi pers terbuka, melainkan lewat teror personal yang sulit dilacak, namun efektif menebar rasa takut.

Baca Juga:   Mengawal Pemilihan Kepala Daerah Dengan Keterbukaan Informasi Publik

Transparansi yang Berhenti di Spanduk

Secara normatif, Konoha memiliki seluruh perangkat demokrasi: aturan keterbukaan informasi, mekanisme pengaduan, hingga forum partisipasi publik. Namun di lapangan, transparansi sering berhenti pada baliho dan rilis seremonial.

Dokumen perencanaan proyek dapat diakses, tetapi laporan realisasi, detail pengadaan, hingga pembanding harga pasar kerap tak tersedia. Permintaan data mentah dijawab dengan prosedur berlapis, tenggat molor, atau rujukan antarinstansi yang berputar. Bagi warga biasa, kelelahan administratif menjadi penghalang pertama untuk mengawasi.

Ruang Kritik yang Menyempit

Forum dengar pendapat digelar rutin, tetapi keputusan penting sering kali telah diambil sebelumnya. Kritik dicatat, jarang diintegrasikan. Ketika pengawasan datang dari luar jalur resmi: jurnalis independen, aktivis, atau warga terdampak—responnya berubah defensif.

Labelisasi menjadi senjata. Pengkritik disebut tidak paham teknis, punya agenda tersembunyi, bahkan dianggap mengganggu stabilitas. Strategi ini bekerja halus: bukan membantah substansi, melainkan meruntuhkan kredibilitas penanya.

Intimidasi Tanpa Seragam

Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi kekerasan non-fisik. Tidak ada aparat berseragam, tidak ada surat perintah. Yang ada hanya pesan anonim, ancaman hukum yang selektif, dan stigma sosial. Secara hukum sulit dibuktikan, tetapi secara psikologis dampaknya nyata.

Beberapa narasumber memilih diam. Bukan karena tidak punya data, melainkan karena memahami risikonya. Di Konoha, keberanian sering dibayar mahal, sementara keheningan dianggap aman.

Penegakan Hukum yang Timpang

Ketimpangan terlihat jelas ketika kasus dengan kerugian publik besar berjalan lamban, sementara perkara yang menyentuh kepentingan elite bergerak cepat. Aparat hukum tampak responsif terhadap laporan tertentu, namun abai terhadap laporan lainnya.

Ketergantungan struktural antara kekuasaan politik dan penegakan hukum menciptakan kesan bahwa hukum bukan alat keadilan, melainkan instrumen kenyamanan. Bukan semua salah, tetapi cukup untuk menimbulkan ketidakpercayaan.

Baca Juga:   Raymundus Sau Fernandes dalam Kenangan: Marhaenis Sejati dan Pancasilais yang Teguh

Narasi Lebih Penting dari Fakta

Alih-alih membuka data mentah, Konoha memilih mengelola opini. Rilis pers diproduksi masif, namun ruang tanya dibatasi. Media kritis ditekan secara halus, sementara media yang patuh diberi akses.

Dalam ekosistem ini, kebenaran bukan soal bukti, melainkan soal siapa yang paling dulu membingkai cerita.

Negeri yang Takut pada Pertanyaan

Negeri Konoha tidak runtuh karena kekurangan aturan. Ia retak karena takut diawasi. Ketika pertanyaan dianggap ancaman, dan kritik dijawab dengan teror, yang mati pertama bukan stabilitas melainkan kepercayaan.

Dan sejarah selalu mencatat satu hal: negeri yang membungkam pertanyaan, sedang menggali lubangnya sendiri. Bukan dengan suara keras, tetapi dengan sunyi yang dipaksakan.

Kesimpulannya jelas: masalah Konoha bukan kekurangan aturan, melainkan kekurangan keberanian untuk diawasi. Demokrasi diperlakukan sebagai prosedur lima tahunan, bukan praktik harian. Padahal, tanpa kritik yang aman dan data yang terbuka, kebijakan akan terus berjarak dari kenyataan.

Catatan ini disusun bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan: negeri mana pun yang alergi pada pertanyaan, sedang menyiapkan krisisnya sendiri.

Catatan ini adalah sebuah Investigasi Singkat tentang Kekuasaan, Ketakutan, dan Pembungkaman yang ada di negeri Konoha.***


Catatan Redaksi, Ditulis Oleh: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Kecam Keras Intervensi Militer AS ke Venezuela: Dunia Bukan Milik Satu Negara
Senin, 5 Januari 2026 | 16:18 WIB
KUHP Baru Berlaku 2 Januari 2026, Warganet Soroti Ancaman Kriminalisasi Kritik Hingga Trending Platform X
Senin, 5 Januari 2026 | 13:35 WIB
Geopolitik Marhaenisme di Laut Nusantara, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara: Kedaulatan untuk Rakyat Maritim
Senin, 5 Januari 2026 | 13:34 WIB
Menggugat Patologi Korupsi dan Menagih Restorasi Institusi Penegakkan Hukum
Senin, 5 Januari 2026 | 00:56 WIB
Penangkapan Nicolas Maduro dan Intervensi di Venezuela Bukti Nyata Kebiadapan Amerika Serikat Ingin Memonopoli Dunia
Minggu, 4 Januari 2026 | 19:07 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Sikap GMNI Bandung: Bandung Bukan Arena Konsolidasi Patologi, Tetapi Historis Manifestasi Persatuan Ideologi

Marhaenist.id - Di Bandung, Soekamo tak hanya belajar menuntut ilmu, melainkan membangun…

Foto: Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, Dendy Se. MARHAENIST

Momentum HUT TNI, GMNI Jaksel Desak Prabowo: TNI Kembali ke Barak, Hentikan Bisnis Militer & Hapus Komando Teritorial!

Marhaenist.id, Jakarta - Dalam momentum Hari Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia…

Pancasila di Persimpangan Jalan: Ideologi, Identitas, dan Realitas Sosial

Marhaenist.id - Setiap tanggal 1 Juni, kita memperingati Hari Lahir Pancasila —…

Ziarah ke Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur Bunga: Ada Gulungan Perkamen di Tembok Gapura (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 4)

Marhaenist.id, Blitar - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Guntur Soekarnoputra dalam peluncuran buku Catatan Merah Dari Putera Bung Karno Jilid 3, 19 Oktober 2022. MARHAENIST

Guntur Soekarnoputra: Pancasila Adalah Ideologi Kiri

Marhaenist - Putra pertama Presiden Soekarno (Bung Karno), yang juga merupakan Ketua…

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI

Marhaenist.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) adalah salah satu organisasi mahasiswa…

Menumbuhkan Nilai-nilai Pancasila di Era Digitalisasi

Marhaenist.id - Untuk mendasarkan kehidupan kita pada Pancasila, tak cukup dengan sekedar…

Ahmad Basarah Resmi Ditunjuk Jadi Jubir PDIP, Inilah Tugasnya!

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan…

Sepakbola Indonesia di selimuti awan hitam menyusul tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (01/10/2022) malam WIB. FILE/Ist. Photo

Tragedi Kanjuruhan, GBN Desak Jokowi Segera Mereformasi Polri

Marhaenist - Gerakan Bhinneka Nasionalis (GBN) turut berbelasungkawa sekaligus menyatakan prihatin, atas…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?