By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Politik Inklusif Ganjar Pranowo

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Senin, 28 Agustus 2023 | 13:03 WIB
Bagikan
Waktu Baca 8 Menit
Aji Cahyono, penulis merupakan Mahasiswa Magister Interdisciplinary Islamic Studies, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Dok Pribadi.
Bagikan

Perhelatan kontestasi politik melalui Pemilihan Umum 2024 semakin dekat dan berjalan dinamis. Tersiarnya kabar bahwa sederet politisi maupun relawan politik melakukan konsolidasi demi terciptanya kerjasama politik ataupun koalisi. Pentingnya kesepahaman dan keselarasan politik demi menciptakan gagasan yang ideal, dalam rangka membangun sebuah peradaban bangsa yang saling keterhubungan satu dengan yang lain.

Daftar Konten
Elektabilitas dan Popularitas Ganjar PranowoPolitik Inklusif: dari Komunikasi Politik Menjadi Program Kerja Kerakyatan

Bagi penulis, kunci terpenting untuk menjadi magnet politik adalah dengan cara komunikasi politik. Salah satu contoh komunikasi politik yang ideal yakni politik inklusif, dengan cara menggunakan bahasa politik yang sederhana, dan dimengerti oleh rakyat. Sehingga yang dimaksudkan bahwa politik inklusif yakni cara tokoh politik bertemu langsung dengan akar rumput, yakni rakyat.

Misalnya, komunikasi politik bersifat inklusif yakni kinerja tokoh politik untuk menarik simpatisan publik, tentu sederet gagasan yang harus diperhatikan adalah kesejahteraan rakyat yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dengan kebermanfaatan secara kolektif dan berkelanjutan. Bukan hanya formalistik seremonial yang bersifat populistik.

Tokoh politik yang menjadi pemimpin, haram hukumnya jika menjauh dengan rakyat. Begitupun sebaliknya, hukumnya haram jika rakyat menjauh atau bahkan apatisme dengan pemimpinnya. Oleh karena itu, pentingnya kerjasama antara pemimpin dengan rakyat dalam mewujudkan satu kesatuan yang utuh, yang dilakukan secara gotong royong.

Komunikasi politik berhasil jika tokoh politik melakukan konsolidasi dengan rakyat, sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri selalu menginstruksikan kepada kadernya untuk rajin turun kebawah, mengamati kondisi sosial serta mendengarkan aspirasi rakyat.

Dalam studi kasus PDI-P, dalam pandangan subyektif penulis berdasarkan pengamatan sosial, Megawati Soekarnoputri dalam penyampaian dimedia massa pun geram terhadap kadernya, jika kebijakan politik kadernya tidak sesuai dengan prinsip ideologis yang bersumber dari ajaran Bung Karno. Atau bahkan jika menemukan kadernya ‘macak’ elit feodalistik (tidak sesuai dengan politik gagasan wong cilik), yang dikhawatirkan adalah persepsi publik menjumpai kader PDI-P dalam perilaku politiknya cenderung eksklusif, berpotensi menggerus eksistensi PDI-P, sehingga tipologi tersebut harus diantisipasi dengan cara deteksi dini.

Baca Juga:   YLBHI: 10 Faktor Jokowi Layak Disebut Pemimpin Korup dan Pelanggar Hukum dan HAM Terorganisir

Hal yang wajar, terdapat fenomena politik jika Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri mengeluarkan surat keputusan untuk memecat kadernya yang pembangkang, eksklusivisme, serta jauh dari nawacita ideologi partai politik. Mengapa demikian ? bagi penulis, dikhawatirkan menjadi boomerang tersendiri bagi PDI-P, sebagai partainya wong cilik dengan mempertahankan citra partai yang bersifat inklusif, bukan ekslusif.

Oleh karena itu, mandat yang diberikan oleh kader PDI-P terhadap Megawati Soekarnoputri, melalui kongres 2019 di Bali, Ketum mempunyai hak preogatif dalam menentukan keputusan politiknya di PDI-P. Hasil kongres 2019 tidak serta merta keputusan tersebut secara sepihak, melainkan berdasarkan pertimbangan yang masak, menuju arah gerak partai itu tersendiri.

Hal ini dibuktikan dengan data survey yang dirilis oleh Litbang Kompas periode Agustus 2023, PDI-P menempati posisi teratas dengan dukungan elektabilitas 24,4%, naik 1% dari survey Mei 2023, dengan elektabilitas 23,4%. Terpaut jauh dengan peringkat dibawahnya, menempati posisi kedua, yakni Partai Gerindra yang hanya mendapatkan dukungan elektabilitas 18,9%, naik 0,3% dari survey Mei 2023, dengan elektabilitas 18,6%.

Dukungan elektabilitas PDI-P, tidak terlepas dengan penggemblengan kaderisasi politik yang dilakukan oleh PDI-P. Sehingga dalam proses kaderisasi diharapkan dapat menghasilkan tokoh politik yang mampu mewarisi ajaran The Founding Father, yakni Bung Karno sebagai referensi utama kaderisasi politik yang dilakukan oleh PDI-P.

Dalam konteks perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang, melalui proses panjang dan pertimbangan kriteria, baik dari segi pemikiran, olah rasa, dan implementasi pengalaman politiknya, maka PDI-P secara bulat mengusung kadernya sendiri yakni Ganjar Pranowo. Dalam perjalanan karier politiknya, Ganjar Pranowo pernah menjabat di Lembaga Legislatif, yakni DPR-RI dan lembaga eksekutif, yakni Gubernur Jateng 2 periode, yang bakal selesai dalam masa jabatannya pada 5 September 2023.

Baca Juga:   Refleksi Perjuangan R.A Kartini: Emansipasi Perempuan dalam Ruang Ketenagakerjaan

 

Elektabilitas dan Popularitas Ganjar Pranowo

Bagi penulis, bahwa Ganjar Pranowo merupakan tokoh politik yang dikenal mampu menjadi aktor intelektual sipil berlatarbelakang politisi yang mempunyai jiwa leadership dan mengorganisir aspirasi rakyat, terutama dalam hal menyangkut kesejahteraan rakyat. Bahkan dalam perjalanan kehidupan pribadinya yang berlatarbelakang dari sipil yang sederhana, untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada, ia merelakan untuk menjual bensin eceran.

Sehingga, dugaan penulis, yang bersangkutan selama menjadi Gubernur Jawa Tengah (Jateng), yang menjadi konsentrasi program prioroitas dalam kebijakan publik adalah pengentasan kemiskinan di Jateng. Hal ini didasarkan pada hasil release yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, jumlah penduduk miskin Jateng pada Maret 2023 berada di angka 3,79 juta orang (10,77 persen) penduduk miskin, turun 0,21% jika dibanding dengan September 2022 dengan jumlah 3,86 juta orang (10,98%) penduduk miskin (turun sejumlah 66,73 ribu).

Hal tersebut dibuktikan dari beberapa lembaga riset yang tersiar di media massa, menunjukan bahwa popularitas tokoh politik seperti Ganjar Pranowo menempati posisi teratas. Misalnya, berdasarkan hasil survey Litbang Kompas, yang diwartakan oleh Harian Kompas, berdasarkan simulasi 3 calon presiden dengan catatan kriteria calon tersebut melanjutkan program dari Presiden Jokowi (berlatarbelakang sipil), Calon Presiden (Capres) Ganjar Pranowo menempati posisi teratas dengan elektabilitas 36,9%. Kemudian Capres Prabowo Subianto, dengan modal latarbelakang militer, menempati posisi kedua 35,4%, dan Capres Anies Baswedan hanya menempati posisi ketiga dengan elektabilitas 22,1%.

Selain itu, berdasarkan indeks kelompok persepsi memandang kinerja pemerintah Jokowi – Ma’ruf, Ganjar Pranowo menempati posisi teratas dengan kelompok paling positif menilai kinerja pemerintah, dengan presentase 87,3%. Pendukung Prabowo Subianto menempati posisi ketiga dengan presentase 74,3%, dibawahnya persepsi pendukung Ridwan Kamil menempati posisi kedua, dengan presentase 75,0%. Sedangkan persepsi pendukung Anies Baswedan, menempati posisi kelima dengan presentase elektabilitas 52,6%.

Baca Juga:   Integritas vs Manipulasi: Tantangan Lembaga Survei Dalam Pemilihan Kepala Daerah

 

Politik Inklusif: dari Komunikasi Politik Menjadi Program Kerja Kerakyatan
Program Kerja Presiden RI, Joko Widodo
Program Kerja Gubernur Jawa Tengah Periode kedua, Ganjar Pranowo 

Berdasarnya gambar diatas merupakan potret dari politik inklusif yang mempunyai keselarasan, serta bermanfaat dan berdampak nyata bagi rakyat. Politik inklusif harus menjadi pegangan bagi tokoh politik, selama menjabat di lembaga Negara, baik legislatif maupun eksekutif. Dalam konteks lembaga eksekutif, politik inklusif dapat diterapkan melalui komunikasi politik antara pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah. Salah satu caranya yakni harmonisasi kebijakan, serta keselarasan dan kesinambungan program kerja, yang berwatak kerakyatan.

Ataupun bisa menggunakan skema penterjemahan program prioritas dari pemerintahan pusat oleh pemerintahan daerah. Seperti halnya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dapat menterjemahkan program kerja prioritas dari Presiden Joko Widodo. Sehingga, kesinambungan program kerja dengan pendekatan Politik Inklusif, diharapkan mampu memberikan kontribusi secara langsung agar rakyat mendapatkan dampaknya.

Contohnya, melalui Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jateng mendukung akselerasi kebijakan pusat menyangkut yakni; a) penurunan stunting; b) penghapusan kemiskinan ekstrem menjadi 0 persen; c) Percepatan Eliminasi Malaria; d) Pengendalian Inflasi; e) Implementasi Satu Data Indonesia; serta f) Kondusivitas Wilayah.

 

*) Penulis bernama Aji Cahyono, Mahasiswa Magister Interdisciplinary Islamic Studies, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Bertahan Ditengah Badai: Sebuah Refleksi Perjalanan Bersama GMNI

Marhaenist.id - Perjalanan saya di GMNI bukanlah kisah yang tenang di permukaan…

DPC PA GMNI Humbahas Ajak Kampus di Sumut Gerakkan Mahasiswa sebagai Relawan Pemulihan Psikologis Anak Korban Bencana

Marhaenist.id, Humbang Hasundutan — Bencana alam yang kembali melanda sejumlah wilayah di…

Jadi PM Baru dan Termuda di Thailand, Ini Rekam Jejak Paetongtarn Shinawatra

Marhaenist.id - Parlemen Thailand telah melakukan pemungutan suara atas pencalonan Paetongtarn Shinawatra, putri…

Cegah Korupsi, GMNI Desak KPK & Kejaksaan Lakukan Pengawasan Ketat pada Program Air Bersih Gratis di PPU

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Penajam Paser…

GMNI Bersama Masyarakat Mamuju Tengah Gelar Aksi di Kantor ATR/BPN, Desak Pencopotan Kepala BPN

Maehaenist.id, Mamuju Tengah -Puluhan kader dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang…

Gelar Dialog Nasional, Alumni GMNI: Etika Bernegara Pancasila Untuk Menegakkan Supremasi Sipil

Marhaenist.id, Jakarta – Bangsa ini semakin terus mengalami defisit demokrasi, untuk itu…

Reformasi Disabotase: Ketika TNI dan Polri Ingin Berkuasa Lagi

Marhaenist.id - Reformasi 1998 adalah tonggak sejarah penting dalam demokratisasi Indonesia. Salah…

Menukil Kembali Kisah Pindahnya Ibukota Republik ke Yogyakarta

Marhaenist.id - Yogyakarta menjadi tempat amanat kebangsaan untuk pertama kali disampaikan dalam perayaan…

ABC Dialektika Materialis, Trotsky 1939

Marhaenist.id - Belakangan ini, terutama sejak runtuhnya Tembok Berlin, ada serangan yang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?