By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Pilkada Tak Langsung dan Ancaman Berulang Bagi Lingkungan Hidup

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 7 Januari 2026 | 19:59 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Bung dan Sarinah GMNI Pasuruan (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Wacana mekanisme pemilihan kepala daerah kepada DPRD kembali muncul ke permukaan. Dalihnya klasik yaitu efisiensi anggaran, stabilitas politik, dan mengurangi konflik horizontal. Namun di balik argumen teknokratis itu, ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan jarang dibicarakan secara jujur yaitu masa depan lingkungan hidup.

Pemilihan kepala daerah secara langsung, dengan segala kekurangannya, setidaknya memberi ruang bagi rakyat untuk menentukan arah kepemimpinan daerahnya. Rakyat terutama masyarakat yang hidup di sekitar hutan, pesisir, gunung, dan sumber air punya kepentingan langsung terhadap siapa yang memegang kendali kebijakan. Ketika hak memilih itu ditarik dan diserahkan sepenuhnya kepada DPRD, maka jarak antara pengambil keputusan dan warga terdampak menjadi semakin lebar.

Masalahnya, DPRD bukan ruang hampa kepentingan. Ia adalah arena politik yang didominasi partai-partai. Dan di sinilah letak soal seriusnya. Tidak sedikit partai politik yang hari ini mendorong pilkada tak langsung justru memiliki rekam jejak panjang dalam mendukung kebijakan-kebijakan yang merusak lingkungan. Mulai dari pembukaan tambang di kawasan lindung, alih fungsi hutan untuk perkebunan skala besar, reklamasi pesisir, hingga proyek-proyek infrastruktur yang mengabaikan daya dukung ekologis.

Dalam praktik politik elektoral, kepala daerah kerap menjadi simpul penting bagi izin-izin lingkungan. Ketika pemilihnya adalah rakyat, setidaknya ada tekanan moral dan politik untuk mempertimbangkan suara publik. Tetapi jika pemilihnya hanya segelintir elite di DPRD, maka orientasi kebijakan berpotensi bergeser sepenuhnya pada kepentingan partai dan jejaring modal yang menopangnya.

Pilkada oleh DPRD membuka ruang transaksi yang lebih tertutup. Lobi-lobi politik menjadi lebih intens, lebih senyap, dan lebih sulit diawasi publik. Dalam situasi seperti ini, isu lingkungan hampir selalu menjadi korban pertama. Ia kalah oleh logika “balas jasa politik”, kebutuhan pembiayaan partai, dan kepentingan investor yang menginginkan karpet merah perizinan.

Baca Juga:   Krisis Penyerapan Susu Lokal Menuai Aksi Simbolis Mandi Susu di Boyolali

Mari bicara apa adanya. Selama ini, kerusakan lingkungan di Indonesia tidak lahir dari ruang kosong. Tapi lahir dari keputusan politik. Dan keputusan politik itu, dalam banyak kasus, dibuat oleh elite partai baik di pusat maupun di daerah yang punya hubungan erat dengan industri tambang, perkebunan skala besar, properti, dan proyek infrastruktur rakus lahan.

Dari perspektif ekologi politik (political ecology), kerusakan lingkungan bukan persoalan teknis, melainkan hasil relasi kuasa yang timpang. Siapa yang berkuasa menentukan siapa yang menanggung dampak. Dalam sistem pilkada tak langsung, relasi kuasa itu semakin timpang. Elite politik dan pemodal berada di satu sisi, sementara rakyat dan lingkungan berada di sisi yang dikorbankan.

Teori ini menjelaskan mengapa konflik agraria, kriminalisasi warga, dan pembungkaman pembela lingkungan terus berulang. Negara hadir bukan sebagai pelindung, tetapi sebagai pengaman investasi. Ketika DPRD menjadi penentu kepala daerah, maka negara lokal sepenuhnya jatuh ke dalam orbit kepentingan partai dan modal.

Pengalaman selama 2 dekade terakhir menunjukkan bahwa banyak kerusakan lingkungan di Indonesia bukan terjadi karena ketiadaan regulasi, melainkan karena kolusi antara penguasa daerah, partai politik, dan pemodal. Maka, mempersempit partisipasi rakyat dalam menentukan kepala daerah justru berisiko melanggengkan pola lama. Kekuasaan yang berjarak dari rakyat dan abai terhadap keberlanjutan lingkungan.

Karena itu, wacana pilkada tak langsung bukan sekadar soal mekanisme demokrasi, tetapi soal keberpihakan. Apakah negara masih percaya pada kedaulatan rakyat, atau justru memilih menyerahkannya pada elite politik yang rekam jejak ekologisnya bermasalah. Jika jawabannya yang kedua, maka kerusakan lingkungan bukan hanya akan berlanjut, tetapi dilembagakan secara politik.***


Penulis: Dandy Aulia Rachman, Ketua DPC GMNI Pasuruan.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, Prabowo Subianto, Pertandingan Melawan Korupsi

MARHAENIST - Indonesia memulai sebuah era baru, memilih presiden secara langsung pada…

Interview Gunawan ‘Kawier’ Hartono Bakal Calon Walikota Yogyakarta Dari PDI Perjuangan

Marhaenist - Pilkada Kota Yogyakarta bakal digelar November 2024 mendatang. Nama-nama bakal…

Menjawab Klaim ke PDIP, GMNI Tegas Mengatakan Bahwa Ia adalah Organisasi Independen

Marhaenist.id - Meskipun sama-sama berlogo banteng, pada dasarnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan…

DPD PA GMNI Jakarta Raya Bakal Gelar Diskusi Publik Edisi Khusus Pra-Konferda V

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

DPK GMNI FEB UNPAM Kolaborasi bersama Kompak Gelar Diskusi Kebebasan Beragama

Marhaenist.id, Tangsel - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pasang Surut Semangat Kartini dalam Gerakan Emansipasi Perempuan era Modern

Marhaenist.id - Perempuan, seringkali dianggap sebagai orang kedua atau pelengkap peran daripada laki-laki.…

Maknai Hari Ibu sebagai Refleksi Kritis Perjuangan Perempuan, GMNI Jember: Dari Manifesto Gerakan Perempuan menuju Ritual Sentimental

Marhaenist.id, Jember — Dalam rangka memperingati Hari Ibu, Dewan Pimpinan Cabang (DPC)…

Anggota Wantimpres Soekarwo dan rombongan bersama Bupati Malang M Sanusi (paling kiri) pada saat meninjau Stadion Kanjuruhan, di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (06/10/2022). TELEGRAF/Koeshondo W. Widjojo

Kunjungi Stadion Kanjuruhan, Wantimpres Siapkan Data Primer Bagi Jokowi

Marhaenist - Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menyiapkan data-data primer untuk disampaikan kepada…

GMNI Pandeglang Ingatkan Anggota Dewan, Masih Banyak Jalan Rusak

Marhaenist.id, Pandeglang- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) melakukan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?