Marhaenist.id, Papua — Papua disebut berada di ambang krisis ekologis serius menyusul masifnya pemberian izin konsesi lahan, mulai dari pertambangan, perkebunan sawit, hingga hutan tanaman industri.
Meski kerusakan lingkungan belum sepenuhnya tampak di permukaan, para aktivis lingkungan menegaskan bahwa degradasi ekologis di Papua kini hanya tinggal menunggu waktu.
Berdasarkan data konsesi yang kini terbuka ke publik, hampir seluruh wilayah Papua telah terpetakan dalam blok-blok izin usaha. Gugatan hukum atas sejumlah konsesi disebut telah dilalui, sementara ruang hidup masyarakat adat dan ekosistem alami terus menyempit secara perlahan namun pasti.
Pola ekspansi ini dinilai bukan fenomena baru. Setelah Sumatera dinyatakan “habis” akibat eksploitasi sumber daya alam, gelombang investasi besar berlanjut ke Kalimantan dan Sulawesi. Kini, Papua menjadi sasaran berikutnya.
Dalam sebuah pidato sebelum terjadinya sejumlah bencana ekologis, Menteri Pertanian Raja Juli Antoni menyampaikan rencana pemerintah menyiapkan kawasan pangan seluas sekitar 481 ribu hektare di Merauke, Papua Selatan. Kawasan tersebut dilegalkan melalui keputusan menteri pada tahun 2025.
Namun fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi sebaliknya. Data kebencanaan mencatat, Kabupaten Merauke menjadi wilayah dengan akumulasi kebakaran hutan tertinggi, memunculkan kekhawatiran serius terkait dampak dari kebijakan pembukaan lahan skala besar.
Aktivis lingkungan Iqbal Damanik menilai kondisi ini sebagai indikasi kuat bahwa bencana ekologis bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan konsekuensi langsung dari kebijakan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan alam.
“Selama pola pemerintahan dan cara pandang terhadap alam tidak berubah, maka bencana akan terus berulang, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain,” ujar aktivis lingkungan tersebut.
Papua, dengan kekayaan hutan dan keanekaragaman hayatinya yang tersisa, kini dinilai berada di titik kritis. Tanpa perubahan kebijakan dan perlindungan serius terhadap lingkungan serta masyarakat adat, Papua disebut hanya tinggal menunggu waktu menuju krisis ekologis yang lebih besar.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.