By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal
Warga TPU Kebun Nanas Didampingi GMNI Jakarta Timur dan Yayasan Teman Baik Ajukan Pengaduan ke Komnas HAM RI
Polemik Pembangunan Kopdes Merah Putih, GMNI Kendari Bongkar Dugaan Penyerobotan Lahan Warga oleh Kepala Desa Polindu
GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis
Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Pancasila di Persimpangan Algoritma

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 19 Desember 2025 | 13:06 WIB
Bagikan
Waktu Baca 8 Menit
Foto: Karyono Wibowo, Sekretariat Dewan Pakar DPP PA GMNI (Sumber: YouTube Akurat.co)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Arus informasi saat ini tidak lagi mengalir secara netral. Ia disaring, dipilah, dan diarahkan oleh algoritma—mekanisme matematis yang bekerja di balik layar platform digital untuk menentukan apa yang kita lihat, baca, dan percayai. Dalam kehidupan sehari-hari, algoritma ikut menentukan berita apa yang muncul di beranda, isu apa yang dianggap penting, bahkan emosi apa yang dibangkitkan.

Dalam situasi semacam ini, Pancasila tidak sedang berhadapan dengan ideologi lain secara frontal, tatap muka (vis a vis), melainkan diuji dalam senyap di ruang digital: apakah ia mampu bertahan sebagai kerangka etis di tengah logika algoritmik yang mengutamakan atensi, emosi, dan keterbelahan?

Ujian tersebut semakin nyata dalam konteks demokrasi elektoral. Pemilu kini tidak hanya ditentukan oleh adu gagasan dan rekam jejak kandidat, tetapi juga oleh bagaimana perhatian publik dikelola di ruang digital. Kampanye politik memanfaatkan media sosial, analisis data, dan kecerdasan artifisial (AI) untuk memproduksi pesan secara masif dan terpersonalisasi.

Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa praktik micro-targeting politik berbasis data personal telah menjadi fenomena global, dengan risiko manipulasi persepsi pemilih yang sulit terdeteksi secara kasat mata.

Algoritma media sosial pada dasarnya dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science menunjukkan bahwa konten bermuatan emosi—terutama kemarahan dan ketakutan—menyebar jauh lebih cepat dibandingkan informasi faktual yang netral (Vosoughi, Roy, & Aral).

Logika ini mendorong komunikasi politik yang sensasional dan simplistis. Akibatnya, ruang publik digital semakin terfragmentasi. Individu terkurung dalam echo chamber, hanya berinteraksi dengan pandangan yang mengafirmasi keyakinannya sendiri.

Cass Sunstein mengingatkan bahwa kondisi ini berbahaya bagi demokrasi karena warga tidak lagi berbagi kerangka fakta yang sama sebagai dasar diskusi publik. Fragmentasi tersebut berkelindan dengan polarisasi politik dan sosial. Algoritma tidak menciptakan perbedaan, tetapi memperdalam dan memperkerasnya. Riset Iyengar dan koleganya menunjukkan bahwa polarisasi kontemporer tidak lagi semata perbedaan ideologi, melainkan polarisasi afektif—perasaan tidak suka, curiga, bahkan benci terhadap kelompok lain.

Baca Juga:   Ekonomi Perhatian dan Krisis Kesadaran: Algoritma, Kekuasaan, dan Arsitektur Kendali Pikiran

Dalam konteks pemilu, lawan politik dengan mudah dipersepsikan sebagai ancaman eksistensial, bukan sebagai sesama warga negara yang sah. Demokrasi pun bergeser dari ruang deliberasi menuju arena konflik emosional yang terus direproduksi oleh mesin algoritmik. Di sinilah banalitas kebenaran menemukan momentumnya.

Pemikiran Hannah Arendt tentang banality of evil—yaitu kejahatan dapat dilakukan oleh orang biasa yang tidak jahat secara inheren melainkan karena ketidakmampuan berfikir kritis tanpa refleksi moral—related dengan kondisi di era algoritma yang menghadirkan banalitas kebenaran di mana informasi tidak lagi dinilai dari kebenaran faktual atau nilai etiknya, melainkan dari seberapa sering ia dibagikan dan seberapa kuat resonansi emosionalnya. Orang menjadi banal ketika mereka berhenti berpikir, berhenti bertanya, dan hanya menjadi “roda penggerak” dari sistem algoritma,akhirnya mengabaikan konsekuensi moral dari tindakan mereka.

Dalam iklim seperti ini, disinformasi politik, teori konspirasi, dan manipulasi visual berbasis AI menemukan lahan subur. Demokrasi berjalan di atas fondasi pengetahuan yang rapuh. Dalam lanskap semacam ini, Pancasila kerap direduksi menjadi slogan seremonial. Ia hadir dalam pidato, baliho, dan peringatan resmi, tetapi absen dalam praktik komunikasi publik sehari-hari, terutama di ruang digital. Padahal, persoalan utama disrupsi informasi bukan semata-mata soal teknologi, melainkan krisis etika bersama.

Tanpa kerangka nilai yang kokoh, algoritma akan terus mengarahkan nalar publik ke jurang sensasionalisme dan konflik. Pancasila berisiko menjadi simbol kosong jika tidak dihidupkan sebagai pedoman etis yang operasional. Padahal sejatinya, jika dipahami secara substantif, Pancasila justru menyediakan perangkat etis untuk menghadapi disrupsi ini.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan bahwa sebagai bangsa yang bertuhan dalam melaksanakan kebebasan berekspresi tidak boleh terlepas dari tanggung jawab moral. Dalam konteks demokrasi digital, kebebasan berbicara tidak dapat dijadikan pembenaran untuk manipulasi informasi, fitnah politik, atau eksploitasi sentimen identitas demi kemenangan elektoral. Tujuan politik tidak menghalalkan segala cara.

Baca Juga:   Politik Inklusif Ganjar Pranowo

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan bahwa setiap interaksi digital tetap melibatkan martabat manusia. Di balik setiap akun media sosial ada individu yang memiliki hak untuk dihormati. Praktik perundungan, ujaran kebencian, dan dehumanisasi—yang sering diperkuat oleh anonimitas dan algoritma—bertentangan dengan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Kampanye berbasis AI yang memperlakukan pemilih semata sebagai objek data, bukan subjek rasional, juga menyimpan persoalan etik yang serius.

Sila Persatuan Indonesia menjadi antitesis langsung terhadap fragmentasi algoritmik. Persatuan tidak berarti meniadakan perbedaan pandangan politik, tetapi menolak eksploitasi perbedaan untuk memecah belah bangsa. Dalam demokrasi, perbedaan pilihan dan pandangan adalah keniscayaan. Namun ketika perbedaan itu direkayasa dan diperkeras demi trafik dan dukungan digital, kohesi sosial berada dalam ancaman. Pancasila menuntut etika kompetisi politik yang menjaga persatuan, bahkan setelah pemilu usai.

Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan menjadi semakin relevan di era algoritma. Jürgen Habermas menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan ruang publik deliberatif, tempat argumen diuji secara rasional dan inklusif. Demokrasi tidak dapat direduksi menjadi trending topic, likes, atau views. Ketika kampanye politik hanya mengejar viralitas, kualitas musyawarah publik tergerus, dan kebijaksanaan digantikan oleh viralitas.

Menurut Habermas, demokrasi hanya dapat bekerja secara sehat apabila warga negara memiliki ruang untuk bertukar argumen secara rasional, setara, dan bebas dari dominasi kekuasaan—baik kekuasaan negara maupun pasar. Ketika ruang publik dikolonisasi oleh logika algoritma, deliberasi publik kehilangan kedalaman dan orientasi normatifnya.

Dalam konteks media sosial yang digerakkan algoritma, peringatan Habermas menjadi sangat relevan: demokrasi berisiko direduksi menjadi sekadar arus opini yang dikendalikan popularitas dan kecepatan, bukan proses musyawarah yang berlandaskan kebijaksanaan.

Baca Juga:   Dunia Berubah Total dalam Lima Tahun

Adapun sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menyingkap dimensi struktural disrupsi informasi. Data OECD menunjukkan bahwa rendahnya literasi digital berkorelasi dengan tingginya kerentanan terhadap disinformasi.

Tidak semua warga memiliki kemampuan yang sama untuk memilah informasi atau memahami cara kerja algoritma. Dalam situasi ini, negara tidak boleh absen. Pendidikan literasi digital, regulasi kampanye berbasis teknologi, serta perlindungan terhadap hak-hak warga merupakan bagian dari tanggung jawab negara.

Menempatkan Pancasila sebagai kerangka etis berarti menggeser fokus dari sekadar “melawan hoaks” ke membangun ekosistem informasi yang beradab. Ini mencakup transparansi algoritma, akuntabilitas platform digital, serta keberanian negara dan masyarakat sipil untuk menuntut etika teknologi, sebagaimana diingatkan oleh para pengkaji tata kelola platform digital seperti Tarleton Gillespie. AI dan media sosial bukan ruang netral, melainkan ruang kekuasaan yang harus diatur secara demokratis.

Tanpa langkah-langkah tersebut, ketahanan ideologi akan semakin rapuh, kalah cepat dari algoritma yang menguasai ruang digital dan mengendalikan logika publik. Demokrasi pun berisiko kehilangan ruhnya—berubah menjadi sekadar prosedur elektoral yang dikendalikan oleh arus informasi yang tidak sehat.

Persimpangan algoritma adalah momen pilihan. Apakah Pancasila akan tetap menjadi rujukan etik yang hidup, atau sekadar penanda identitas formal di tengah banjir informasi digital? Jawabannya tidak terletak pada nostalgia ideologis, melainkan pada keberanian kolektif—negara, platform, dan warga—untuk menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam praktik komunikasi politik dan digital sehari-hari. Di situlah ketahanan ideologi benar-benar diuji: bukan di ruang upacara, tetapi di linimasa kita, tempat demokrasi Indonesia hari ini dijalankan.***


Penulis: Karyono Wibowo Sekretaris Dewan Pakar DPP PA GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Pasaman Kutuk Keras Penganiayaan Brutal terhadap Ibu Saudah, Korban Penolak Tambang Emas Ilegal
Rabu, 7 Januari 2026 | 04:01 WIB
Warga TPU Kebun Nanas Didampingi GMNI Jakarta Timur dan Yayasan Teman Baik Ajukan Pengaduan ke Komnas HAM RI
Rabu, 7 Januari 2026 | 02:04 WIB
Polemik Pembangunan Kopdes Merah Putih, GMNI Kendari Bongkar Dugaan Penyerobotan Lahan Warga oleh Kepala Desa Polindu
Selasa, 6 Januari 2026 | 23:30 WIB
GMNI Gelar Dialog Terbuka Kader, Bahas Tantangan dan Potensi Organisasi Ideologis
Selasa, 6 Januari 2026 | 22:03 WIB
Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas
Selasa, 6 Januari 2026 | 19:47 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI: Istana Harusnya Refleksi, Bukan Menuduh Civitas Akademika

Marhaenist.id, Jakarta - Di tengah kemunculan kritik sejumlah civitas akademika terhadap Presiden…

GMNI Pertanyakan Kenaikan Laba Pertamina Ditengah Kesulitan Masyarakat Akibat Kenaikan BBM

Marhaenist - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP…

Nyalon Wali Kota Yogyakarta, Kawier GeHa Kembalikan Formulir Pendaftaran ke DPC PDI Perjuangan

Marhaenist - Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Senin 20 Mei 2024, Gunawan…

Gelar Kongres Persatuan, DPC GMNI Ternate Dorong Adanya Rekonsoliasi Nasional

Marhaenist.id, Ternate - Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akan segera mengelar Kongres…

Ganjar Akan Buka Lapangan Kerja dan Siapkan SDM Unggul saat Kampanye di Manado

Marhaenist.id, Manado – Ganjar Pranowo, berjanji akan membuka lapangan kerja dan menyiapkan…

Gelar Dialog Nasional, Alumni GMNI: Etika Bernegara Pancasila Untuk Menegakkan Supremasi Sipil

Marhaenist.id, Jakarta – Bangsa ini semakin terus mengalami defisit demokrasi, untuk itu…

6 Orang Resmi Ditetapkan Sebagai Tersangka Terkait Tragedi Kanjuruhan

Marhaenist - Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, yang menewaskan 131 orang…

Ketua TPN: Quick Count Bukan Hasil Akhir, Tunggu Rekapitulasi Manual KPU

Marhaenist.id, Jakarta – Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar- Mahfud menyatakan semua barisan…

Implikasi Putusan MK Yang Menghapus Presidential Threshold

Marhaenist.id - Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan ketentuan Pasal 222 UU…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?