By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Tekankan Peran Kewirausahaan dalam Memperkuat Ekonomi Rakyat dan Kaderisasi
Spirit Masjid Jogokaryan: Islam Modern yang Riil dalam Bingkai Marhaenisme
Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar
Konflik Agraria di Kawasan Transmigrasi Kotabaru, DPP GMNI Soroti Dugaan Penyerobotan Lahan dan Kriminalisasi Warga
Setan-Setan Pendidikan Dalam Bingkai Indonesia Emas 2045

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

OJK di Persimpangan Jalan, Reformasi Atau Politisasi?

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Selasa, 10 Februari 2026 | 22:13 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Suasana perkantoran Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (Foto: M. Zulfikar)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pengunduran diri serentak jajaran pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Januari 2026 adalah peristiwa langka yang mengguncang kepercayaan publik. Dalam satu hari, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi, hingga Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan mundur. Alasan resmi yang disampaikan adalah bentuk tanggung jawab atas gejolak pasar. Namun, publik membaca lebih jauh: ada krisis tata kelola yang tidak bisa ditutup dengan narasi formal.

Daftar Konten
Apa Yang Terjadi Dengan Free Float di IndonesiaKrisis Kepercayaan dan Tata KelolaAncaman PolitisasiJalan ReformasiPengawasan PublikSinergi Lintas Lembaga

Apa Yang Terjadi Dengan Free Float di Indonesia

OJK menaikkan batas minimal free float saham dari 7,5% menjadi 15%. Langkah ini memengaruhi 327 emiten dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp203 triliun. Tujuannya adalah memenuhi standar Morgan Stanley Capital International (MSCI) agar saham Indonesia tetap relevan dalam indeks global.

MSCI mengubah metodologi perhitungan free float dengan menggunakan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia. Hal ini membuka peluang bagi emiten Indonesia untuk masuk ke indeks MSCI, yang dianggap penting oleh pelaku pasar karena meningkatkan daya tarik bagi investor global.

OJK dan Self-Regulatory Organization (SRO) melakukan reformasi struktural untuk menyesuaikan dengan standar MSCI, termasuk menetapkan standar likuiditas baru. Langkah ini dikaitkan dengan upaya menjaga status Indonesia sebagai pasar emerging market dan memulihkan kepercayaan investor global.

Ada tiga institusi utama SRO di Indonesia yaitu: (1) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyelenggarakan dan menyediakan system dan sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek; (2) Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) yang menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminan penyelesaian transaksi bursa dan bertindak sebagai Central Counterparty (CCP); dan (3) Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menyediakan jasa custodian sentral dan penyelesaian transaksi efek.

Baca Juga:   Hari Internasionalisasi Pancasila sebagai Spirit Pembangunan Semesta Berencana Nasional

Faktanya, MSCI memang berperan besar dalam menentukan arus modal global. Banyak investor institusional hanya berinvestasi pada saham yang masuk indeks MSCI. Sementara itu kebijakan free float dapat ditafsirkan sebagai peningkatan standar agar saham Indonesia lebih likuid dan transparan. Ini bisa dilihat sebagai bentuk integrasi ke pasar global, bukan semata-mata konspirasi. Disisi lain ada kritik bahwa timing kebijakan saat rupiah melemah memang bisa menimbulkan persepsi bahwa Indonesia tunduk pada tekanan global. Namun, regulator menekankan bahwa ini adalah strategi untuk memperkuat daya saing pasar modal Indonesia.

Krisis Kepercayaan dan Tata Kelola

Pasar modal adalah ekosistem yang sangat sensitif terhadap sinyal. Ketika kebijakan free float diumumkan menaikkan batas minimum kepemilikan publik dari 7,5% menjadi 15%, pasar bereaksi keras. Kebijakan ini memengaruhi 327 emiten dengan kapitalisasi Rp203 triliun. Tujuannya jelas: memenuhi standar MSCI agar saham Indonesia tetap relevan dalam indeks global. Namun, timing kebijakan bertepatan dengan pelemahan rupiah, sehingga menimbulkan persepsi bahwa regulator tidak peka terhadap kondisi domestik. Lebih dari itu, komunikasi kebijakan yang minim memperkuat dugaan adanya agenda tersembunyi. Investor dan publik merasa tidak diajak bicara. Ketika pimpinan
regulator mundur serentak, narasi yang muncul bukan sekadar akuntabilitas, melainkan lemahnya tata kelola.

Ancaman Politisasi

Di tengah krisis ini, muncul kabar bahwa Mukhamad Misbakhun, seorang politisi DPR, masuk bursa calon Ketua OJK. Jika benar terpilih, ini akan menjadi preseden penting: lembaga yang dirancang independen justru dipimpin oleh figur politik. Independensi OJK, yang seharusnya menjadi benteng dari intervensi politik, bisa terkikis. Investor asing sangat sensitif terhadap isu independensi regulator. Ketidakpastian ini berpotensi memperburuk volatilitas IHSG dan rupiah.

Baca Juga:   (Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka) Bukan Emas, Melainkan Indonesia (C)emas: Indonesia Menuju Kehancuran Raya

Pertanyaannya sederhana: apakah OJK akan menjadi lembaga teknokratis yang menjaga stabilitas keuangan, atau berubah menjadi arena politik yang rentan intervensi?

Jalan Reformasi

Krisis ini harus dibaca sebagai momentum reformasi kelembagaan. Ada tiga langkah mendesak:

Seleksi pimpinan transparan. Proses pemilihan Ketua dan anggota Dewan Komisioner harus dilakukan melalui panitia seleksi independen, dengan keterlibatan akademisi, asosiasi profesi, dan masyarakat sipil.

Pengawasan berlapis. Audit internal dan eksternal harus diperkuat, dengan keterlibatan BPK dan KPK untuk memastikan tidak ada konflik kepentingan.

Kebijakan berbasis data. Setiap regulasi harus disertai analisis dampak yang dipublikasikan, sehingga publik bisa menilai rasionalitas kebijakan.

Pengawasan Publik

Reformasi kelembagaan tidak cukup tanpa pengawasan publik. OJK harus membuka ruang partisipasi masyarakat melalui forum konsultasi kebijakan. Laporan kinerja harus diterbitkan secara triwulanan, bukan hanya tahunan. Mekanisme whistleblower harus diperkuat agar pelanggaran bisa dilaporkan dengan aman. Media dan akademisi harus diberi akses data yang cukup untuk melakukan analisis independen.

Dengan mekanisme ini, OJK tidak hanya lebih kuat secara kelembagaan, tetapi juga lebih legitimate di mata publik. Investor akan melihat regulator yang transparan dan akuntabel, sementara masyarakat merasa punya ruang untuk mengawasi.

Sinergi Lintas Lembaga

OJK tidak bisa bekerja sendiri. Koordinasi dengan Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan BEI harus diperkuat. Model penta helix governance melibatkan pemerintah, akademisi, bisnis, masyarakat sipil, dan media bisa menjadi kerangka pengawasan yang lebih komprehensif. Regulasi harus adaptif menghadapi dinamika global, tetapi tetap berpijak pada kepentingan nasional.

Pengunduran diri massal pimpinan OJK dan BEI adalah alarm keras. Ia menandakan rapuhnya fondasi tata kelola pasar uang dan modal kita. Jika momentum ini hanya diisi dengan pergantian orang, krisis kepercayaan akan berulang. Namun jika dijadikan titik balik untuk reformasi kelembagaan dan penguatan pengawasan publik, OJK bisa lahir kembali sebagai regulator yang independen, transparan, dan akuntabel.

Baca Juga:   Nominasi OCCRP dan Beban Berat Presiden Prabowo

Indonesia membutuhkan OJK yang kuat, bukan OJK yang “masuk angin” karena intervensi politik. Reformasi kelembagaan dan pengawasan publik adalah jalan satu-satunya untuk memulihkan kepercayaan, menjaga stabilitas, dan memastikan pasar modal kita tidak menjadi korban kepentingan sesaat.


Penulis : Prasetijono Widjojo M.J. Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Tekankan Peran Kewirausahaan dalam Memperkuat Ekonomi Rakyat dan Kaderisasi
Kamis, 12 Februari 2026 | 14:27 WIB
Spirit Masjid Jogokaryan: Islam Modern yang Riil dalam Bingkai Marhaenisme
Rabu, 11 Februari 2026 | 18:52 WIB
Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar
Rabu, 11 Februari 2026 | 11:53 WIB
Konflik Agraria di Kawasan Transmigrasi Kotabaru, DPP GMNI Soroti Dugaan Penyerobotan Lahan dan Kriminalisasi Warga
Rabu, 11 Februari 2026 | 10:37 WIB
Setan-Setan Pendidikan Dalam Bingkai Indonesia Emas 2045
Selasa, 10 Februari 2026 | 23:04 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Ketum PA GMNI: Transisi Demokrasi Tak Boleh Set Back ke Era Sebelum Reformasi

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Umum DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

PFM Dorong Penetapan Status Bencana Nasional di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Marhaenist.id, Jakarta – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Papua Barat…

Diajari Menanam Cabai, Emak-Emak di Jakarta: Hemat Pengeluaran

Marhaenist - Relawan Mak Ganjar membagikan sekitar 25.000 pohon cabai beserta media…

Bung Karno dan Ibundanya Tercinta Ida Ayu Nyomang Rai

Marhaenist.id - Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dikenal tidak hanya sebagai…

Pidato Bung Karno Tentang Ide Kebangsaan Indonesia

Marhaenist.id - Ide sudah mengalami beberapa fase. Fase pertama, fase kesukuan. Dalam…

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. REUTERS/Andika Wahyu

CSIS Sebut PDIP Kalah Populer Dari Golkar, Ini Alasannya

Marhaenist - Hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menempatkan…

Che Guevara – Sosialisme dan Manusia di Kuba

Kawan tercinta: Meskipun terlambat, saya tetap berusaha menyelesaikan catatan ini dalam rangkaian…

Di Banyuwangi, Atikoh Sampaikan Pentingnya Gunakan Hak Pilih

Marhaenist.id, Banyuwangi - Siti Atikoh Ganjar mengajak masyarakat untuk datang ke Tempat…

Civitas Academica Universitas Dr. Moestopo mengeluarkan Maklumat Hang Lekir: Moestopo Menggugat, Demokrasi Tidak Baik-baik Saja/Marhaenist.id.

Sembilan Maklumat Hang Lekir: Moestopo Menggugat, Demokrasi Tidak Baik-Baik Saja

Marhaenist.id, Jakarta – Civitas Academica Universitas Dr. Moestopo beragama mengeluarkan sembilan Maklumat…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?