By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Menjadikan Organisasi sebagai Ratu Adil

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 3 Oktober 2025 | 00:17 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Dhiva Trenadi Pramudia, Institut Marhaenisme 27 (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Fenomena influencer politik yang beberapa waktu belakangan ini ramai menjadi diskursus di media sosial. Ia melahirkan dua kubu: pertama, yang melihatnya sebagai bentuk hegemoni gerakan yang justru mereduksi eskalasi perjuangan; kedua, yang menganggapnya sebagai kemajuan karena kelas menengah mengambil kepeloporan. Dari sini muncul istilah performative activism:gerakan yang sibuk membangun citra alih-alih mendorong perubahan mendasar.

Fenomena ini tak bisa dilepaskan dari pembacaan historis mengenai mentalitas masyarakat Indonesia yang kerap menunggu hadirnya sosok penyelamat — messias atau Ratu Adil. Pola ini dapat ditelusuri sejak H.O.S. Tjokroaminoto, munculnya Soekarno, hingga figur Jokowi pada 2014(kita harus akui ini). Dalam narasi historis kebangsaan, rakyat sering menaruh harapan pada figur luar biasa yang diyakini mampu membebaskan mereka dari penindasan.

Namun, miskonsepsi tentang Ratu Adil tidak bisa dibiarkan. Persoalan mendasar justru terletak pada arah gerak ke depan. Hari ini kita melihat influencer politik dijadikan sekadar ornamen demokrasi semu: DPR RI menerima aspirasi mereka hanya untuk mempertontonkan bahwa demokrasi masih berjalan. Terlepas apakah tuntutan itu menyentuh akar persoalan atau tidak, praktik ini menunjukkan hadirnya performative democracy — demokrasi yang hanya bergerak di level gimik.

Tulisan ini tidak bermaksud menyerang mereka yang bergerak. Apa yang mereka lakukan tetap berharga di tengah kaburnya musuh rakyat hari ini. Namun, kita perlu kembali merumuskan apa yang kerap disalahpahami: Ratu Adil.

Pada 1902, jauh sebelum Revolusi Oktober 1917, Lenin menulis pamflet terkenalnya What Is To Be Done? Burning Questions of Our Movement. Di dalamnya ia menekankan pentingnya organisasi revolusioner yang disiplin dan berkesadaran kelas. Di sana pula ia menulis kalimat legendaris: “Beri kami organisasi revolusioner, maka kami akan menjungkirbalikkan Rusia!”Kalimat ini tentu tak bisa diterima mentah-mentah tanpa melihat kondisi objektif Indonesia, tetapi memberi satu pelajaran penting: tidak ada perubahan nyata tanpa organisasi yang maju.

Baca Juga:   MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan

Demikian pula kalimat Soekarno yang masyhur: “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Saya dalam hal ini menangkap bahwa maksud Bung Karno bukanlah sepuluh individu semata, melainkan sepuluh pemuda yang berorganisasi. Hanya lewat organisasi pemuda bisa ditempa, dididik, dan berjuang secara terarah.

Dalam konteks ini, menarik apa yang disampaikan Airlangga Pribadi. Menurutnya, gagasan Soekarno tentang Ratu Adil bukanlah figur tunggal yang turun dari langit, melainkan rakyat yang sadar dan terorganisir. Soekarno melakukan demitologisasi konsep Ratu Adil Jawa dengan memaknainya sebagai energi kolektif bangsa yang bangkit melalui organisasi politik. Dengan kata lain, Ratu Adil adalah rakyat yang mengambil alih nasibnya sendiri melalui organisasi dan perjuangan.

Sayangnya, budaya organisasi revolusioner hari ini kian melemah. Kritik internal gerakan yang seharusnya menjadi otokritik justru sering disalahpahami sebagai crab mentality, seolah hanya ingin menjegal kawan sendiri. Padahal, tanpa otokritik, gerakan hanya akan jalan di tempat. Influencer politik boleh saja mengambil kepeloporan, tetapi itu harus dibarengi kerja nyata yang berakar di masyarakat: membangun kesadaran luas bahwa kita semua sesungguhnya tertindas.

Kemandekan gerakan juga tak bisa dilepaskan dari kegagalan organisasi progresif itu sendiri: gagal mengikuti perkembangan zaman, gagal menguasai narasi publik, gagal menyediakan ruang aman, hingga tentu saja terbentur pelarangan ideologi Marxis-Leninis di Indonesia. Semua ini membatasi perkembangan organisasi revolusioner di negeri ini.

Di titik inilah relevan semboyan samenbundeling van alle progressief-revolutionaire krachten — persatuan seluruh kekuatan progresif-revolusioner. Istilah ini pernah ditekankan Soekarno dalam pidatonya “Subur, Subur, Suburlah PKI”(HUT ke-45 PKI, 1965). Bung Karno menegaskan bahwa perjuangan bangsa hanya akan berhasil apabila ia merupakan samenbundeling van alle revolutionaire krachten yaitu penyatuan segenap kekuatan revolusioner anti-imperialisme, anti-kapitalisme, dan anti-feodalisme.

Baca Juga:   Andai Bank BRI Jadi Bank Koperasi Seperti Desjardins Bank

Tanpa persatuan semacam ini, kekuatan rakyat akan terus tercerai-berai, hanya menjadi riak-riak sporadis yang mudah dipadamkan rezim dan modal. Penyatuan kekuatan progresif tidak berarti meniadakan perbedaan, melainkan menjadikannya kekayaan strategis dalam sebuah front persatuan melawan penindasan dan ketidakadilan. Sejatinya, jalan menuju pembebasan nasional dari penindasan hanyalah melalui persatuan nasional.

Jika kita sungguh-sungguh ingin melahirkan Ratu Adil baru, jawabannya bukanlah sosok karismatik dengan banyak pengikut atau demagog kosong yang menjual kutipan kiri. Ratu Adil sejati adalah organisasi yang maju, disiplin, mengakar, dan bersatu. Hanya melalui organisasi semacam itu kesadaran rakyat dapat disalurkan menjadi kekuatan historis yang mampu mendorong perubahan struktural menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur sesuai cita-cita Revolusi Agustus 1945.***


Penulis: Dhiva Trenadi Pramudia, Institut Marhaenisme 27.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Selasa, 21 April 2026 | 22:17 WIB
Ilustrasi Gambar tentang "Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan" karya Noufal Hanif (Desain AI)/MARHAENIST.
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Selasa, 21 April 2026 | 20:10 WIB
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Selasa, 21 April 2026 | 10:25 WIB
Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Abdy Yuhana: Kongres IV PA GMNI Adalah Kongres Gagasan

Marhaenist - Persatuan Alumni GMNI Jawa Barat menggelar acara wellcoming dinner yang…

Rakyat, Pajak, dan Hak Pilih: Kenapa Pilkada Lewat DPRD Harus Kita Tolak

Marhaenist.id - Memasuki awal tahun 2026, wacana mengembalikan mekanisme Pemilihan Kepala Daerah…

GMNI Jaksel dan Pakar Desak Pertanggungjawaban Etik-Moral Gibran dan Dinasti Politik Jokowi

Marhaenist.id, Jakarta - Berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, akademisi, dan pengamat hukum, terus…

Pasangan Hasto-Wawan Temui Warga Masyarakat Penerima PIP

MARHAENIST - Pasangan calon walikota dan wakil walikota Yogyakarta yang diusung oleh…

Ajaran Dasar Dalam Pendidikan Yang Terlupakan

Marhaenist.id -Setiap tanggal 2 mei kita memperingati hari pendidikan Nasional, tapi untuk…

Anak yang Diracuni dan Tubuh yang Ditertibkan

Marhaenist.id - Saat anak-anak jatuh sakit akibat makanan dari kebijakan negara dan…

IHSG Anjlok!!!

Marhaenist.id - IHSG di Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan…

Lanyangkan Pernyataan Sikap, GMNI Sulut: Akhiri Dualisme, Tolak Intervensi dan Jaga Persatuan

Marhsenist.id, Manado – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Bulan Bung Karno, Momentum Kembali ke Jalan Ideologi

Marhaenist.id - Bulan juni bukan sekadar bulan kelahiran Bung Karno bagi kami…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?