
Marhaenist.id, Situbondo — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Situbondo resmi meluncurkan Program Sanggar Sarinah sebagai langkah strategis untuk memperkuat penerapan nilai-nilai nasionalisme di kalangan mahasiswa dan generasi muda, Selasa (17/2/2026).
Program ini diharapkan menjadi ruang kaderisasi ideologis sekaligus pelestarian budaya bangsa di lingkungan kampus dan masyarakat.
Peluncuran program yang berlangsung di Situbondo ini dirancang sebagai wadah pembinaan ideologi, pengembangan karakter, dan ruang diskusi kebangsaan yang menitikberatkan pada semangat cinta tanah air serta keberpihakan kepada rakyat.
Selain kegiatan kajian dan pelatihan ideologis, Sanggar Sarinah juga menghadirkan pelatihan dan pertunjukan tari budaya sebagai bentuk konkret pelestarian warisan nusantara.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas bangsa sekaligus menghidupkan kembali kebudayaan lokal di kalangan mahasiswa.
Ketua DPC GMNI Situbondo, Dony Anugerah Putra, menegaskan bahwa Sanggar Sarinah bukan sekadar program seni, melainkan bagian dari gerakan ideologis organisasi.
“Sanggar Sarinah adalah ruang kaderisasi yang memadukan nasionalisme dan kebudayaan. Kami ingin menghadirkan perempuan dan generasi muda yang sadar sejarah, bangga pada budaya bangsa, serta siap bergerak untuk rakyat. Nasionalisme tidak hanya dipahami dalam diskusi, tetapi juga diwujudkan dalam karya dan aksi nyata,” ujarnya.
Senada dengan itu, Sekretaris DPC GMNI Situbondo, Moch Nabil Quraisi, menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk konsistensi organisasi dalam menjaga dan menguatkan nilai-nilai kebangsaan.
“Melalui Sanggar Sarinah, kami ingin membangun kesadaran kolektif bahwa budaya adalah identitas perjuangan. Tari dan seni bukan hanya ekspresi, tetapi juga media pendidikan karakter dan penguatan persatuan. Kami berharap program ini mampu menjadi ruang tumbuhnya kader yang progresif, nasionalis, dan berkomitmen pada cita-cita perjuangan,” jelasnya.
Program pelatihan tari budaya tersebut dibimbing langsung oleh pelatih tari, Yesy Nafa Triana, yang menyatakan komitmennya untuk membina peserta agar tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memahami makna filosofis dari setiap gerakan tari tradisional.
“Tari adalah identitas dan cerminan nilai bangsa. Melalui Sanggar Sarinah, kita tidak hanya belajar menari, tetapi juga belajar mencintai dan menjaga kebudayaan kita sendiri,” tuturnya.
Dengan hadirnya Sanggar Sarinah, GMNI Situbondo optimistis dapat menghadirkan gerakan kaderisasi yang tidak hanya berbasis wacana, tetapi juga menyentuh ranah kebudayaan sebagai fondasi penting dalam membangun nasionalisme yang berakar pada jati diri bangsa.
Program ini diharapkan menjadi ruang tumbuhnya generasi muda yang berkarakter, nasionalis, serta berkomitmen pada perjuangan rakyat dan bangsa.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.