By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Spirit Wisanggeni di Tubuh GMNI: Api Ideologi di Tengah Pusaran Konflik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNI

GMNI Jakarta Timur Soroti Carut-Marut Program MBG, Desak Evaluasi Total Pemerintah

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 9 April 2026 | 15:22 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Jansen Henry Kurniawan, Ketua DPC GMNI Jakarta Timur (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur menyoroti pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai masih jauh dari prinsip akuntabilitas dan keberpihakan kepada rakyat, terutama di tengah kondisi ekonomi nasional yang belum sepenuhnya stabil.

Ketua DPC GMNI Jakarta Timur, Jansen Henry Kurniawan, menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia pada awal 2026 menunjukkan paradoks antara stabilitas makro dan tekanan nyata yang dirasakan masyarakat.

Menurutnya, meskipun konsumsi rumah tangga masih tumbuh sekitar 5,11 persen, daya beli masyarakat justru mengalami penurunan akibat inflasi yang tidak diimbangi kenaikan upah riil.

“Tekanan ini terlihat dari menyusutnya kelas menengah, di mana sekitar 1,1 juta orang turun kelas, sementara kelompok rentan bertambah hingga 4,5 juta orang. Ini menjadi sinyal serius bagi ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Di tengah kondisi tersebut, GMNI menilai pelaksanaan program MBG yang seharusnya menjadi solusi peningkatan kualitas gizi dan persiapan bonus demografi 2035 justru diwarnai berbagai persoalan.

Beberapa kasus dugaan penyimpangan anggaran disebut terjadi di sejumlah daerah, seperti di Sleman pada 2026 dengan kerugian sekitar Rp200 juta dan di Pekalongan pada 2025 sekitar Rp114 juta.

Selain itu, GMNI juga menyoroti temuan di lapangan terkait buruknya pengelolaan operasional program, mulai dari penggunaan kendaraan yang tidak sesuai peruntukan, fasilitas yang tidak higienis, hingga pelanggaran standar oleh sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Fakta ini menunjukkan lemahnya sistem pengawasan dan kontrol. Program yang seharusnya melayani rakyat justru membuka ruang penyimpangan,” tegas Jansen.

Sorotan juga diarahkan pada pengadaan kendaraan operasional berupa motor listrik dalam jumlah besar. Tercatat sebanyak 25.000 unit direncanakan pada 2025, dengan realisasi 21.801 unit hingga awal 2026 dan nilai anggaran mencapai sekitar Rp1,2 triliun.

Baca Juga:   Wacana Kenaikan BBM, GMNI Soroti Penyelewengan Distributor

GMNI menilai kebijakan tersebut menimbulkan pertanyaan serius terkait urgensi dan efektivitasnya, terutama di tengah kondisi masyarakat yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam pernyataannya, GMNI mengingatkan kembali ajaran Soekarno dalam Di Bawah Bendera Revolusi, yang menekankan bahwa negara harus berpihak pada kaum marhaen dan mengelola sumber daya secara adil serta efisien.

“Atas dasar itu, kami menilai pengelolaan MBG saat ini bertolak belakang dengan semangat tersebut,” tambahnya.

Sebagai bentuk sikap politik organisasi, DPC GMNI Jakarta Timur menyampaikan tiga tuntutan utama kepada pemerintah:

  1. Mendesak Prabowo Subianto untuk melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan Program MBG.
  2. Meminta pencopotan Dadan Hindayana sebagai kepala Badan Gizi Nasional (BGN) selaku leading sector program.
  3. Mendesak penghentian sementara Program MBG hingga pemerintah dinilai siap menjalankannya secara tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.

GMNI menegaskan bahwa program strategis nasional seperti MBG tidak boleh dijalankan secara serampangan, mengingat menyangkut masa depan generasi bangsa dan kepercayaan publik terhadap negara.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB
Spirit Wisanggeni di Tubuh GMNI: Api Ideologi di Tengah Pusaran Konflik
Sabtu, 11 April 2026 | 11:18 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Bakal Mundur dari Kabinet, Mahfud Soroti Pejabat yang Pakai Fasilitas Negara Buat Politik

Marhaenist.id, Semarang - Calon wakil presiden nomor urut 3 Mahfud MD menyatakan…

Maraknya Politik Uang di Pilkada Ini Kata Bawaslu DKI Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI menilai penanganan politik uang menjadi…

Keraton Surakarta dan Gagasan Negara Kebudayaan Soekarno

Marhaenist.id - Keributan yang terjadi dalam prosesi penyerahan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan…

GMNI Surabaya Soroti Kebijakan Parkir Minimarket: Premanisme Dilegalkan Lewat Kebijakan Parkir, UMKM Justru Jadi Korban

Marhaenist.id, Surabaya — Kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang melarang pelaku usaha ritel…

Revisi UU TNI: Ancaman Serius Bagi Demokrasi Indonesia

Marhaenist.id - Kita sedang menghadapi bahaya laten. Revisi UU TNI yang sedang…

Inilah Alasan Soekarno tidak Menginginkan Masjid Istiqlal Dibangun dengan Kayu

Marhaenist.id - Gagasan pembangunan Masjid Istiqlal pertama kali muncul pada tahun 1944,…

Pemerintah Harus Siapkan Jaminan Sosial Menyeluruh Bagi Masyarakat Miskin Ekstrem

Marhaenist - Dewan Pengurus Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA…

Foto: Kosmas Mus Guntur, Praktisi Hukum Asal NTT/MARHAENIST.

Praktisi Hukum Desak Kapolda NTT & Kapolres Manggarai Barat Serius Tangani Dugaan Tambang Emas Ilegal di Dekat TNK

Marhaenist.id, Manggarai Barat – Praktisi hukum asal Nusa Tenggara Timur, Kosmas Mus…

Soekarno-Khrushchev Diantara Kemesraan Indonesia dan Uni Soviet

Marhaenist - Sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, Indonesia dan Uni Soviet menjalin…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?