By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

GMNI dan Teologi Perlawanan: Iman yang Menggugat, Ideologi yang Menghukum

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 8 Desember 2025 | 09:29 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Advokat dan Alumni GMNI (Sumber: Jakartasatu.com)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia hari ini adalah panggung besar tempat kekuasaan menari di atas punggung rakyatnya. Jalan-jalan penuh baliho pecitraan, televisi dipenuhi narasi penjinakan, dan ruang publik direduksi menjadi etalase tempat elite saling memamerkan legitimasi pura-pura.

Di tengah itu, ada generasi yang tetap menolak tunduk—generasi yang lahir dari api Marhaenisme dan dibesarkan oleh tradisi perlawanan: GMNI. Tetapi kali ini ada sesuatu yang lebih dalam, lebih radikal, lebih berbahaya bagi setiap tirani: teologi perlawanan yang menyatu dengan ideologi Marhaenisme, Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, serta Ketuhanan yang melampaui ritualisme banal.

Marhaenisme bukan sekadar teori ekonomi-politik; ia adalah gugatan metafisik terhadap sistem yang membiarkan manusia hidup sebagai kaki-tangan dari mesin modal. Ia menolak gagasan bahwa kemiskinan adalah “nasib,” menolak dogma bahwa ketimpangan adalah “harga pembangunan.”

Bung Karno tidak berhenti pada kritik; ia merumuskan tiga pilar yang menjadi tulang punggung gerakan: Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan yang memerdekakan, bukan ketuhanan yang menjinakkan.

Sosio-Nasionalisme menyatakan bahwa nasionalisme tanpa cinta pada rakyat kecil adalah penipuan; Sosio-Demokrasi menyatakan bahwa demokrasi tanpa pemerataan kekuasaan adalah oligarki berkedok prosedur; Ketuhanan menyatakan bahwa membela kaum tertindas adalah imperatif moral, bukan pilihan politis. Ketiga pilar itu bukan hiasan ideologis; mereka adalah hukuman bagi penguasa zalim.

Namun ideologi saja tidak cukup. Kekuasaan hari ini beroperasi bukan dengan despotisme klasik, melainkan dengan teknologi citra, propaganda lembut, dan retorika pembangunan yang memerangkap pikiran rakyat dalam kepatuhan psikologis. Kekuasaan menjelma seperti nabi palsu—menjanjikan kesejahteraan sambil memeras sumber daya, mengutip ayat sambil memproduksi ketidakadilan. Inilah saat ketika teologi perlawanan harus naik ke panggung sejarah: sebagai pedang bermata dua yang menyerang kesombongan duniawi sekaligus membongkar kebohongan spiritual mereka yang memelihara kekuasaan dengan simbol-simbol keagamaan.

Baca Juga:   Pilkada Melalui DPRD: Ancaman Sentralisme Kekuasaan dan Lonceng Kematian Demokrasi Lokal

Teologi perlawanan adalah pembacaan iman dari perspektif korban, bukan penguasa. Ia adalah suara para nabi yang menolak tunduk pada Fir’aun-Fir’aun kecil yang tumbuh dari birokrasi dan oligarki. Al-Qur’an memperingatkan: “Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim.” Ayat itu bukan deklarasi moral biasa; ia adalah ultimatum.

Tuhan menegaskan bahwa keberpihakan kepada penindas adalah bentuk pembusukan rohani. Tetapi di negeri ini, banyak yang lebih takut pada kehilangan jabatan daripada kehilangan keberpihakan moral. Penguasa yang merusak lingkungan disebut pahlawan pembangunan.

Aparat yang mengamankan kepentingan modal disebut penjaga stabilitas. Kekuasaan menuntut ketaatan, rakyat menuntut keadilan—dan teologi perlawanan berdiri di tengah-tengah, menegaskan bahwa tuntutan rakyatlah yang disahkan oleh moral ilahiah.

GMNI berdiri di garis itu—garis tipis yang memisahkan kenyamanan dari keberanian. Di situlah Sosio-Nasionalisme berbicara: bahwa nasionalisme bukan pengibaran bendera, melainkan keberanian membela rakyat ketika negara absen. Sosio-Demokrasi menambahkan: bahwa demokrasi bukan pesta lima tahunan, melainkan perjuangan harian agar rakyat memegang arah sejarah.

Teologi perlawanan mengukuhkan keduanya: bahwa keberanian itu sendiri adalah ibadah, dan diam terhadap kezaliman adalah bentuk kemurtadan moral. Dalam titik pertemuan inilah gerakan mahasiswa bukan sekadar organ politik, tetapi menjadi pewaris tradisi profetik: bukan nabi, tetapi pembawa semangat kenabian dalam melawan penindasan struktural.

Indonesia hari ini membutuhkan teologi perlawanan bukan karena rakyat kurang religius, tetapi karena kekuasaan terlalu lihai menggunakan agama sebagai kosmetik moral. Ayat disulap menjadi alat legitimasi, khutbah dijadikan pembius kesadaran, dan agama direduksi menjadi perayaan tanpa keberpihakan. Teologi perlawanan mengembalikan fungsi agama sebagai energi pembebasan: agama sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan, bukan pelipur lara bagi penindasan.

Dan di titik ini, GMNI bukan sekadar organisasi; ia adalah laboratorium ideologi dan spiritualitas pembebasan. Ia merumuskan ulang perlawanan bukan hanya sebagai aksi politik, tetapi sebagai proses penyucian moral terhadap kekuasaan yang membusuk.

Baca Juga:   Menilai Keterlibatan TNI dalam Pelatihan KPU

Teologi perlawanan menyatakan bahwa diam terhadap kezaliman adalah perbuatan zalim itu sendiri. Marhaenisme menegaskan bahwa membiarkan rakyat dieksploitasi adalah bentuk pengkhianatan ideologis.

Sosio-Nasionalisme memperingatkan bahwa bangsa yang membiarkan anak-anak kecilnya diinjak modal adalah bangsa yang kehilangan martabat. Sosio-Demokrasi menegaskan bahwa negara yang memusatkan kekuasaan pada elite adalah negara yang mengkhianati diri sendiri. Ketuhanan menutup semuanya dengan satu kalimat pendek: membela rakyat adalah perintah, bukan pilihan.

GMNI berada di simpang yang suci sekaligus berbahaya: persimpangan di mana iman, ideologi, nasionalisme, dan demokrasi bertemu dalam satu pusat gravitasi — perlawanan. Di negeri yang elite-nya mengucapkan “rakyat” dengan bibir yang tidak pernah menyentuh penderitaan rakyat, GMNI harus menjadi peringatan keras: bahwa rakyat bukan slogan, bukan angka statistik, bukan objek kebijakan, melainkan subyek sejarah yang keberadaannya lebih sah daripada negara itu sendiri.

Jika rezim tidak terguncang oleh suara mahasiswa, maka GMNI gagal. Jika penguasa dapat tidur nyenyak, maka teologi perlawanan belum dijalankan. Karena hakikat gerakan ini bukan mencari keamanan, tetapi mengguncang kenyamanan tirani. Tidak menunggu momentum, tetapi menciptakan momentum.

Tidak mengikuti arus, tetapi mengubah aliran sejarah. Inilah puncak praksis Sosio-Demokrasi: memindahkan pusat kekuasaan dari meja-meja elite kembali ke tangan rakyat. Inilah inti Sosio-Nasionalisme: membela tanah air dengan membela mereka yang diinjak atas nama pembangunan. Inilah wujud Ketuhanan: menempatkan keberpihakan pada manusia tertindas sebagai jalan spiritual.

Pada akhirnya, Marhaenisme, Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, Ketuhanan, dan teologi perlawanan bukan lima doktrin yang berdiri terpisah. Mereka adalah satu tubuh ideologis: tubuh gerakan pembebasan. Mereka adalah lima suara dalam satu nyanyian sejarah: nyanyian perlawanan. Mereka menyatu menjadi satu kalimat yang menembus zaman:

Baca Juga:   Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 Mengubah Sistem Pemilu Kita

Negeri ini tidak diselamatkan oleh mereka yang menyembah kekuasaan, melainkan oleh mereka yang berani menggugatnya.

Dan bagi mereka yang lahir dari rahim GMNI, gugatan itu bukan sekadar pilihan.
Ia adalah ibadah.
Ibadah terbesar.
Ibadah terakhir.
Dan ibadah yang paling manusiawi.***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Aktivis 98/Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Senin, 26 Januari 2026 | 23:10 WIB
Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara
Senin, 26 Januari 2026 | 22:59 WIB
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Senin, 26 Januari 2026 | 03:18 WIB
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
Minggu, 25 Januari 2026 | 19:29 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:18 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Seperti Apa Konsep Pemikiran Karl Marx, Ayo Pelajari dengan Download Buku-Buku-nya Secara Gratis Hanya Disini!

Marhaenist.id - Marx mempunyai gagasan besar sosialismenya untuk mengubah dunia pada masa…

DPC GMNI Kendari Soroti Aktivitas Pembukaan Lahan Mangrove Diduga untuk Rumah Pribadi Gubernur Sultra

Kendari, Marhaenist.id — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Program PKPA Beasiswa Peradi Utama Berlanjut, 140 Kader Ikuti Pertemuan Keempat dengan Materi Tata Acara Pengadilan Pidana

Marhaenist.id, Jakarta — Program PKPA Beasiswa PKPA Peradi Utama bagi 2.000 kader…

Darurat Penegakan Hukum, GMNI Nias Selatan Soroti Lemahnya Aparat Penegakan Hukum

Marhaenist.id, Nisel - Banyaknya laporan masyarakat di Kepolisian Resort (Polres) Nias Selatan…

Skenario Perbaikan Demokrasi dan Pemerintahan Dibutuhkan Oleh Masyarakat Sipil

MARHAENIST - Di tengah kondisi kehidupan bangsa yang tengah menurun dalam berbagai…

Analis Politik & Militer Universitas Nasional: Mayor Teddy Dipaksakan Jadi Letkol

Marhaenist.id, Jakarta - Kenaikan pangkat Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dari…

Kirimkan Tulisan Anda ke Marhaenist.id, Inilah Syarat dan Ketentuannya!

Marhaenist.id - Marhaenist dengan tagline Ever Onward Never Retreat merupakan media online…

Refleksi Hari Perempuan Internasional: Guyonan Seksis, Cerminan Mentalitas Bobrok!

Marhaenist.id - Perempuan selalu dielu-elukan sebagai simbol keindahan, kelembutan, dan inspirasi. Namun,…

Jumpai Ketua DPRD Riau, Cipayung Plus Desak Pembentukan Pansus Defisit APBD: Biar Tahu Siapa Biang Keroknya!

Marhaenist.id, Pekanbaru – Kelompok Cipayung Plus Riau resmi mendesak DPRD Provinsi Riau…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?