By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kapitalisme

Ekonomi Negara Sedang Dalam Keadaan Tidak Baik-Baik Saja

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Sabtu, 3 Agustus 2024 | 23:45 WIB
Bagikan
Waktu Baca 11 Menit
Para pekerja di Jakarta pada saat menunggu bus di Halte TransJakarta Tosari. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Bagikan

Marhaenist – Sejumlah data terbaru menunjukkan perekonomian domestik sedang tidak berada dalam kondisi terbaik. Aktivitas manufaktur RI yang pertama kali terkontraksi sejak pandemi akibat lemahnya permintaan pasar, ditambah terjadinya deflasi dalam tiga bulan beruntun, menuai banyak pertanyaan.

Daftar Konten
‘Vibecession’ MenguatAktivitas Manufaktur TurunPHK MerajalelaLapangan Kerja SempitDeflasi 3 Bulan BeruntunPenjualan Ritel SeretPenjualan Mobil Masih Lesu

Adakah perekonomian Indonesia tengah memasuki periode kemunduran dengan kembali ke situasi ketika pandemi Covid-19 masih merajalela di kisaran tahun 2020-2021 lalu?

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam taklimat media hari ini, selaku Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) menyatakan, perekonomian RI sejauh ini masih bertahan dengan capaian yang baik pada kuartal 1-2024 dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 5,11%.

Pada kuartal II-2024, Bendahara Negara itu memperkirakan PDB masih akan mampu tumbuh di kisaran 5%, melambat dibanding capaian kuartal sebelumnya. Konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama ditambah mulai naiknya investasi.

“Ke depan, kami melihat peningkatan aktivitas perekonomian domestik masih akan berlanjut hingga akhir 2024 di mana itu perlu dijaga, dari sisi kebijakan fiskal terutama dari sisi belanja pemerintah akan terus difokuskan untuk menjaga stabilitas harga. Kami juga akan terus jalankan program perlindungan sosial terutama bagi masyarakat yang rentan sehingga daya beli dan konsumsi masyarakat terjaga,” kata Sri Mulyani pada Jumat pagi.

Dengan optimisme itu, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan tumbuh di kisaran 5%-5,2%.

Prediksi pertumbuhan itu lebih optimistis dibanding proyeksi para ekonom yang dikompilasi oleh Bloomberg. Sebanyak 33 ekonom yang disurvei dari 18-25 Juli, memperkirakan, ekonomi RI tahun ini akan tumbuh 5%, lebih kecil dibanding capaian 2023 sebesar 5,04%.

Sementara pertumbuhan ekonomi kuartal II-2024 diperkirakan sebesar 3,78% quarter-to-quarter. Sementara secara tahunan para ekonomi memperkirakan angka pertumbuhan 5%, lebih tinggi dibanding prediksi survei sebelumnya 4,97%.

“Stimulus terkait Pemilu dan insentif [bansos] yang diperpanjang untuk rumah tangga, juga investasi infrastruktur yang lebih tinggi akan memberikan dorongan dari sisi fiskal, sedangkan kebijakan moneter yang lebih longgar di akhir tahun bisa membantu mengimbangi kondisi eksternal yang menantang dari kelesuan permintaan global dan normalisasi harga komoditas,” komentar Ahmad Mobeen, Ekonom Senior S&P Global dilansir dari Bloomberg.

‘Vibecession’ Menguat

Hitungan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang optimistis itu seolah tidak sejalan dengan yang dirasakan masyarakat. Fenomena ‘vibecession‘ kembali menguat terutama dengan semakin banyaknya kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor.

Baca Juga:   Investor Khawatirkan Stabilitas Keuangan RI Imbas Program Makan Siang Gratis

‘Vibecession‘, sebuah istilah yang pertama muncul pada 2022, menunjuk pada keterputusan antara perekonomian suatu negara dengan persepsi masyarakat yang cenderung negatif dan sebagian besar pesimistis.

Persepsi terhadap kondisi ekonomi yang dirasakan lebih suram itu sebenarnya sudah terpotret dalam Survei Konsumen terakhir.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini pada Juni turun ke level terendah sejak Februari. Indeks ini mengukur persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya. Kelompok masyarakat ekonomi bawah mencatat penurunan persepsi terdalam akibat susahnya mencari pekerjaan sekarang ini.

Sementara kelompok menengah, bila melihat proporsi pengeluaran, terlihat mengalami penurunan angka tabungan sedang pada saat yang sama pengeluaran untuk utang turun dan alokasi konsumsi meningkat.

Penilaian atas kondisi ekonomi yang dinilai lebih buruk saat ini akibat sempitnya lapangan kerja, mempengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan yang juga menurun terendah dalam tiga bulan. Penurunan itu juga karena kian tipisnya keyakinan masyarakat terhadap kondisi penghasilan.

Berikut ini beberapa indikator terbaru yang mungkin menjadi alasan kian menguatnya ‘vibecession’ di tengah masyarakat saat ini:

Aktivitas Manufaktur Turun

Untuk pertama kalinya sejak pandemi, aktivitas manufaktur Indonesia mengalami kontraksi. Laporan S&P Global mencatat, PMI manufaktur RI pada Juli turun ke level 49,3 dari tadinya di 50,7 pada bulan Juni.

Para pelaku usaha (produsen) melaporkan kelesuan permintaan dari pasar domestik juga dari pasar ekspor. Output dan pesanan baru dari dalam negeri menurun, sementara pesanan baru dari pasar ekspor terbebani oleh gangguan pasokan pada jalur pelayaran global.

Para panelis melaporkan, permintaan pasar di Indonesia saat ini sedang lesu dan menjadi faktor utama yang mendorong penurunan penjualan untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir.

Penjualan ekspor baru juga menurun meski pada tingkat lebih rendah dan sebagian adalah imbas dari keterlambatan pengiriman akibat masalah pada rute pelayaran global.

PHK Merajalela

Penurunan aktivitas manufaktur pada akhirnya memicu lonjakan angka PHK yang memecah rekor sepanjang tahun ini. Mengacu data Kementerian Tenaga Kerja, selama semester 1-2024 atau Januari-Juni, terjadi PHK sebanyak 32.064 orang, naik tajam hingga 95,51% dibanding periode yang sama tahun lalu.

PHK yang merajalela dilatarbelakangi oleh langkah efisiensi perusahaan yang tertekan penurunan penjualan akibat permintaan yang turun. “Jumlah karyawan dikurangi dengan penurunan yang paling tajam selama hampir tiga tahun. Ada banyak laporan tentang tidak diperpanjangnya kontrak karyawan yang sudah habis masa berlakunya,” jelas S&P Global.

Baca Juga:   Pemerintah Berikan Subsidi Kedelai Rp1.000 Hingga Akhir Tahun

Laju PHK mencatat kenaikan tanpa henti sepanjang lima bulan pertama tahun ini. Bila menghitung laju PHK bulanan, hanya pada Juni jumlah pekerja yang terkena PHK turun jadi 4.842 orang. Lebih sedikit dibanding Mei ketika sebanyak 8.393 orang kehilangan pekerjaan.

Bila tren penurunan PHK pada Juni itu berlanjut, maka ada harapan badai PHK tahun ini tidak akan sebesar 2023. Namun, bila penurunan PHK bulan Juni lalu hanya tren sesaat, sangat mungkin jumlah pekerja yang terpaksa jadi pengangguran pada tahun ini bakal melampaui tahun 2023. Padahal total jumlah PHK tahun lalu sudah menjadi yang terbesar sejak 2021.

Lapangan Kerja Sempit

Mengacu pada data Survei Angkatan Kerja Nasional pada Februari 2024, total pekerja di Indonesia yang berkiprah di lapangan kerja formal mencapai 58,05 juta pekerja. Angka itu hanya naik 2,77 juta dalam lima tahun terakhir.

Penambahan lapangan kerja formal terbilang seret karena pada lima tahun sebelumnya, penciptaan lapangan kerja mencatat angka jauh lebih besar yaitu 7,78 juta. Faktor pandemi Covid-19 yang telah membuat banyak usaha dan pabrikan gulung tikar, berdampak besar pada seretnya ketersediaan lapangan kerja dalam lima tahun ini.

Namun, sebenarnya penurunan ketersediaan lapangan kerja sudah terjadi sejak sebelum pagebluk. Buktinya, pada periode 2009-2014, periode terakhir era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lapangan kerja baru yang tercipta mencapai 15,62 juta pekerjaan.

Deflasi 3 Bulan Beruntun

Deflasi atau penurunan harga barang dan jasa selama tiga bulan beruntun terakhir terjadi pada 2020 silam saat perekonomian RI tiarap akibat pagebluk. Deflasi pada Juli lalu sebesar 0,18% juga menjadi yang terdalam sejak Agustus 2022 ketika Indonesia membukukan deflasi 0,22%.

Sebanyak 32 provinsi mengalami deflasi pada Juli sedangkan enam provinsi masih mencatat inflasi bulan lalu.  Deflasi paling dalam di Indonesia pada Juli terjadi di Sumatra barat, mencapai -1,07%.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penyumbang deflasi terbesar secara bulanan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi 0,97% dan memberi andil deflasi 0,28%.

Deflasi juga terutama disumbang oleh komponen harga bergejolak yang mencatat deflasi sebesar 1,92% dan memiliki andil deflasi 0,32%.

Secara sederhana, deflasi merupakan kondisi ketika terjadi penurunan harga-harga barang dan jasa secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Penurunan harga bisa karena melemahnya permintaan dari konsumen. Bisa juga karena suplai yang lebih besar.

Baca Juga:   Ma'ruf Amin Minta Pemerintah, Pengusaha dan Buruh Perbarui Komitmen Bersama

Deflasi yang terjadi terus menerus dengan cukup tajam bisa menjadi salah satu sinyal bahaya sebuah perekonomian. Ketika tingkat permintaan terus melemah, pabrikan atau pemilik usaha menghadapi penurunan penjualan yang bisa memicu kerugian dan mendorong efisiensi lebih besar, seperti pemangkasan tenaga kerja untuk menghemat beban produksi.

Tidak mengherankan bila deflasi seringkali dikaitkan dengan resesi karena sering terjadi ketika perekonomian kurang darah, alias lesu.

Penjualan Ritel Seret

Hasil Survei Penjualan Ritel Juni yang dilansir oleh Bank Indonesia bulan lalu, mencatat, Indeks Penjualan Riil pada Mei lalu naik 2,1% year-on-year, setelah pada April terkontraksi -2,7%. Angka pertumbuhan penjualan riil Mei itu lebih kecil dibanding prediksi sebelumnya sebesar 4,7%.

Sementara secara bulanan, penjualan ritel pada Mei turun 3,5% month-to-month setelah bulan sebelumnya hanya naik 0,4% pada bulan Lebaran. Penurunan penjualan ritel pada Mei tidak mengejutkan mengingat puncak belanja masyarakat pada Lebaran sudah berakhir.

Namun, perlu dicermati angka penurunan bulanan tersebut ternyata lebih dalam ketimbang prediksi awal yang memperkirakan hanya kontraksi 1%.

Bank Indonesia memperkirakan secara keseluruhan kuartal II-2024, kinerja penjualan ritel melambat dengan capaian pertumbuhan hanya 1,3% setelah pada kuartal pertama tahun ini naik 5,6% karena sumbangan belanja Ramadan.

Para peritel terindikasi akan menurunkan harga lagi untuk mendorong penjualan. Langkah itu membuat ekspektasi harga ke depan jadi ikut turun. Survei memperkirakan, tekanan inflasi tiga bulan ke depan yaitu pada Agustus, turun. “Penurunan didorong oleh strategi potongan harga pada event HUT Kemerdekaan,” jelas BI.

Penjualan Mobil Masih Lesu

Total penjualan mobil di tingkat ritel atau dari dealer ke end user (pengguna), sepanjang semester 1-2024, turun 14% year-on-year menjadi sebanyak 431.987 unit. Bahkan pada Juni saja, penjualan mobil di tingkat ritel anjlok 12,3% dibanding Juni 2023, menurut data Gaikindo.

Sementara itu, penjualan sepeda motor pada Juni lalu tercatat sebanyak 511.098 untuk pasar domestik. Angka itu naik 3,5% dibandingkan Juni 2023. Sedangkan ke pasar ekspor, penjualan menurun 14%.

Penurunan pembelian mobil sejalan dengan penurunan indeks pembelian durable goods atau barang nonprimer. Survei Konsumen Juni mencatat, indeks turun ke level terendah sejak Februari terutama dicatat oleh kelompok bawah, menengah bawah dan kelompok atas. Sedangkan indeks durable goods kelompok dengan pengeluaran menengah masih positif pada Juni lalu.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Satresnarkoba Polres Binjai di Bawah Komando AKP Ismail Pane: Garda Terdepan Lindungi Generasi Muda dari Narkoba

Marhaenist.id, Binjai — Upaya pemberantasan dan pencegahan peredaran narkoba di Kota Binjai…

Konflik Politik di Buton Selatan Memanas: Bupati dan Wakilnya Saling Lapor, GMNI Kritik Ketidakdewasaan Kepemimpinan Daerah

Marhaenist.id, Buton Selatan -Ketegangan politis semakin tajam di Kabupaten Buton Selatan (Busel)…

Jalan Pulang Pemuda Desa Menuju Kedaulatan Pangan Nasional

Marhaenist.id - Di balik hamparan sawah hijau di Dusun Alas Kebong, Desa…

Mengedepankan Prinsip Kesetaraan Hukum dalam Kasus Sekjen PDI Perjuangan

Marhaenist.id - Kasus permintaan penjadwalan ulang pemeriksaan oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto,…

Empat Syarat untuk Menegakkan Demokrasi di Indonesia

Marhaenist.id, Jakarta - Terdapat 4 syarat yang harus terpenuhi agar demokrasi bisa…

GMNI Surabaya Mengecam Wacana Pengelolahan Tambang oleh Perguruan Tinggi: Merusak Marwah Lembaga Pendidikan

Marhaenist.id, Surabaya - Wacana pemberian izin usaha tambang untuk perguruan tinggi yang…

Monumen Burung Garuda Pancasila Menghadap Kedepan, PA GMNI Mojokerto Lapor Pihak Berwajib

Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Mojokerto menyayangkan peristiwa peresmian…

PDI-P dan Revisi UU TNI

Marhaenist.id - Dengan adanya penolakan masyarakat terhadap revisi Undang-Undang TNI, PDI-P seharusnya…

Gaduh Ijazah Jokowi dan Rapuhnya Imperatif Hukum Indonesia

Marhaenist.id - Gaduh mengenai ijazah Presiden Joko Widodo kembali menyeruak dan menyeret…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?